TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Aku Akan Mencari Peramal


"Mommy tahu Luna sejak kecil. Bahkan saat dia baru lahir aku mengetahuinya. Sepertinya Luna tak memiliki saudara perempuan. Hideon tak pernah menikah lagi selain denganku dan ibunya Luna. Memangnya siapa perempuan bernama Ara itu?" Mona balik bertanya.


Helen tampak diam sekaligus berpikir. Mungkinkah Ara adalah temannya? Perempuan berambut kuning itu lalu berjalan menuju layar monitor yang terhubung dengan CCTV.


"Apa setelah kamera CCTV ini terpasang, ada keanehan pada diriku, Mom?" tanya Helen.


Mona menggeleng. Jelas tak ada keanehan atau pun perubahan. Semenjak bangun, Helen terlihat normal seperti biasanya. Dia meneliti CCTV dari pagi pun belum menemukan ada perubahan.


"Apa Mommy mengenal Lisa, putri dari keluarga Glu?" Helen kembali bertanya, "dia mengatakan kalau dia dan Noah sering menemuiku beberapa hari ini."


Mona menggeser posisi duduknya agar lebih nyaman lagi. "Ya, dia kemarin mengamuk di sini dan berusaha mencekik lehermu beberapa hari yang lalu. Gara-gara Lisa, semua pegawai kita mengalami luka-luka akibat melawan pengawal pribadinya. Dia juga mendesakmu agar menjauhi pacarnya. Mommy tidak kenal siapa yang dia maksud, saat itu Luna membantu kita dengan menghajar habis beberapa pengawalnya."


"Apa? Luna membantuku? Aku tidak percaya."


"Coba ingat-ingat lagi, Helen. Kamu pasti lupa lagi. Akhir-akhir ini ingatanmu terganggu gara-gara koma kemarin," kata Mona menenangkan.


Helen kembali mengingat-ingat lagi memori yang tersimpan di otaknya. Dia rasa belum pernah ada urusan dengan Lisa, apalagi sampai bertengkar dengannya hanya karena memperebutkan lelaki bernama Noah. Menurut Helen ini sangat aneh, permasalahan ini ibarat benang kusut yang tergulung saling mengikat satu sama lain. Dia harus mencari celah satu persatu agar menemukan cara melepasnya.


"Tidak! Aku tak pernah mengingat hal itu. Aku tak pernah ada urusan dengan perempuan bernama Lisa apalagi Noah. Mommy pasti tahu bagaimana seleraku, lelaki itu tak masuk kriteria sama sekali. Lalu, Luna datang menyelamatkanku? Untuk apa dia datang ke rumah ini lagi?" Helen mengacak-acak rambutnya terlihat sangat frustrasi.


Di saat mereka sedang membicarakan siapa Ara sebenarnya. Asisten rumah tangga berjalan ke arah mereka memberitahukan kalau saat ini Aluna datang dan telah memasuki pintu utama.


"Nyonya, Nona Luna datang. Sepertinya sebentar lagi sampai di ruang tamu utama," kata pelayan memberitahukan kepada Nona.


"Dia datang, bagaimana kalau kita tanyakan saja padanya langsung?" kata Mona.


Dua orang ibu dan anak itu langsung bergegas berjalan cepat menuju ruang tamu utama. Dia ingin menanyakan langsung siapa Ara kepada Aluna.


Benar kata pelayan, kalau Luna kembali lagi ke rumah Hideon. Mona dan Helen sudah sampai di ruang tamu dan melihat Aluna melewati mereka begitu saja.


Dia benar-benar tidak sopan, gumam Mona.


"Luna. Tunggu!" panggil Mona.


Baru saja menaiki satu anak tangga, Aluna menghentikan langkahnya. Aluna masih bersikap malas. Kerena dia tahu yang memanggilnya adalah Helen dan Mona.


"Tunggu, ada yang ingin aku bicarakan," kata Helen berjalan menuju anak tangga.


"Bicaralah cepat, aku sangat lelah dan ingin beristirahat," kata Aluna.


"Besok aku akan bekerja lagi di perusahaan Alvin dan menjadi asistennya lagi. Aku sarankan sebaiknya kamu ajukan pengunduran diri secepatnya, karena aku lebih ahli dalam bidang itu. Aku takut kamu hanya dijadikan pembantu di sana," kata Helen mencibir.


"Apa urusanmu? Jangan terlalu percaya diri dulu."


"Tetapi memang itu kenyataannya. Alvin memperkerjakanmu hanya sebagai asisten yang mengurus keperluan pribadinya saja. Kalau aku jadi kamu. Lebih baik aku diam di rumah. Seperti itu seakan menginjak harga diri kita di depan pegawai."


