TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Tertukar


Di dalam taksi yang ia tumpangi. Mona terus membatin, melampiaskan kekesalannya kepada Aluna di dalam hati. Dalam keadaan sedih yang tak terbendung Mona berkali-kali mengusap air matanya yang dari tadi membanjiri pipinya.


Perasaan selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya. Tidak ingin anaknya kalah dari Luna adalah obsesi Mona dari dahulu. Ia sangat iri ketika Luna lebih mendapatkan segalanya dari Helen, padahal menurutnya Helen lebih cantik, lebih pintar bahkan lebih berbakat dari Luna yang ia kenal sebagai wanita pemalas, mudah menangis, rapuh dan tidak memiliki bakat apa pun.


Ya, nyatanya memang benar. Sayangnya Luna yang dia kenal bukanlah Luna yang asli, melainkan Aluna seorang wanita yang berani melakukan hal yang baru, memiliki seribu akal dan pintar mengambil hati siapa saja yang ada di dekatnya. Tentu kalau dibandingkan Helen tidak ada apa-apanya. Aluna dari kecil sudah biasa hidup mandiri, bekerja keras untuk menghidupi adiknya, berbagai tantangan pun sudah banyak dilaluinya di kehidupan nyata.


"Terima kasih, ambil saja kembaliannya," kata Mona. Setelah memberikan ongkos taksi, dia langsung terburu-buru masuk ke dalam Rumah sakit, ingin cepat melihat kondisi anaknya.


Mona berjalan cepat menuju bangsal tempat Helen dirawat. Dari informasi yang dia dapatkan barusan, Helen sudah sadarkan diri dan sudah dipindahkan ke ruang inap. Sejenak, dia sempat memikirkan kata-kata Alvin yang menghina Helen. Namun, pikiran itu segera ditepisnya, dia sudah tak peduli.


"Helen, apa kamu sudah sadar, Nak?" Mona yang baru masuk ke dalam bangsal yang ditempati Helen, langsung menghampiri anaknya yang sedang duduk bersandar di tepi tempat tidur.


Helen tidak menjawab. Namun, dia sempat memperhatikan Mona dari atas sampai ke bawah. Dari tatapannya, Helen seperti sedang melihat orang asing.


"Apa Anda anggota keluarga pasien ini, Nyonya?" tanya seorang perawat yang sedang mengecek kondisi Helen.


"Iya, saya ibunya. Nama gadis ini adalah Olivia Helen Tanuel, dia adalah anak kandungku," ucap Mona sembari menstabilkan napasnya.


Wanita muda yang sedang menggunakan selang infus di tangannya itu terlihat kaget ketika wanita paruh baya di depannya, mengatakan kalau namanya adalah Helen.


"Nyonya, semenjak bangun beberapa menit yang lalu, pasien berteriak-teriak memanggil nama kakaknya berulang kali. Kalau boleh aku sarankan, sebaiknya pertemukan nona ini dengan kakaknya agar kondisinya cepat pulih," ucap perawat memberi saran.


"Kakaknya? Terima kasih suster atas sarannya."


Mona sempat berpikir sejenak apa maksud dari perkataan perawat. 'Kakaknya? Bukannya Helen tak memiliki kakak. Kecuali ... anak sialan itu' Dia terus bergumam di dalam hati.


"Sama-sama." Perawat lalu meninggalkan mereka berdua di bangsal.


Mona tampak sedih melihat kondisi Helen yang sangat lemah tak berdaya. Wajahnya sangat pucat menandakan kalau Helen seperti sedang sakit parah.


"Apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Mona lagi sembari memegang tangan dan pipi Helen, memastikan keadaan anaknya baik-baik saja.


Sementara Helen yang yang masih kebingungan melihat aneh ke arah Mona, timbul tanda tanya besar di otaknya.


"Siapa kamu? Apa kita saling mengenal?" tanya Helen pelan.


Mendengar ucapan Helen, Mona sempat kaget dan tertegun. Mungkinkah gara-gara koma, Helen menjadi amnesia tidak mengenalnya? Pikir Mona khawatir.


"Aku ibumu, Nak. Apa kamu tidak mengingatnya?" Mona mendekati Helen.


