
Aluna melangkahkan kakinya, menatap begitu jengkel ke arah Ara yang dia anggap adalah Helen. "Kenapa kamu berani datang ke tempat kerja suamiku lagi?" Aluna mencengkeram lengan Ara, "sudah kubilang jangan pernah datang ke sini lagi."
Ara menatap sendu, matanya sudah mulai berkaca-kaca. Sungguh Ara tidak terlalu paham apa masalah sebenarnya, yang dia sendiri tahu Helen memang sangat licik dan seringkali memfitnah protagonis utama. Memahami tabiat Helen yang buruk, Ara hanya bisa diam membiarkan Aluna mencengkeramnya.
Kenapa Helen diam saja tak membalasku? Batin Aluna.
Karena melihat tatapan Ara yang memelas. Pelan-pelan Aluna melepaskan tangannya dari lengan Ara. "Kenapa kamu ke mari? Apa kamu ingin menyangkal lagi kesalahanmu, Hah!"
Namun bukannya menjawab, Ara malah menatap lekat wajah Aluna. Melihat saksama inci demi inci bagian wajahnya. Bukannya dia takut karena dimarahi, justru Ara malah semakin mendekat dan sedetik pun tak berkedip. 'Wajahnya sangat mirip sekali dengan kakakku, apa mungkin ..., ah tidak! Sepertinya mustahil!' Ara membatin di dalam hati.
"A-aku hanya ingin meminta maaf. Maafkan aku sudah bersalah selama ini." Lagi-lagi mau tak mau Ara yang harus meminta maaf karena perbuatan Helen.
Meskipun wajah mereka sangat mirip, Ara merasa tak yakin wanita di depannya adalah kakaknya. Dia terus menundukkan kepalanya dan berkali-kali meminta maaf. Menurutnya, mungkin hanya kebetulan saja kalau wajah protagonis wanita sangat mirip dengan Aluna.
"Maaf! Seenaknya saja! Aku tidak akan memaafkanmu dan akan tetap melaporkan perbuatanmu ke polisi!" seru Aluna.
Mendengarnya, Ara begitu terkejut. Dia sangat takut kalau harus berurusan dengan polisi lagi. "Aku mohon jangan lakukan! Maafkan aku, aku berjanji akan menjadi orang yang baik setelah ini."
Ara memegang tangan Aluna sembari menatap memelas. Ara takut kalau sampai dia tak kembali di dunia nyata dan akan berakhir di dalam jeruji besi. "Jangan laporkan aku kepada polisi ya, aku mohon!" pintanya lagi.
Kenapa kali ini tatapan matanya sangat berbeda? Dari caranya melihat sangat mirip sekali dengan adikku. Batin Aluna.
"Aku sudah tidak mempercayaimu! Aku sudah muak dengan sandiwaramu. Sekarang enyah dari hadapanku!" pekik Aluna.
Entah mengapa hati dan ucapan Aluna berbanding terbalik. Sebenarnya dia menginginkan wanita di depannya memohon lagi. Dari caranya menatap dan berbicara, membuat Aluna teringat adiknya.
"Maaf, aku sudah mengganggu waktumu, Kak. Sebaiknya aku pergi saja." Ara terlihat semakin gugup dan serba salah, padahal di dalam hatinya ingin sekali dia bertanya apakah wanita yang berdiri di depannya itu adalah Aluna, kakaknya.
Aluna tersenyum miring sebelum Ara pergi. "Dan satu lagi! Kamu tak perlu memikirkan pekerjaanmu lagi, karena aku sendiri yang akan menjadi penggantinya."
"Baik, kak. Lagipula aku tidak menginginkannya. Aku sangat setuju," ucap Ara seraya tersenyum, "terima kasih sudah mau menemuiku, aku yakin kakak adalah orang yang baik mau memaafkanku dan tidak akan melaporkanku ke polisi."
Mendengar Ara memanggilnya 'kakak' Aluna terkesiap. Ya, menurut Aluna, sikap Helen sangat aneh, lain dari biasanya. Menurutnya, tak mungkin seorang Helen menerima kekalahannya begitu saja, apalagi memanggilnya 'kakak'.
