
Sekretaris Fang telah selesai merapihkan berkas-berkas yang digunakan untuk rapat. Sudah lebih beberapa jam dia lembur, kini tiba waktunya untuk beristirahat pulang.
"Sekretaris Fang!" seru Aluna menyapa lelaki yang tampak kerepotan membawa beberapa berkas.
"Ya, Nona," sahut lelaki berkaca mata itu.
"Sebaiknya kamu periksa keadaan Helen di ruang tunggu. Barusan, aku melihat dia tertidur di lantai. Coba kamu cek apa dia sedang berpura-pura pingsan atau ... sudahlah, lebih baik kamu lihat saja sendiri," kata Aluna.
"Apa? Pingsan!" Mata sekretaris Fang sedikit melebar, kalau memang benar pingsan kenapa kakaknya sendiri tak mengeceknya? pikir sekretaris Fang. Dia lalu mempercepat langkahnya menuju ruang tunggu.
Tinggal beberapa lagi sampai pintu. Dari jauh sekretaris Fang melihat Helen tergeletak di lantai. Lelaki berkaca mata itu langsung berlari menghampirinya. "Nona, bangun!" serunya menggoyang-goyangkan tubuh Helen dengan tangannya.
Apa dia beneran pingsan?
Sekretaris Fang langsung berlari mengambil minyak angin agar Helen segera bangun. Dia juga memanggil karyawan wanita lain untuk membantunya menangani Helen.
"Kalau dia pingsan, kenapa tak segera bangun?" tanya salah satu karyawan wanita, berulang kali tangannya menempelkan minyak angin di dekat lobang hidung Helen. Namun, wanita itu tetap tidak bangun.
"Aku tidak tahu! Tidak biasanya Helen seperti ini," sahut sekretaris Fang, "apa tidak ada cara lain lagi untuk membangunkan orang yang sedang pingsan?" tambahnya sedikit cemas. Bertahun-tahun bekerja dengan Helen, baru kali ini dia mendapati Helen pingsan.
Karyawan wanita menggeleng. "Napasnya tidak teratur. Sebaiknya kita bawa Nona Helen ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa dengannya," ucapnya memberi saran.
Atas saran dari temannya, sekretaris Fang akhirnya membawa Helen ke rumah sakit dibantu karyawan lain yang masih berada di perusahaan.
***
"Hah, benar-benar wanita bermuka dua, masih saja berusaha menipu dengan cara kuno seperti itu. Tidak masuk akal! Aku sudah paham dengan cara licikmu, Helen!" Aluna masuk kembali ke ruang rapat. Matanya yang tidak terlalu lebar, menelusuri tiap sudut ruangan mencari Alvin. Ternyata, sudah tidak ada satu pun orang termasuk suaminya.
"Apa mungkin Alvin berada di ruangannya? Hoaem." Tanpa disadari mulutnya tiba-tiba menguap.
"Hoaem." Untuk kedua kalinya Aluna menguap, pertanda dia sudah mengantuk berat.
Sepertinya aku harus beristirahat sejenak.
Kalung sistem tiba-tiba menyala.
...[Nona, misi hari ini masih belum selesai.Segera selesaikan! Anda harus menyelesaikan misi hari ini sebelum jam 12 malam. ]...
Sistem kembali mengingatkan Aluna agar tidak tertidur dan cepat menyelesaikan tugasnya yang baru selesai 50%.
"Haish! Izinkan aku beristirahat sejenak, Miss K. Aku akan memikirkannya nanti setelah ini. Hoaem ...." Aluna kembali menguap, matanya yang setengah tertutup mencari tempat yang cocok untuknya beristirahat.
Dahulu, Aluna pernah mengalami gejala Narkolepsi ringan, di mana dia tidak bisa menahan rasa kantuk yang berlebihan di siang hari. Akibatnya Aluna yang tidak bisa mengendalikan, mudah tertidur dalam sekejap di mana pun.
Sekarang, gejala itu kembali muncul, mungkin dikarenakan akhir-akhir ini jam istirahat malamnya tidak beraturan. Ya, kalau sudah begini keadaannya, dia harus mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Sepertinya di sini sangat nyaman, gumam Aluna.
Setelah dirasa mendapatkan tempat yang pas, Aluna langsung mendudukkan pantatnya di kursi paling ujung. Tangannya dia tempelkan di meja agar menjadi bantal untuk menopang kepalanya.
Suasana sunyi di ruang konferensi semakin mendukung untuknya tidur. Belum semenit duduk, perlahan matanya yang sudah semakin berat tertutup secara sempurna.
Dua puluh menit kemudian.
"Luna, bangunlah. Hari sudah mendekati malam." Alvin menepuk lembut tangan Aluna.
