
"Yah, aku berjanji. Semua sudah berlalu dan aku berjanji tak akan mengungkitnya lagi di depan Luna nanti," kata Alvin pelan.
Aluna melepas pelan genggaman tangannya. Dia tahu ada rasa marah di hati lelaki itu. Namun, Aluna ingin agar Alvin sadar, kalau kesalahan yang dilakukan Luna terjadi tidak sengaja saat dirinya sedang frustrasi.
Semakin lama melihat sorot matamu, entah mengapa aku merasakan iba yang teramat dalam. Kau hanya seorang tokoh virtual dalam novel, tetapi kenapa aku merasakan semua ini sangat nyata ada di dalam duniaku? Batin Aluna.
Alvin terlihat gamang setiap kali dihadapkan dengan suasana hati yang membingungkan. Kadang dia merasa kalau Aluna adalah istrinya, tak ada bedanya antara Luna dan Aluna. Namun beberapa detik kemudian, dia mulai sadar kembali kalau wanita di depannya itu hanyalah orang lain yang sewaktu-waktu akan pergi.
"Bisakah kamu menghapus ingatanku nanti setelah kamu pergi?" tanya Alvin tiba-tiba.
"Apa?! Apa maksudmu?" Aluna memundurkan kakinya sejengkal, dia sangat kaget dengan pertanyaan Alvin.
Melihat Aluna yang hanya diam saja, Alvin yakin kalau wanita itu tak akan bisa melakukannya.
"Sudahlah, lupakan saja! Ayo kita ke masuk dalam. Prioritasku sekarang adalah anak, tolong bantulah aku menemukannya," kata Alvin sambil berjalan keluar mengabaikan Aluna yang masih terbengong.
Aluna mengembuskan napas pelan, lalu berusaha memposisikan dirinya setenang mungkin dan berjalan menyusul di belakang Alvin.
Beberapa menit berlalu tanpa pembicaraan, Alvin tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat di depan ruang guru. Dia tampak berdiri dengan posisi mata menghadap sebuah papan panjang yang tertutup kaca. Aluna mengamatinya dari belakang.
"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Aluna.
Alvin tak menjawab, matanya tak beralih sedikit pun melihat sebuah foto seorang anak berseragam TK sedang tersenyum memegang sebuah piala.
Deg, dada Alvin mendadak bergemuruh. Melihat foto tersebut, Alvin seperti melihat gambaran dirinya ketika kecil. Yah, sangat mirip sekali sama seperti saat dia berumur lima tahun.
"Aku yakin ini pasti foto anakku," ucap Alvin menengok ke arah Aluna.
"Benarkah?" Aluna sangat penasaran, dilihatnya foto tersebut lalu beralih melihat ke arah Alvin. Benar Aluna pun merasa mereka berdua sangat mirip, "sepertinya memang benar. Kalau begitu kita ambil foto ini," kata Aluna lagi.
Alvin sangat kegirangan. Karena sulit membukanya, dia sampai memecahkan dinding kaca tersebut agar bisa mengambil foto Zero.
"Zero sangat tampan. Wajahnya sangat mirip sekali denganmu Alvin. Sepertinya tak melakukan tes DNA pun aku yakin nenek dan ibu mertua akan percaya kalau ini adalah cucu mereka."
"Aku masih tak menyangka kalau aku sudah memiliki seorang putra sebesar ini. Aku harus mengirimkan foto ini kepada Asisten Jo sekarang, agar dia cepat menemukan anak kita," kata Alvin sambil mendekap foto itu. Dia benar-benar tak sabar ingin segera menemukan dan memeluk Zero secepatnya.
Setelah mengirimkan foto, Alvin segera pergi dari taman kanak-kanak, tak lupa dia juga meninggalkan beberapa lembar uang kerugian untuk mengganti kaca yang barusan dipecahkannya di tempat.
