TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
234


Hanya ada dua kamar tidur di vila itu, tetapi hanya satu yang sudah dirapihkan. Hari sudah semakin malam, dan mereka sudah sama-sama lelah. Sambil menunggu kamar satunya dibersihkan, Alvin akan beristirahat dan membersihkan diri di kamar itu dulu.


"Permisi, Tuan. Baju kecil yang Anda minta sudah saya temukan," kata pelayan setelah mengetuk beberapa kali pintu dari luar.


Setelah dibuka, pelayan masuk dengan membawakan beberapa helai pakaian saat Alvin kecil dulu, tepatnya ketika dia berusia sama seperti Zero. Bahan baju-baju itu terbuat dari kain yang berkualitas dan pastinya sangat mahal, hingga sudah bertahun-tahun disimpan pun masih terlihat bagus dan layak pakai.


"Terima kasih, Bibi."


Setelah Aluna mengucapakan terima kasih, pelayan tadi undur diri bergegas mencari barang-barang Alvin saat kecil lainnya di gudang. Kata pelayan, ada banyak mainan yang bisa digunakan untuk Zero.


"Apa baju ini milikmu dulu?" tanya Aluna seraya membuka satu stelan celana dan kaos berwarna merah, memperlihatkannya ke arah Alvin.


Alvin mengangguk, bahkan dia baru ingat pernah memiliki dan menggunakan pakaian itu. Alvin tak menyangka kalau baju itu akan dia wariskan untuk Zero.


Alvin sedang sibuk menyuntikkan serum anti alergi di tubuhnya. Harusnya dosis serum yang dia suntikkan lebih banyak. Namun, karena botol serum itu tersedia di mansion, Alvin hanya menyuntikkan sedikit sisa serum. Setidaknya menurut Alvin, dia bisa bertahan mengurangi rasa gatal beberapa jam sampai dia menidurkan Zero dan kembali tidur di kamar satunya.


Semoga rasa gatalku tak kambuh lebih cepat, batin Alvin.


"Ini sangat lucu dan sangat bagus. Sepertinya baju ini sangat cocok untukmu, Zero," kata Aluna menempelkan baju itu ke tubuh Zero. Dia sangat sibuk sampai mengabaikan Alvin, "bajumu sangat kotor. Mama akan memandikanmu. Ayo lepaskan sekarang."


Zero masih bergeming. Dia sangat takjub melihat baju-baju di depannya. Menurut Zero itu sangat bagus dan sangat mewah. "Mama baju ini sangat bagus. Sepertinya tidak pantas untukku."


"Tidak! Kau tampan dan pantas memakainya," kata Aluna, "kenapa diam saja? Ayo aku akan bantu lepaskan," kata Aluna memegang bagian kaos bawah Zero, hendak membantu melepaskannya.


Akan tetapi bukannya menurut, Zero malah menutupi kaos dengan tangannya. Zero tak mau melepas kaos itu karena ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


"Tunggu, Mama. Apa di sini ada pensil untuk menulis?" tanya Zero.


Aluna mengernyitkan keningnya, "Heum, untuk apa pensil itu?"


Zero membuka kaosnya sendiri, membalik kaos tersebut lalu menunjukkan deretan angka di dalamnya. Yah, itu adalah nomor ponsel Sinta yang sengaja ditulis di kaos itu agar Zero menghubungi keluarga mereka lagi.


"Ini adalah nomor telepon Bibi Sinta. Aku sudah janji ingin menghubunginya lagi nanti. Sebelum kaos itu dicuci, aku harus menulis nomornya dulu, Mama," kata Zero.


Aluna dan Alvin tersenyum tipis saling melirik. Tak habis pikir ternyata anaknya itu masih memikirkan gadis kecil di desa tadi. Aluna mengambil ponsel lalu menuliskan sederet angka dan memasukkan ke dalam kontak teleponnya. Dia menunjukkan hal tersebut kepada Zero dan mengatakan kepadanya agar jangan khawatir, karena dia sendiri nanti yang akan menghubungi mereka lagi. "Jangan khawatir! Mama yang akan menghubungi bibi Sinta."


"Terima kasih, Mama," ucap Zero sambil tersenyum malu.


***


Di tempat lain di kediaman Nenek Alma. Yuze dan ibunya sudah berada di ruang keluarga. Yuze melaporkan apa yang sudah dia dapatkan di desa tempat ditemukan Zero. Yuze sama sekali tak mengatakan kalau Zero sangat mirip dengan Alvin. Dia hanya melaporkan bagaimana Zero menjalani hidup dengan sengsara karena beberapa kali berganti-ganti orang tua.


Yuze sibuk mengatakan bagaimana menderitanya seorang Zero. Menceritakan bagaimana orang tua asuh Zero memperlakukan anak itu dengan kejam.


