
"Rupanya kamu ada di sini Nona Hideon," kata Mona dengan mata sinis.
Aluna tersenyum miring. Kesal sudah pasti, rasanya dia ingin memberi pelajaran kepada wanita tua itu. Menghajarnya sampai babak belur, sampai amarahnya benar-benar terpuaskan. Sayangnya rencana itu keburu dia redam. Kepalan tangan Aluna yang dari tadi mengencang, kini melonggar seketika dan beralih sangat manis membalas ucapan Mona. "Hai, Mommy. Senang bertemu denganmu lagi. Heum, kenapa rumahnya sangat sepi sekali?"
Mona yakin Aluna tahu semuanya. Bahkan berita komanya Helen. Mona terus menatap lekat Aluna, mengamati ekspresi kebohongan wanita muda di depannya dengan sinis. 'Aku tahu kamu adalah dalang dibalik perubahan sikap anakku. Dasar wanita penyihir!' Mona terus membatin.
"Tak usah berbasa-basi Nona Hideon. Ayahmu pasti sudah memberitahukan bagaimana kabar anakku sekarang. Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumah ini?"
"Apa Anda lupa kalau aku adalah putri mahkota di rumah ini? Kamu tak berhak menanyakan tujuanku datang ke rumahku sendiri," balas Aluna, "oh iya aku hampir daja lupa kalau sekarang harus ke rumah sakit. Sebagai kakak yang baik aku harus menjenguk adik tiriku tersayang sekarang."
Aluna tak mau membuang waktu dengan berdebat dengan Mona. Dia melihat jam di tangan kemudian meneruskan lagi langkahnya.
"Tunggu!" Seru Mona sebelum Aluna benar-benar pergi, "apa yang sedang kamu lakukan terhadap putriku, penyihir? Apa kamu ingin menyebar mantra pengundang roh jahat di kamar putriku? Aku tahu kamulah biang keladi dari perubahan sikap anakku belakangan ini. Sihir apa yang sudah kamu kirimkan untuk putriku?" ucapnya dengan nada tinggi dan penuh penekanan.
Aluna tertawa di dalam hati mendengar ucapan Mona barusan. Penyihir? Dia menyebutnya penyihir? Dan Mona berkata kalau dia sedang menebar mantra di kamarnya. Sangat lucu! Hah, jangan salahkan aku, sistem dalam novel inilah yang membuatnya menjadi seperti orang gila. Mona mencurigaiku, mungkinkah dia sudah sadar kalau dia bukan anaknya? Aluna terus membatin.
"Maaf, aku sangat sibuk tak bisa berlama-lama. Anak dan sumaiku sedang menungguku di rumah. Aku tidak ingin membalas ucapan Anda yang ngawur. Karena pasti, Anda selalu menganggap selalu benar. Aku tak ingin membuang waktu apalagi untuk berdebat. Permisi! Aku ingin menjenguk adik tiriku tersayang dulu," balas Aluna tanpa menoleh sama sekali. Dia belum mendapatkan jawaban untuk menjawab pertanyaan Mona, dan lebih baik kalau dia menghindarinya saja kali ini.
"Luna!" teriak Mona ,"tak sopan! Beraninya kamu pergi sementara aku belum selesai berbicara."
Aluna tak peduli. Dia berjalan cepat terus menjauhi Mona. Seakan tahu Aluna menyembunyikan sesuatu, wanita tua itu malah berniat mengikutinya dari belakang.
Aku harus menyelidikinya. Aku tak ingin membiarkanmu pergi begitu saja! Batin Mona dengan napas terengah-engah, diam-diam mengikuti Aluna.
Tak mau ambil pusing, Aluna membiarkan Mona mengikutinya.
Aku tahu kamu ada di belakangku, aku tak peduli. Waktunya memainkan drama dan menjalankan peran lagi, batin Aluna sambil tersenyum melihat ke arah spion mobilnya.
...***...
Di rumah sakit di sebuah bangsal eksklusif. Terlihat Hideon sedang duduk sambil berbicara dengan Helen. Yah, jiwa Helen karena dia telah kembali ke tubuh aslinya.
