
'Kalung ini kenapa terlihat sedikit aneh?' batin Alvin.
Lelaki berkulit putih itu melihat lekat kalung berbandul giok warna merah tersebut di telapak tangannya. Sepintas tampak biasa saja, namun saat diperhatikan detail bandul kalung tersebut terkadang memancarkan sinar.
'Setahuku, Luna tak memilki kalung ini?'
Alvin melirik sebentar ke arah Aluna yang sedang tidur lelap di sebelahnya. Wanita itu setelah makan malam berakhir dan melakukan malam panas barusan bersamanya, langsung terlelap. Sangat nyenyak, napasnya saja sudah terdengar beraturan.
Alvin berdiri, kemudian berjalan masuk ke ruangan kantor tidak jauh dari kamar. Duduk di kursi di depan komputernya. Alvin melihat lagi kalung di genggamannya, memfoto dan memasukkan hasilnya di komputer. Tangan Alvin langsung mengetik di kolom pencarian informasi mengenai kalung tersebut.
'Kalung ini tidak terlalu sulit mencarinya. Ada banyak toko perhiasan yang menjualnya. Tapi tidak ada yang bisa bersinar seperti kalung ini.'
Alvin kembali melakukan pencarian lagi di sebuah situs internet. Membaca di sana ada satu artikel yang sedikit ambigu. Ada tulisan di sana, mengenai legenda kalung giok yang akan bersinar apabila diketuk. Kalung beraura magic yang bisa menembus antar dimensi. Kalung tersebut hanya ada satu dan diwariskan secara turun temurun.
'Sulit dipercaya! Mungkinkah kalung yang dimaksud adalah kalung ini?'
Alvin terus berkata dalam hati. Pikirannya berkecamuk antara percaya atau tidak. Alvin tak tinggal diam, dipesannya sebuah kalung yang sangat mirip dengan kalung Aluna. Dia akan membandingkannya nanti.
***
"Selamat pagi."
Alvin mengecup kening Aluna. Membangunkan wanita itu yang masih terlelap. Padahal sudah hampir jam enam tapi Aluna belum juga bangun.
"Pagi, Mama."
Tidak hanya Alvin, Zero pun ikut menyapanya. Anak kecil itu tersenyum tepat di depan Aluna yang masih menutup dirinya dengan selimut.
"Hoaem! Jam berapa ini, kalian sudah bangun?" tanya Aluna sambil menguap.
"Sudah hampir jam enam. Sebentar lagi aku berangkat, kita sarapan pagi dulu sekarang," kata Alvin.
"Zero juga sudah mandi. Kalau mama masih mengantuk, biar Zero berangkat bareng nenek saja. Nenek juga ingin ke sekolahan ingin mengambil gerabah kemarin."
Aluna bangun, matanya masih terlihat mengantuk namun dia paksa buka. Aluna langsung bangun dan memeluk anaknya.
"Mama juga akan tetap mengantarkanmu. Tunggu saja, mama hanya mandi sebentar."
"Mama tidak kerja?" tanya Zero lagi.
"Yah, nanti habis mengantarkanmu, Ze."
Setelah Aluna mengusap kepalanya. Zero kembali keluar kamar, meninggalkan Aluna dan Alvin di sana. Zero akan menunggu di ruang makan.
"Kalau kamu lelah beristirahat saja dulu. Urusan pekerjaan sudah ada yang menggantikan," kata Alvin. Dia melihat wajah Aluna yang kusam sepertinya karena terlalu lelah, "lihatlah di cermin, wajahmu terlihat sekali sangat lelah."
Aluna langsung bangun dan duduk di sebelah Alvin. Sambil melihat ke cermin. "Benar ada kerutan di bawah mataku. Apa aku bertambah jelek dan tua?" tanya Aluna sambil memegangi wajah terutama matanya.
"Itu hanya pikiranmu saja, Luna. Mungkin karena kamu terlalu lelah." Alvin menyentuh dahi wanita itu agar wajahnya berhenti mendekat. Dia sudah wangi dan tak ingin wanita itu menciumnya karena belum mandi dan bau alkohol semalam.
"Kalau begitu cium aku sekarang!"
"Tidak, aku tidak mau. Kamu belum mandi."