"Nenek setelah aku mendengar informasi dari tetangga lain, kehidupan anak itu sangat menderita dan menyedihkan. Untuk makan saja orang tua asuhnya hanya bisa memberikan mi instan setiap hari, itu pun hanya sekali sehari mereka memberi makan. Tidak ada sayuran dan buah, apalagi vitamin yang diberikan. Bahkan anak sekecil itu sudah dijadikan sapi perah. Dipaksa bekerja mencari uang, memasak bahkan melakukan pekerjaan lainnya layaknya orang dewasa," kata Yuze berapi-api.


Nenek tak kuat mendengar penderitaan yang dialami Zero. Meskipun dia belum tahu Zero adalah cicitnya, dia ikut merasakan pedihnya penderitaan anak itu. Nenek mengambil tisu dan mengelap air matanya dengan benda tipis itu, dia tak bisa membayangkan bagaimana jika nasib tersebut menimpa pada keturunan dia sendiri.


"Kejam sekali orang-orang itu. Kalau berita ini tak tersebar aku yakin, Luna akan melupakan dan tak akan mengambil anak itu. Apalagi Yuze mendengar dia hampir saja mati akibat kebakaran. Anak sekecil itu lari ke hutan hendak di makan hewan buas. Aku tak bisa membayangkan penderitaan lainnya, apalagi saat melihat bekas luka di kakinya. Sudah pasti orang tua asuhnya sering memukuli dia," kata ibu Yuze menambah memanasi Nenek Alma agar kasihan dengan nasib Zero, lalu eliau mengutuk Luna.


"Hideon benar-benar kejam! Harusnya mereka jujur dan mengatakan dari awal agar anak itu tidak menderita sampai sekarang. Anak itu pasti sangat kekurangan gizi dan butuh kasih sayang," kata Nenek Alma sambil menyeka air matanya.


"Ibu, wanita itu tak bisa dibiarkan tetap masuk dalam keluarga kita. Apa jadinya nanti kalau berita ini mencuat ke media, bisa malu kita nanti. Menantu dari keluarga wiratama yang kaya, ternyata adalah ibu yang kejam yang dengan tega membuang darah dagingnya sendiri. Jangan biarkan dia memiliki anak dari Alvin, aku yakin pasti Luna akan menyia-nyiakannya juga," ucap ibunya Yuze.


Nenek Alma pun berpikiran demikian. Sebenarnya dia tak terlalu peduli tentang berita di media nanti, hanya saja hati kecilnya benar-benar tidak menerima kehadiran seorang wanita yang kejam masuk ke lingkaran keluarganya. Ini bukan hanya aib, tapi mencoreng silsilah keluarganya kelak.


"Aku punya kenalan pengacara profesional untuk mengurus perceraian mereka nanti. Luna tak bisa menolak. Kesalahannya sudah terlalu besar. Kalau Luna tak mau, kita bisa tuntut keluarga mereka atas dasar penipuan dan penelantaran anak!" ucap ibunya Yuze lagi.


Nenek Alma dan Clara terpaku di tempat, tak bisa dia bayangkan menderitanya anak itu.


"Apa yang akan Nenek lakukan kalau seandainya anak itu adalah anak kandung Alvin?" Yuze melontarkan pertanyaan jebakan kepada neneknya.


Nenek Alma memegang tongkatnya, air matanya sudah keluar banyak. Tak ada ampunan bagi Luna karena menelantarkan anak itu, bahkan kalau seandainya itu adalah darah mereka. Luna harus dihukum berat. "Aku akan tetap menyuruh mereka bercerai!" jawab Nenek Alma dengan tegas.


"Nyonya, maafkan aku. Tolong dengarkan aku sebentar," kata pelayan sambil menangis.


Nenek Alma beralih melihat pelayan, alisnya berkerut. "Kenapa denganmu? Kenapa kamu menangis Pelayan An?"


"Tolong jangan usir tuan muda. Anak itu adalah milik tuan muda Alvin. Aku bersumpah demi apa pun. Aku saksinya, anak itu sangat mirip sekali dengan tuan muda saat kecil. Dia anak kecil itu, berasal dari darah keluarga ini," kata pelayan An, dia adalah ketua pelayan yang sudah bekerja dari sebelum Alvin dilahirkan. Pelayan An sangat dipercaya dan disegani nenek Alma, sehingga dia tak mungkin berbohong.


"Apa?!" Clara yang dari tadi duduk, menegakkan punggungnya sangat syok mendengar berita ini. Hampir saja dia tak bisa bernapas begitu mendengar anak itu berasal dari darah keluarganya.


Tidak hanya Clara, Nenek Alma pun tercengang dan langsung berdiri. Matanya membulat sempurna. "Apa yang kamu katakan barusan?"


"Benar, Nyonya besar. Tuan muda Zero adalah anak kandung dari tuan Alvin. Ini adalah foto yang diambil oleh salah satu pelayan tadi," kata pelayan An menyodorkan foto Zero di ponsel kepada Clara.