***
Di tempat lain di rumah Hideon. Ara berjalan pelan memasuki rumah itu. Walaupun sudah beberapa kali tinggal di sana, tetap saja dia merasa asing tiap kali para pelayan membungkuk menyambut kedatangannya.
"Selamat malam, Nona Helen."
"Selamat malam, terima kasih," jawab Ara sambil terus berjalan menuju kamarnya.
Sebelum dia sampai di kamar, dia melihat Hideon dan Mona sedang duduk di ruang tengah dalam posisi saling bertolak punggung. Raut wajah mereka masing-masing menunjukkan muka yang masam.
Ara balas mengangguk.
"Mommy ingin bercerita banyak--"
"Biarkan Helen beristirahat dulu, tidak lihatkah kamu kalau dia habis pulang kerja," kata Hideon memotong ucapan Mona. Dia tahu mereka akan menggosipkan cucunya.
Mona mendengkus kesal lalu mengabaikan ucapan suaminya. "Masuk saja dulu ke kamar, nanti Mommy akan menyusulmu," kata Mona.
Lagi-lagi Ara cuman bisa mengangguk dan meneruskan langkahnya lagi menaiki anak tangga. Dia tak tahu kalau Hideon dan Mona sedang bertengkar.
"Rumah ini sangat besar dan mewah, tapi kenapa rumah ini berasa panas sekali seperti tak ada kedamaian?" kata Ara dalam hati setelah dia sampai di lantai dua.
Pintu kamarnya terkunci, dan kini dia tak tahu di mana Helen menaruhnya. Setelah beberapa menit berpikir, dia mencari benda tersebut di dalam saku tasnya. Yah, tempat itu adalah tempat biasa Helen menaruh benda-benda kecil seperti kunci.
"Kamar yang bersih dan rapi, sangat berbeda jauh dengan kondisi kamarku di dunia nyata."
Ara berjalan pelan menuju kasur Helen lalu merebahkan diri di atasnya. Melentangkan tangan sambil menatap langit-langit kamar adalah cara dirinya ketika sedang melamun memikirkan keadaan.
"Dulu aku selalu berkhayal akan memiliki tubuh yang sehat, uang yang banyak dan memiliki keluarga yang utuh saling menyayangi."
"Ha, ha, aku sudah merasakannya kini. Tapi rasanya sangat hambar kalau aku hanya merasakannya sendiri tidak bersama kakakku."
Ara adalah seorang pemimpi. Dengan berkhayal dia dapat berimajinasi menjadi apa pun. Kini perempuan itu dapat merasakan, di mana dirinya bisa menempati tubuh yang sehat dan memiliki seorang ibu yang sangat menyayanginya.
Mata Ara masih menelisik menatap langit-langit kamar yang gelap, tiba-tiba pandangannya teralihkan oleh sebuah cahaya merah kecil di pojok atas langit kamarnya.
"Benda apa itu?"
Ara langsung bangun kemudian menyalakan lampu kamarnya. Ternyata cahaya merah itu berasal dari benda bulat hitam yang sengaja ditempel.
"Bukankah ini adalah kamera CCTV?"
Ketika lampu menyala, dia dapat melihat banyak seluruh keadaan kamarnya. Ara memutar badan lalu berjalan melihat ke sekeliling.
"Dua, tiga, empat, banyak sekali CCTV yang terpasang di kamar ini? Jangan-jangan Helen sengaja memasangnya untuk mengintai kedatanganku?"
Ara mengepalkan tangannya kencang. Dia mulai sadar kalau kedatangannya dirinya mulai dicurigai Mona dan Helen. Saat itu juga dia berdiri lalu berusaha melepas seluruh perangkat yang terhubung dengan CCTV secara paksa.
"Aku harus mengirim pesan kepada Kak Aluna sekarang juga," kata Ara.
Tangannya bergerak cepat menuliskan pesan lalu mengirimkannya ke nomor Aluna.
[Kak, ini aku Ara. Cepat hubungi aku sekarang, ada hal penting yang ingin aku sampaikan.]