TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mencari Data


"A-apa maksud Anda, Presdir?" tanya Helen terbata.


"Bukti sudah di depan mata. Kamu sudah menyalahgunakan miliaran uang perusahaan," kata Aluna menyerahkan lembaran kertas salinan bukti transfer uang dari investor ke rekening Helen.


Tidak hanya Aluna dan Alvin. Pegawai Fang yang dirugikan beberapa hari yang lalu juga tak kalah marah. "Ternyata kamu biang keladinya yang mengirimkan jadwal yang salah kepada penerjemah. Pantas saja saat itu penerjemah tak mau disalahkan. Sekarang aku tidak mau tahu, gara-gara kamu jabatanku sampai diturunkan, kamu harus bertanggung jawab, Helen!" serunya marah.


Helen semakin terdesak. Untuk mengakui kalau dia yang korupsi, nyatanya bukan sama sekali. Helen hanyalah alat yang digunakan Lily dan Yuze untuk meraup uang perusaan Alvin. Rekening itu memang miliknya, namun hampir seluruh dana yang dikirim dia alirkan kepada Lily dan Yuze.


"Aku tidak korupsi, Presdir. Anda bisa mengecek sendiri kalau uang itu tak lama ada di rekeningku. Rekening itu sudah lama tak aku pakai," kata Helen membela diri.


Akan tetapi, Alvin tak percaya dan tak mau peduli. Alvin ingin Helen segera membereskan semua kekacauan ini. Dia harus memberitahu siapa saja perusahaan yang sudah dia sebarkan surat elektronik palsu dan beberapa data dari investor yang sudah dia simpan sendiri.


"Pegawai Fang, Anda salah. Aku tak tahu kode keamanan komputer Anda. Bagaimana mungkin aku bisa tahu nomor penerjemah dan beberapa klien lainnya." Helen terus mengelak mengatakan kalau email itu bukan dia yang buat.


"Jangan mengelak! Aku yakin tidak ada yang salah, kita lihat saja semua buktinya sebentar lagi terkuak," balas Pegawai Fang kesal.


Alvin segera menelepon departemen keuangan perusahaan agar menyelidiki kasus Helen sampai ke akarnya. Kebetulan departemen keuangan milik Alvin bekerja sama langsung dengan bank, sehingga dengan mudah Alvin mendapatkan data seluruh keuangan pegawainya. Menurut Alvin, pelaku penggelapan uang perusahaan sepertinya tidak hanya satu orang.


"Asisten Luna, bawa Helen ke departemen keuangan sekarang. Periksa seluruh email yang masuk. Suruh mereka memeriksa rekening pribadi milik Helen," kata Alvin.


"Baik, Presdir," jawab Aluna.


"Sekretaris Sam," panggil Alvin kepada asisten barunya itu.


Sekretaris Sam yang dari tadi mendengarkan pembicaraan, mendekati Alvin. "Ya, Presdir."


"Panggil satu persatu pegawai yang terlibat mengurusi keuangan, untuk diperiksa ke departemen keuangan sekarang. Kita adalah sidak besar-besaran hari ini," imbuhnya.


Karena kasus Helen, semua pegawai kena dampaknya. Alvin mengadakan sidak besar-besaran kepada seluruh pegawai yang terlihat langsung mengurus keuangan perusahaan. Dibantu pegawai Fang, Aluna membawa Helen menuju ruang khusus departemen keuangan perusahaan wiratama. Tempatnya ada di lantai sepuluh.


"Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri," kata Helen marah sambil melepas lengannya dari tangan Aluna.


Pada saat itu seorang pegawai bagian keuangan mendatangi mereka. Pegawai Fang menjelaskan secara detail masalahnya mengenai penerjemah, sementara Aluna, dia melaporkan penggelapan uang yang dilakukan Helen.


"Berapa nomor rekening dan berikan kartunya sekarang. Aku akan mengecek dari sini," kata pegawai keuangan menodong jawaban kepada Helen.


"Sudah aku bilang, sudah lama aku tak memakai kartu tersebut dan aku tak memilikinya sekarang."


Aluna mendengus kesal dengan jawaban Helen. Akan tetapi, petugas departemen keuangan tak hilang akal. "Kalau begitu beritahu nomor kartunya sekarang," katanya lagi.


Helen mendadak diam.


"Cepat katakan, kalau tidak aku akan melaporkanmu ke polisi," kata Aluna membentak. Sebenarnya tak mungkin perempuan itu sampai melaporkan Helen, mengingat Ara masih membutuhkan tubuhnya, dia hanya menggertak Helen agar bisa bersikap kooperatif.


Mau tak mau Helen menyebutkan sederet angka nomor kartu dan rekeningnya. Tak menunggu lama, pegawai keuangan langsung mengecek seluruh transaksi dari rekening Helen dari komputer miliknya.


Setelah mendapatkan nomor tersebut, pegawai keuangan menyuruh Helen dan pegawai Fang menunggu di luar. Sementara Aluna, dia biarkan menunggu di dalam.


Sepuluh menit kemudian. Pegawai departemen keuangan sudah kembali membawa selembar kertas.


"Nona Luna. Dari yang kami teliti, saldo di rekening Nona Helen yang ini hanya tersisa beberapa ratus ribu. Itu pun tidak pernah dipakai untuk transaksi berbelanja apa pun. Seluruh saldo yang diambil dari perusahaan, seluruhnya dialihkan ke rekening lainnya. Ada satu nomor yang dipakai berulang kali untuk mengirim uang. Aku sudah mengecek kartu identitasnya, kalau rekening yang dikirimkan uang bukan milik Nona Helen. Ini adalah data nomer dan nama penerima," kata pegawai keuangan memberikan selembar kertas riwayat transaksi Helen yang sudah di print.


Aluna meraih lembaran kertas itu lalu membacanya dengan teliti berulang kali. Di kertas itu ada sebuah nama yang tidak asing bagi Aluna 'Arga Yu Zeliang'.


Jangan-jangan mereka berdua ikut terlibat dalam penggelapan uang perusahaan Alvin. Batin Aluna penuh selidik.


Aluna mulai membuka identitas 'Arga Yu Zeliang' Dia cocokkan data tersebut dengan data milik Yuze, mengingat nama Zeliang adalah nama paman kedua Alvin.


Hampir saja Aluna tak bisa bernapas ketika tangannya masih bergerak cepat membuka data identitas milik Yuze. Matanya bahkan tak beralih sedikit pun melihat layar komputer.


"Hah, ternyata benar. Arga Yu Zeliang adalah nama Yuze, sepupu Alvin. Berarti benar dia juga ikut terlibat," ucap Aluna sambil menghela napas lega karena berhasil menemukan data yang asli.