
Di sebuah ruangan terpisah dua orang ibu dan anak sedang tersenyum mendengar Alvin mengatakan ingin membawa Luna ke kantor pengadilan agama. Helen merasa ia akan menang kali ini. Apa yang dilakukannya sebentar lagi akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Mereka berdua terlihat menguping Alvin dengan Luna yang sedang membicarakan
masalah perceraian dan video panas yang dilakukan Luna. Helen tersenyum licik.
"Hidupmu akan berakhir sebentar lagi, Luna" Helen berbicara pelan kepada ibunya.
"Luna memang pantas diperlakukan seperti itu," balas Mona, "Lihat saja sebentar lagi semuanya berakhir."
Mona tersenyum melihat dari jauh.
***
Sementara dua orang lainnya yaitu Aluna dan Alvin berdiri berhadapan saling menatap tajam.
Sial! Dia sangat tampan sekali! Gumam Aluna dalam hati.
Sebenarnya Aluna diam-diam mengagumi wajah dan tubuh tegap milik Alvin, wajah tegas Alvin adalah tipe pria idamannya di dunia nyata, bahkan Aluna sangat menyukai bau parfum milik Alvin, begitu maskulin seakan ingin sekali ia didekapnya.
Sayangnya Aluna hanya mengagumi covernya saja dari seorang Alvin, ia tidak menyukai sikap Alvin yang sangat kasar dan angkuh. Setampan apa dirinya kalau tak bisa menghargai wanita, Aluna pasti membencinya.
Pria dengan tinggi 185 CM itu masih bingung dengan perasaannya. Cinta dan benci di dalam hatinya sama-sama imbang. Alvin menatap lekat setiap detail wajah Luna yang belum lama menjadi istrinya. Dari beberapa bagian wajah Aluna, Alvin sangat menyukai bibir tipis dan ranum milik Luna. Menurutnya bibir Luna begitu sangat menggoda, sayang sekali ia belum mencicipinya.
"Wanita di video itu bukan aku, Tuan" ucap Aluna pelan.
Sebuah Video yang ia lihat berulang kali di handphone selalu membuat darah tingginya naik, membuatnya enggan menyentuhnya. Luna telah membuat malu harga dirinya sebagai seorang suami, terlebih lagi video itu sudah tersebar luas.
"Kamu masih saja terus mengelak, Luna! Jelas wajah wanita itu sama denganmu! Aku yakin kamu juga pernah memakai baju yang dikenakannya. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan kalau itu bukan kamu," ucap Alvin tegas, ia masih menatap lekat Luna.
Padahal Aluna sudah beberapa kali bertemu dengan Alvin. Tetap saja Ia masih sangat gugup berhadapan dengan pria tampan itu, kalau boleh jujur dadanya selalu bergemuruh setiap Alvin mendekatinya.
"Kalau begitu, aku akan membuktikannya malam ini, datanglah ke Cafe Miracle malam ini. Aku akan membuktikan kalau wanita dalam video itu bukanlah aku!" tantang Aluna.
Alvin tersenyum miring mendengarnya, Ia masih tidak yakin apa masih mencintai Luna atau tidak. Ketika Aluna mengatakan akan membuktikannya malam ini di Cafe Miracle, Alvin masih meragukannya. Jelas ia menolak pembuktian Luna malam ini.
"Sudahlah, aku tidak mempercayaimu lagi!" seru Alvin.
Berdiri di depan Luna, membuat pikirannya kacau. Alvin memutuskan untuk meninggalkan Luna begitu saja.
Bagaimana ini? Dia tidak mau! batin Aluna ketakutan.
Melihat Alvin hendak pergi meninggalkannya, Aluna menatap punggung pria itu berpikir bagaimana caranya agar Alvin mau datang ke Cafe Miracle malam ini.
Benar-benar menguji kesabaran ku! geram Aluna lagi.
"Setidaknya beri aku kesempatan untuk membuktikannya, suamiku!" Tak ada cara lain selain merayunya lagi menurut Aluna.
Alvin tak bergeming, meskipun pelan langkahnya terus menjauhi Aluna, gadis itu hanya bisa menatap punggung tegapnya. Kekecewaan sudah membutakan mata hatinya. Andai saja bukan masalah perselingkuhan, Alvin bisa memaafkan Luna. Hatinya sudah terlanjur sakit hati karena video itu.
