TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
206


Ara mulai sadar kalau dirinya kini sudah berada pada tubuh Helen lagi. Dia mengambil ponsel, melihat hari dan tanggal di dunia novel.


"Sekarang sudah hari minggu tanggal 14 januari. Terakhir saat aku mabuk bersama Noah adalah malam minggu di tanggal 6 januari, berarti sudah seminggu lebih aku baru kembali lagi. Itu artinya, satu hari di sini adalah satu jam di dunia nyata," ucap Ara pada dirinya sendiri.


Ara mengingat lagi kapan terakhir sebelum dirinya bangun pada tubuh Helen. Yah, di dunia nyata tepatnya sekitar delapan jam yang lalu, ketika kondisi kakaknya sedang dalam masa kritis. Ara ingat ada seorang perawat membangunkannya, dan bertanya 'apa ada anggota keluarga lain yang bergolongan darah sama dengan Aluna?' Kala itu Ara menjawab tidak ada.


Delapan jam sudah Aluna di dunia nyata melewati masa kritis. Meskipun keadaanya mulai membaik, Aluna masih dinyatakan koma. Terakhir kali yang diingat Ara adalah dia sedang memegang tangan kakaknya sebelum tertidur, kemudian sekarang kembali lagi ke dunia novel.


"Kakak, cepat angkat teleponku," gumam Ara pada dirinya sendiri. Berulang kali jarinya menekan tombol panggil setiap sambungan teleponnya berhenti. Ara ingin bercerita banyak mengenai kondisi kesehatan kakaknya di dunia nyata.


"Kak, aku sangat rindu. Aku benar-benar sangat takut kehilanganmu," kata Ara lagi sambil mengusap air matanya.


Sementara di tempat lain di TK Kasih Ibu. Aluna yang barusan turun dari memanjat pagar. Dia baru sadar ketika ada panggilan masuk di ponselnya, 'Helen? Kenapa dia meneleponku?' tanyanya dalam hati.


Hampir saja Aluna akan mengangkat telepon tersebut. Namun segera diurungkan, karena mereka dari dalam mendengar ada orang yang akan membuka gerbang.


Sepertinya akan ada seseorang yang akan masuk, batin Alvin.


Alvin kaget, baru pertama kalinya dia menyelinap dan bermain kucing-kucingan, membuatnya langsung bersembunyi tak mau terlihat seperti maling karena tanpa izin menyelinap masuk.


Dengan gerakan cepat, saat itu juga Alvin menarik tangan Aluna dan mengajaknya ikut bersembunyi di lorong samping. Yah, sebuah lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu orang.


"Alvin, apa yang--"


Belum menyelesaikan ucapannya, Alvin langsung menutup mulut Aluna dengan satu telapak tangannya.


Kini posisi tubuh mereka terhimpit satu sama lain di dalam lorong, hanya wajah mereka yang saling berhadapan terlihat berjarak beberapa inci. Saat itu juga Alvin langsung memberi isyarat dengan menempelkan telunjuk di bibirnya, agar Aluna diam.


"Sstt," bisik Alvin pelan.


Suasana yang awalnya dingin langsung menghangat begitu tubuh mereka saling bersentuhan. Aluna hanya diam sambil terus menatap manik netra milik Alvin yang begitu tajam. Sesekali pemilik mata tersebut mengintip ke arah luar, memastikan posisi mereka aman dan tak akan diketahui orang yang barusan masuk tadi.


Dari gerak-geriknya, sepertinya dia adalah penjaga sekolah, batin Alvin.


Alvin melepas bekapan tangannya dari mulut Aluna setelah lelaki tersebut menjauh. Dia yakin penjaga tadi sudah masuk ke dalam.


"Huh... huh, siapa yang datang?" tanya Aluna sambil mengatur napas.


"Sepertinya penjaga sekolah," jawab Alvin tersenyum menyeringai.


Alvin sedikit menggigit bibir bawahnya. Sepintas di pikirannya, entah mengapa kali ini dia melihat wajah Aluna begitu menggoda. Apalagi saat dia merasakan sesuatu yang empuk mengganjal dadanya, membuat lelaki itu tak bisa berpikir positif.


"Kau kenapa melihatku seperti itu?" Aluna merasa canggung.


"Sebaiknya kita di sini dulu sampai dia keluar," kata Alvin sangat pelan. Dia langsung menepis pikiran kotor di otaknya ketika mengingat tujuan dia ke tempat itu untuk mencari anaknya.


"Kenapa kita tak keluar saja? Mungkin dia tahu di mana keberadaan Zero sekarang," kata Aluna, dia berusaha menggeser posisi tubuhnya agar bisa menjauh sedikit dari Alvin.


"Dari awal kita sudah bermain kucing-kucingan. Mau ditaruh di mana mukaku kalau kita tertangkap basah. Lalu dia akan menganggap aku sebagai pencuri karena menyusup tanpa izin!" Alvin mengembuskan kasar napasnya tepat mengenai wajah Aluna, "kita keluar setelah orang itu keluar dari gerbang," imbuhnya.


"Baiklah," sahut Aluna.


"Jangan menjauh, aku sedang kedinginan," ucap Alvin, lalu dengan cepat memeluk tubuh Aluna, "sebentar saja sampai dia keluar."


Aluna tak bisa bergeming, mau tak mau dia membiarkan tubuhnya dalam pelukan Alvin.


Beberapa menit berlalu mereka sama-sama diam larut dalam pikiran masing-masing. Keduanya merasakan detak jantung masing-masing yang semakin berdetak kencang.


"Alvin apa kamu marah padaku?"


"Marah untuk apa?"


"Karena Luna," kata Aluna sangat pelan.


Alvin mengerti apa maksud ucapan perempuan yang sedang dipeluknya itu.


Alvin menggeleng pelan.


"Jadi kamu memaafkanku?"


Masih memeluk, Alvin mengangguk.


"Kalau begitu berjanjilah padaku, kalau kamu tak akan memarahi Luna karena masalah ini saat dia kembali nanti."


Belum menjawab, Alvin melihat petugas keamanan tadi keluar gerbang. "Sebaiknya kita keluar, penjaga sekolah sudah pergi," ucapnya sambil melepaskan pelukan.


Aluna menarik tangan Alvin sebelum beranjak, "jawab dulu ucapanku tadi. Kamu harus berjanji tidak akan mengungkit masalah ini dan berjanji akan memaafkan Luna."


...###...


Halo pembacaku tersayang. Mampir yuk di novel terbaru temanku. Bercerita tentang mantan, semoga suka.


Judul: Hello Ex, I'M Coming (Halo Mantan, Aku datang)


Nama author: Treezee


Blurb :


Sebuah rencana besar yang tidak sengaja di dengarnya, membawanya kembali ke negara asalnya.


Demi sang mantan yang dia tinggalkan dulu.


Dia bahkan harus merahasiakan identitasnya, agar semua rencananya berjalan lancar.


Bisakah dia menyelesaikan misinya dan kembali ke kehidupannya normalnya?


Atau malah terjebak dalam skenario yang dia ciptakan?