TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 249. Satu Keinginan Terkabul


"Aku ingin dibawa ke mana, Alvin?" tanya Aluna dengan mata tertutup kain.


Tiba-tiba saja Alvin memutuskan untuk pulang cepat. Alvin ingin memberi kejutan kepada Aluna. Menyuruh dia menutup matanya dengan sebuah kain, dan mengikuti perintahnya.


"Kamu akan tahu nanti," jawab Alvin sambil menuntun Aluna memasuki mobil.


Tentu saja dia sudah mengatur waktu kejutan sebelum menjemput Zero. Alvin sengaja menunda pertemuannya dengan beberapa klien hari ini agar bisa pulang cepat.


Sepuluh menit berlalu mobil mereka telah sampai di depan sebuah gereja. Alvin kembali menuntun Aluna keluar. Sebelum memasuki gereja, dia lebih dulu menuntun Aluna memasuki rumah yang di dalamnya sudah siap beberapa orang perias.


"Alvin, kenapa aku tak boleh membuka penutup matanya?" tanya Aluna sudah tidak sabar.


"Kau boleh membukanya nanti kalau sudah selesai," jawab Alvin.


Alvin menyuruh Aluna duduk di depan meja rias, duduk dengan tenang tanpa banyak bertanya lagi kapan dia harus membuka penutup matanya. Kemudian Alvin berbisik di telinga salah satu perias wanita. Menyuruhnya agar menghias wajah Aluna.


"Baik, Tuan. Aku sangat profesional. Meskipun sebagian wajahnya tertutup. Aku bisa membuatnya seperti ratu hari ini," jawab perias wanita.


Alvin mengangguk percaya. Tak ingin membuang waktu, saat itu juga beberapa perias berkerja sama, bergerak cepat memoles wajah Aluna dengan sangat terampil. Masing-masing punya bagian sendiri-sendiri. Ada yang merias wajah, ada pula yang menata rambut. Semuanya tampak sibuk.


"Sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Aluna lagi dengan hati berdebar.


"Jangan khawatir, Nona. Saya akan menyulap Anda menjadi Cinderella hari ini."


Aluna hanya bisa pasrah. Dalam hatinya dia pikir, mereka meriasnya karena ingin berfoto keluarga. Sementara Alvin masih terus memantu. Menunggu di luar ruangan.


"Wah, Anda benar-benar sangat cantik, Nona," ucap perias lima belas menit kemudian setelah memasangkan gaun di tubuh Aluna.


"Sepertinya kalian memakaikan aku sebuah gaun?" Aluna malah balik bertanya. Dia sama sekali tak tahu sebenarnya apa yang sedang direncakan Alvin, sampai dia sendiri tak boleh melihatnya langsung.


"Yah, Anda benar. Sekarang sudah selesai. Ayo kami antar keluar, Nona." kata perias dengan nada puas. Semua sudah selesai sekarang saatnya dia menyerahkan Aluna kepada Alvin.


Dibalut gaun putih sederhana, Aluna tampak cantik dan elegan berdiri di tengah-tengah. Baru memasuki ruangan tersebut, Aluna mendengar banyak suara ramai orang-orang yang sedang memujinya. Sepertinya ruangan ini sangat ramai? Di mana Alvin? Aluna terus membatin, detak jantungnya semakin bergemuruh.


Yah, memang benar di dalam gereja sudah dipenuhi orang-orang yang dibayar Alvin untuk menjadi saksi janji suci pernikahannya. Selain memenuhi keinginan Aluna dia melakukan hal tersebut bersungguh-sungguh karena dia sangat mencintainya.


"Kau boleh membuka matamu, Luna," ucap Alvin.


Dibantu salah satu perias, Aluna membuka penutup matanya. Baru saja terbuka, alangkah kagetnya dia begitu mendapati beberapa orang bertepuk tangan seolah sedang menyambutnya.


