
"Jadi kamu tak mengenalnya?" Mata Lisa melebar.
Helen semakin aneh mendengar kelakuan Lisa yang seakan terus mendesak. Dia pun sebenarnya merasa penasaran dengan nama tersebut. Ya, nama itu mengingatkan Helen saat pertama kali Aluna terbangun ketika dulu Alvin mengurungnya, hendak menandatangani surat perceraian. Nama itu juga diucapkan Aluna saat memanggilnya di kamar hotel bersama Noah.
"Aku tak mengenalnya. Aku juga tak ada urusan dengan lelaki yang kamu sebutkan tadi," kata Helen dengan nada arogan.
"Tetapi, kamu mengingatku bukan?" Lisa berusaha mencari titik temu kebingungannya.
"Mengingatmu untuk apa?"
Helen hanya ingat urusan dengan Noah saat dirinya berada di satu kamar hotel. Itu pun dia sudah malas membahasnya, menganggap itu hanyalah jebakan.
Sedangkan Lisa, dia tampak diam termangu menatap bingung Helen. Sikapnya sangat kontras dengan sebelumnya, apalagi sorot mata Helen dengan Ara sangatlah berbeda.
"Aku tak percaya! Bagaimana mungkin beberapa hari bertemu sudah kamu lupakan begitu saja! Kecuali kalau kamu mengalami amnesia," kata Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, perkataan Helen membuatnya bingung.
"Beberapa hari bertemu? Kau jangan asal bicara! Noah sama sekali bukan lelaki idamanku! Aku tak pernah ada urusan dengan kalian semua!" Bentak Helen.
"Bagus, pegang kata-katamu kalau kamu tak menyukai Noah. Sudahlah lupakan semuanya. Untuk selanjutnya, aku minta tolong padamu jangan dekati paman Noah lagi." Tadinya perempuan itu mau bersandiwara dengan bersikap ramah terhadap Helen. Tetapi karena Helen mengatakan tak menyukai Noah, Lisa akhirnya merasa lega walaupun banyak hal yang menurutnya tak sesuai logika.
"Kau! Sudah aku bilang aku tak ada urusan denganmu, lelaki itu dan nama perempuan bernama Ara. Untuk apa aku menanggapimu terlalu jauh," kata Helen mendengus kesal, "minggir! Kau menghalangi jalanku!" Bentaknya lagi mendorong tubuh Lisa agar menjauh dari pintu taksi.
Helen memasuki mobil dengan perasaan tidak suka. Sebenarnya dalam hatinya, dia juga sedang memikirkan perempuan yang dimaksud Lisa. Hanya saja, Helen terlalu malas meladeni Lisa yang menurutnya tak penting.
Kenapa kamu sangat berbeda sekali dengan sebelumnya? Kenapa dengan dirinya? Apa dia memiliki kepribadian ganda? Lisa terus membatin. Pikirannya terlalu rumit untuk mendapatkan sebuah jawaban.
"Sepertinya aku harus menyelidikinya? Aku yakin perempuan itu berbohong," kata Lisa.
Lisa kembali masuk ke dalam mobil sambil memikirkan cara untuk menyelidiki Ara. Menurutnya, apa alasan Helen harus berbohong? Kenapa Helen terlihat tak seperti kemarin saat bertemu dengannya. Nada bicara Helen kemarin sangat pelan dan lembut tidak seperti hari ini.
"Pengawal antar aku ke tempat kerja paman Noah," perintah Lisa. Perempuan itu telah menemukan cara untuk mengetahui isi hati Noah sekaligus untuk menyelidiki siapa Ara.
"Tapi, Nona. Nyonya Olive melarang Anda menemuinya," kata salah satu pengawal Lisa melarang.
"Aku hanya ingin menemuinya sebentar. Aku ingin mengembalikan kalung pemberiannya," kata Lisa lagi.
"Baik, tapi hanya sebentar saja, Nona. Kami takut Nyonya Olive tahu dan akan memecat kami," sahut pengawal.
"Iya, hanya lima menit," kata Lisa sedikit kesal. Gara-gara peristiwa kemarin, ibunya menjadi over protective. Nyonya Olive melarang Lisa menemui Noah. Nyonya Olive juga menyuruh dua pengawal untuk menemani gadis itu kemana pun dan memberitahukan semua aktifitas Lisa selama seharian.