"Tunggu!" Aluna menghentikan langkah Ara yang hendak melewatinya. Dia menahan Ara untuk tidak pergi dulu. Mereka berdua pun saling menatap satu sama lain.
Ara membalas tersenyum. "Apa ada yang ingin kakak ingin ucapkan lagi?"
Tatapan Aluna begitu menyelidik. Dia terus mengamati perubahan ekspresi wanita di hadapannya. Ya, Aluna tak yakin kalau Helen benar-benar tulus meminta maaf.
"Sudahlah, jangan terus menipuku! Katakan apa tujuan kamu ke mari? Apa kamu ingin menjebakku lagi dengan berpura-pura berubah?" tanya Aluna sinis.
Sementara Ara yang terus diintimidasi terlihat sangat tenang. "Tidak ada maksud apa pun, Kak. Aku hanya ingin meminta maaf dengan tulus."
"Bohong!" ketus Aluna mengelak.
"Apa aku perlu berlutut, Kak. Aku berani bersumpah kalau aku hanya ingin meminta maaf," ucap Ara.
Aluna yang masih bimbang akhirnya melangkah pergi begitu saja. Pikirannya kali ini sedang sangat kacau. Dia sangat takut ditipu lagi oleh Helen dan ingin memberinya pelajaran agar jera.
***
Alvin telah selesai mewawancarai tiga calon sekretarisnya. Dia memutuskan memilih seorang pria menjadi sekretarisnya. Sebenarnya dia membutuhkan dua orang untuk membantunya bekerja. Namun, pikirannya kembali mengingat Aluna yang menginginkan posisi itu, jadi dia putuskan hanya memilih satu kandidat.
Ada perlu apa Noah meneleponku lagi? Tanya Alvin di dalam hati.
Alvin yang sedang senggang membuka handphone, menemukan banyak panggilan masuk dari Noah. Lewat sepersekian detik dia pun balik menelepon Noah.
^^^"Presdir Alvin, akhirnya kamu meneleponku," jawab Noah begitu mengangkat panggilan telepon dari Alvin.^^^
"Sebenarnya aku sangat malas meneleponmu. Katakan ada apa? Aku masih sibuk," ucap Alvin.
^^^"Jangan terlalu kaku seperti itu. Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu ... tentang Helen."^^^
"Memangnya tidak ada topik lain selain membicarakan wanita itu?"
^^^"Ini sangat penting, Alvin. Apa Helen seorang pengidap skizofrenia?"^^^
"Aku tidak tahu, tapi sepertinya tidak. Memangnya kenapa dengan wanita itu?
^^^"Alvin apa kamu tahu isekai? Dan apakah kamu juga percaya dengan perpindahan jiwa seseorang antar dimensi?"^^^
"Apa maksudmu? Pertanyaanmu sangat aneh sekali!"
^^^"Aku pernah bertemu dengan Helen sebelumya, tetapi entah mengapa sifatnya sangat lain sekarang. Barusan Helen juga mengatakan kalau dia adalah Ara, dia juga berkata kalau dirinya bukan dari dunia kita, lebih tepatnya dimensi lain. Kalau Helen bukan seorang pengidap skizofrenia, apa mungkin ucapannya benar?" ^^^
"Apa! Dunia lain?"
...***...
"Sepertinya dia sedang tidak berakting. Dari caranya menatap kenapa sangat mirip sekali dengan adikku? Ya, Helen sangat berbeda dengan Ara saat melihatku." Aluna berkata sendiri, pikirannya sedang berkecamuk.
Hatinya saat ini benar-benar sangat bimbang dan kacau. Tetapi jauh di dalam lubuk hatinya terdalam, Aluna merasa ada energi lain yang mengatakan wanita itu adalah Ara. Instingnya sebagai seorang kakak sangat sensitif kali ini.
Apa mungkin Ara juga ikut berpindah dimensi sama sepertiku?
...###...
Sambil menunggu novel ini update, yuk ramaikan dan baca novel satu ini. Semoga suka😊