"Alvin," ucap Aluna pelan. Dia tampak kaget sekaligus terharu. Dilihatnya satu persatu orang yang memenuhi gereja. Tak ada satu pun yang dia kenal, namun mereka tampak antusias seakan sudah profesional memerankan perannya sebagai penonton bayaran. Aluna tak peduli, dia sangat bahagia apalagi saat melihat gaun yang membalut tubuhnya.


Setengah berlutut Alvin menyodorkan sebuah cincin di depan Aluna. Meminta wanita tersebut menjadi istrinya. Yah walaupun pada kenyataan sebentar lagi mereka akan berpisah.


"Kau serius, Alvin?" Aluna masih terkejut. Dia pikir Alvin sedan main-main, "bukankah kita ...."


"Aku akan menikahimu sebagai Aluna," jawab Alvin tegas.


Masih belum bisa berkata-kata Aluna mengangguk pelan sambil tersenyum. Sulit diungkapkan kebahagiaannya kali ini. Meskipun bukan pernikahan impiannya, dia begitu terharu apalagi saat Alvin mengucapkan janji nikah atas nama dirinya.


Semua orang yang hadir mengucapkan banyak selamat kepada Alvin dan Aluna. Mereka yang sengaja dibayar Alvin, sangat kompak dan terlatih layaknya keluarga sungguhan. Memberikan hadiah pernikahan dan banyak doa untuk mereka berdua.


"Terima kasih, Alvin," ucap Aluna setelah Alvin menyematkan cincin di jari manisnya.


Saat mengucapkan janji suci, Alvin sempat berdoa sebelumnya. Dalam kesempatan dan waktu yang lain, dia ingin bertemu lagi dengan Aluna. Meskipun harus bereinkarnasi ke masa depan atau ke dimensi lain.


***


Di tempat lain di rumah Hideon. Terlihat Ara semakin galau dengan Noah. Barusan dia mendapatkan pesan dari Lisa kalau dia akan melakukan berbagai cara untuk merebut Noah. Rupanya Lisa telah mendengar kabar kalau mereka berpacaran dan akan mengancamnya.


"Kakak, angkat teleponku," ucap Ara sambil memencet tombol hijau berulang kali. Menelepon Aluna lagi dan lagi.


Akan tetapi, karena Aluna sedang menjalani prosesi pernikahan dia sampai melupakan ponsel di dalam tasnya.


"Bodoh! Kenapa aku serapuh ini hanya karena seorang lelaki!" umpat Ara sambil menangis, "haruskah aku membuatkan saja dia mengambil Noah lagi! Tapi mengapa hatiku sangat berat melepasnya!"


Ara mengacuhkan pesan Lisa dan tak ingin membalasnya. Namun Lisa malah semakin menjadi terus menerus menelepon Ara dan berniat menerornya.


[Aku sudah siapkan kejutan di rumahmu, Helen.]


Lisa mengirimkan sebuah pesan bertepatan dengan datangnya sebuah paket di rumah Hideon. Saat itu kebetulan ada Mona di rumah yang menerima paket tersebut.


Wajah Mona seketika merah padam. Dia sangat kaget bercampur amarah saat membuka paket yang berisi kucing tanpa kepala dan digantikan oleh foto Helen di atasnya. Lisa juga mengirimkan sebuah pesan, dalam tiga hari Ara tidak putus dengan Noah maka dia akan meneror lebih parah lagi.


Jadi mereka memang benar tekah berpacaran, batin Mona mendengus kesal sambil mengintip Ara saat menangis di kamar.


Mona sudah tak bisa menahan amarahnya. Didobraknya pintu kamar Helen. Masuk ke dalam dan langsung menarik rambut Ara dari belakang.


"Kau bilang tak akan berpacaran dengan lelaki sialan itu? Kenapa kalian malah berhubungan? Siapa kamu sebenarnya?" Mona berteriak keras sambil menyeret tubuh Helen dengan menarik rambutnya.