"Apa urusannya denganmu, dia suamiku. Aku berhak melayaninya di mana pun. Aku tidak malu, para pegawai justru sangat segan setiap bertemu denganku. Itu artinya Alvin tidak ingin jauh dariku. Daripada kamu, harusnya kamu malu sudah berulah malah bekerja lagi di tempat Alvin!" Aluna membalas ucapan Helen dengan ketus.


Tangan Helen mengepal keras. Seakan tak ada kapoknya Helen terus melawan Aluna dengan beradu mulut seperti sekarang.


"Jangan percaya diri dulu. Kamu masih harus menghadapi kasus yang belum kamu selesaikan. Masalah penggantian email dan korupsi yang sudah kamu lakukan sedang diselidiki. Jangan terlanjur senang dulu, bisa jagi itu adalah perangkap untuk menangkap tikus got sepertimu," balas Aluna tak mau kalah.


"Kau! Beraninya mengatakan hal itu. Aku akan melakukan banding dan akan menyewa pengacara kalau Alvin sampai melaporkanku. Di sini aku hanyalah korban, bukan tersangka utama."


Helen terlihat geram dan hampir saja ingin menampar Aluna. Untungnya, Mona segera menahan lengan Helen agar diam.


"Helen, mungkin ini salah paham. Kalian saudara, lebih baik berdamai saja. Maafkan aku, Luna. Helen terkadang suka mendadak emosi."


"Kita lihat saja nanti," balas Aluna.


Mona berpura-pura baik. Sebaliknya dengan Helen, dia melihat tidak suka ke arah Aluna. Dia mengamati Aluna, mengamati sikapnya, membandingkan perbedaan dengan Luna yang dulu. Kalau dilihat dari penampilan memang tak terlalu mencolok perbedaannya. Hanya saja Luna yang sekarang terlihat lebih tegas, pintar dan berani.


"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, sebaiknya aku ke atas dan beristirahat," kata Aluna.


Helen kembali menahan langkah Aluna.


"Siapa Arabella?" tanya Helen langsung ke intinya.


Aluna langsung tersentak saat Helen mengucapkan nama barusan. Kalau saja dia sedang minum, sudah pasti dia tersedak saat itu juga.


"Kenapa kamu diam saja? Siapa Ara? Kenapa Lisa menemuiku dan menganggap aku adalah Ara? Sebenarnya siapa dia?" Nada bicara Helen mulai meninggi.


Sejenak, Aluna terlihat diam dan terus berpikir di dalam hati. Bagaimana dia menjelaskan siapa adiknya agar Helen tak curiga.


Aluna tak ingin berbasa-basi. Mengembuskan napasnya pelan lalu berkata dengan tegas, "Kemarin sudah aku bilang kalau Ara adalah pacar Noah. Ya, aku adalah teman dekatnya. Sayangnya dia sedang berada di luar ... negeri."


Aluna melanjutkan lagi langkahnya menaiki anak tangga berusaha tak mengacuhkan Helen.


"Kalau dia sedang berada di luar negeri. Dia juga punya keluarga di sini. Dari keluarga mana dia berasal?" Helen terus mencecar berbagai pertanyaan. "Lalu kenapa Lisa sampai mengaitkan aku dengan Ara. Apa hubungan aku dengan gadis itu?"


Lagi-lagi Aluna tak mau peduli. Dia berusaha cukup tenang agar mereka berdua tidak curiga. "Bukan urusanmu mengenal siapa Ara. Mengenai urusanmu dengan Lisa, kenapa tak tanyakan saja dengannya langsung? Sudahlah, aku lelah."


Aluna melangkah naik ke atas tangga tak memperdulikan Helen dan Mona yang masih dipenuhi tanda tanya di otaknya.


"Kita bicarakan di sini," kata Mona meminta Helen untuk tenang dan turun. Mona tak mau ada keributan di rumahnya karena Hideon pasti akan memarahinya lagi.


"Mom, aku sangat curiga dengan dia akhir-akhir ini. Aku merasa dia bukanlah Luna yang asli," kata Helen berapi-api.


"Apa maksudmu?" tanya Mona.


"Jangan-jangan dia bukanlah Luna. Dia adalah orang lain yang melakukan operasi plastik agar mirip dengan Luna."


Mona menggeleng tidak percaya sama sekali. "Ini diluar logika, Nak. Kamu bilang kamu pernah tinggal di suatu tempat dan ada orang yang memanggil namamu dengan Ara. Aku yakin masalah ini saling berkaitan."


Helen mendadak diam, meresapi kata-kata ibunya.


"Tenang, aku akan secepatnya mencari tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Aku punya kenalan seorang peramal dan master tarot. Mommy akan meminta peramal itu untuk menerawangnya," kata Mona.