TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
232


Noah diam sejenak, dia melihat lagi ke arah Lisa yang sedang dikerubungi lelaki jahat. Dia yakin ini bukan rekayasa. Kalau iya darimana dia tahu kalau dia dan Ara akan makan di kafe tempatnya mabuk?


Noah tak bergeming, memutuskan untuk tetap menolong Lisa. Menurutnya walaupun mereka sudah putus, mereka telah lama saling mengenal, dan Noah pun sudah menganggap Lisa seperti saudaranya sendiri.


"Maaf, Ara. Sepertinya ini bukan rekayasa. Aku harus cepat menolongnya, Lisa dalam bahaya," kata Noah, dia tak tega melihat tubuh Lisa dijamah banyak lelaki.


"Jangan pergi! Panggil saja petugas keamanan untuk menolongnya," kata Ara.


Dengan berat hati Noah melepaskan tangan Ara. Noah tak tahu bagaimana sedihnya Ara, karena dia terlalu fokus melihat ke depan.


Sepenting itukah dia untukmu? Batin Ara.


Saat itu juga, Noah mendekati para lelaki yang mengerubungi Lisa. Menghajar satu persatu mereka bergantian. Memukulnya agar tak lancang menggerayangi tubuh Lisa seenaknya. Lisa dalam keadaan mabuk berat, tak ada perlawanan sedikit pun saat ia diperlakukan senonoh. Wanita berambut lurus tersebut malah tertawa sambil meracau begitu Noah datang.


"Ha, ha, siapa kamu. Apa kamu juga ingin main denganku malam ini?" ucap Lisa terus meracau, "orang tuaku sudah mengacaukan hidupku. Aku tak mau dijodohkan dengan lelaki mana pun. Ayo kita bermain sekarang," kata Lisa berusaha mencium Noah.


Akan tetapi sebelum itu terjadi, para lelaki tadi malah menarik Noah dan mengeroyoknya. Memukul wajah, menendang bahkan memukul perutnya membabi buta. "Wanita ini sudah menjadi mainan kami, jadi jangan berani ikut campur, Pecundang!"


Saat itu, salah satu teman Lisa menggiring Lisa agar menjauh tak kena pukul. Sementara teman satunya memanggil petugas keamanan.


Perlawanan tak seimbang karena Noah harus melawan tiga orang sendirian. Untungnya petugas keamanan segera datang dan melerai perkelahian mereka.


"Klub ini bebas, Lisa sudah kalah taruhan. Salah dia sendiri kenapa menggadaikan tubuhnya sebagai jaminan," kata seorang lelaki tak terima.


"Aku tidak mau tahu. Aku akan melepaskannya asalkan dia harus mengganti rugi!" teriak lelaki lainnya menunjuk Lisa.


Wajah Noah sudah babak belur, darah pun sudah menetes dari ujung bibirnya. Seburuk apa pun sikap Lisa, dia tak mau menyerahkan dan membiarkan para lelaki menggilirnya.


Noah mengeluarkan uang yang tersisa di dalam dompet, lalu memberikannya ke salah satu lelaki. "Pakai uang ini untuk menyewa pe lacur untuk kalian gilir. Jumlah uang ini lebih dari cukup untuk menyewa pela cur kelas atas!"


Noah terpaksa menyerahkan semua uang gajinya bulan ini untuk mereka bertiga. Untungnya dia membawa uang tunai yang cukup untuk membayar ganti rugi.


Dari caramu membela Lisa, sepertinya kamu masih sangat mencintainya, untuk apa aku mempertahankanmu? batin Ara.


Ara dari jauh terlihat sedih, bulir bening tiba-tiba saja menetes di ujung matanya. Ara tak peduli dengan alasan apa pun. Dia yakin, masih ada perasaan sayang dari lelaki tersebut untuk Lisa, buktinya dia rela babak belur demi menolong wanita itu.


"Aku baru mengenalmu beberapa minggu, sementara kamu dan Lisa sudah berpacaran lebih dari delapan tahun. Kau baru mengenalku. Tak ada apa-apanya aku dibandingkan hubungan kalian dulu. Sepertinya kalian masih saling menyayangi, lebih baik aku mundur saja," kata Ara pada dirinya.


