
Karena angin bertambah kencang ditambah sepertinya akan ada hujan diiringi badai, helikopter yang membawa mereka terpaksa melakukan pendaratan darurat. Hal itu tidak bisa dihindarkan karena nyawa mereka sebagai taruhannya kalau sampai memaksakan untuk terus terbang.
"Kita harus mencari kendaraan untuk sampai tempat itu," kata Aluna setelah mereka menginjakkan kakinya di tanah.
"Tapi di mana kita mencarinya? Di sini seperti tidak ada satu pun rumah."
Tempat yang mereka pijak sudah memasuki wilayah pegunungan. Udaranya sangat dingin ditambah lagi gerimis kencang sudah mulai menghujam tubuh mereka. Berkali-kali perempuan itu mengusap lengannya karena merasa hawa dingin sudah merasuk sampai ke sendi tulang. Jaket tebal yang Aluna pakai pun tak cukup menghangatkan tubuhnya.
"Pakai dulu sarung tangan dan mantelnya agar kita tak mengalami Hipotermia," kata Alvin lalu mengambil dua mantel, satu dipakai untuk dirinya dan satunya lagi dia pakaikan ke tubuh Aluna. Sementara pilot yang membawa mereka, lebih memilih berada di dalam pesawat sampai hujan berhenti.
"Tuan, apa sebaiknya kita tunggu di dalam sampai hujan reda?" tanya pilot tersebut tak tega.
"Sepertinya kita salah mendarat. Kita sudah setengah jalan, tak mungkin kita berhenti di sini." Alvin mengembuskan napasnya kasar. Terlihat karbondioksida yang keluar dari lubang hidung dan mulutnya membentuk asap putih, membuktikan hawa benar-benar sangat dingin di tempat tersebut.
Aluna mengedarkan pandangannya ke penjuru arah, dia berharap ada pemukiman warga di dekat situ. Tempat yang dia pijak sepertinya sebuah lahan kosong yang ditumbuhi rerumputan yang tak terlalu tinggi. Instingnya yakin kalau tempat itu pasti sering dilalui orang.
"Tunggu, aku melihat jejak kaki di sini," kata Aluna menunjuk sebuah genangan air lalu berlari ke arahnya. Di dekat genangan tersebut terlihat banyak jejak kaki di atas tanah liat, "lihat ada jejak kaki hewan di sini. Mungkin jejak kaki sapi dan domba. Itu tandanya di dekat sini pasti ada peternakan. Kita bisa menyewa mobil kepada pemiliknya untuk sampai di kota X," imbuhnya kegirangan.
Alvin mendekat, kali ini dia cukup percaya dengan perkataan Aluna. Setelah menutup rapat kepala dan tubuh mereka, Aluna dan Alvin mulai berjalan mengikuti jejak kaki tersebut.
Benar saja, beberapa kilometer dari tempat tadi ada sebuah peternakan sapi dan domba. Baru memasuki area, Aluna sudah di sambut oleh gonggongan anjing yang sepertinya ditugaskan sebagai penjaga oleh pemilik peternakan itu.
"Siapa di sana?" Terdengar suara berat seseorang dari dalam. Beberapa detik kemudian muncullah seorang lelaki menggunakan topi kerucut keluar mengenakan pakaian tidur.
"Siapa kalian?" tanya lelaki tersebut terlihat kaget sambil mengarahkan senternya ke wajah Aluna dan Alvin bergantian.
"Namaku Luna, kami dari pulau seberang. Kami membutuhkan tumpangan untuk sampai di perkebunan strawberry. Bisakah Anda menyewakan satu mobil untuk kami?" tanya Aluna masih berdiri di luar.
Pemilik peternakan tersebut terlihat sinis dan langsung menolak, "Aku tidak menyewakan mobil untuk orang asing seperti kalian."
"Kalau tidak disewakan, bisakah aku membelinya. Berapa harga yang kamu inginkan, Tuan?" tanya Alvin menyela.
"Membeli atau menyewa, aku tidak akan memberikan untuk kalian. Cari saja ke tempat lain, aku sedang sibuk mengurusi sapi ku yang mau melahirkan." Lelaki tersebut terlihat membawa beberapa kain dan melewati Aluna begitu saja menuju kandang sapi.
Melihat penolakan dari pemilik peternakan, Aluna sedikit kecewa. Menurutnya di mana lagi mereka mencari sebuah kendaraan malam ini? Di tempat itu jauh dari pemukiman, hanya peternakan inilah yang paling dekat. Alvin bisa saja menyuruh bawahanya memesankan sebuah mobil, tapi pasti sampainya besok. Menurut mereka itu terlalu lama.
Alvin tak menyerah, dia berlari mendekati pemilik peternakan yang berada di kandang. Peternak tersebut sibuk mengelus perut sapi yang sedang mengejan. Sapi tersebut sepertinya sedang kesulitan saat melahirkan.
Alvin berdiri tidak jauh dari kandang sambil berkata, "Tuan, berapa pun harga mobil yang kamu minta, aku akan berikan. Lihatlah aku membawa uang yang banyak. Sekarang sebutkan saja jumlahnya," ucap Alvin terus mendesak.
