TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
230


"Ibu kandung adalah ibu yang sudah mengandungmu selama sembilan bulan di dalam perut ini dan melahirkanmu ke dunia," kata Aluna sambil menunjuk perutnya.


Zero tampak diam sejenak mencoba mencerna ucapan Aluna tentang makna melahirkan. Dia pernah melihat kucingnya dulu saat melahirkan. Zero pikir mungkinkah yang dimaksud Aluna, nasibnya sama seperti kucingnya dulu, meninggalkan Mio anaknya saat baru dilahirkan beberapa hari.


"Apa ibu kandung tak akan menjual anaknya?" tanya Zero.


Aluna dan Alvin saling melihat satu sama lain. Mereka mengerti, mungkin Zero belum menerima mengingat dia sering berpindah-pindah tangan. Aluna langsung memeluk bocah itu, mencium kening dan pipinya terus menerus.


"Tidak akan! Kami tidak akan menjualmu. Maafkan kami sudah menelantarkanmu dari kecil, Zero. Kami menyesal, tolong maafkan kami," kata Alvin seraya mencium tangan Zero.


Zero belum pernah dipeluk se'erat itu apalagi sampai ditangisi oleh orang tua asuhnya. Walaupun Zero sempat tak percaya mereka akan berkata jujur, namun dari raut wajah Alvin dan Aluna, dia yakin keduanya benar-benar sangat tulus.


"Terima kasih, Mama. Terima kasih, Papa. Aku sudah memaafkan kalian," kata Zero balas memeluk, merasakan kebahagiaan yang dirasakan Aluna dan Alvin, "aku janji tidak akan mengecewakan. Aku juga berjanji akan menjadi anak yang baik dan patuh. Aku sayang Mama dan Papa."


Kamu benar-benar anak yang istimewa, batin Alvin.


Aluna mengusap kotoran di wajah Zero, meskipun belum bersih total, Aluna sangat terkesima dengan wajah Zero yang sangat mirip dengan Alvin. Dia tak habisnya berdecak kagum, bisa-bisanya anak yang dipeluknya itu bagaikan kopian seorang Alvin.


"Tidak salah lagi, ini benar anakmu. Luna pasti kaget melihat anak yang dikandungnya sembilan bulan ternyata mirip sekali ayahnya," kata Aluna tak ada habisnya tersenyum.


Asisten Jo yang sedang mengendarai mobil sempat kaget dengan ucapan Aluna. Dia tak mengerti apa maksud majikannya itu.


"Nyonya, kaki tuan muda terluka. Di sini ada obat untuk membersihkannya," kata Asisten Jo sambil memberikan kotak P3K ke arah Aluna.


"Terima kasih, Asisten Jo."


Secepatnya Aluna bersama Alvin, membersihkan luka di kaki Zero. Alvin sampai meneteskan air mata, dia tak menyangka anaknya itu sangatlah kuat, bahkan bisa bertahan di berbagai cobaan. Kalau dibandingkan masa kecilnya, jelaslah berbeda 180 derajat.


"Kau juga sama ibunya. Terima kasih sudah menyelamatkan anak kita," kata Alvin sambil memegang tangan Aluna.


"Aku pernah bermimpi pernah melahirkan. Tapi itu dulu dan semuanya begitu cepat. Aku sampai kaget saat bangun," kata Aluna pelan sambil membersihan luka di kaki Zero.


Zero tak tahu maksud ucapan Aluna dan Alvin. Yang dia tahu mereka sangat menyayanginya.


Apa aku sedang bermimpi? Kalau iya, aku tak mau bangun selamanya, batin Zero. Dia sangat nyaman berada dipangkuan Aluna, diam-diam Zero melihat bergantian wajah orang tuanya. Dia tak menyangka kalau ibu kandungnya adalah wanita yang cantik, bahkan Zero tak menyangka kalau ayah kandungnya pun sangat mirip dengan dirinya.


Aluna mengobati luka Zero sambil sesekali bercanda dengan Alvin. Bahkan belum sampai rumah saja, Alvin sudah menjanjikan banyak hal kepada Zero, dia berjanji akan memberikan apa pun yang Zero minta, tanpa terkecuali.


"Kenapa berhenti Asisten Jo?" tanya Aluna.


Tiba-tiba saja mobil yang ditumpanginya mengerem mendadak, membuat mereka kaget. Asisten Jo lalu menoleh ke belakang. Dia mengatakan ada seseorang yang menghadang kendaraannya di depan.


"Maaf, Nyonya. Sepertinya orang yang ada di depan mobil kita adalah orang yang ada di desa tadi," kata Asisten Jo.


Alvin mengernyitkan keningnya, dia pikir orang yang menghentikan mobilnya adalah suami istri yang menculik Zero.


"Bukankah polisi sudah membawa mereka," kata Alvin terlihat marah, "kalau iya jangan pedulikan. Cepat jalan lagi."


"Sepertinya bukan mereka, Tuan. Tetapi--"


"Berhenti jangan jalan!" seru Aluna, setelahnya dia membuka pintu mobil dan keluar, "tidak papa, dia anak kecil yang sudah menolong Zero. Sebaiknya kita keluar untuk berterima kasih."


Alvin merasa lega karena bukan Yuze atau penjahat tadi yang menghadang. Bersama Zero, dia ikut keluar berjalan berdampingan dengan Aluna.


"Zero," panggil Sindi. Gadis kecil itu langsung berteriak, rona wajahnya terlihat senang begitu mengetahui kalau Zero telah selamat dan menemukan orang tua kandungnya.


"Papa, Mama, dia temanku. Namanya Sindi," kata Zero kemudian meminta turun dari gendongan Alvin. Dia sangat malu ketika Sindi melihatnya digendong seperti anak kecil.


