TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Aku Bukan Luna


Penuh penekanan Alvin berbicara kepada Aluna. "Tidak! Aku tak percaya. Jangan-jangan kamu mengatakan seperti itu karena ingin menjauh dariku dan sengaja berbohong?"


Aluna menarik kursi di sebelahnya lalu mendudukinya yang berhadapan dengan Alvin. "Aku tidak berbohong Alvin. Aku bukan istrimu. Apa kamu masih tak sadar? Kami sangat berbeda, Luna istrimu terlalu lemah sebagai seorang perempuan," ucapnya.


Alvin mengamati gerakan bibir dan sikap Aluna ketika berbicara. Dia sedang mengawasi berbagai macam perubahan ekspresi wajah Aluna. Alvin sedikit tahu bagaimana bahasa tubuh seseorang ketika berbohong. Dari cara Aluna berbicara, wanita itu nampak tak sedang berbohong.


"Ini mustahil!" kata Alvin.


Alvin mengembuskan kasar napasnya kemudian menggelengkan kepalanya pelan, kepercayaannya terhadap Aluna lima puluh berbanding lima puluh. Walaupun dia masih kurang percaya, melihat perubahan sifat Aluna, ada benarnya juga kalau mereka memang bertukar jiwa.


"Kalau itu benar, kenapa ini bisa terjadi? Ini seperti sebuah kejadian di cerita fantasi. Apa bukti yang bisa memperkuat kalau kamu bukan istriku?"


Aluna melirik Alvin yang masih duduk termangu, lelaki yang barusan terkejut itu tampak begitu penasaran dengan jawaban Aluna.


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, Alvin. Tetapi, aku bisa memberikan bukti kalau aku bukan Luna istrimu. Aku bisa menganalisis semua data investor, perusahaan mana yang memiliki potensi tinggi agar menguntungkan perusahaanmu. Lewat sebuah sistem aku mampu menerawang prospek perusahaan yang bekerjasama denganmu di masa mendatang."


Mendengar penjelasan Aluna, Alvin tersenyum miring, masih tak percaya karena dia belum membuktikannya langsung. "Mana aku tahu kalau kamu belum membuktikan ucapanmu."


"Yah, sulit bagimu untuk mempercayaiku. Bukankah kemarin juga kamu tahu saat mengadakan rapat umum pemegang saham di ruang konferensi." Aluna menopang dagunya dengan ke dua tangan, menatap intens lelaki yang sedang duduk di depannya.


Alvin mengingat lagi saat rapat kemarin. Alvin merasa masuk akal kalau perempuan di depannya bukan istrinya, karena yang dia tahu Luna bukanlah wanita yang pintar.


"Miss K, Beritahu aku informasi mengenai dua investasi yang Alvin sepakati seminggu yang lalu," ucap Aluna menepuk kalung sistem.


Sensor di kalung sistem langsung menyala, Miss K lalu memberitahukan kepada Aluna dua proyek yang akan dikerjakan Alvin tahun ini, tentunya proyek itu hanya diketahui Alvin dan pihak yang bekerja sama dengannya saja. Bahkan proyek itu pun masih belum berjalan.


Dengan siapa dia berbicara? Ini benar-benar di luar logika. Batin Alvin.


Tingkah laku Aluna menurut Alvin sangat aneh. Alvin hanya mendengar Aluna berbicara sendirian, dia tak dapat mendengar ketika sistem berbicara.


"Aku tahu dua proyek yang sudah kamu investasikan. Proyek itu akan berjalan tahun ini," kata Aluna dengan penuh percaya diri.


Alvin tersenyum. "Katakan padaku dua proyek itu? Kalau kamu mengetahuinya, aku baru percaya kalau kamu bukan Luna istriku."


Aluna lalu berdiri, menyilangkan tangannya di bawah dada. Dengan penuh percaya diri, Aluna berbicara kepada Alvin. "Proyek pertama adalah proyek pembangunan tempat wisata di Cappadocia yang akan dibangun bulan depan, empat puluh persen saham adalah milik perusahaanmu dan sisanya milik Perusahaan Elmas grup yang ada di Turki. Sedangkan, proyek ke dua adalah sebuah resort yang akan kamu bangun di Pulau Bali, kamu bahkan berani menginvestasikan hampir lima puluh persen saham, bekerja sama dengan perusahaan Axon Grup."