Karena merasa ada yang menyentuh tangannya, Aluna kembali sadar. Ya, walaupun dia mudah tidur di mana pun, dia bukanlah orang yang sulit dibangunkan.
Aluna langsung tersadar. "Jam berapa sekarang?" tanyanya kepada Alvin. Punggung tangannya secara refleks mengusap air liur yang menempel di pipinya.
"Mendekati jam enam. Bangunlah kita harus pulang sekarang untuk mempersiapkan makan malam. Tuan Dae Jung sangat suka dengan cara kerjamu, beliau mengajak kita agar berpartisipasi dengan ikut makan malam bersamanya," ucap Alvin.
Aluna mengangguk mengiyakan, "Baiklah, kita pulang sekarang!"
"Ah' Terima kasih. Biar aku saja." Aluna yang ketahuan dua kali mengeluarkan air liur saat tidur sangat malu kepada Alvin. Tangannya yang refleks ingin mengambil sapu tangan, ternyata tidak sengaja menyentuh tangan Alvin.
Aluna dibuat salah tingkah, apalagi saat ia tak sengaja menyentuh tangan Alvin. "A- aku."
"Aku baru tahu kalau cara tidurmu seperti itu." Alvin terus meledek Aluna.
"Maksud Anda?"
Alvin kembali tersenyum, sebenarnya dari tadi Alvin sudah ada di ruangan lima belas menit yang lalu. Dia tak berani membangunkan Aluna, duduk di sebelah sembari melihat setiap detail wajah Aluna ketika tidur. Namun, karena sudah hampir jam enam. Alvin terpaksa membangunkannya.
"Sudahlah, ayo kita pulang sekarang," ajak Alvin menarik lembut tangan Aluna.
"Apa cara tidurku aneh?" tanya Aluna penasaran.
"Heum."
"Menurutku tidak!" seru Aluna.
Alvin tidak menjawab, dia malah berjalan keluar sambil terus menahan tawanya.
Sudah jam enam ternyata! Aku harus cepat menyelesaikan misi hari ini!
Aluna yang baru sadar kalau dia harus segera menyelesaikan misi, langsung berjalan mengikuti Alvin di belakangnya.
Apa yang harus aku lakukan agar misi ini cepat selesai? Pikir Aluna.
"Suamiku." Tiba-tiba saja Aluna meraih tangan kiri Alvin lalu memeluknya dan bergelayut manja.
"Terima kasih sudah mengingatkanku tentang makan malam itu," ucap Aluna, baru kali ini dia tak sungkan berjalan sambil memeluk tangan lelaki.
Alvin sempat tersentak mendapati kelakuan manja istrinya. Meskipun sedikit canggung dia membiarkan Aluna bertingkah seperti itu. Mereka berdua lalu memasuki lift bersama-sama menuju lantai satu.
"Bolehkah aku tanya sesuatu?" tanya Aluna di dalam lift, dia terus memeluk tangan Alvin.
"Apa yang kamu tanya pasti akan aku jawab," jawab Alvin.
"Apa merek parfummu? Aku sangat menyukai bau tubuhmu."
"Bukankah aku menaruhnya di kamar kita. Gunakan saja, Luna. Apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga."
"Ah' benarkah? Aku sangat senang mendengarnya," ucap Aluna.
Pintu lift kembali terbuka. Kini, mereka sudah sampai di lantai satu. Alvin berjalan keluar dengan Aluna yang masih bergelayut manja memeluk tangannya.
Pemandangan itu membuat beberapa karyawan yang ada di lantai satu terpukau, khususnya karyawan wanita. Baru kali ini mereka melihat atasannya itu berjalan mesra seperti sepasang kekasih di depan mata. Mereka berjalan berdua bergandengan melewati beberapa karyawan yang terkesima.
"Bukankah itu adalah Nona Luna, istri Tuan Alvin. Wah, mereka benar-benar sangat romantis ternyata. Aku sangat iri melihatnya," ucap seorang resepsionis wanita berbisik kepada temannya.
"Benar aku juga iri. Padahal kemarin aku sempat mendengar rumor mereka akan bercerai. Aku sudah bersiap-siap mencalonkan diri sebagai Nyonya Alvin. Tapi pas melihat mereka sekarang, sepertinya aku akan mundur. Lihat wajah mereka berdua sangat merona seperti pasangan kekasih yang baru saja melangsungkan hubungan," balas temannya.
Mendengar ada yang berbisik di belakangnya, Aluna semakin erat memeluk tangan Alvin di depan umum.
Di saat bersamaan, sistem kembali bersuara.
...[Selamat Anda mendapatkan satu tas saran karena berhasil mengembalikan citra Alvin]...
...###...
...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. ...
...Terima kasih. ...