"Apa kamu tak melihat aku sedang sibuk! Lihat sapiku akan semakin lama melahirkan kalau melihat orang asing seperti kalian." Wajah Pemilik peternakan terlihat semakin marah.
Alvin mundur sejengkal, dia merasa ngeri saat melihat wajah sapi yang hendak melahirkan.
"Tuan, aku bisa membantu sapi Anda melahirkan. Asalkan, kalau aku berhasil Anda harus berjanji akan meminjamkan kami satu buah mobil hari ini," kata Aluna bernegosiasi.
Karena tak tega melihat kondisi sapinya yang semakin lemah, pemilik tersebut menyanggupi.
"Baiklah, kalau kamu bisa membantu sapiku melahirkan aku akan meminjamkan mobilku beberapa hari. Tapi kalau sapiku sampai kenapa-napa, kalian tidak boleh pergi dan harus bekerja di sini sampai tiga bulan. Kalau kalian tidak sanggup sebaiknya pergi saja, jangan mengganggu konsentrasi sapiku," kata pemilik peternakan meremehkan.
"Aku sanggup." Aluna terlihat sangat yakin.
Mendengarnya, pemilik peternakan tercengang begitu pun Alvin. Mereka tak menyangka kalau Aluna akan menyanggupi syarat itu. Alvin menggelengkan kepala tak habis pikir bagaimana caranya perempuan itu bisa membantu melahirkan, sementara si pemilik yang terbiasa saja tak bisa membantunya melahirkan.
Sebelum beraksi, Aluna menukar terlebih dahulu tiga tas saran yang dimilikinya dengan keahlian sebagai dokter hewan kepada sistem.
"Berdirilah yang tenang. Atur napasmu ibu sapi, aku akan mendorong bayimu dari sini," kata Aluna berbicara lembut kepada hewan bercorak hitam putih itu. Anehnya, ucapan Aluna seperti sihir yang membuat hewan tersebut menurut dan mengikuti perintah Aluna untuk mengejan.
Tak sampai setengah jam akhirnya sapi tersebut berhasil melahirkan. Alvin dan pemilik peternakan terlihat tak percaya melihat Aluna dengan mudahnya mengeluarkan anak sapi. Bahkan Alvin yang berdiri di sana, hanya bisa memandang terharu. Dia ikut bahagia begitu bayi sapi itu lahir dengan selamat dan sangat sehat.
"Bayi sapinya sangat sehat. Sangat lucu sekali," kata Aluna ikut bahagia.
"Terima kasih sudah membantu sapiku melahirkan, sebagai imbalannya aku akan menyewakan kepada kalian mobil bak pribadi milikku secara grats. Kalian boleh memakainya sesuka kalian selama dua hari, setelahnya aku tidak bisa meminjamkan lagi karena aku harus ke kota untuk membeli pakan ternak," kata pemilik peternakan.
Setelah membersihkan diri, Aluna sangat senang menerima kunci tersebut. "Terima kasih, Tuan aku akan mengembalikannya lagi sebelum dua hari. Selamat untuk kelahiran anak sapi Anda," kata Aluna.
Melihat anak sapi itu meny usu pada induknya Alvin terlihat sedih, dia teringat akan Zero. Dia juga sangat menyayangkan kelakuan Hideon dan Luna, teganya mereka sampai memberikan anak itu kepada orang lain begitu lahir. Zero benar-benar anak yang malang.
"Nasib anak sapi itu berbeda dengan anakku saat dilahirkan. Pasti Zero kecil menangis histeris karena tak mendapatkan ASI. Bisa-bisanya Hideon memberikan cucu kandungnya kepada orang lain," gumam Alvin pelan.
Saat Alvin mengeluhkan keadaan itu. Tiba-tiba ponselnya berdering, orang suruhannya menelepon, memberi tahu kalau Yuze akan bertemu dengan Sembo di sebuah restoran. Orang yang menyadap telepon tersebut juga memberitahukan lokasi restoran tersebut kepada Alvin.
"Kita harus menuju restoran cepat saji di perbatasan perkebunan. Yuze dan anak buahnya sebentar lagi akan menemui orang yang mengasuh anakku. Kita tidak boleh telat dan harus membututi mereka sekarang," kata Alvin.
"Apa jaraknya masih jauh dari sini?" tanya Aluna.
"Dua jam, aku biasa menempuh kendaraan sampai ke tempat itu selama dua jam melaju di jalan utama, kecuali ...." Tiba-tiba saja pemilik peternakan menyela pembicaraan.
"Kecuali apa?!" tanya Aluna dan Alvin berbarengan.
"Kecuali kalau kalian menggunakan jalan utara, medannya cukup terjal, tapi kalian akan cepat sampai. Paling hanya satu jam, itu pun kalau kalian sanggup melewati jalannya yang menanjak," kata pemilik peternakan memberi saran.
"Kalau gitu serahkan padaku. Aku saja yang mengendarainya," kata Aluna mengambil kunci dari tangan Alvin.
"Terima kasih, Tuan. Aku akan kembali dua hari lagi." Setelah berpamitan, kemudian Aluna berjalan dengan Alvin keluar.
Aluna tak tahu kalau Alvin sedang menahan rasa gatal di tubuhnya.