"Baiklah, aku akan menggunakan cara ini agar mengetahui isi hatimu, Paman."
Tak habis akal, Lisa menempelkan alat perekam di kalung yang baru saja dia lepas dari lehernya. Ya, kalung itu pemberian Noah sebagai hadiah ulang tahunnya dan sudah lama dia pakai. Lisa ingin mengembalikan kepada Noah. Lisa ingin tahu perasaan Noah dengan mendengar lewat alat perekam yang dia tempelkan di benda tersebut. Lisa juga berharap, Noah akan memberikannya kepada Ara. Dengan begitu dia akan tahu siapa Ara yang sebenarnya.
Dengan kalung ini aku yakin kamu tak akan bisa berbohong lagi Nona Helen. Batin Lisa tersenyum licik.
Sepuluh menit kemudian Lisa sudah sampai di tempat kerja Noah. Didampingi kedua pengawal, Lisa berjalan menemui Noah yang saat itu tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Paman, aku ingin berbicara denganmu sebentar," kata Lisa tanpa basa-basi.
Noah merasa terganggu. Dia pura-pura sibuk dan tak menggubris Lisa. "Aku sedang sibuk."
"Lima menit saja," kata Lisa memohon.
Beberapa rekan kerja merasa terganggu dengan kehadiran Lisa. Dia pun menyuruh Noah cepat menemuinya dan menyuruh Lisa agar cepat pergi. Mereka tak ingin masalah kemarin terulang lagi, untungnya Tuan Glu segera mengganti rugi semua kerusakan yang diakibatkan Helen. Kalau tidak mereka akan mengusir Lisa detik itu juga.
Awalnya Noah pikir Lisa akan berulah lagi. Dia sudah dibuat khawatir saat menemuinya. Akan tetapi saat Lisa berkata lembut, Noah memberikannya waktu berbicara.
"Paman, aku ingin mengembalikan kalung pemberianmu. Terima kasih selama ini sudah menemaniku bertahun-tahun," kata Lisa menyodorkan sebuah kalung dengan bandul cinta bertuliskan namanya dan Noah.
"Simpan saja. Anggap saja sebagai kenang-kenangan dariku," kata Noah.
Noah melihat kalung itu, dia tak habis pikir kalau Lisa akan mengembalikannya.
"Kalung ini selalu mengingatkanku semua kenangan bersamamu, Paman. Ini sangat menyiksaku, dan sebaiknya aku kembalikan saja," kata Lisa dengan raut sedih.
"Terima kasih, Paman. Aku harap kamu bisa memberikannya lagi kepada wanita yang kamu sukai," kata Lisa sebelum pergi.
...***...
Sementara di dalam perusahaan. Aluna masih sibuk merapihkan berkas yang berserakan di mejanya. Terlalu fokus membuat dia lupa kalau jam sudah menunjukan waktu pulang.
"Aluna," panggil Alvin dari belakang.
"Ya," kata Aluna menoleh sejenak lalu merapihkan berkas-berkas itu kembali. Tangannya dengan cekatan merapihkan selembar demi lembar ke dalam map berukuran besar.
"Apa kau akan terus pulang ke rumah ayah mertua?" tanya Alvin ragu. Sebenarnya dia enggan menanyakan hal tersebut, mengingat status Aluna memang bukan istrinya.
Aluna mengangguk. "Ya, aku akan pulang ke rumah Luna. Aku harus memantau adikku."
Wajah Alvin mendadak pias. "Bukankah aku sudah memperkerjakan Helen lagi di kantor. Apa tak cukup untuk bertemu dengannya hanya siang hari?"
Aluna menarik napas panjang lalu membuangnya begitu saja. "Aku tak bisa memastikan kapan aku akan pulang ke rumahmu, Alvin. Aku akan menunggu sampai adikku bertransmigrasi dulu. Ada misi yang harus aku selesaikan," jawab perempuan berkulit putih itu seraya menatap lekat Alvin.
Sebenarnya banyak pertanyaan di benak Alvin. Apa sebenarnya tujuan utama Aluna berada di dekatnya? Misi apa yang sedang Aluna kerjakan? Di mana tempat tinggal Aluna sebenarnya? Selain pertanyaan tersebut banyak lagi pertanyaan lain yang ada di pikiran Alvin. Sayangnya, lelaki itu merasa enggan mempertanyakannya, dia tak mau jawaban Aluna nanti membuatnya kecewa dan akan merubah perasaannya terhadap gadis itu.
