
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Clara kepada Helen.
"Tentu saja Nyonya, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Nyonya sekarang? Apa masih sering mengalami sakit kepala sebelah?" Helen balik bertanya kepada Clara.
Dibandingkan Luna, Helen memang lebih dekat dengan Clara, ibunya Alvin. Mereka sering pergi berbelanja bersama, ke salon bersama bahkan sering berkumpul bareng teman sosialita Clara. Mona, ibunya Helen dulunya adalah artis terkenal, salah satu temannya bahkan Clara sendiri sempat mengidolakannya. Dampak positifnya sudah pasti Clara juga menyukai Helen yang sangat mirip dengan ibunya. Helen selalu perhatian, membuat wanita separuh baya itu sangat nyaman berada di dekatnya.
"Hanya kemarin saja, Nak. Itu semua gara-gara masalah yang menimpa wanita sialan itu. Aku sempat berpikir kurangnya apa Alvin? bisa-bisanya dia berselingkuh dan membuat video mesum dengan pria lain. Walaupun aku hanya ibu tirinya, aku merasa sangat malu, Nak. Wanita itu benar-benar menginjak harga diri keluarga kami." Clara menyeka sedikit air matanya.
Helen yang masih basah kuyup mengelus pundak Clara, mencoba mengambil simpati darinya. "Aku mengerti perasaan Anda. Sebaiknya jangan terlalu dipikirkan, Nyonya. Yang ada nanti Anda bisa sakit. Setelah acara ini selesai aku yakin Alvin pasti menceraikan wanita itu," ucapnya.
"Terima kasih, Helen. Sebaiknya kamu ganti baju dulu. Lihatlah bajumu basah kuyup, nanti kamu malah sakit." Clara begitu sangat perhatian kepada Helen.
Mona yang berada tidak jauh dari mereka tampak tersenyum melihat putrinya pandai mengambil hati calon mertuanya. Tentu saja, bakat merayu itu turun dari dirinya. Dari dulu Helen sudah menyukai Alvin, bahkan semenjak pria itu belum mengenal Luna.
Sayangnya Keluarga Wiratama sudah menjodohkan Alvin dengan Luna, membuat Helen sempat frustrasi karena usahanya mendekati Alvin yang ia lakukan dari dulu menjadi sia-sia.
"Benar kata Nyonya Wiratama, sambil menunggu Alvin dan Luna, sebaiknya kamu ganti baju dulu. Kebetulan Mommy sudah memesan gaun untukmu," ucap Mona.
Mona menghampiri Helen, mengajaknya berganti baju. Wanita itu pun tak lupa menyapa Clara dan teman-temannya.
"Selamat malam Nyonya Wiratama, selamat malam juga semuanya," sapa Mona sopan.
Clara dan teman-temannya tersenyum menanggapi.
"Terima kasih Nyonya, senang bertemu dengan kalian semuanya. Kami pamit ke belakang dulu," ucap Mona lagi sembari menuntun anaknya ke belakang.
Tampak elegan dengan penampilan dan gayanya, Mona menyapa Clara dan teman-temannya. Bahkan meskipun sudah berumur, wajah Mona masih terlihat seperti usia tiga puluhan. Dulunya mereka sangat mengidolakan Mona sebagai model dan trendsetter terkenal di dunia Entertainer jaman remaja.
"Lihatlah Clara, sepertinya Alvin lebih cocok dengan Helen. Lihat saja ibunya masih tetap cantik padahal usianya sudah hampir separuh abad. Ditambah lagi sepertinya juga Helen merupakan wanita yang pintar. Aku lebih setuju kamu menikahkan dengannya setelah Alvin bercerai nanti." Salah satu teman Clara memanasi.
"Ya, aku pun sama sangat setuju Alvin dengan Helen. Wanita itu tidak hanya cantik, tapi juga sangat perhatian denganmu, Clara." Teman satunya lagi menimpali.
"Aku juga setuju. Kalau kamu tidak mau menikahkan anakmu dengan anakku. Aku akan rela kalau Alvin dinikahkan dengan Helen dengan begitu aku bisa dekat dengan Mona, dia adalah idolaku saat remaja." Teman Clara berbaju merah ikut menyetujui.
