TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Izinkan Aku Ikut, Alvin!


Anming menatap dingin Aluna. Setengah tersenyum dia mencemoohnya, "aku dengar kamu mengajukan diri sebagai asisten pribadi Alvin? Luna, sebaiknya kamu jangan bermimpi terlalu tinggi, lihat kemampuanmu dulu seperti apa! Kamu hanya lulusan menengah atas, itu pun aku juga mendengar kalau kamu sering membolos sekolah berbulan-bulan. Aku yakin kamu tak memiliki keahlian khusus menjadi sekretaris."


Ucapan Anming begitu menohok. Tetapi Aluna tidak terpancing, wanita itu malah mengalihkan pandangannya dan tersenyum lembut ke arah Alvin. Aluna berpura-pura tak mendengar.


"Sudahlah, ayah. Lagipula Luna tak serius mengajukannya." Alvin berusaha menenangkan. Dia masih sibuk merapihkan berkas-berkas yang barusan ia tandatangani.


Mendengar itu, Aluna mendekati Alvin membantunya merapihkan beberapa lembaran kertas yang tercecer di meja. "Alvin aku serius. Bahkan aku ingin ikut berpartisipasi mengikuti rapat kali ini. Aku janji tak akan membuat masalah, aku hanya ingin menjadi asistenmu saja. Sekarang, mana berkas yang kamu perlukan. Biar aku saja yang bawa." Aluna bersikap genit dengan bergelayut manja.


"Aku tidak memerlukannya, Luna. Aku sudah menyimpan semua berkasnya di sini," ucap Alvin sambil menunjuk laptop yang dia pegang.


"Oh, kalau begitu biar aku saja yang bawa." Aluna mengambil laptop dari tangan Alvin.


"Berhentilah bersikap konyol. Luna, kamu pikir kami sedang main-main!" gertak Anming menatap sinis.


Anming sangat membenci Aluna. Karena Luna yang dia kenal tak membantu Alvin sama sekali. Setiap hari Luna selalu mengurung diri di kamar dan bermalas-malasan hanya menunggu Alvin pulang kerja. Anming yang sudah mendengar Aluna mengajukan menjadi sekretaris Alvin, merasa wanita itu sedang main-main, dan menganggap remeh pekerjaannya.


"Ayah mertua, bagaimana kalau aku bisa melakukannya? Beri aku waktu satu bulan untuk bisa membuktikannya. Setelah itu aku berjanji tidak akan mengganggu Alvin lagi di kantor," kata Aluna.


Alvin dan Anming sempat terdiam beberapa detik, mereka saling berpandangan. Anming hanya menanggapi dengan senyum dingin. Tak sedikit pun dia menganggap perkataan Aluna adalah serius. "Pulang saja ke rumah. Atau kamu bisa belajar memasak atau berdandan agar bisa menyenangkan hati suami ketika pulang kerja." ucapnya ketus.


Aluna sebenarnya ingin sekali membalas kata-kata kasar Anming. Sayangnya dia masih punya attitude yang baik untuk tidak ribut di dalam kantor. Apalagi Anming adalah ayah mertuanya.


"Kamu sudah membuang waktu kami! Luna, jangan kamu mengira pekerjaan seorang asisten pribadi hanya untuk menerima telepon dan menyerahkan berkas untuk ditandatangani. Pekerjaan sekretaris bukan hanya mengatur jadwal Alvin, mengurus arsip, menangani surat menyurat dan membuat agenda pertemuan saja. Pekerjaan seorang asisten pribadi sangat banyak dan lebih dari itu. Seorang sekretaris juga harus memiliki keahlian interpesonal yang cakap untuk mengamati sifat berbeda-beda setiap rekan bisnis," ketus Anming semakin kesal.


"Ayah sudahlah tak usah diperpanjang! Aku akan memberi pengertian istriku nanti setelah ini. Rapat akan segera dimulai, aku tidak mau mengecewakan klien karena terlalu lama menunggu. Sebaiknya kita pergi sekarang," ucap Alvin menenangkan lagi ayahnya.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Anming langsung berlalu. Dia mengepalkan tangannya dan mendengus kesal. Anming sudah sangat muak menanggapi sikap konyol Aluna. Dia berpikir bagaimana mungkin Alvin bisa berubah secepat itu karena seorang wanita. Ya, dia sendiri pun selalu arogan kepada istrinya.


Tua bangka! Sombong sekali kamu! Batin Aluna menatap sinis kepergian Anming.


