TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mengumpulkan Bukti


Saat ini, Aluna menggunakan otaknya untuk berpikir keras mencari bukti yang akurat agar ia bisa membuktikan kebenarannya malam ini juga. Sorot matanya tampak kosong, hanya ada beberapa adegan video di otaknya.


"Baju itu? Apa Luna memilikinya?" Aluna mendapatkan satu barang bukti yang harus ia cari sekarang. Ya, baju itu. Sepertinya baju yang dikenakan wanita dalam video itu bisa dijadikan barang bukti, pikir Luna.


Menghembuskan nafasnya kasar, memejamkan matanya sejenak, Aluna berdoa dalam hati agar apa yang ia cari sekarang tidak akan ada hambatan.


"Aku harus pulang ke rumah Luna sekarang!" Aluna lalu menyetop sebuah taksi menyuruh sopir taksi mengantarkan kerumahnya. Aluna meminta alamat rumahnya dari salah satu karyawan Hideon.


***


Dua puluh menit kemudian.


"Nona Luna." Penjaga keamanan rumah yang berdiri di depan rumahnya menyapa Aluna, melihat ada orang yang mengenalnya Aluna lalu menyuruhnya untuk membayar ongkos taksi.


Bangunan megah dengan ornamen emas di setiap sisinya membuat rumah di depannya itu paling mewah diantara deretan rumah lainnya. Aluna masuk kedalamnya disambut beberapa pelayan wanita yang menyapanya.


"Antar aku ke kamar," perintah Aluna kepada seorang pelayan rumah tangga yang baru dilihatnya ketika memasuki rumah itu.


Sekarang Aluna telah memasuki kamar Luna. Berdiri di depan pintu, matanya mulai menyusuri setiap sudut kamar yang berukuran besar itu. Seketika pandangannya langsung tertuju pada sebuah lemari berukuran besar.


Aku akan mencari baju yang dipakai wanita itu, batin Aluna.


Aluna lalu mengobrak abrik seluruh isi lemari, mencari baju yang sama dipakai wanita di dalam video.


Tiba-tiba mata Aluna begitu berbinar ketika apa yang dicarinya ia temukan.


Akhirnya aku menemukan baju ini! batin Aluna tersenyum senang.


Dengan perasaan sedikit gembira Aluna lalu membungkus baju itu sebagai barang bukti nanti. Rencana selanjutnya sudah ada di dalam otaknya, Aluna harus bisa memanfaatkan waktu yang sudah tidak banyak lagi.


Aluna melihat handphonenya melihat waktu yang tersisa, ia begitu kaget ketika ada puluhan panggilan dan pesan masuk di handphonenya. Panggilan tak terjawab dan pesan itu adalah panggilan telepon dari Alvin. Aluna baru sadar kalau handphonenya sedang dalam mode senyap.


Sepertinya aku akan berurusan dengan pria arogan itu lagi, batin Aluna.


Ketika Aluna akan menelepon balik, Alvin sudah meneleponnya duluan.


***


Di perusahaan Alvin.


"Kemana wanita itu pergi? Kenapa dia tak membalas teleponku?"


Brakk!


Alvin menggebrak meja disaksikan beberapa pengawal pribadinya. Lewat GPS di handphone Luna, ia menemukan lokasi dimana istrinya berada.


"Cari istriku di rumahnya! Jangan biarkan Luna pergi dari rumah itu!" tegas Alvin. Matanya tak bisa dibohongi kalau dia sedang marah.


"Baik, Tuan!" seru salah seorang pengawal.


"Kerahkan empat pengawal. Wanita itu sudah cukup kuat sekarang!" teriak Alvin sekali lagi.


Alvin tak mau dibuat kalut oleh perasaannya. Disuruhnya empat pengawal untuk membawa Luna. Seketika empat pengawal itu bergegas pergi menerima tugas yang diberikan tuannya.


Tangannya masih mengepal keras. Ya, Alvin marah karena Luna tak membalas teleponnya. Ia juga marah karena keinginannya tak terlaksana.


Karena penasaran Alvin kembali penasaran dihubunginya Luna sekali lagi, "Sedang dimana kamu sekarang?" Alvin langsung memberi pertanyaan Aluna di telepon.


"Aku sedang di rumahku, suamiku," jawab Aluna santai di telepon.


"Kenapa kamu tak bilang padaku sedang ada di rumah? Bukankah kamu meminta ijin hanya ingin datang ke perusahaan ayahmu? Lalu kenapa dari tadi kamu tak membalas telepon ku?" Alvin kembali mencecar banyak pertanyaan kepada Aluna.


Aluna menghembuskan nafasnya pelan, menjawab satu persatu pertanyaan suami halunya.