"Zero, ini buatmu," kata Sindi sambil menyodorkan mainannya.


"Emm, terima kasih Sindi. Tapi, bukankah ini mainan kesayanganmu?" tanya Zero.


"Iya, ini kenang-kenangan buatmu," kata Sindi sambil menunduk sedih.


Zero menerima mainan tersebut, melihat wajah Sindi yang sedih dia pun seperti merasa tidak tega.


"Terima kasih, Nyonya. Sudah membantu menemukan anak kami," kata Aluna kepada Sinta sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat.


"Ah jangan panggil aku nyonya, panggil saja aku Sinta. Sudah keharusan kami untuk menolong sesama, apalagi Zero adalah anak yang baik dan pemberani. Aku turut bahagia akhirnya Zero berhasil ditemukan. Selamat ya," kata Sinta menyalami Aluna.


Kalau dilihat dari umur mereka, Sinta memang lebih tua. Mereka sama-sama muda dan sangat cantik, bedanya Sinta sudah memiliki dua anak. Berhadapan dengan Aluna, membuat Sinta terlihat canggung apalagi ketika melihat kedekatan Zero dan anaknya. Dia berharap suatu saat nanti mereka akan berjodoh.


"Sering mampirlah ke mari nanti. Aku lihat anak kita sangat serasi," kata Sinta sambil bercanda.


Alvin yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan napas pelan, baru saja anaknya ditemukan sudah ada yang melamarnya menjadi menantu. Sedangkan Aluna, hanya menanggapinya dengan senyuman. Tentu saja dia pribadi tidak ingin mengekang apalagi mengatur jodoh untuk Zero nanti. Aluna berharap suatu saat nanti, Zero sendiri yang akan memilih jalan hidupnya sendiri.


"Anak Anda sangat cantik dan sopan, aku sangat menyukainya," balas Aluna memuji.


"Terima kasih."


Zero kembali melihat wajah murung Sindi. Saat itu Zero langsung teringat sesuatu hal. Yah, dia teringat akan janjinya yang akan bermain ke rumah Sindi lagi.


"Mama, aku masih berhutang budi kepada Sindi. Kemarin dia menolong nyawaku saat kebakaran. Kemarin juga aku makan ditempatnya dan sudah berjanji akan membayarnya dengan bekerja menjadi pengawal pribadi," kata Zero polos kepada Aluna.


"Benarkah?" tanya Aluna, sedikit berjongkok agar sejajar dengan tubuh Zero, "kau sudah hebat. Kamu pasti bisa menjadi pengawal gadis cantik ini."


Sindi menunduk malu ternyata Zero masih ingat akan janjinya. Sementara, Sinta langsung tertawa melihat kepolosan Zero, padahal dia hanya bercanda tapi anak itu menganggapnya serius.


"Bibi senang kamu sudah menjadi teman Sindi, itu sudah cukup untuk balasannya. Nanti kalau kamu sudah setinggi papamu, kamu bisa menjadi pengawal pribadi Sindi," kata Sinta.


"Tenang saja, bibi janji akan sering mengajak Zero ke mari. Atau kalau Nyonya Sinta mau, berkunjunglah ke rumah kami. Kami akan dengan senang hati menyambut kedatangan kalian," ucap Aluna kepada Sinta dan Sindi.


Alvin pun mengiyakan, dia sudah mendengar berita kalau gadis kecil itu ikut andil menyelamatkan Zero saat kebakaran. Alvin juga sangat senang kalau mereka terus berteman dan berkomunikasi. Terlebih Alvin juga melihat, sepertinya Sinta sangat cocok menjadi teman Aluna. Dia berharap keluarga mereka akan terus bersilaturahmi bahkan menjalani bisnis bersama.


Pembicaraan mereka berlangsung lima belas menit di tengah jalan, terutama membahas masalah anak. Namun, saat Sinta mengajak mereka mampir ke rumah, Alvin langsung menolak. "Maaf, Nyonya kami harus kembali. Helikopter kami sudah siap menunggu," kata Alvin, dia sudah merasakan gatal yang sudah tak tertahan di tubuhnya ingin cepat pulang.


Aluna pun menyadarinya, dia langsung berpamitan sekaligus berterima kasih kepada Sinta. Aluna juga berjanji akan menemui Sindi lagi. Saat itu juga, mereka memasuki mobil lagi, melambaikan tangan kepada Sinta dan Sindi saat mobil mereka kembali maju.


"Apa kamu baik-baik saja, Vin?" tanya Aluna sambil memeluk Zero.


"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Apa Zero kedinginan? Pakai saja mantelku," kata Alvin sambil melepas mantelnya. Dia tak mau melihat Zero menggunakan mantel Aluna.


"Tapi, kamu--"


"Kamu dan Zero lebih membutuhkannya. Ayo kita pulang," kata Alvin sambil memeluk Aluna, "aku sudah merasa hangat ada di sebelahmu."


Mata Alvin terlihat sangat sayu, meskipun merasakan gatal dan panas di tubuhnya, dia mencoba bertahan di depan Aluna dan Zero. Dia tak memikirkan kondisinya, yang dia pikirkan kali ini adalah bagaimana cara meyakinkan orang tua dan neneknya. Alvin tak peduli kalau pun mereka tak memperbolehkan Zero masuk ke rumah karena dianggap aib.


"Alvin," kata Aluna saat Zero sudah tertidur.


"Yah," jawab Alvin.


"Selain kamu, sepertinya aku pasti akan merindukan anak ini saat kembali nanti," bisik Aluna pelan di telinga Alvin. Baru bertemu saja Aluna sudah sangat menyayanginya, dan sudah menganggap Zero seperti darah dagingnya sendiri.