"Maaf aku baru datang sekarang," ucap Aluna setelah dia menutup pintu bangsal.
Hideon dan Helen menoleh. Di tangan Aluna sudah membawa parcel buah yang akan dia berikan kepada Helen sebagai buah tangan.
"Buah-buahan sangat bagus untuk tubuhmu. Kamu harus sering mengkonsumsinya agar tak cepat sakit," kata Aluna.
"Terima kasih, Nak. Ayah ikut senang kamu mau menjenguk adikmu. Barusan ibumu pulang, katanya ingin mengambil baju ganti untuk adikmu di rumah."
Aluna duduk di sebelah Hideon, menyapa pria itu dan terlihat berbasa basi layaknya ayah dan anak. Sementara Helen, dia terus memegangi kening masih berusaha mengingat saat dia ada di tempat lain sebelum dirinya sadar.
Helen sebelum dirinya sadar, ada di tempat lain. Di bangsal tempat Ara dirawat. Bangsal yang sedikit kumuh dan dipenuhi foto-foto Ara dengan Aluna yang tampak harmonis terbingkai indah di taruh di atas nakas. Helen melihat semua foto itu satu persatu. Tak ada kebencian di wajah perempuan yang sangat mirip dengan dirinya. Wanita di dalam foto saling merangkul. Ada salah satu foto yang memperlihatkan Ara dan Aluna sedang memasak bersama, di sebuah ruangan yang Helen yakin itu bukanlah rumah Hideon.
Foto itu, tak mungkin aku bersamanya seharmonis itu. Kecuali wanita tak berambut dalam foto itu adalah orang lain, batin Helen.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu ingin buah? Kalau iya, aku akan kupaskan apel untukmu," ucap Aluna berusaha manis.
Wanita penuh kepalsuan. Sorot matanya sama persis dengan wanita dalam foto itu. Yah, aku yakin dia bukanklah Luna. Tapi wanita dalam foto itu. Aku yakin dia adalah kakaknya. Lagi dan lagi Helen terus membatin.
"Luna, ayah tinggal dulu. Ada hal penting yang harus ayah selesaikan di kantor. Bisakah kamu menjaga adikmu sebentar?" tanya Hideon tampak sibuk dengan ponselnya. Barusan karyawan di perusahaan menghubungi dia agar menandatangani sebuah proyek.
"Yah, Ayah. Aku masih ada waktu luang untuk menjaga Helen sekarang. Lagipula sebentar lagi Mommy pasti akan datang ke mari," balas Aluna.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku bertemu dengannya tadi sebelum datang ke mari."
"Syukurlah. Ayah tinggal dulu ya, Nak. Jaga adikmu dengan baik."
Hideon tampak lega, akhirnya dia bisa tenang meninggalkan Helen dan kembali bekerja. Beberapa menit kemudian, tinggallah Aluna dan Helen di dalam kamar hanya berdua.
"Makanlah," ucap Aluna sambil menyodorkan potongan apel yang barusan dia kupas.
"Terima kasih, Kakak," ucap Helen dengan senyum yang sangat manis layaknya Ara.
Aluna tiba-tiba saja menjatuhkan pisau yang dipegangnya. Dia begitu tersentak mendengar Helen bersikap sangat manis. Untungnya pisau tersebut tak sempat melukai kakinya. Aluna menunduk berusaha mengambil pisau sambil mengatur napasnya.
"Kakak, apa kakak baik-baik saja? Pisaunya tak mengenai kakimu' kan?" Helen yang sedang berbaring di kasur, refleks ikut menunduk dan mengelus kaki Aluna.
"Hah!" Aluna kembali kaget. Dia langsung diam membeku. Bukankah dia adalah Helen? Kenapa sifatnya sangat manis dan perhatian seperti Ara? tanya Aluna di dalam hati.
"Sepertinya pisaunya licin, kakak harus berhati-hati," ucap Helen lagi.
Aluna mengangguk cepat dan langsung menetralisir suasana hatinya agar lebih tenang seperti sedia kala. "Terima kasih, kamu sangat baik sekali," balas Aluna.
Helen tersenyum penuh ironi. "Kakak tak usah sekaku itu? Bukankah aku adalah adikmu?"