"Luna, kamu tunggu di sini dulu. Setelah rapat selesai, aku janji akan mengajakmu makan siang bersama. Jangan ambil hati perkataan ayahku, ya!" seru Alvin berusaha menenangkan. Namun, Aluna yang diajak bicara hanya diam saja tak menanggapi, dia malah menunduk tak mau melihat.


"Baiklah, aku pergi."


Baru beberapa langkah hendak meninggalkan Aluna, langkahnya Alvin hentikan. Dia kembali menoleh dan mengamati ekspresi wajah Aluna yang sedih. Dia melihat kekecewaan di wajahnya bahkan senyum Aluna pun seketika memudar. Alvin merasa tidak tega, dia merasa kasihan dan mendekati Aluna kembali.


"Luna, aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Tiba-tiba saja kamu ingin menjadi asistenku, lalu sekarang ingin mengikuti rapat besar mendampingiku, sebenarnya apa tujuanmu, Luna?" tanya Alvin penuh tanda tanya.


Melihat Alvin berbalik ke arahnya, mata Aluna berbinar. Aluna tahu, pasti lelaki itu mempertanyakan apa tujuan dia saat ini. Tentu saja jawabannya karena tugas dari sistem. Miss K memperingatinya agar menghadiri rapat kali ini, karena kalau dia tidak hadir kali ini, Alvin akan salah bertindak.


Sistem juga memberitahu Aluna kalau visi Alvin dan Anming selalu berbeda setiap melaksanakan pekerjaan. Pemikiran Anming terlalu kuno, membuat perusahaan sering merugi. Sedangkan pemikiran Alvin yang inovatif selalu membuat perusahan semakin berkembang dan untung.


"Aku akan memberitahukan semuanya nanti, aku yakin kamu tidak akan kecewa mengajakku. Sekarang bolehkah aku ikut? Kalau kamu tidak mengizinkannya, aku akan marah dan tidak mau berbicara lagi denganmu." Aluna mengerucutkan bibirnya, memberi ancaman kepada lelaki di depannya.


Mendengar itu Alvin terkekeh. Ya, dia sangat suka melihat wajah Aluna setiap kali marah. Menurutnya itu membuatnya semakin bertambah menggemaskan.


"Baiklah nona cantik. Aku mengizinkanmu. Sekarang ikutlah denganku." Alvin menyodorkan lengannya.


Dengan sekejap, Aluna langsung menautkan tangannya di lengan Alvin. Senyumnya langsung merekah seketika, "Terima kasih sayangku," balas Aluna.


Mereka berjalan bergandengan menuju ruang konferensi. Namun, saat mereka sudah hampir memasuki ambang pintu, langkah mereka terhenti. Anming yang melihatnya menggelengkan kepala beberapa kali.


"Alvin! Kena--"


"Luna istriku sangat mahir menjadi penerjemah bahasa Korea. Tempo hari Tuan Dae Jung memuji Luna karena dia sangat pintar menyenangkan hati klien. Aku yakin dengan kehadiran Luna di sini, walaupun tidak banyak membantu, setidaknya dia bisa menjadi penerjemah sekarang. Karena yang aku tahu ada satu perusahan perwakilan dari Korea yang menghadiri rapat. Tuan Dae Jung juga memujinya karena dia sangat pintar mengambil keputusan." Alvin langsung memotong sebelum Anming sempat mengoceh lagi.


"Tapi, Alvin!" Anming yang ingin memarahi Aluna lagi, mendadak diam ketika dia melihat beberapa klien melihat ke arahnya. Terang itu akan membuat citra buruk seorang Anming, kalau sampai mereka melihat dia memarahi menantunya di depan umum.


Beberapa peserta rapat yang melewatinya memberi hormat kepada mereka bertiga sebelum masuk ke ruangan. "Selamat siang Tuan Anming, Presdir Alvin dan Nyonya Presdir."


Sontak, mereka bertiga menghentikan perdebatan dan membalas salam klien yang menyapanya.


"Aku berjanji tidak akan membuat masalah," ucap Aluna meyakinkan.


Mendengarnya Anming mendengus kesal. Mau tak mau daripada ribut, dia mengizinkan Aluna ikut masuk walaupun dalam hatinya sangat lah kesal.


"Sebaiknya kita masuk dan memulai rapatnya sekarang, semua peserta sepertinya telah hadir. Ayo Luna, masuklah." Alvin menarik lembut tangan Aluna.


Sementara Anming. Ya, dia masih menganggap Aluna hanyalah parasit yang tak menguntungkan mereka sama sekali.