Di depan ada taksi, Ara langsung menyetop. Memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan pulang sendiri.


Saat Ara menaiki taksi, Noah sudah lebih dulu melihatnya dan berteriak memanggil gadis itu agar tak pergi. "Tunggu Ara, jangan pergi!"


"Ha, ha ternyata kau lebih memilih ja lang dibandingkan wanita baik-baik. Terima kasih uangnya," kata salah satu lelaki kepada Noah menampar pipinya dengan uang, lalu pergi bersamaan.


Niat Noah memang ingin menolong Lisa, dan dia sudah menyelesaikannya. Sebelum menyusul Ara, terlebih dahulu Noah menitipkan Lisa kepada ke dua temannya agar diantar pulang. "Dia sudah mabuk berat. Antarkan dia pulang ke rumahnya sekarang," kata Noah sambil menyetop taksi uantuk dinaiki mereka bertiga.


Sementara dirinya langsung berlari memasuki mobil segera mengejar taksi yang ditumpangi Ara barusan.


"Paman, terima kasih," teriak ke dua teman Lisa.


Noah tak peduli, langsung melajukan mobilnya melesat cepat.


***


Di tempat lain, sebelum kedatangan Alvin di mansion. Clara mendapatkan telepon dari Yuze, lelaki tersebut banyak menghasut dirinya mengatakan kalau Luna telah menemukan anak haram mereka. Yuze juga menghasut Clara, mengatakan selama pencarian berlangsung Alvin sudah dijadikan budak oleh Luna. Yuze tak mengatakan kalau wajah Zero sangat mirip dengan Alvin saat kecil.


"Kurang ajar, Luna. Setelah dia menipu kami, dia berusaha menghasut Alvin. Aku yakin Luna sudah mendatangi peramal untuk mengguna-gunai Alvin agar mau menurut dan menjadi budaknya," ucap Anming, dia sangat marah begitu mengetahui anak lelakinya sudah dijadikan budak cinta oleh Alvin.


"Sepertinya begitu. Masih banyak wanita yang lebih kaya dan cantik selain Luna. Wanita itu adalah penipu! Dengan anaknya saja dia tega menyengsarakan bagaimana dengan keturunan dari Alvin nanti, pasti dia pun sama kejamnya. Aku tak setuju putra kita masih menjadi suami wanita belut itu!" Clara membalas ucapan suaminya.


"Bodohnya Alvin kalau sampai membawa anak pembawa petaka itu ke mari. Mau ditaruh di mana citra baik keluarga kita? Seluruh keluarga Wiratama akan tercoreng malu karena menantu keluarga ini memasukkan anak hasil selingkuhan ke dalam rumah. Ini sama saja menginjak-injak harga diri keluarga kita. Apalagi, kalau berita ini sampai ke media, nilai penjualan saham kita akan turun drastis. Otomatis perusahaan kita akan mengalami kerugian dan para investor akan berhenti bekerja sama," kata Anming sudah terlalu cemas berlebihan.


"Luna dan Hideon sudah tega membuang anak itu. Kalau Yuze tak memberitahukan kebenaran ini, Luna pasti terus menyengsarakan anak itu dan tak akan mencarinya. Bahkan aku mendengar anak itu sudah beberapa kali berpindah tangan. Tak bisa dibiarkan, dia sangat kejam sebagai seoang ibu." Nenek Alma bergumam di dalam hatinya.


"Ini sangat memalukan!" bentak Nenek Alma, "kenapa Alvin begitu bodoh mencintai wanita kejam seperti Luna! Kucing saja tak akan membuang anaknya begitu dilahirkan!"


"Nenek, tolong jangan cabut hak ahli waris untuk Alvin, aku berjanji akan berusaha menceraikan mereka berdua," kata Clara terus memohon, dia sangat takut anaknya menjadi miskin.


Nenek Alma sangat marah apalagi saat mendengar Alvin sebentar lagi sampai. "Semua penjaga dan pelayan di rumah ini! Jangan biarkan Alvin masuk ke rumah ini! Tutup semua pintu untuk mereka bertiga!"


Semua pegawai di mansion langsung menanggapi perintah Nenek Alma. Dengan sekali perintah, mereka sudah siap sedia menutup semua pintu. Secara serentak, semua penjaga keamanan sudah berdiri berjaga di luar sebelum Alvin datang.