Buru-buru Clara meraihnya dan melihat bersama dengan Nenek Alma. Tangannya gemetaran melihat foto Zero saat digendong Aluna. Clara dan Nenek Alma tak hanya melihat wajah Zero yang mirip dengan Alvin. Tapi mereka juga melihat keseluruhan tubuh Zero yang kurus kering dan dipenuhi banyak luka.


"Nenek lihatlah anak itu sangat tampan sama seperti Alvinku saat kecil. Dia adalah cucuku, sekarang nenek sudah memiliki cicit," kata Clara girang.


Yuze dan ibunya terlihat tidak senang. Dia akan melakukan apa pun agar Nenek Alma tetap menyuruh Alvin dan Luna bercerai, bahkan walaupun anak itu benar adalah keturunan keluarga mereka.


"Nenek, benar dia sangat mirip dengan Alvin kecil. Selamat kakak, ternyata kakak sudah memiliki cucu. Luna benar-benar kejam. Beraninya dia membuang keturunan keluarga kita!" seru ibunya Yuze memanasi.


Perasaan Clara dan nenek Alma bercampur aduk. Bahagia, sedih bahkan marah. Mereka yakin tanpa tes DNA pun sudah dipastikan anak itu adalah cucu mereka yang terbuang. Clara meremas roknya, dia sangat geram terhadap Luna karena baru menemukannya sekarang.


Baru melihat wajah Zero saja dia sangat senang, apalagi menemui dan memeluknya. Sama seperti Nenek Alma, dia tak menyangka di usianya yang sudah 80 tahun lebih ternyata sudah memiliki cicit berusia hampir enam tahun.


"Clara, anak itu sangat lucu. Aku ingin sekali memeluknya," kata Nenek Alma kepada Clara.


"Di mana Alvin sekarang? Suruh dia masuk, pelayan An," perintah Clara.


"Maaf, Nyonya. Tuan Alvin sudah pergi bersama Nyonya Luna barusan. Kabarnya Tuan muda akan membawa mereka tinggal di sebuah vila saat tuan muda menghabiskan masa kecilnya dulu," jawab pelayan An.


"Kita harus ke sana, Nenek. Kita harus mengambil anak itu, jangan biarkan Luna mengasuhnya!" seru Yuze, "membuangnya saat kecil saja dia tega!"


***


Di vila Alvin jam sembilan malam. Seusai dimandikan, Zero duduk manis di sofa depan televisi. Badannya sudah bersih dan wangi. Sekarang anak berambut hitam itu sudah tampan dibalut kaos dan celana milik Alvin, sangat berbanding terbalik dengan tampilan sebelumnya yang dekil.


"Maaf, Mama. Aku sudah membuat bajumu basah," kata Zero memegangi baju Aluna yang basah, "kalau tidak cepat diganti nanti mama bisa sakit."


Aluna tersenyum tipis, dia sangat kagum dengan Zero. Walaupun dia masih kecil, attitude-nya sangat baik. Zero tak pernah lupa untuk berterima kasih dan meminta maaf.


"Tidak apa-apa, Ze. Lagipula bajuku sudah kotor dan harus segera diganti. Papamu sepertinya sudah selesai mandi, aku tinggal sebentar untuk mandi dulu ya," kata Aluna pamit ke kamar mandi setelah dia selesai menyisir rambut Zero. Aluna pikir Alvin sudah pergi ke kamarnya.


Aku harus cepat mengganti baju, batin Aluna.


Ternyata Alvin masih di kamar mandi, dia tak berani keluar karena belum mendapatkan baju ganti. Akibat memandikan Zero tadi, baju Alvin dan Aluna basah. Masih menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya, Alvin berdiri di depan pintu kamar mandi sambil mencoba menghubungi Asisten Jo.


"Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?" gerutu Alvin sambil mengembuskan kasar napasnya. Dia harus cepat menghubungi Asisten Jo agar membelikan baju untuknya dan Aluna malam ini.


Aluna tak tahu Alvin masih berada di kamar mandi. Dengan percaya diri, Aluna membuka pintu seraya membuka kancing bajunya satu persatu.


Walaupun melelahkan, hari ini membuatku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa mandi sekarang, batin Aluna. Sudah separuh bajunya dia buka.


"KYAAAAA!!"


Tiba-tiba Aluna berteriak keras. Baru saja memasuki kamar mandi, dia melihat Alvin tak menggunakan sehelai benang pun. Akibat terlalu tergesa-gesa membuat keduanya bertabrakan dan tak sengaja membuat handuk yang melingkar di bagian bawah Alvin melorot.


"Astaga, benda apa itu yang menggantung?" teriak Aluna sambil melongo.


Tak mau membuat Zero curiga dengan teriakan ibunya, Alvin dengan cepat meraih tubuh Aluna dan menutup mulut wanita itu agar berhenti berteriak.


"Pelankan suaramu, kau bisa membuat orang lain curiga!" bisik Alvin.