TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 277. Kabur


"Halo Sindi, maaf aku tidak bisa bertemu denganmu sekarang," kata Zero berbicara lewat telepon smartwatchnya.


"Padahal aku sudah menunggumu, Ze. Ta-pi ... baiklah, aku mengerti. Mungkin kita bisa bertemu lain waktu," jawab Sindi setelah membaca pesan SOS dari Zero sebelum dia mengangkat teleponnya.


"Aku janji pasti kita akan bertemu lagi. Kata paman Yuze, lelaki pantang mengingkari janji. Oh iya, aku punya sesuatu untukmu. Aku sudah siapkan tujuh origami burung bangau berwarna pelangi untukmu. Aku sengaja membuatnya sendiri tadi sekolah. Sindi, seandainya kamu mencariku nanti, kamu ingatlah burung bangau ini. Burung bangau yang aku buat, nanti yang akan menuntunmu," kata Zero.


Lily dan Yuze tak bodoh, percakapan ke dua anak kecil tersebut mereka loudspeaker suaranya agar tahu apa yang sedang dibicarakan. Kalau tadi Sinta atau ayahnya yang mengangkat, Lily sudah pasti akan mematikannya terlebih dahulu.


"Kamu ada di mana sekarang, Ze?" tanya Sindi.


Akan tetapi sebelum Zero menjawab, Lily sudah terlebih dulu mematikan teleponnya secara sepihak. "Waktunya sudah habis. Smartwatch ini sudah tak berguna, sebaiknya dibuang saja."


"Tunggu, Bibi. Aku ingin menonaktifkan dulu teleponnya agar mereka tak bisa menghubungi. Aku tidak mau Sindi salah paham nanti kalau aku tak mengangkat teleponnya," kata Zero.


Alis Lily terlihat mengernyit. Benar apa yang dikatakan Zero kalau telepon itu masih aktif, mereka pasti akan terus menelepon di nomor tersebut.


"Ternyata kamu benar-benar ingin pergi dari ibumu. Baiklah lakukan saja, setelah ini buang saja smartwatchnya. Tenang, setelah kamu sampai pulau itu kami akan sering datang menjengukmu asal kamu patuh."


Lily tersenyum senang saat Zero mengangguk dan menuruti kata-katanya. Pikir Lily, ternyata mencuci otak anak sekecil Zero lebih muda dari yang dia bayangkan.


Tapi mereka tak tahu, bukan Zero namanya kalau dia hanya diam saja ketika posisinya dalam bahaya. Sebelum dia mematikan ponsel, dengan gerakan cepat Zero mengirimkan sebuah kode pesan rahasia kepada Sindi. Memberitahukan di mana keberadaannya nanti kalau Sindi mencari.


[03lab7han]


Pesan kode rahasia terkirim dan smartwatch kemudian dimatikan. Diiringi senyuman Yuze dan Lily, Zero langsung melemparkan jam pintar miliknya ke jalanan lewat jendela mobil.


"Coba lihatlah kepatuhanku, Bibi. Seperti saran Bibi aku akan melempar satu-satunya alat komunikasi milikku itu."


"Bagus! Kamu lulus menjadi muridku," kata Yuze masih sibuk menyetir.


Zero menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Lily yang duduk di sebelah Yuze. "Bibi, aku sudah patuh dan Paman Yuze sudah resmi menerimaku sebagai muridnya. Bolehkah aku minta sesuatu? Aku ingin ke toilet. Ingin buang air kecil, Bibi."


Lily menggeleng dan menolak keras. "Tidak boleh! Sebentar lagi kita sampai pelabuhan. dI sana akan ada pantai dan toilet tentunya. Kamu suka pantai 'kan?"


Cara yang pertama gagal dilakukan Zero. Lily tetap tidak memperbolehkan Zero untuk turun, walaupun sudah kebelet sekali pun. Lily bahkan menyuruh Zero agar buang air kecil saja di mobil.


***


Di mobil yang lain, Aluna sudah mempercepat laju mobilnya dengan kecepatan paling tinggi. Untung saja jalanan cukup sepi. Jadi, bisa sedikit lebih enak saat mengebut.


"Pak, aku ingin melaporkan kasus penculikan yang menimpa anakku. Sekarang penculiknya sedang menuju pelabuhan, ingin membawa anakku pergi," kata Alvin menelepon kantor polisi.


Rupanya pihak polisi menolak laporan Alvin. Polisi berkata, seharusnya dalam kondisi darurat mereka datang langsung ke kantor polisi untuk menyerahkan dokumen penting mengenai Zero agar kesannya tidak seperti main-main karena tidak adanya bukti.


Alvin merasa kecewa segera menutup teleponnya sepihak. Keselamatan Zero, selain ada di tangan Tuhan, ada di tangan dia dan Aluna.


"Kita berdo'a saja, Alvin. Semoga tidak terjadi hal yang buruk terhadap anak kita."


***


Zero kembali memutar ide agar bisa turun. Tidak mungkin dia minta izin ke toilet lagi karena mereka pasti tidak akan mengizinkannya.


"Bibi, ada rusa di depan. Barusan aku lihat tertabrak mobil ini," teriak Zero tiba-tiba sambil berakting seakan memang ada.


Lily menggeser tempat duduknya. Melihat apakah benar ucapan Zero. "Tidak ada apa pun di sini."


"Bibi, lihat di depan sana. Ada seekor lagi anak rusa," teriak Zero sambil menunjuk ke luar mobil.


Teriakan Zero yang histeris membuat mereka penasaran apakah anak kecil itu tidak berbohong. Mereka mencoba melihat lagi ke luar. Tapi tetap tidak ada apa pun. Malah mengatakan Zero terlalu berhalusinasi.


"Tidak ada, Zero."


"Ada, Bibi. Lihatlah ada di sebelah kanan Paman Yuze," kata Zero lebih histeris menunjuk ke luar.


Akibat penasaran dengan apa yang dikatakan Zero barusan. Yuze yang sedang menyetir tidak fokus. Membuat mobil yang sedang dikendarai Yuze, sampai menabrak mobil di depannya. Tabrakan beruntun pun tak bisa terhindarkan.


BRAKK!!


Suara mobil yang saling bertabrakan terdengar sangat keras dan tentunya mengagetkan. Menyebabkan guncangan hebat di dalam mobil. Untung saja karena memakai sabuk pengaman membuat mereka tidak berpindah posisi, kecuali Zero.


"Yuze, keluarlah. Mobil kita menabrak dan ditabrak dari belakang," kata Lily tak terima. Begitu juga dengan Yuze. Depan dan belakang body mobil mereka terhimpit dua mobil.


"Kurang ajar! Kita hanya punya waktu beberapa menit untuk mengurusi mereka dulu. Lagipula masih ada sisa waktu empat puluh menit lagi kapal yang dipesan akan berangkat."


Ke dua orang itu akhirnya keluar setelah memastikan tidak satu pun dari mereka mengalami luka-luka.


"Kesempatan bagus! Aku harus cepat keluar!"


Zero dengan gerakan cepat dan lincahnya keluar dari dalam mobil dan berlari menjauhi mobil.