
"Aku juga merindukanmu, Sayang."
Lisa membuka sedikit bajunya. Kemudian memeluk Noah dengan mesra. Lisa juga membiarkan Noah terus bercerita dan dia menjadi pendengarnya.
"Kapan kamu bertransmigrasi ke sini? Kenapa baru menemuiku sekarang? Kamu tahu aku berusaha sibuk melupakanmu selama beberapa hari, tapi aku tak bisa. Bahkan saat kakakmu menyuruhku menyelidiki sidik jari di pisau yang dikirimnya, aku selalu mengingatmu. Aku menemukan sidik jarimu di sana," kata Noah terus meracau sambil menciumi tengkuk Lisa yang dia kira adalah Ara. Lisa sampai mengecat rambutnya agar bisa mirip Helen.
"Aku baru saja datang, Sayang. Dan langsung menemuimu. Jadi kamu lebih suka aku menjadi Helen atau Ara?"
"Tentu saja kamu, Sayang. Tapi kalau kamu menghilang lagi, aku juga akan tetap menikahi Helen. Mau atau tidak, aku akan menculiknya," kata Noah dalam keadaan tidak sadar akibat mabuk. Dari sini saja Lisa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia simpulkan kalau Ara dan Helen berbeda Jiwa namun satu tubuh, dan yang paling utama dia tahu kalau Ara berasal dari dunia lain.
"Tunggu, Sayang." Lisa menempelkan telunjuknya ke bibir Noah sebelum lelaki itu ingin menyosornya, "kamu bilang menemukan sidik jari di pisau yang dikirim kakakku. Memangnya pisau tersebut berkaitan dengan peristiwa apa?"
Noah malah tersenyum dengan pertanyaan Lisa. Jelas dia sedang malas berpikir. Lebih tepatnya pun dia tak tahu dan hanya disuruh menyelidikinya saja.
"Aku tidak tahu, Sayang. Kata Luna kalau itu adalah barang bukti. Tapi sudahlah, lupakan saja, Sayang. Aku ingin melepas rindu denganmu sekarang." Noah terus saja menyangka wanita yang dipangkunya adalah Ara.
Lisa tersenyum licik. Kesempatan yang bagus untuknya merebut Noah kembali. Dia tahu Noah adalah lelaki yang bertanggung jawab, jadi kalau mereka melakukannya malam ini, dia yakin dirinya lah nanti yang aklan dinikahi Noah.
Keduanya beranjak ke sebuah hotel. Lisa langsung memesan kamar dan membawa masuk Noah ke dalamnya. Malam ini dia akan melakukan hubungan suami istri.
"Aku akan memberikan servis yang menyenangkan untukmu, Sayang. Jangan khawatir, aku sudah siapkan alat rekam agar kamu bisa melihatnya nanti sebagai kejutan," kata Lisa sambil membuka pakaian mereka satu persatu.
Sepertinya keluarga mereka sedang ada kasus berat, setelah ini aku akan menyelidikinya, batin Lisa.
***
Di tempat lain di kamar Aluna dan Alvin. Alvin tidak bisa tidur. Pikirannya berkecamuk. Dia ingin bertanya dari mana Zero memiliki keahlian kepada Aluna. Alvin merasa kalau pun anaknya dilatih, tidak mungkin dia bisa menguasainya secepat itu. Paling utama lagi, dia juga ingin bertanya sesuatu yang sangat penting.
"Luna, kamu belum tidur?" tanya Alvin. Kemudian membalikkan tubuhnya melihat ke arah Aluna.
"Yah, kamu juga belum tidur, Vin? Apa kamu lapar?" Aluna balik bertanya, hendak berdiri, rencananya akan membuatkan makanan untuk Alvin.
Akan tetapi, Alvin langsung memegang tangan Aluna dan melarangnya agar tidak beranjak. "Tidak! Aku hanya sedang penasaran ingin bertanya sesuatu."
"Kamu ingin tanya apa?"
Alvin mendudukkan diri di atas kasur. "Dari mana keahlian Zero berasal?"
Aluna tercengang. Tak menyangka kalau Alvin akan bertanya demikian. "Aku ... memiliki sebuah sistem."
"Apa kalung ini penyebabnya?" Alvin memegang kalung yang dipakai Aluna. Baru kali ini dia memberanikan diri memegangnya. Dulu Luna tak pernah memakainya, dan setahu dia, Luna tak memilikinya.
"Alvin ini di luar logika. Sulit untuk dijelaskan, tapi ini nyata."
Alvin melepas tangannya dari kalung Aluna, menghela napas berat sambil melihat ke depan. "Apa sistem yang kamu punya, bisa membuatmu tetap di sini bersamaku?"
Kali ini wajah Alvin sangatlah serius. Dia sepertinya tahu sesuatu.
"Alvin." Aluna bingung harus berkata seperti apa.
Kemudian Alvin beranjak turun, dan berjalan ke arah laci dan membukanya. "Beritahu aku semuanya sekarang!"
Alvin menaruh tumpukan surat dan potongan buku harian yang dia ambil dari dalam laci. Alvin curiga kalau surat itu adalah milik Luna dulu saat dia ada di luar negeri.