TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Alat Perekam


Di kediaman Keluarga Glu, tepatnya di kamar Lisa. Perempuan yang sedang memakai baju tidur bermotif bunga warna hijau itu sedang duduk di atas tempat tidur. Berkali-kali mata sipitnya menatapi layar ponsel, membukanya lagi lalu menaruhnya lagi sampai dia lakukan hal itu berulang kali. Lisa sedang memantau suara rekaman dari ponsel yang dia sambungkan ke kalung milik Noah.


Lisa sangat kecewa, karena dia hanya mendengarkan obrolan Noah dengan teman kerjanya yang menurutnya tak penting. Tentu saja karena Noah masih menaruh kalung tersebut di saku kemeja kerjanya dan belum memberikannya kepada siapa pun.


"Kenapa sampai selarut ini kamu masih kerja, Paman?" Lisa melihat jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Harusnya Noah sudah pulang, karena telah melebihi batas waktu kerjanya.


"Kenapa aku menyukaimu sampai sekarang. Itu karena kamu adalah seorang pekerja keras. Aku suka saat dulu kamu mengajariku pelajaran fisika dan kimia yang menurutku begitu sulit. Tetapi berkat belajar bersamamu, semua soal itu aku kerjakan dengan mudah. Aku masih ingat semuanya, Paman. Bahkan kamu akan memberikanku permen kalau aku berhasil menyelesaikan semua PR yang diberikan guru."


Mengingat kenangan itu membuat Lisa semakin merindukan Noah. Berulang kali mulutnya menguap, menandakan kalau dia sedang mengantuk berat.


"Hoaem ... paman, aku sudah tidak kuat terjaga." Saat itu juga Lisa ambruk ke kasur dan tertidur tidak lama setelahnya.


Sementara di lain tempat, di laboratorium forensik. Noah masih sibuk berkutat dengan penelitiannya. Dia sedang mencari beberapa sidik jari yang tertinggal di barang milik seorang korban kasus pembunuhan. Noah melakukannya dengan hati-hati dan teliti. Tak mau ada satu pun kesalahan yang akan membuatnya mengulangi pekerjaannya lagi. Noah bekerja sampai tak ingat waktu.


"Setelah barang ini selesai, sebaiknya kita beristirahat saja dahulu. Kita selesaikan sisanya besok pagi," kata rekan kerja Noah memberi saran.


Akan tetapi, Noah tak mau bergeming. Tangan dan matanya masih fokus pada sebuah benda di atas meja kerjanya yang sedang dia teliti.


"Lebih cepat lebih baik. Aku akan menyelesaikan malam ini juga. Kalau kamu lelah, istirahat saja duluan," kata Noah.


Benar saja Noah tidak akan tidur sebelum tugasnya selesai. Beberapa jam kemudian, saat jam menunjukkan pukul dua pagi hari, Noah baru menyelesaikan penelitiannya.


Noah merasa lelah dan merebahkan dirinya di kasur yang tersedia di kantor. Noah tak pernah pulang ke rumah selain ada hal penting. Saat Noah serang termenung mengistirahatkan badannya, tiba-tiba dia teringat kalung yang berada di sakunya. Ya, kalung pemberiannya dulu kepada Lisa.


"Kalung ini adalah benda berharga yang aku berikan kepada orang lain. Harganya sangat mahal bagiku, tetapi tidak dengan Lisa. Aku ingat betul susah payah mencari uang untuk membeli benda ini. Aku harus bekerja lembur sampai larut malam saat bersekolah dulu. Dan kini kalung ini kamu berikan lagi padaku, Lisa." Noah berkata sambil memegang kalung tersebut.


Hanya kalung emas biasa dan kadarnya pun dibawah dua puluh empat karat. Terdapat mutiara imitasi putih di tengah bandul bergambar love membuat kesan kalung itu seakan mahal dan berkelas. Kalung tersebut selalu dipakai Lisa setiap hari, tak sekali pun gadis itu melepasnya. Noah pikir dengan dikembalikannya kalung, berakhir sudah perasaan Lisa padanya.


"Sebenarnya aku masih menyukaimu. Sulit bagiku untuk membencimu, Lisa. Bertahun-tahun bersama tak bisa aku lupakan begitu saja. Walaupun sikapmu manja kekanakan dan sangat cerewet, tapi nyatanya aku suka. Sayangnya, kedua orang tuamu selalu menjadi pembatas. Akan lebih baik aku hanya menganggapmu adik seperti dulu saat kita sama-sama kecil." Noah terus berbicara pada dirinya sendiri sambil mengamati kalung tersebut.


Beberapa menit melihat ke arah kalung. Noah merasa ada kejanggalan di benda tersebut. Ada benda berwarna hitam kecil yang menyembul di dekat bandul. Noah mengamati saksama. Tak lama, pada akhirnya Noah mengetahui kalau itu adalah alat perekam yang sengaja di tempelkan Lisa.


