
"Nyonya tolong aku! Setelah ia bosan denganku, seenaknya saja ia ingin menceraikan ku begitu saja. Bagaimana nasib anakku nanti. Pria ini mau lepas tanggung jawab agar tak menafkahi aku dan anakku!" Sambil menangis Aluna berlindung dibelakang punggung seorang wanita paruh baya. Seketika wanita itu semakin garang menatap Alvin.
"Dasar pria bajingan! Beraninya kamu mau menyianyiakan wanita secantik ini!" Salah satu wanita paruh baya menunjuk-nunjuk wajah Alvin. Mereka bahkan mengatai Alvin sangat pedas, melebihi pedasnya cabai setan.
Tentu saja Alvin sangat malu dikatakan seperti itu oleh orang lain. Beberapa wanita mengerumuninya, menyalakan perilaku Alvin yang menurut mereka tidak bertanggung jawab.
"Nyonya, itu tidak seperti yang Anda pikirkan," bantah Alvin.
Beberapa wanita semakin geram melihat Alvin yang terus membantah, Aluna yang masih berlindung dibelakangnya masih terus merengek minta pertolongan.
"Tenang nyonya kita tidak boleh menuduh sembarangan sebelum diselidiki kebenarannya." Seorang staf pria berusaha menenangkan beberapa wanita yang mencecar Alvin. Ia dan beberapa pengawal merentangkan tangannya berusaha mendorong beberapa wanita agar tak membuat keonaran.
Plak!
Wanita yang sedang geram, menepuk bahu staf pria itu karena tidak terima. Bahkan salah seorang wanita tua malah ingin melempar sandal ke arah Alvin. Beruntung sandal itu tak mengenai tubuhnya karena seorang pengawal secepat kilat menutup tubuh Alvin.
Luna! Kamu benar-benar ingin membuatku gila karena amukan ibu-ibu itu. batin Alvin terus menatap marah ke arah Aluna yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Aku tidak peduli! Siapa suruh kamu ingin menceraikan Luna! Rasakan kamu Monster Godzila! batin Aluna.
Secara tidak langsung mereka saling membalas di dalam hati.
Beberapa pengawal masih sibuk menenangkan delapan orang wanita yang ingin menyerang Alvin. Bahkan sebanyak apa pun pria di situ tak sanggup menahan kemarahan beberapa wanita yang membela Aluna. Rata-rata diantara mereka sedang sangat marah dengan pasangannya, kebetulan dengan adanya masalah Aluna, mereka bisa melupakan emosi.
Karena keadaan yang semakin rumit, Alvin akhirnya bertindak, dengan meminta salah satu pengawalnya menyuruh Aluna berbicara dengannya di belakang. Agar beberapa wanita yang sedang mendemo Alvin, tidak berbuat semakin rusuh.
"Sebenarnya apa mau mu?" bisik Alvin pelan ketika Aluna sudah di sebelahnya.
"Hentikan perceraian ini!" seru Aluna.
"Ini hanya prosedur! Aku akan mencabut gugatannya kalau kamu terbukti tidak bersalah," ucap Alvin lagi.
"Kalau kamu tidak mau menghentikan perceraian hari ini. Sekarang aku akan berteriak semakin kencang agar para ibu-ibu di sini semakin mengamuk!" ucap Aluna tersenyum penuh kemenangan.
Tak ada pilihan lain bagi Alvin, ia tahu istrinya kali ini memiliki akal bulus yang luar biasa setelah mengalami kecelakaan. Akhirnya ia menyetujui permintaan Aluna, dari pada ia di demo habis-habisan oleh sekumpulan ibu-ibu yang sedang emosi.
"Baiklah, aku tidak akan menceraikan mu! Tapi kamu harus bertanggung jawab agar mereka memberiku jalan pulang!" Alvin merasa ketakutan dengan tatapan beberapa wanita yang sangat sinis kepadanya.
Setelah keputusan tidak bercerai dari Alvin dikantonginya, Aluna mulai menenangkan beberapa wanita, menjelaskan kepada mereka kalau suaminya tidak jadi menceraikannya. Aluna juga berterima kasih banyak kepada mereka karena telah membantunya menyelamatkan rumah tangga Luna.
Akhirnya, setelah berbicara panjang lebar menjelaskan, mereka semua mengerti. Memberi selamat kepada Aluna dan mendoakan hubungan mereka supaya langgeng. Satu persatu mereka mulai membubarkan diri, melanjutkan urusannya masing-masing.
"Bahkan aku lebih takut menghadapi sekumpulan ibu-ibu dari pada menghadapi seorang penjahat kelas kakap!" ucap Alvin menggerutu.
Dengan di dampingi beberapa pengawal, Alvin berjalan menuju pintu keluar. Aluna telah lebih dulu keluar masih berterima kasih dengan beberapa wanita yang menolongnya.
Sebentar lagi langkahnya sampai pintu, seorang pria tanpa sengaja menginjak sepatunya.
"Maafkan aku, tuan." Pria yang menginjak sepatunya meminta maaf.
Jelas Alvin begitu marah dan kesal, kalau tidak di perhatikan wanita yang barusan mendemonya, Alvin pasti memberi perhitungan kepada pria yang berani menginjak sepatunya. Alvin menghiraukan pria itu, lalu pergi begitu saja.
Rupanya sebelum Alvin sampai ke mobilnya, Aluna sudah lebih dulu duduk di dalamnya. Memperhatikan Alvin yang bertingkah seperti orang yang kurang nyaman dari jauh. Alvin merasa jijik karena seseorang telah menginjak sepatunya. Ternyata Alvin mengidap Mysophobia, gejala ketika seseorang merasa takut berlebihan terhadap kuman, bakteri dan sejenisnya.
Alvin berjalan sambil terus menggerutu. Sebelum sampai ke mobil, seorang pengawal membawakan sepatu yang baru untuk dipakai Alvin.
"Buang saja sepatunya," ucap Alvin.
Seorang pengawal lalu melemparkan sepatu itu ke tong sampah. Aluna yang melihatnya dari dalam mobil berpikiran aneh kepada Alvin.
Pria aneh! Baru di injak sekali langsung membuang sepatu itu! Bukankah sepatu itu masih bisa dibersihkan, batin Aluna.
Aku tidak yakin pria itu masih mencintai Luna! kalau aku tidak menghentikannya sekarang. Sudah pasti monster itu sudah menggugat cerai Luna.
Sekarang Alvin sudah masuk ke dalam mobil, lalu duduk di sebelah sopir. Tanpa menoleh pria itu terlihat tidak bersalah sedikitpun.
Karena penasaran dengan perasaan Alvin kepada Luna, ia lalu menepuk punggung Alvin bertanya kepadanya, "Tuan, setelah aku melihat tadi, Aku tidak yakin kamu benar-benar mencintaiku. Bolehkah aku bertanya, Tuan?"
"Heum," sahut Alvin singkat.
"Apa anda mencintaiku?"
Pertanyaan Aluna, membuat Alvin langsung menoleh tercengang. Baru kali ini istrinya berani bertanya perasaan kepadanya.