"Maaf suamiku, aku tak sempat memberitahukannya. Aku juga tak mendengar panggilan telepon darimu, handphonenya tak sengaja aku senyapkan," jawab Aluna di telepon.


Meskipun Alvin terdengar sangat marah, Aluna sebisa mungkin berkata halus di telepon, mencoba meredam emosinya.


"Aku sudah pernah bilang jangan pergi kemanapun tanpa seijin aku! Kenapa kamu malah mensenyapkan telepon mu?" Alvin berdiri sambil terus marah-marah di telepon.


Akal sehatnya tidak bisa dipakai setiap kali berpikiran buruk tentang Luna.


Mendengar istrinya akan keluar dari rumah itu, emosi Alvin kembali naik.


"Apa? Aku tidak akan ijinkan kamu pergi kemanapun! tetap di rumah itu kataku!" ucap Alvin berteriak keras ditelepon.


***


Di dalam kamarnya Aluna berusaha menjauhkan handphone dari telinganya. Suara Alvin yang sedang marah-marah di telepon membuat gendang telinganya hampir pecah. Aluna kembali terlihat frustrasi ketika Alvin melarang ia pergi dari rumah itu. Padahal Aluna berniat mencari bukti lainnya.


"Suamiku, ijinkan aku keluar sekarang! Bukankah kamu menginginkan bukti untuk nanti malam?" Aluna mencoba merendahkan nada bicaranya sehalus mungkin.


Aku pikir semua pria di dunia novel akan terlihat bucin dengan pasangan wanitanya? Tetapi tidak dengan Alvin? Kenapa dia selalu bersikap kasar dengan istrinya? Benar-benar pria yang langkah! batin Aluna terkekeh.


"Tidak! Aku tidak akan mengijinkan mu keluar! Apa kamu ingin keluar menemui Devan lagi?" Alvin kembali berbicara di telepon.


Berulang kali Alvin melarang dirinya pergi, membuat Aluna menjadi kesal sekaligus geram. Bagaimana mungkin ia bisa mengumpulkan bukti kali ini kalau Alvin terus melarangnya keluar.


Egois! batin Aluna kesal.


"AKU TIDAK PEDULI! dengan ijin atau tidak aku akan tetap keluar mencari buktI!" teriak Aluna ikut kesal di telepon.


"Luna! Dengarkan suamimu! Harusnya kamu menghargai keputusanku sebagai kepala rumah tang-"


pet


Sebelum Alvin menyelesaikan ucapannya di telepon, Aluna mematikan teleponnya dahulu. Lama-lama berbicara dengan Alvin membuatnya ikut terbawa emosi.


Belum lama ia menutup telepon, seorang pelayan wanita mengetuk pintu lalu masuk kedalam kamarnya.


"Permisi, Nona Luna."


Aluna menoleh melihat kearah pelayan wanita yang menundukkan kepala di depannya.


"Ya, ada apa?" tanya Aluna.


"Didepan sudah ada pengawal pribadi Tuan Alvin sedang menunggu anda, Nona" ucap pelayan wanita kepada Aluna.


"Apa? Pengawal? Mau apa mereka datang kemari?" tanya Aluna penasaran bercampur kesal.


"Sepertinya mereka hendak membawa Nona ke Biro Politik Ming. Mereka kesini atas perintah Tuan Alvin." Pelayan wanita mulai menjelaskan.


Aluna langsung berdiri melihat sekilas dari balik pintu. Sayangnya ketika Aluna mengintip salah satu pengawal mengetahuinya lalu memanggil teman-temannya mendatangi Aluna.


Bagaimana ini? Jumlah mereka lebih dari satu! Kalau begini caranya bagaimana aku bisa kabur? batin Aluna.


Baru sebentar berpikir, ke empat pengawal itu sudah ada di hadapan Aluna, membuatnya terperanjat seketika.


"Selamat siang, Nona Luna. Kami datang kesini atas suruhan Tuan Alvin untuk menjemput anda, Nona" Keempat pengawal itu lalu membungkukkan sedikit punggungnya.


Aluna mundur sejengkal, "Tidak! Aku tidak mau!" ketus Aluna memasang kuda-kuda perlawanan.


Keempat pengawal itu saling menoleh satu sama lain berpikiran sama akan memaksa Nona mudanya ikut bersamanya.


"Maaf, Nona. Kami harus memaksa anda."


Dengan gerakan cepat keempat pengawal itu meraih tangan Aluna lalu menguncinya agar tidak bergerak. Masing masing tangan Aluna dipegang oleh satu pengawal.


Empat lawan satu, jelas tidak imbang bagi seorang Aluna, apalagi keempat pengawal itu sudah cukup terlatih ilmu beladiri. Aluna dengan muda di tarik keempat orang itu masuk ke dalam mobil.


"ALVIIINNNNNN!" teriak Aluna kencang.


.


.


###


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


Terima kasih.