Mendengar teman-temannya mendukung Helen, Clara semakin yakin kalau Helen wanita yang pas untuk anaknya. Ia berniat setelah acara ini selesai ingin membicarakan keinginannya kepada Alvin.
Kali ini kamu harus menuruti keinginanku, Vin! Batinnya dalam hati.
Sebelum masuk ke ruang ganti, Helen bertemu dengan Devan di Koridor hotel. Wanita itu menyempatkan diri berbisik kepada Devan.
"Sepertinya keberuntungan ada di pihak kita. Yuka dan Luna memiliki tahi lalat yang sama di ujung bawah tulang selangkanya sebelah kiri. Aku yakin dengan bukti ini kita bisa membuktikan kalau Luna lah yang ada di video itu," bisik Helen di telinga Devan.
"Terima kasih infonya, Aku yakin setelah acara ini selesai Alvin akan menceraikannya. Aku tidak sia-sia bekerja sama denganmu, Helen." Devan tersenyum ke arah Helen.
***
Di Kamar Hotel.
"Aku pinjam bolpoinmu dulu," ucap Aluna mengambil sebuah bolpoin dari kantong kemeja Alvin.
"Untuk apa?" tanya Alvin keheranan.
"Tentu saja untuk menggambar tahi lalat." Aluna bergegas kembali menuju cermin yang ada di toilet.
"Apa?" Alvin terbengong mengikuti Aluna dari belakang.
Jangan pikir aku bodoh Helen! Aku bahkan sudah menyalin file video di handphone ini ke dalam USB, batin Aluna sambil tersenyum.
Aluna mengeluarkan USB yang ada di dalam tas pribadi miliknya. Wanita itu sudah menyiapkan cara untuk menghadapi kemungkinan buruk yang terjadi seperti sekarang.
Sebelum Aluna pulang, ia sempat menguping Yuka berbicara dengan Helen di telepon. Untungnya ia memiliki ide saat menemukan USB di kamar Luna, dengan capat langsung menduplikat file video.
Benda berbentuk pipih itu ia masukan ke dalam kantung kemejanya. Ya, Aluna telah mengganti gaun yang basah tadi dengan kemeja milik Alvin. Terlihat kebesaran dan tidak cocok di tubuh Aluna, tapi dengan memakai kemeja itu, hati Alvin sedikit tenang.
Triiingg.
Telepon pribadi yang ada di kamar hotel berbunyi. Rupanya dari tadi handphone Alvin sedang dalam mode senyap, salah satu pengawal terpaksa menelepon Alvin lewat telepon kamar. Mendengar suara itu, Alvin yang masih menunggu Aluna di depan toilet bergegas mengangkat telepon.
"Selamat malam Tuan Alvin." Seorang pengawal berbicara di telepon.
"Iya," sahut Alvin.
"Tuan, sepertinya para tamu sudah menunggu terlalu lama. Nyonya Clara memintaku agar mengatakan kepada Tuan agar acaranya cepat diselesaikan. Mereka ingin segera pulang karena sudah terlalu malam," kata pengawal Alvin di telepon.
Jelas Alvin marah, mereka bisa datang ke acara itu atas undangan darinya. Alvin merasa mereka tidak menghargai undangannya dan yang paling utama ia tak ingin membuat kecewa Luna.
Kalau semua tamu pulang, lalu siapa yang akan menjadi saksi? pikir Alvin dalam hati.
"Katakan kepada semua tamu undangan. Siapa pun yang berani meninggalkan acara itu berarti ia telah mencari masalah denganku!" ketus Alvin geram.
Setelah mengucapakan kalimat ultimatumnya dengan nada tegas, Alvin lalu menutup telepon itu sepihak. Alvin merasa memiliki kuasa, tak ingin perintahnya dibantah. Bahkan kali ini Alvin yakin Luna hanya dijebak, wanita dalam video mesum itu bukan istrinya. Ia sengaja mengumpulkan banyak tamu agar mengetahui kalau Luna tidak bersalah, menghapus cap negatif yang sudah disematkan orang lain tentang istrinya.