TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menenangkan Ara


"Gadis bodoh kalau ingin bunuh diri seharusnya jangan di sini! Bagaimana kalau tadi aku menabrakmu lalu kamu meninggal, pasti aku akan dibawa ke kantor polisi dan polisi akan menahanku. Merugikan orang lain saja!" umpat sopir Truk menyembulkan kepalanya lewat kaca depan mobilnya. Dia menunjuk-nunjuk muka Ara.


Mendengar suara orang memaki-maki, Ara yang masih berada di atas Noah langsung terperanjat. Dia baru sadar kalau truk itu hampir saja menabraknya. Sontak, Ara pun langsung bangkit dan duduk di sisi jalan.


"Kamu masih muda, hidup itu sangat berarti. Jangan kamu sia-siakan gadis bodoh!" Bentak sopir truk lagi.


Ara hanya terdiam saat sopir truk terus memarahinya. Sementara Noah yang baru duduk masih memegangi kepalanya yang sedikit sakit karena membentur aspal. Beruntung mereka tak mengalami luka berat, mereka hanya mengalami sedikit luka lecet di bagian lengan.


"Ma-maafkan kami," ucap Noah. Dia terpaksa menjawab karena Ara yang ditanya hanya diam saja. Ara malah memegangi lututnya sambil menangis.


"Sepertinya gadis ini gila! Lain kali kamu harus waspada mengawasi lebih ketat gadis ini. Aku yakin dia pasti akan mengulanginya lagi." Sopir truk terus masih memaki.


"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan kami. Aku akan lebih ketat mengawasinya," balas Noah.


Karena lalu lintas mendadak macet, sopir truk tadi memutuskan tidak memperpanjang masalah. Setelah Noah meminta maaf, dia pun langsung melajukan lagi truknya dengan perasaan kesal dan terus mengumpat.


"Aku harus kembali ... hiks ... aku ingin pulang menemui kakakku!" Ara terus menangis.


Noah yang berada di sebelahnya merasa kebingungan. Barusan gadis di sebelahnya hendak bunuh diri, sekarang malah menangis ingin menemui kakaknya! Noah berpikiran kalau Ara memang kurang waras.


"Tenang, Nona. Jangan menangis! Sekarang beritahu aku alamat rumahmu, aku akan mengantarmu pulang." Noah menepuk lembut pundak Ara berusaha menenangkan. Dalam kondisi seperti itu tidak mungkin Noah memarahi Ara karena hampir saja mengakhiri nyawanya, seperti sopir truk tadi.


Ara menggeleng, dia tidak mungkin mengatakan alamat rumahnya kepada Noah. Karena sampai kapan pun alamat rumah yang diberikannya, tidak akan Noah temukan karena mereka beda dimensi.


"Tunggu!" Noah lalu berdiri, dari jauh matanya menangkap sebuah benda kecil tergeletak tidak jauh darinya.


Noah mengambil benda yang rupanya sebuah dompet kecil, dia pun langsung membukanya. Ternyata dompet itu milik Helen, di dalamnya terdapat kartu identitas atas nama Helen. Setelah melihat itu, Noah pun langsung berjalan mendekati Ara.


"Sudah kuduga kamu adalah Helen, sekretaris Alvin. Kenapa kamu berbohong mengatasnamakan sebagai Ara?" Noah menunjukkan kartu identitas Helen kepada Ara.


Wanita dengan mata sembab itu mendongak ke atas, membaca dengan saksama kartu identitas yang dipegang Noah sambil berdiri. Karena masih tidak percaya, Ara membacanya berulang-ulang.


"Huwaa ... hiks! Jadi aku benar adalah Helen. Kenapa nasibku jadi seperti ini?" Tangisan Ara semakin histeris kencang.


"Barusan Anda hampir mati bunuh diri, sekarang meraung menangis histeris seperti orang yang tersesat dan tidak berdaya. Kenapa Anda berperilaku aneh seperti ini, Nona? Apa mungkin ...."


Keadaan Ara yang menangis histeris menjadi bahan tontonan pengendara yang melewatinya. Sayangnya jalan itu adalah jalan tol, para pengendara hanya melihat sepintas sambil melajukan mobilnya. Beberapa pengendara malah memaki Noah, mengira Ara menangis karenanya.


"Diamlah, Nona. Malu banyak orang yang melihat. Mereka bisa menuduhku menyakitimu," ucap Noah.


Namun, Ara tak menghiraukan. Dia masih terus menangis. Karena sudah merasa berhutang budi, Noah tak mungkin meninggalkan Ara dalam kondisi terpuruk seperti itu. Dia malah menghibur Ara agar wanita itu bisa menenangkan dirinya.


"Tenanglah, kamu bisa cerita apa pun padaku. Sekarang apa keinginanmu?"


"Hiks, aku hanya ingin pulang dan menemui kakakku," kata Ara sesenggukan.


"Baik, baiklah Nona manis. Kalau kamu berhenti menangis, aku akan menghubungi keluargamu agar segera menjemputmu sekarang." Noah terus menenangkan Ara.


Setelah Ara sedikit tenang, Noah mengambil handphone dan segera menghubungi Alvin.


