TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
213


Di rumah Hideon. Ara sudah menenangkan Mona, secara sembunyi-sembunyi gadis itu masuk ke dalam kamar Aluna. Dia ingin bercerita banyak kepada Aluna malam ini.


"Kakak," panggil Ara.


Aluna yang barusan selesai membersihkan diri langsung menutup pintu kamarnya buru-buru.


"Adik, kenapa kamu datang kemari? Bagaimana kalau Mona tahu, bisa-bisa dia mencurigaimu lagi," kata Aluna dengan suara pelan.


"Jangan takut, Kak. Aku diam-diam datang ke mari. Aku yakin tidak ada yang melihatku," sahut Ara.


Keduanya lalu mendudukkan diri di sofa panjang dekat ranjang Aluna. "Apa yang ingin kamu katakan, Ara? Aku juga ingin menceritakan sesuatu yang penting," kata Aluna lagi.


Mereka duduk bersebelahan. "Benarkah Luna sudah memiliki anak?" tanya Ara lalu dibalas anggukan cepat dari Aluna.


Ara memang pernah membaca novel tersebut, tapi Ara lupa keseluruhan ceritanya. Plot novel yang dia baca memang sangat kejam. Namun untuk mengetahui protagonis wanita memiliki anak, dia tak ingat pasti. Novel yang dia baca sedang kejar tayang di aplikasi online. Terkadang Ara sendiri sering bingung melihat isi ceritanya yang kadang berubah, seperti di edit ulang.


"Luna sudah memiliki anak lelaki berusia lima tahun. Anak itu belum ditemukan. Orang tua yang mengadopsi, sengaja menyembunyikan Zero dan sekarang Zero masih belum diketahui keberadaannya," kata Aluna.


Ara terperangah, dia sangat kaget. Ternyata benar yang dikatakan Mona kepadanya tentang Luna tadi sore. Saat itu juga Aluna menceritakan semua tentang Luna lima tahun yang lalu kepada Ara. Saat Luna melahirkan dan siapa ayah dari anak tersebut.


"Jadi aku sudah memiliki keponakan? Jadi dia ternyata anak Kak Alvin, dan nama anak itu Zero?" tanya Ara, tanpa disadari Ara ikut bahagia mendengarnya.


"Ara, bukankah kamu pernah membaca novel ini. Apa kamu tahu di mana Sembo menyembunyikan anakku? Kamu pasti tahu, kan?" tanya Aluna.


Ara menggeleng. Setiap berada di dunia novel ingatan dia tentang buku ini mendadak hilang. Yang dia ingat hanyalah, Noah dan Aluna.


"Kenapa tidak tanya kepada Sistem yang membawa kita ke mari?" Ara balik bertanya.


"Sistem tak memberikan infonya. Dia malah memberitahukan, kalau rumah tangga Luna sedang dipertaruhkan. Keluarga Alvin menyuruh kami bercerai," kata Aluna.


Ara mendengkus kesal, berkali-kali dia menyalahkan Hideon tentang perilakunya lima tahun yang lalu karena bisa-bisanya membuang cucu kandungnya. Akan tetapi, Ara kembali ingat, kalau dunia yang dia pijak sekarang adalah dunia fiksi. Ara sadar, semua yang terjadi di dalam novel itu hanyalah sebuah karangan yang dibuat seseorang.


"Bercerai? Kalau begitu kita pulang saja ke dunia nyata!"


"Tidak, itu tak boleh terjadi, itu artinya misi akan berakhir dan kita akan kembali ke dunia nyata tak membawa apa pun," kata Aluna, "pengorbananku sia-sia. Aku ingin mendapatkan ramuan obat penyembuh yang akan didapatkan setelah misi ini berakhir. Aku akan mendapatkannya untuk kesembuhanmu, Ara," sambungnya sambil memegang bahu Ara.


***


Di tempat lain di rumah keluarga Han. Zero telah selesai membuat api dan memasak air untuk merebus mie. Tangannya sangat cekatan menaruh mie ke dalam panci lalu, membuka bumbu lalu menuangkannya ke dalam mangkok.


Zero memandangi mie yang dibuatnya, sambil membayangkan makanan yang terbuat dari tepung tersebut masuk ke dalam mulutnya. Zero menyeka liur yang hampir jatuh dari sudut bibirnya.


"Paman, bibi, mienya sudah siap disajikan," kata Zero memegang erat semangkok besar mie, membawanya pelan-pelan takut jatuh.


Bu Han tampak berbinar. Dari tadi dia memang sangat lapar, sayangnya dia sendiri tak bisa menyalakan api bakar. Pasangan suami istri tersebut lalu mengambil sumpit, mengambil mangkok tersebut dan memakannya bersama.


Zero terduduk di lantai sambil memandangi keduanya makan. Tampak lezat, kata Zero dalam hati. Tak menengok sedikit pun ke arahnya, kedua pasangan suami istri itu tampak rakus memakan mie semangkuk berdua.


"Sudah aku bilang kalau anak kecil itu bisa diandalkan, liat saja kayu yang tak kering saja dia bisa membuatkan api untuk masak," kata Pak Han memuji.


"Tapi tetap, kamu harus cepat menghubungi Sembo. Aku takut anak kecil ini mati di rumah kita karena penyakitan. Lihat saja, tubuhnya sangat kurus seperti tak ada daging yang menyelimuti tulangnya," sahut Bu Han menunjuk Zero yang meringkuk di pojokan.


Pak Han yang sedang makan baru sadar kalau Zero belum memasukkan apa pun. Karena merasa kasihan dengan Zero, Pak Han mengambil satu mie instan lalu menyuruh Zero memasaknya lagi.


"Anak kecil, buatlah mie ini. Makan dan beristirahatlah setelahnya," kata Pak Han menghampiri Zero.


"Paman, apa Nyonya Sembo akan menjemputku besok?" tanya Zero.


Pak Han kembali sadar, saat itu juga dia berencana menelepon Sembo lagi. Dia akan menuju rumah tetangganya hendak meminjam untuk menelepon.


"Kamu tunggu di sini, makanlah yang kenyang. Aku akan datang setelah menelepon orang tua asuhmu lagi," kata Pak Han sambil mengelus pucuk kepala Zero. Dia juga menyuruh Bu Han agar menjaga Zero.


Sementara, Zero hanya mengangguk dia terlihat pasrah kalau dia akan dialihkan lagi ke keluarga lain.


Selang beberapa menit, Pak Han sudah sampai di rumah tetangga dan berhasil meminjam teleponnya. Tak mau membuang waktu, dia langsung menghubungi Sembo.


"Nyonya Sembo kapan kamu menjemput anak ini?" tanya Pak Han.