***


Tiga puluh menit berlalu, mobil yang membawa Aluna dan Alvin sudah sampai di depan gerbang mansion. Asisten Jo akhirnya turun menyuruh penjaga keamanan membuka pintu gerbang, setelah beberapa kali mengklakson.


Akan tetapi, atas perintah Nenek Alma penjaga keamanan tak bisa membukakan gerbang untuk mereka. Kerena tak ada yang berani menentang, tetua pelayan langsung mendatangi asisten Jo, memberitahukan apa alasan mereka melarang masuk.


"Maaf, Tuan Alvin dan Nyonya Aluna tak diperbolehkan masuk."


Mendengar dia dilarang masuk, Alvin akhirnya keluar berjalan mendekati tetua pelayan yang berdiri di depan gerbang.


"Ada masalah apa ini?" tanya Alvin marah.


"Maaf, Tuan. Nyonya Clara melarang kami untuk membukakan pintu gerbang untuk Anda, Nyonya Luna dan anaknya," kata pelayan sambil menunduk.


Alvin mengepalkan tangannya geram. Melihat perubahan ekspresi Alvin yang marah, saat itu juga Aluna bergegas turun sambil menggendong Zero keluar.


"Apa kita sudah sampai, Mama?" tanya Zero.


"Nanti akan mama ceritakan. Sekarang, ayo ikut mama keluar," ajak Aluna.


Alvin masih terus memarahi Ketua pelayan. Meminta wanita tersebut membuka gerbang. "Bukakan pintu sekarang!"


Tetua pelayan kembali mengatakan hal yang sama dan melarang mereka masuk.


"Apa yang terjadi?" tanya Aluna bingung, dia mendengar namanya disebut oleh pelayan.


"Maafkan saya, Nyonya," ucap pelayan menunduk.


"Zero adalah anak kandungku! Apa mereka tak ingin melihat cucu mereka!" bentak Alvin, "lihat, anakku sedang terluka. Apa kalian tega membiarkan anak sekecil ini kesakitan?"


Kepala pelayan mendongakkan kepala melihat ke arah anak yang sedang digendong Aluna. Pelayan tersebut adalah pelayan yang sudah bekerja dari Alvin bayi. Dia sangat terperanjat begitu melihat wajah Zero yang sangat mirip dengan Alvin saat kecil. Terlebih dia pun kaget, saat mendengar anak tersebut adalah anak kandung Alvin.


Pelayan menangis setengah berlutut di depan Alvin. "Tuan, maafkan saya. Ini adalah perintah Nyonya Alma langsung. Tuan Muda sangat mirip dengan Anda ketika kecil, saya sangat percaya tuan muda adalah anak Anda. Tapi maaf, Tuan. Saya tak bisa membukakan pintu gerbang ini sebelum Nyonya Alma sendiri yang memerintahkannya."


Alvin sangat geram, dia pun tak bisa menyalahkan pelayan. Dari kecil hidupnya selalu diatur, dia tak mau dikekang selamanya. Rumah tangga dengan Luna adalah miliknya, siapa pun tak bisa mengatur bahkan keluarganya sendiri.


Pelayan menyerahkan sebuah surat yang ditulis langsung oleh Clara. Dengan cepat, Alvin langsung membaca isi surat tersebut.


Tiba-tiba wajah Alvin memerah karena marah. "Jadi mereka akan membukakan pintu untukku kalau aku sudah menceraikan Luna?"


Pelayan yang sudah berusia senja itu menunduk ketakutan. Ini kali pertamanya dia melihat anak yang sudah diasuhnya dari bayi memarahinya.


"Maaf, Tuan."


Alvin meremas kertas tersebut lalu melemparkannya ke sembarang arah. "Katakan kepada Nenek dan orang tuaku. Menceraikan Luna adalah hal yang mustahil, aku akan tetap bersamanya walaupun tak mendapatkan warisan sepeser pun!"


Pada saat bersamaan, sensor di kalung Aluna langsung menyala.


[Selama Nona Aluna, Anda mendapatkan uang senilai dua puluh miliar karena berhasil menyelesaikan misi ini.]