"Jadi kamu sengaja menaruh alat ini untuk memata-mataiku, Lisa. Heuh, kau pikir aku bodoh. Mana mungkin aku memberikan kalung bekas yang kamu pakai untuk perempuan lain, kamu benar-benar membuatku ingin tertawa."


Saat itu juga Noah membuang kalung itu ke tempat sampah. Sementara Lisa, karena tertidur dia tak mendengarkan sedikit pun apa yang di ucapkan Noah sebelum membuangnya ke tempat sampah.


...***...


Keesokan harinya. Saat pukul enam pagi. Helen sudah berada di kantor dengan penampilan sempurna seperti biasanya. Lipstik berwarna merah merona tak lepas untuk memoles bibirnya. Dibalut rok di atas lutut dan kemeja lengan panjang, Helen melangkah menggunakan heels berjalan angkuh menuju meja kerjanya.


Helen sengaja datang lebih cepat. Dia ingin terlihat unggul dibandingkan Aluna. Setelah menaruh tasnya di loker pribadi. Helen langsung bergegas menuju ruangan Alvin.


"Aku yakin kamu hanya akan dijadikan pembantu di sini," kata Helen tersenyum miring membayangkan Aluna nantinya.


"Alvin sudah datang. Aku harus pintar mencari simpati Alvin." Helen melihat kedatangan Alvin yang baru turun dari mobil lewat jendela ruangan itu.


Beberapa menit kemudian saat Helen akan keluar ruangan. Dia mendengar dari balik pintu, langkah kaki semakin mendekat menuju ruang pribadi Presdir. Langkahnya pelan namun terdengar jelas dari dalam, karena tak ada satu pun orang yang berlaku lalang di lantai itu.


Itu pasti Alvin, batin Helen.


Helen langsung merapihkan penampilannya agar terlihat sempurna di mata Alvin.


Benar dia adalah Alvin. Lelaki itu sudah terbiasa datang pagi-pagi sekali sebelum semua pegawainya datang.


Alvin memegang gagang pintu lalu mendorongnya pelan.


"Selamat pagi, Presdir Alvin," sapa Helen sambil tersenyum.


Kemunculan Helen hampir saja membuat Alvin kaget. Lelaki itu hanya terdiam terpaku melihat sekilas Helen lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain. "Kamu sudah merapihkan meja kerjaku?" tanya Alvin tanpa melihat Helen.


"Sudah, Presdir," kata Helen sambil tersenyum.


"Kalau begitu Segera siapkan sarapan pagi sekarang," perintah Alvin tanpa basa-basi. Lelaki itu lalu duduk di depan meja kerjanya sambil sesekali membaca pesan teks di ponselnya.


"Baik, Presdir. Aku sudah menyiapkan semuanya. Dalam waktu lima menit semuanya akan tersedia di meja makan." Saat itu juga Helen keluar ruangan ingin mengambil makanan yang sudah dibuat ibunya.


Helen sangat sigap. Dalam hitungan kurang dari setengah jam, Helen sudah memanaskan makanan di microwave lalu menyajikannya lagi di atas piring yang ditata di meja makan ruangan Alvin.


Saat menyajikan makanan Helen terlihat percaya diri, karena menyangka Alvin akan sarapan pagi dengannya.


"Apa makanan itu adalah masakan ibumu?" tanya Alvin.


"Ya, Presdir. Seperti biasanya ibuku selalu memasaknya, Anda pasti rindu masakan ibuku, bukan?" Helen lalu menaruh dua set alat makan di meja tersebut.


"Katakan terima kasih pada ibumu. Besok aku akan memberikan uang imbalan sebagai gantinya," ucap Alvin tanpa melihat, dia masih sibuk dengan ponselnya.


"Tidak usah, Presdir. Anda memakannya saja ibuku sudah senang," kata Helen berbasa-basi, namun, dibalas oleh Alvin hanya mengangguk pelan.


Beberapa menit kemudian. Helen berjalan mendekati Alvin lagi. "Presdir, makanan untuk sarapan paginya sudah selesai aku sajikan. Anda sudah bisa menikmatinya sekarang," kata Helen.


Belum menjawab pertanyaan Helen. Tiba-tiba datanglah seorang perempuan yang kini sudah berdiri di depan pintu, lalu berkata, "Terima kasih, Helen. Sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kami." Ya, dia adalah Aluna. Rupanya Alvin yang meminta perempuan itu untuk sarapan pagi bersamanya.


Saat itu juga wajah Helen terlihat sangat masam melihat kedatangan Aluna. Keinginannya langsung buyar seketika, saat Aluna mengatakan akan sarapan pagi bersama Alvin. Sia-sia sudah pengorbanannya pagi ini.