"Kemarin-kemarin kamu mau," kata Aluna sambil menunjukkan tampang cemberut.
"Tadi malam kamu terlalu banyak meminum alkohol. Aku tidak suka bau alkohol, apalagi mencium baunya di pagi hari."
Bukannya menjauh, Aluna malah terus menempelkan tubuhnya bahkan dengan paksa memeluk lelaki itu. "Aku tidak mau bangun sebelum memeluk dan menciummu."
"Huh ... Aluna!" Alvin mengembuskan napas kasar. Jas yang dipakainya sekarang sudah bau alkohol, dia harus menggantinya lagi.
"Ayo cium."
"Kamu beneran ingin aku cium?" tanya Alvin. Alisnya terlihat mengernyit, "ha ha ... sepertinya efek alkohol masih mempengaruhi otakmu."
"Aku hanya ingin menjalankan tugas sistem agar selalu bersikap manja," kata Aluna keceplosan. Wajahnya dia tempelkan di dada Alvin.
"Jadi karena tugas itu?"
Aluna langsung sadar telah salah berucap. Kemudian mengusap kasar wajahnya agar kembali sadar. "Tidak, tidak aku hanya bercanda. Sepertinya memang benar efek mabuk dari alkohol semalam, masih ada di tubuhku."
"Ayo aku akan memandikanmu sekarang!"
***
Setengah jam kemudian Aluna sudah mengenakan dress kantor seperti biasanya. Dia sedang berdiri di depan cermin sambil menyisir rambutnya. Aluna tersenyum membayangkan kegiatan panas tadi di kamar mandi bersama Alvin. Kali ini dia sudah tak malu sedikit pun.
"Selalu saja mengambil kesempatan dalam kesempitan," gumam Aluna sambil bercermin.
"Apa aku akan bisa hidup tenang tanpa dia nanti?"
"Sudahlah, Luna. Jangan terlalu memikirkan itu. Wajahmu akan terlihat bertambah tua kalau terlalu banyak pikiran," kata Aluna dalam hatinya. Dia melihat sudah ada garis halus di bawah matanya. Padahal usianya masih dua puluhan.
Setelah melihat wajah, Aluna melihat ke arah lehernya. Aluna langsung memegang leher, benar penglihatannya tidak sedang bermasalah dan kalung di lehernya sudah tidak ada.
"Miss K, miss k, di mana kalungnya? Kenapa bisa tidak ada di leherku?"
"Aku tidak pernah melepasnya sedetik pun."
Aluna tak diam saja. Dia harus menyelesaikan misi hari ini dan harus cepat mendapatkan kalung itu lagi. Kalau tidak, bagaimana bisa dia berkomunikasi dengan sistem.
Alvin sudah berangkat kerja dua puluh menit yang lalu. Setelah mengantarkan Nenek Alma dan Zero ke sekolah, Aluna kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan Alvin.
Aluna sambil menyetir terus membatin. Masih mengingat-ingat kapan terakhir melihat kalung itu menempel di lehernya. "Tadi malam masih aku pakai. Aku tidak pernah melepasnya, apakah mungkin terjatuh di restoran semalam?"
Wanita berambut panjang tersebut membelokkan mobilnya di parkiran restoran semalam dulu. Berjalan cepat dan menuju tempat makan malam dia tadi malam bersama Alvin. Aluna bertanya kepada pegawai di sana, menanyakan apa ada yang menemukan kalungnya yang terlepas. Namun, semua pegawai berkata tidak ada yang melihatnya. Bahkan restoran itu belum buka dan belum dibersihkan, tetap tidak menemukan kalung Aluna di sana.
"Beritahu aku kalau ada di antara kalian yang menemukan kalung giok merah milikku. Aku akan memberikan satu buah mobil sebagai gantinya."
Setelah memberikan foto kalung yang dia cari kepada salah satu manager restoran, Aluna kembali pergi dan melajukan lagi mobilnya. Dia akan kembali bekerja sambil memikirkan kira-kira di mana dia menghilangkan kalung sistem.
"Pagi Nyonya Luna."
"Pagi, apa ada suamiku di dalam ruangannya?" tanya Aluna tanpa berbasa-basi dengan sekretaris Sam.