Aluna mendekati Alvin, lalu menatap tajam lelaki itu, "Apa aku sudah mengatakannya dengan benar, Presdir Alvin?"


"Kau!" Alvin dibuat tercengang oleh jawaban Aluna, berkali-kali lelaki itu tampak sedang berpikir dengan logikanya.


Apa yang dia dikatakan semuanya benar, tidak ada ya mengetahui rencana proyek ini kecuali presdir dari perusahan Elmas dan Axon. Berarti benar dia bukanlah Luna istriku. Batin Alvin.


Alvin terdiam, mulai mempercayai kalau wanita yang seruangan dengannya itu bukan Luna. Perkataan Aluna yang masuk akal membuatnya sedikit mempercayai kalau mereka berdua sedang bertukar jiwa.


"Maaf mengganggu Presdir Alvin. Ada reporter dari stasiun televisi Surya, ingin bertemu dengan Anda. Mereka ingin mewawancarai langsung, ingin menyorot dan mengulik kesuksesan Anda dalam berbisnis," kata sekretaris Sam menunjukkan surat pernyataan yang harus Alvin tanda tangani.


Alvin membaca sekilas surat yang dibawakan sekretaris Sam. Belum selesai membacanya saja, dia menyerahkan lagi surat itt. "Aku tak setuju. Suruh saja mereka mewawancarai direktur dari perusahan lain."


"Baik, Tuan."


Sekretaris Sam lalu pergi, hendak memberitahukan lagi kepada para reporter kalau Alvin menolak untuk diwawancarai. Tentu saja Alvin menolak, dia masih fokus dengan Aluna yang menurutnya masih misterius.


Setelah sekretarisnya keluar, Alvin berdiri di sebelah Aluna. Mereka sama-sama berdiri bersebelahan menghadap jendela. "Aku, berharap ini tidak benar. Tetapi kalau memang benar, lalu di mana istriku berada?" tanya Alvin begitu sedih menatap jendela.


Aluna memegang bahu Alvin. "Istrimu baik-baik saja di duniaku, jadi kamu jangan khawatir."


Entahlah perasaan Alvin kali ini sulit sekali diartikan, berkali-kali setiap kali melihat wajah Aluna. Perasaanya sangat dekat dengan wanita itu. Dalam hatinya menolak keras kenyataan kalau dia bukan Luna istrinya.


Tidak! Kamu tetap istriku, batin Alvin sambil melamun.


"Sudahlah jangan terlalu dipikirkan," kata Aluna menenangkan Alvin.


"Setelah kamu menci umku paksa kemarin, kamu mengatakan jangan terlalu dipikirkan? Hah, ini gila. Apa segampang itu kamu menci um lelaki yang bukan siapa-siapa kamu?"


Karena ucapan Alvin membuat Aluna menelan ludahnya. Mengungkit kembali peristiwa kemarin membuat Aluna menjadi malu. Dia tak berani melihat dan memalingkan wajahnya.


"Apa karena aku terlalu tampan dan menarik, sehingga kamu bernap su kepadaku?"


Ini tidak seperti yang dibayangkan, Alvin. gumam Aluna dalam hatinya.


Alvin kembali menggoda Aluna. "Oh, aku lupa. Bukankah hanya jiwamu saja yang berbeda. Tetap saja pemilik tubuh ini adalah Luna. Aku berhak melakukan apa pun, karena ini milik istriku."


Gara-gara ucapan Alvin barusan, membuat Aluna tersipu malu.


Tolong, jangan lihat aku seperti itu, Alvin. Batin Aluna.


"Alvin! Ada hal yang tidak bisa aku katakan semuanya."


"Tidak bisa! Kamu sudah menci umku kemarin. Kamu harus bertanggung jawab." Alvin sengaja mengintimidasi Aluna, memajukan tubuhnya lalu menatap sambil tersenyum.


Aluna memundurkan langkahnya agar mereka tak saling menempel. "Ya, ya, aku akan bertanggung jawab. Besok aku berjanji tidak akan terlambat bekerja lagi. Aku juga akan memberitahukan informasi apa pun, agar perusahanmu menguntungkan. Asalkan kamu tak akan menceraikan Luna."


Menceraikan Luna? Itu tidak akan terjadi Nona Cantik!