
Ara mengingat lagi pesan Aluna, untuk tidak menjaga jarak dengan Mona dan berpura-pura ramah kepada wanita itu, agar Mona tak mencurigainya.
Aku harus menurutinya, kalau tidak wanita itu akan curiga, batin Ara.
"Oh ternyata sekarang sudah siang. Aku malah tidak tahu, Mom. Karena dari tadi aku tak melihat jam." Ara berkelit, segera memasuki halaman depan rumah, "aku pikir masih jam sembilan," imbuhnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kenapa kamu jadi linglung seperti ini, Nak!" seru Mona, "apa kamu sudah meminum obat yang diberikan dokter? Kenapa penampilanmu hari ini sangat kusam?" Mona mendekati anaknya, memegang rambut pendek Ara yang lusuh karena berantakan.
Ara bergelayut manja di lengan Mona. "Karena sakit, aku jadi malas menyisir rambut, Mom. Tapi tenang saja, nanti malam aku akan pergi ke salon ingin merubah warna rambutku."
"Tidak apa-apa, nanti mommy yang akan menyisirnya," balas Mona sambil merangkul Ara. Karena sikap manja yang ditunjukkan Ara, Mona pun sudah tak mencurigainya lagi.
Lewat sepersekian detik, mereka sudah berada di ruang tengah, duduk bersantai sambil bercengkrama. Karena Ara sudah mengetahui watak Helen, dia pun berakting layaknya Helen.
"Oh, tidak! Kenapa kukumu terlihat tidak cantik hari ini." Mona melihat satu persatu kuku Ara, "hari ini adalah jadwalmu pedicure manicure . Duduklah! Mommy sudah panggilkan pelayan wanita untuk mempercantiknya."
Saat itu juga, dua orang pelayan wanita muncul membawa perlengkapan pedicure manicure. Karena tak ingin dicurigai, Ara menuruti apa yang diperintahkan Mona.
Layaknya seorang puteri kesayangan, Ara diperlakukan sangat istimewa oleh Mona. Dua pelayan merapihkan kukunya, sementara Mona berdiri di belakang menyisir rambut Ara. Ini kali pertamanya Ara merasakan sentuhan seorang ibu.
"Bawakan jus strawberry kesukaan anakku sekarang," perintah Mona kepada salah satu pelayan lainnya.
"Terima kasih, Mom."
Sambil merapihkan rambut Ara, Mona banyak menceritakan keburukan Luna, terutama masa lalunya.
"Ingat Nak, jangan pernah dekati Luna! Karena dia
itu pemalas. Anak pembawa sial, ibunya pergi saat dia dilahirkan. Diam-diam Luna itu menghanyutkan, berpura-pura lembut tapi hatinya busuk." Mona terus memanasi Ara, "apa tadi pagi dia bersikap baik? Jangan terpengaruh!"
Tidak aneh bagi Ara kalau mendengar Mona menghujat kakaknya. Karena dia tahu mereka saling bermusuhan. Demi mendapatkan kepercayaan Mona, Ara pun bersikap seolah berada di pihaknya.
"Tentu saja tidak akan terpengaruh, Mom. Aku hanya berpura-pura baik agar Luna tak melaporkanku ke polisi. Tadi pagi aku merayunya untuk mencabut laporan kemarin," ujar Ara.
Mona berkata sambil menyuapi makan siang di mulut Ara. "Bagus, ternyata kamu sangat pintar dan licik. Mommy bangga memiliki putri yang pintar sepertimu. Rayu Luna agar kamu bisa bekerja lagi di perusahaan Alvin, saat itu adalah kesempatanmu untuk merebut Alvin lagi."
Ara tersenyum mengangguk, lalu meminum jus yang disajikan pelayan.
Terserah kamu Mak lampir! Lagipula tujuanku berada di sini bukanlah itu. Batin Ara.
Wanita berambut pendek itu sangat menikmati kemanjaan yang diberikan Mona. Bersikap sangat manis dengan menjadi anak yang penurut di depan Mona, tetapi tidak di belakangnya.
...***...
Pukul 14.00 Alvin dan Aluna memasuki restoran untuk bertemu dengan klien, seorang Presdir dari perusahan Young.
Aluna duduk bersebelahan dengan Alvin, sementara Presdir dari perusahan Young duduk bersebelahan dengan asisten wanitanya.
"Senang bertemu dengan Anda Presdir Alvin," ucap Presdir Young menyalami Alvin kemudian Aluna. "Duduklah! Ternyata benar kalian sangat serasi. Barusan saya melihat kalian muncul di stasiun TV. Banyak netizen yang memuji Anda." Presdir dari perusahaan Young melirik Aluna sebentar.
"Terima kasih," jawab Aluna balas tersenyum.
"Kerjasama apa yang ingin kalian ajukan kepada perusahan kami?" Tanpa basa-basi Alvin bertanya kepada lelaki itu.
Setelah semuanya duduk, asisten perusaan Young menyodorkan sebuah kertas dokumen kepada Alvin. "Kami memiliki beberapa hektar tanah yang sudah dibeli di kota. Tanah itu akan kami bangun sebuah apartemen mewah. Kami ke mari ingin mengajak Anda bekerja sama untuk membangun apartemen itu. Silahkan dibaca dulu, Tuan."
Tak ingin berlama-lama lelaki berkacamata itu langsung membacanya. "Apa tanah yang kalian beli legal?" tanyanya penuh selidik. Menurut Alvin tanah itu masih dalam sengketa.
"Tentu saja, kami sudah mendapatkan sertifikatnya. Advokat kami juga sudah mengecek keasliannya. Kami pastikan proyek ini akan berjalan lancar dan sesuai rencana, karena kami sudah memiliki pasar yang tepat untuk mempromosikannya," ucap Presdir Young.