"Barusan Tuan Alvin pergi rapat dengan salah satu klien dari luar negeri. Sepertinya akan selesai dua jam lagi."
"Baiklah, beritahu Tuan Alvin kalau aku mencarinya."
"Yah, Nyonya."
Aluna kembali ke meja kerja pribadinya. Duduk sambil melamun, terus memikirkan di mana dia harus mencari kalung sistem. Yang dia takutkan, kalung itu terjatuh di tempat yang tidak semestinya. Kalau iya terjadi, dia tak akan bisa berkomunikasi lagi dengan sistem.
"Misi hari ini aku harus merubah karakter ibu mertua agar baik lagi. Tapi ... bagaimana dengan kalungnya?"
Sepanjang jam Aluna terus memikirkan kalung itu. Sambil bekerja pun tak bisa fokus. Aluna sudah banyak memikirkan hal buruk kalau sampai kalung itu benar menghilang.
"Miss K, di mana kamu sekarang?" tanya Aluna kesal.
Seorang pegawai mendekati Aluna. Menyodorkan satu berkas yang harus dia selesaikan. "Maaf, Nyonya, ada kerjaan yang harus Anda selesaikan sekarang."
Aluna mendongak melihat balik pegawai di depannya. "Yah, taruh saja di sini."
"Iya, Nyo–" Pegawai tadi langsung diam seakan kaget melihat wajah Aluna.
"Kenapa?" tanya Aluna.
"Tidak, mungkin saya salah lihat." Pegawai tadi langsung permisi kemudian pergi.
"Dia sangat aneh sekali," gumam Aluna.
Satu pegawainya lagi datang sambil membawakan secangkir kopi. Tidak jauh berbeda dengan pegawai sebelumnya. Dia pun melihat aneh wajah Aluna.
"Kenapa dengan kalian semua? Kenapa seperti aneh melihatku?" tanya Aluna sedikit tersinggung.
"Maaf, Nyonya."
Aluna mengambil cermin di dalam tas setelah pegawai pengantar kopi pergi. Tak kalah kaget dengan dua orang tadi, dia pun sama kagetnya.
"Wajahku kenapa bertambah kering? Ada kerutan lagi di pipiku. Kenapa bisa begini? Aku harus bertanya dengan sistem."
Aluna mengambil mosturizer dan bedak padat di dalam tasnya. Kemudian memoleskan di wajahnya agar bisa menutup semua kerutan tadi.
"Nyonya, Tuan Alvin sudah ada di ruangannya," kata sekertaris Sam memasuki ruang kerjanya.
Setalah kerutan tadi berhasil dia tutup, Aluna langsung beranjak menuju ruangan pribadi Alvin. Tentunya dia ingin bertanya apa lelaki itu menemukan kalung miliknya.
"Alvin, aku dari tadi menunggumu," kata Aluna. Mendudukkan diri di depan meja Alvin.
"Apa kamu rindu denganku?" tanya Alvin.
"Hmm, mungkin."
Alvin mendekati wanita itu dan berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Menghadap ke arah lain. "Nanti malam aku juga akan mengajakmu lagi ke tempat yang lain yang lebih menyenangkan."
"Benarkah?"
"Yah, aku sudah memesan tempatnya. Pasti kamu akan suka, Aluna."
"Terima kasih, Alvin," kata Aluna memutar kursinya. Melihat Alvin sedang berdiri sambil membaca satu berkas laporan milik pegawainya, "Alvin," panggil Aluna lagi.
"Ya, bicara saja? Aku akan membalasnya sambil membaca ini."
Aluna diam sejenak. Dia harus bertanya kepada lelaki itu. "Tadi malam, apa kamu menemukan kalung milikku? Kalung berbandul giok merah yang biasa aku pakai."
Terlhat dahi Alvin yang mengernyit. Alvin berhenti membaca hasil laporan pegawainya. Tangannya masuk ke dalam saku dan mengambil sebuah kalung dari dalamnya.
"Apa kalung ini yang kamu cari, Luna?"
Alvin berbalik badan, dan memperlihatkan kalung berbandul giok warna merah di depan wajah Aluna.
"Yah, ini adalah kalung milikku," kata Aluna pelan. Dia tak menyangka ternyata kalung tersebut ada di tangan Alvin.