^^^"Halo," jawab Alvin di telepon.^^^


"Halo Alvin, aku bersama sekretarismu di dekat jalan tol. Aku menemukan dia dalam keadaan menangis dan ingin bunuh diri," kata Noah di telepon.


^^^"Sekretarisku? Siapa yang kamu maksud?" Alvin balik bertanya.^^^


"Tentu saja Nona Helen. Bukankah dia adalah sekretarismu? Keadaannya sangat mencemaskan."


^^^"Jadi yang kamu maksud adalah Helen. Tidak! Dia bukan sekretarisku lagi. Dia sudah aku pecat beberapa hari yang lalu." Tegas Alvin.^^^


"Dipecat! Maaf aku baru tahu. Nona Helen terlunta-lunta di jalanan hendak bunuh diri. Aku mohon beritahukan keluarganya agar segera menjemputnya sekarang."


^^^"Hati-hati dengan wanita itu sebaiknya kamu menjauhinya!"^^^


"Memangnya kenapa?"


^^^"Aku tidak banyak waktu menceritakannya di sini."^^^


"Baiklah, kita akan berbicara lain waktu. Sekarang tolong beritahukan agar keluarga Helen segera menjemputnya di dekat jalan tol utama sekarang."


^^^"Kalau bukan kamu yang meminta aku tidak akan menghubungi keluarganya."^^^


Dengan sangat terpaksa, Alvin pun mengiyakan perintah Noah. Setelah telepon di tutup, Alvin langsung mengirimkan sebuah pesan kepada Mona agar menjemput putrinya segera.


"Jangan menangis lagi, Nona. Sebentar lagi keluargamu akan menjemputmu." Noah mengusap pipi Ara.


Melihat perlakuan lembut Noah, Ara tersenyum.


"Hari sudah siang. Sebaiknya, kita tunggu keluarga Anda sambil makan siang." Noah mengulurkan tangan agar Ara bergegas bangun dan berdiri.


Melihat restoran yang ditunjuk Noah, perut Ara menjadi lapar. Dia pun mengangguk dan meraih tangan Noah.


"Terima kasih, Oppa."


***


Di rumah sakit, Lisa dan temannya telah siuman. Lisa yang baru sadar telah mengalami kecelakaan, langsung bergegas mencari keberadaan Noah. Dia yakin Noah juga berada di rumah sakit.


Kenapa paman tidak ada? Batin Lisa. Hampir satu jam Lisa mencari. Namun, dia tak menemukan batang hidung pacarnya.


"Paman, di mana paman? Kenapa dia tidak ada di sini?" tanya Lisa kepada salah satu perawat.


"Apa yang Anda maksud Saudara Noah?" tanya perawat.


Lisa pun mengangguk. "Benar, suster."


"Beberapa jam yang lalu, Saudara Noah pergi meninggalkan rumah sakit. Kebetulan hanya ada sedikit luka di dahinya, dokter membolehkannya pulang," jawab perawat.


"Kenapa dia tak menungguku sadar?" Lisa mendengus kesal.


"Aku tidak tahu, Nona. Sepertinya Saudara Noah sangat terburu-buru ingin cepat pergi."


Apa mungkin paman ingin kabur dariku lagi? Batin Lisa.


"Terima kasih, Suster!"


Setelah bertanya kepada perawat, Lisa yang kesal menghampiri temannya. Dia paling tidak suka kalau Noah meninggalkannya tanpa memberitahukan terlebih dahulu.


"Apa pacarmu tidak ada di sini?" tanya teman Lisa.


"Ya, selalu saja meninggalkanku tanpa pesan," jawab Lisa mengerucutkan bibirnya. "Selalu saja mementingkan pekerjaannya. Lagipula untuk apa dia bersusah-susah bekerja di tempat itu sampai sering lembur seharian dan mengabaikanku berminggu-minggu. Padahal kalau dia mau, bisa saja dia bekerja di tempat ayahku tanpa perlu bersusah payah dan mendapatkan gaji yang besar."


"Lisa aku sadar pacarmu sangat tampan. Tetapi, dia sangat tidak sefrekuensi dengan kita. Umurnya pun berbeda jauh darimu, apa kamu tidak mencari pacar lain lagi yang lebih asik dan seumuran. Bukankah Joe sangat tampan dan kaya, dia sangat menyukaimu. Kamu tidak mau menjadikannya pacar pengganti pamanmu itu?" ucap teman Lisa.


Meskipun jarak umur mereka jauh, Lisa sangat cinta mati dengannya. Noah merupakan cinta pertama dan idola Lisa dari kecil, mereka malah sudah bertunangan.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku hanya mau paman. Bahkan aku akan meminta orangtuaku agar segera menikahkanku dengan paman setelah lulus nanti." Lisa tersenyum sambil membayangkan wajah Noah.


"Bagaiman kalau pacarmu itu ketahuan memiliki pacar lain?" tanya temannya lagi.


"Aku akan menghancurkan hubungan mereka. Paman adalah milikku. Hanya aku yang boleh menjadi istrinya!" ucap Lisa sangat yakin.