Kamu tidak biasanya seperti ini, Nak. Jangankan koma, kamu pingsan pun tak pernah. Apa yang sedang Luna lakukan kepada anakku? Aku harus membuat perhitungan kepadanya, batin Mona.


Meskipun hati Mona sedikit sakit ketika anaknya mengatakan tidak mengenalnya, Mona kembali memakluminya. Namun, hatinya bertambah sakit dan frustrasi ketika Helen tiba-tiba saja memanggil-manggil nama Aluna.


Kak Aluna? Mungkinkah yang dianggap Helen adalah Luna? Lalu kenapa dia memanggilnya dengan kakak? Bukankah Helen tidak pernah memanggil anak sialan itu dengan panggilan kakak ketika berbicara kepadaku?


Mona terdiam sambil terus berpikir di dalam hatinya. Menurutnya ada yang tidak beres dengan anaknya. "Mana yang sakit? Apa dia menyakitimu? Katakan di bagian mana Luna menyakitimu?" tanyanya dengan gusar.


Mona lalu mengecek beberapa bagian tubuh Helen yang terlihat, dia sedang memeriksa apa Luna melakukan kekerasan fisik kepada tubuh anaknya, sehingga Helen berperilaku aneh setelah bangun.


"Apa yang Anda lakukan? Lepaskan, jangan pegang aku! Aku tidak mengenalmu!" teriak Helen lagi, menepis tangan Mona yang sedang berkeliling ke tubuhnya.


Mona kembali tertegun. "Helen, tenanglah! Aku ibumu, jangan takut, Nak!" serunya meyakinkan.


Namun, Helen terus menghindari. Semakin Mona mendekat, semakin itu pula dia mundur ke belakang. "Tidak! Namaku bukan Helen! Jangan sentuh aku, Nyonya. Aku ingin bertemu kakakku Kak Aluna. Tolong panggilkan dia kemari," ucap Helen memohon.


Rupanya akibat koma barusan, pikiran Helen yang hampir meledak karena terlalu membenci Aluna kembali kosong. Dia berisekai ke dunia nyata, di mana dia memasuki tubuh Arabella yang terbaring lemah di rumah sakit. Sementara tubuhnya yang asli ditempati sementara oleh Arabella adik kandung Aluna.


Secara tidak langsung mereka saling terhubung, dengan dimensi yang berbeda namun saling berkaitan satu sama lain. Wajah dan tubuh mereka pun sama, hanya bedanya, Arabella memiliki kelakuan yang baik sementara Helen memiliki perilaku yang sangat buruk dan membenci Luna. Sistem di Novel sengaja mempertemukan mereka, karena kehidupan Aluna dan Arabella berkaitan dengan alur novel selanjutnya.


"Jangan takut, Helen. Aku tidak akan menyakitimu. Aku adalah ibumu, Nak. Yang kamu panggil adalah Luna, bukan? Tenanglah! Aku akan menemuinya nanti. Aku juga akan membuat perhitungan dengannya karena telah membuatmu seperti ini." Mona terus maju mendekati Helen naik ke atas tempat tidur.


Sementara, Helen terus menggeleng ketakutan. Dia tak bisa diam dan terus menghindari Mona, bahkan selang infus di tangannya pun hampir terlepas. Dalam posisi duduk di atas tempat tidur, Helen terus mundur ke belakang.


"Aku tak memiliki ibu. Kamu bukan ibuku!"


Tiba-tiba.


Bruk!!


Helen terjatuh dari tempat tidur, kepalanya terjengkang ke belakang dan mengenai lemari yang ada di dekatnya. Kepala Helen terbentur lemari sangat keras, membuatnya kembali pingsan untuk kedua kalinya.


"Helen!!" Teriak Mona histeris.


"Dokter! Tolong, tolong anakku ...." Mona terus berteriak kencang berulang kali.


Dengan gerakan cepat wanita itu memencet tombol darurat yang ada di bangsal. Mona langsung memeluk tubuh anaknya, akibat benturan di lemari kepala Helen berdarah dan selang di tangannya pun ikut terlepas, membuat sedikit darah keluar dari tangannya.


"Bangun, Nak. Bangun ... jangan tinggalkan aku!" Mona menangis tersedu-sedu terus memeluk tubuh anaknya. Dia benar-benar begitu takut kehilangan harta yang paling berharganya itu.


... ###...


...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. ...


...Terima kasih. ...