Alvin mengerutkan keningnya, menurutnya ada yang janggal dari dokumen yang ia baca barusan. Tidak semudah itu seorang Alvin menyetujui tawaran kerja sama dari kliennya. Lelaki itu sangat selektif, sebelum mengiyakan, dia lebih dulu menyuruh bawahannya untuk menyelidiki sampai ke akar-akarnya.
Alvin yang tadinya fokus dengan dokumen, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh Aluna. Dia memergoki Aluna, berkali-kali menengok handphonenya.
"Luna, coba kamu baca dokumen ini," kata Alvin menyuruh Aluna membacanya.
Sepertinya pikiranmu sedang tidak ada di sini, Luna. batin Alvin.
Alvin melirik Aluna sedang mengirim pesan kepada Ara.
"Luna," Alvin kembali memanggilnya dan menyentuh tangan wanita itu.
"Ah' iya. Maaf tadi ada pesan masuk. Baiklah, aku akan baca dulu," ucap Aluna lalu meraih map berwarna merah dari tangan Alvin.
Setelah membaca Aluna memberikan komentar. "Sepertinya tidak terlalu cocok membangun apartemen di tempat itu. Karena sekitaran tempat itu terdapat banyak kantor milik pemerintahan, ditambah lagi lokasinya diapit beberapa hotel berbintang. Menurutku, akan lebih baik memilih tempat strategis di tengah kota yang dekat Mall atau tempat hiburan yang ramai."
Presdir dari perusahan Young sangat menyukai komentar Aluna. Matanya tak berkedip melihat Aluna.
"Aku sependapat," kata Alvin menambahi lalu memegang tangan Aluna menunjukkannya di atas meja. Entah mengapa Alvin sangat kekanakan kali ini.
Setengah jam sudah mereka membicarakan bisnis. Namun, Alvin belum memastikan apa dia mau bekerja sama atau tidak. Selain proyek mereka yang diragukan, Alvin juga tidak menyukai sikap Presdir Young yang sering melihat ke arah Aluna, dan berusaha mencuri pandang istrinya.
"Bagaimana apa Anda setuju untuk berinvestasi dengan kami?" tanya Presdir Young mendesak Alvin sebelum pertemuannya selesai.
"Saya akan pertimbangan lagi kerja sama ini. Secepatnya saya akan hubungi Anda lagi. Terima kasih, kami pamit undur diri."
Setelah bersalaman, Alvin memegang tangan Aluna, lalu berjalan cepat meninggalkan tempat itu, membawa Aluna keluar restoran.
...***...
"Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah ayahmu sekarang," kata Alvin ketika dia membukakan pintu mobil untuk Aluna.
Mendengar Alvin tiba-tiba menyuruhnya pulang ke rumah Hideon, Aluna benar-benar kaget. Dia pikir Alvin mengusirnya bahkan berpikiran Alvin akan menceraikannya.
"Ta-tapi, apa salahku? Kenapa aku disuruh pulang?"
Alvin tersenyum datar, dia menatap lekat wajah wanita itu. "Aku tahu pikiranmu sedang tidak ada di sini. Pulanglah selesaikan dulu urusanmu," ujarnya lembut.
Aluna terdiam sesaat, tak berani memasuki mobil. Masih berdiri berhadapan dengan Alvin di samping mobil yang terbuka.
"Kamu tidak memecatku, kan? Ka-kamu tidak menceraikanku, kan. Maaf tadi aku sedang tidak fokus."
Aluna pikir gara-gara tadi Alvin marah.
Alvin terkekeh. "Aku tidak bilang kalau kamu dipecat. Bahkan aku tidak mengatakan ingin menceraikanmu, bukan?"
"Lalu?"
"Apa salah seorang atasan memberikan izin pulang cepat kepada bawahannya? Aku tahu ada urusan penting yang ingin kamu selesaikan di rumah ayahmu," ucap Alvin, "pulanglah! Sopir akan mengantarkanmu pulang."
Ucapan Alvin membuat Aluna kaget sekaligus senang, karena lelaki itu tiba-tiba menjadi pengertian dan mengerti keadaannya.
"Alvin, aku ... ucapkan banyak terima kasih."
Hati Aluna berbunga-bunga, baru kali ini dia menatap lelaki itu dengan cara yang berbeda. Tentunya bukan sebagai suami Luna, melainkan sebagai lelaki biasa yang sedang dekat dengannya.
Alvin mengangguk. "Masuklah, Nona. Aku akan kembali ke perusahaan dengan menggunakan taksi."
Sebelum Aluna masuk ke mobil, mereka sempat saling berpandangan beberapa detik. Di saat itu sebenarnya Aluna ingin sekali mencium Alvin sebagai ucapan terima kasihnya. Namun, entah mengapa semenjak Aluna mengatakan kalau dia bukanlah istrinya, Aluna sangat canggung dan malu mencium Alvin lagi.
"Hati-hati di jalan," kata Alvin sambil menutup pintu mobil.
Sebelum sopir menyalakan mesin mobilnya, Alvin melihat dari kaca mobil, Aluna tersenyum kepadanya sambil melambaikan tangan.
Tidak hanya Aluna, perasaan lelaki itu pun sama. Saat mobil sudah melaju dan perlahan menjauh dari tempat Alvin berdiri. Lelaki dengan tinggi 185 itu melihat sedih ke arah mobil yang semakin menjauh. Lelaki itu merasa tak berdaya, dia sangat takut karena suatu saat nanti Aluna akan pergi meninggalkannya.
Sampai kapan pun sepertinya aku tidak akan siap menerima kepergianmu, Aluna.