"Suamiku, dengarkan aku!" Aluna berusaha mengejar Alvin menangkap lengan miliknya.
Alvin benar-benar dingin dan tetap mengacuhkannya, bersikap seolah tak melihatnya. Ditepisnya tangan Luna dari lengannya, "Sudahlah, kembalilah pada Devan. Aku tak bisa menerimamu lagi!"
"Bilang saja kalau kamu takut menghadapi kenyataan kalau sesungguhnya itu tidak benar. Apa jangan-jangan itu hanya alasanmu saja ingin menceraikan ku!" Aluna tetap berusaha agar Alvin memenuhi permintaannya.
Pria itu menepis tangan Luna berniat tetap tidak mau meladeninya. Cinta baginya bisa dicari tapi menerima wanita peselingkuh lagi agar masih bersamanya itu tak mungkin baginya.
Alvin semakin menjauhinya, hendak berbelok ke arah lain.
Alvin terus berjalan tak menoleh.
*Luna, semuanya sudah jelas aku tak bisa menerimamu lagi, batin Alvin
Kenapa setiap kali melihatmu, aku selalu teringat video panas itu.
Bayangkan kamu diposisi ku pasti kamu sangat sakit hati melihat istrinya tidur berdua di kamar hotel*.
"Tuan, apa kepalamu tak bisa menoleh. Apa anda sedang sakit leher. Aku sudah berbicara banyak tapi malah tak dipedulikan. Aku doakan agar kamu mengalami musibah dan membuat lehermu tak bisa menoleh," teriak Aluna sekali lagi.
Aluna sudah semakin gemas dengan sikap acuh Alvin, dari awal ia selalu mempersulit misinya yang diberikan sistem.
Saat Aluna mengatakan itu, Alvin terus berjalan ke depan. Pikirannya terlalu kacau, bayangan video itu masih terngiang dibenaknya. Sampai ia tak memperhatikan jalan di depan.
Sebelum belokan ada lubang yang masih dalam perbaikan. Sudah jelas di depannya sudah terpasang rambu peringatan agar tak melewatinya, namun karena pikiran kacaunya, Alvin terus berjalan melewatinya.
Tiba-tiba.
Brakk!
Tersandung! Tak sengaja kaki Alvin menginjak lubang, ujung telapak kaki kirinya teryangkut di sela lobang. Karena hal itu membuat Alvin sampai terjatuh dan menyebabkan kepalanya terbentur batu di depannya.
Antara senang dan sedih, Aluna yang melihatnya langsung bergegas menghampiri Alvin.
Ha..ha..rasakan kamu Alvin! Mungkin Tuhan telah mengabulkan doa ku. batin Aluna berusaha menahan tawanya.
"Tuan, apa anda baik-baik saja?" tanya Aluna sembari mengulurkan tangannya menolong Alvin. Di dalam hatinya ia ingin tertawa.
"Aku bisa berdiri sendiri!" ucap Alvin.
Jelas dirinya tak baik saja, karena benturan itu membuat keningnya berdarah karena batu yang mengenainya begitu tajam.
"Mungkin itu pertanda kalau anda harus memberiku kesempatan, Tuan" ucap Aluna berkelit.
Alvin sudah berdiri kembali, ia tak memperdulikan darah yang mengucur dari kepalanya.
"Tuan, sepertinya kepala anda berdarah. Biar aku obati!" Aluna hendak memegang darah Alvin namun pria itu malah hendak pergi kembali.
Tentu saja Alvin sedang menahan rasa sakitnya, dan terus bersikap dingin walaupun sedikit malu. Beruntungnya rumah sakit itu sedang sepi, hanya Aluna yang melihat kejadian itu. Dalam hati Alvin ia akan memberi perhitungan kepada pihak rumah sakit karena telah membuat dirinya celaka.
"Berhentilah peduli terhadapku!" ketus Alvin marah.
"Baiklah aku tidak akan peduli lagi tapi dengan syarat datanglah ke Cafe Miracle malam ini. Aku akan buktikan kalau aku tidak bersalah!" seru Aluna.
"Kalau aku tidak mau!"
"Berarti anda adalah lelaki pengecut!" Aluna menekankan ucapannya.
Mendengar ia dikatakan lelaki pengecut jelas membuat Alvin tidak terima dengan ejekannya.
"Baiklah, aku akan datang malam ini!"
.
.
###