"Aluna," kata Alvin sebelum Aluna pulang, "apa kamu akan pergi setelah misimu selesai?"
Aluna tak bisa menjawab lagi, karena pertanyaan ini sering ditanyakan Alvin. Perempuan itu menatap lekat Alvin tanpa kata. "Kau sendiri yang mengatakan kalau Aku dan Luna sama. Jadi aku tak akan pergi Alvin."
Kata-kata Aluna membuat Alvin terdiam. Walaupun dia tahu kalau kalimat yang diucapkan Aluna barusan hanya untuk penenang sementara saja. Alvin tahu Aluna akan pergi meninggalkannya suatu saat nanti.
"Sopirku akan mengantarkanmu pulang ke rumah Luna. Aku hanya ingin mengatakan, kalau kamu sedang berada di tubuh istriku, jadilah seperti Luna dan jangan membuat orang lain curiga," kata Alvin dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Maksud dari ucapan Alvin tersebut adalah dia menginginkan Aluna menjadi seperti Luna yang utuh, tetap tinggal bersamanya dan mengikuti kebiasaan Luna sehari-hari. Alvin hanya ingin kedua orang tua dan keluarganya tidak curiga jangan sampai menganggap Luna sebagai seorang istri yang tak patuh dengan meninggalkan suaminya begitu saja.
"Aku janji secepatnya akan pulang ke rumahmu, Alvin. Tolong beri aku waktu," kata Aluna setengah memohon.
"Pergilah! Selesaikan urusanmu dulu," kata Alvin begitu saja lalu pergi meninggalkannya.
...***...
Helen di dalam mobil tak berhenti memikirkan perempuan bernama Ara. Entah kenapa di dalam hatinya dia sangat dekat dengan nama itu. Nama yang sering Aluna panggil, nama itu bahkan sangat dekat di hatinya. Helen juga pernah mengingat seorang suster saat dia berada di rumah sakit tempat yang dia sendiri tak tahu, memanggilnya dengan nama Ara.
"Siapa Ara? Kenapa Luna sering memanggil nama itu kepadaku? Apa Ara adalah teman, atau jangan-jangan saudaranya?" tanya Helen pada dirinya sendiri.
Taksi sudah memasuki halaman depan rumahnya. Helen langsung turun dan disambut hangat oleh Mona yang sedang duduk di teras depan, sedang meminum teh.
"Helen, aku pikir kamu akan pulang malam. Mommy, hampir saja ingin menyusulmu. Dari mana saja kamu, Nak?" tanya Mona.
"Mommy, aku sedang malas pergi jalan-jalan keluar. Aku tadi habis dari perusahaan Alvin. Aku punya kabar bahagia," kata Helen bersikap manja merangkul Mona lalu duduk di sebelahnya.
"Minum dulu teh ini, agar tubuhmu hangat. Cuaca sedang sangat buruk akhir-akhir ini," kata Mona menyodorkan secangkir teh hangat buatannya.
"Terima kasih, Mommy." Helen langsung menyesap pelan teh tersebut, "lihatlah, aku membawa surat perintah kembali bekerja dari perusahan Alvin. Besok aku akan mulai bekerja lagi," kata Helen tersenyum bahagia.
Mata Mona langsung berbinar. Dia tak kalah senangnya mendengar berita itu. Dengan Helen bekerja lagi, otomatis dia akan dengan mudah mendekati Alvin lagi.
"Selamat sayang. Besok Mommy akan masakan makanan kesukaanmu. Jangan lupa bawa dan berikan kepada Alvin untuk makan siangnya."
Ya, dari dulu Helen sering membawakan makan siang untuk Alvin di kantor. Hampir semua masakan yang dibuat Mona disukai Alvin. Tetapi tetap saja Alvin lebih menyukai masakan Luna.
"Apa Mommy mengenal Arabella?" tanya Helen tiba-tiba.
Pertanyaan Helen membuat Mona mengerutkan keningnya. "Arabella? Siapa dia?"
"Apa Luna mempunyai saudara perempuan bernama Ara?"