
Jam kerja dimulai. Seluruh staf perusahaan sudah menempati meja kerja masing-masing. Pagi ini ada rapat pemegang saham, Aluna sudah siap mendampingi Alvin sebagai asisten pribadinya.
"Nona Helen, tolong buatkan aku kopi," perintah salah satu staff.
Helen mengerutkan keningnya, baru saja merapihkan area kerjanya sudah ada staf yang menyuruh dia membuat kopi. Helen berkata dengan angkuh. "Kamu menyuruhku? Kamu kira aku babu?"
Salah satu staf berdiri, membersihan kaca matanya lalu memakai lagi. Dia melihat Helen dari ujung rambut sampai sepatunya, kali ini penampilan Helen kembali glamor kembali seperti biasanya. Dua minggu terakhir ini mereka para staf melihat penampilan Helen yang sederhana, kalau pun menggunakan make up, hanya sekadar bedak dan lipstik merah mudanya saja. Helen dua Minggu terakhir juga sering membuatkan mereka kopi, asalkan sebagai gantinya mereka membantu pekerjaan Helen di kantor.
"Dua Minggu terakhir kamu bilang sering sakit kepala, wajar kami menyuruhmu membuat kopi sebagai gantinya. Mengerjakan setumpuk tugasmu tidak mudah, Nona Helen."
Helen tampak marah, jadi selama ini orang yang menggunakan tubuhnya berbuat semena-sema. Itu sama saja dengan menghancurkan reputasinya sebagai sekretaris teladan di perusahaan WG. Tahun kemarin Helen menyabet penghargaan sekretaris terbaik, dan kini dia dipermalukan staf bawahan untuk membuat kopi.
"Kamu pikir aku mendadak idiot! Sekali lagi menyuruhku membuatkan kopi, akan kuberikan racun di dalamnya."
Helen berkata ketus. Para staff yang mendengar langsung diam. Di antara mereka diam dalam pikiran sendiri, berpura-pura sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing.
Helen tak terima. Sepuluh menit duduk di meja kerjanya belum ada email dan dokumen masuk untuk dia kerjakan. Dia tampak bosan, lebih tepatnya seperti tidak dianggap di situ. Hanya duduk terbengong sambil melihat staf lain bekerja.
"Di mana Luna? Kenapa dia tak ada di meja kerjanya?"
Kebetulan saat itu Sekretaris Sam masuk ke dalam. Ada dokumen di meja kerja Aluna yang lupa Aluna bawa. Sedangkan Luna sedang ada di ruang konferensi, sedang menjadi moderator mewakili Alvin. Aluna meminta tolong kepada sekretaris Sam untuk mengambilnya.
"Sekretaris Sam, apa kamu berpura-pura tak mendengarku?"
Sekretaris Sam terlonjak sedikit kaget. Setelah dokumen didapatkan dia harus segera kembali, dia harus cepat menjawab pertanyaan Helen.
"Nyonya muda sedang ada di ruang konferensi."
"Apa? Ruang konferensi? Kenapa Alvin tidak mengajakku?"
Wajah Helen langsung berubah merah. Menanyakan kapan rapat berakhir. Kepada sekretaris Sam dia beralasan ingin bertemu Luna. Ada hal penting yang ingin dia tanyakan.
Jawaban dari sekretaris Sam membuatnya frustrasi. Bagaimana mungkin dia hanya berdiam diri terbengong, tanpa melakukan apa pun sampai tiga jam menunggu Aluna selesai rapat.
"Sekretaris Sam," panggil Helen lagi sebelum lelaki itu keluar.
"Yah, Nona Helen," jawab sekretaris Sam sedikit tak nyaman. Dia harus segera mendatangi ruang konferensi dan memberikan dokumen yang dia pegang kepada Alvin cepat. Namun, Nona Helen mencegahnya lagi dan malah menariknya ke meja pribadi.
"Kamu tahu kan selama dua Minggu ini aku sering merasakan sakit kepala, sehingga pekerjaanku tak selesai dan dikerjakan orang lain."
Sam menarik napas. Ucapan Helen begitu ambigu terdengar di telinganya. "Nona Helen bertanyalah ke intinya aku harus cepat ke ruang konferensi," kata sekretaris Sam sambil melihat jam di tangannya.
"Aku kesulitan memasuki dokumen pribadiku. Bisakah kamu beritahukan aku sandinya?"
Sekretaris Sam melihat ke wajah Helen. Dua Minggu yang lalu dia tanyakan sandi dokumen kerjanya. Yah, dia telah membuka dan merubahnya lagi sesuai permintaan Ara yang sebagai Helen waktu itu. Dan kini Helen bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama karena dia lupa.
"Sandinya adalah hari lahir Anda, Nona."
"Terima kasih, sekretaris Sam. Kamu boleh pergi."
Setelah Sam keluar, Helen ingin melihat apa saja yang dilakukan jiwa peminjam tubuhnya selama dua Minggu. Helen memasukkan kata sandi, beberapa menit kemudian matanya membulat. Dia begitu kaget saat mendengar rekaman audio di komputernya.
"Ini suaraku, tapi tidak mungkin aku yang mengatakannya," gumam Helen lirih.
Helen sangat antusias, didengarkan terus audio berisi curhatan Ara yang disimpan di komputernya.
[Aku sangat bahagia bisa menempati tubuh yang sehat milik Helen.]
Selanjutnya Helen terus mendengarkan saat Ara berbicara mengenai perpindahan dimensi.