TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Masa Lalu Luna 2


Beberapa jam setelah lelaki botak terpuaskan, Helen kembali memakai bajunya, mencoba memaksakan kakinya yang lemas agar menuruni kasur. Helen merasa kepayahan, karena efek obat perangsang itu membuat Lelaki tersebut baru mencapai ******* hingga dua jam lamanya. Senyum sumringah terlukis di bibir lelaki botak.


Lelaki botak memberikan lagi beberapa lembar uang sisanya di depan mata Helen.


"Walaupun kamu sudah tak perawan, setidaknya has ratku tersalurkan malam ini. Terima uang ini sebagai bonus karena sudah membuatku puas malam ini," kata lelaki tersebut sembari mengancing kemejanya.


"Bedebah! Kau sudah memakaiku berjam-jam lamanya, ini tak sebanding! Kalau hanya uang aku bisa mencarinya lebih dari ini." Helen terlihat kesal, berkali-kali dia mengusap bibirnya dengan tisu menghapus bekas bibir lelaki itu. Aura jijik terlihat di raut wajahnya. "Aku ingin lebih dari ini!" Sambung Helen lagi.


Lelaki berkepala botak menyentuh lembut ujung dagu Helen. "Katakan, Sayang. Karena aku sangat puas, aku akan turuti semua maumu malam ini."


Helen sudah dibuat rugi malam ini dan tak ingin sampai rugi untuk kedua kalinya. Dalam keadaan terhina seperti itu, ide licik masih saja muncul di otaknya.


Helen berbisik, memberitahukan rencananya untuk memutar balikkan fakta.


"Baiklah! Aku setuju!" ucap Lelaki botak setelahnya.


Tak butuh waktu lama, Helen langsung turun ke lantai satu menuju meja resepsionis. Dia menggunakan uang yang diberikan lelaki botak, untuk menyogok pihak hotel agar memberikan kunci duplikat kamar Alvin.


Selang beberapa jam, Helen berhasil membuka dan menyelinap masuk ke kamar Alvin. Baru membuka, Helen dibuat kaget begitu mengetahui kalau yang sekamar dengan Luna adalah Alvin, konglomerat kelas atas pewaris utama Perusahaan Wiratama. Dia melihat Alvin sudah tertidur pulas di sebelah Luna.


"Rupanya kalian telah melakukan hubungan intim. Beruntung sekali kamu wanita sialan!" ketus Helen, matanya memandang sinis kedua insan yang terbaring dengan selimut yang menutupi tubuh mereka.


Bau alkohol masih menyeruak di ruangan itu, membuat Helen berpikir kalau Alvin pasti melakukannya dalam keadaan tak sadar. Otak liciknya kembali berjalan. Dibantu lelaki botak, Helen memindahkan tubuh Luna yang masih tidur di kamar yang dia pesan sebelumnya.


"Ingin kau apakan perempuan ini?" tanya Lelaki botak bingung.


"Terserah kamu. Kalau kamu ingin memakainya, pakai saja."


"Ah' tidak. Aku sudah sangat lelah."


Helen berpikir sejenak.


Dasar tua bangka, Batin Helen.


"Untung membayar kepuasanmu, kamu harus berpura-pura meniduri perempuan ini, anggap saja yang terjadi barusan kamu melakukannya dengan perempuan ini. Katakan pada perempuan ini saat bangun, kalau kamu sudah menikmati tubuhnya berulang kali."


Tanpa menjelaskan panjang lebar, lelaki botak mengerti. "Baik aku akan melakukan sesuai perintahmu. Asalkan sebagai tutup mulut selanjutnya, kita lakukan sekali lagi nanti."


Helen tersenyum miring, dia hanya mengangguk pelan agar lelaki itu mau menuruti, 'Sebelum kau lakukan lagi, aku akan mengirimmu terlebih dahulu ke neraka' ucapnya dalam hati.


Setelah sepakat, Helen kembali ke kamar Alvin. Bertukar posisi menggantikan Luna tidur di sebelahnya.


Setengah jam setelah tubuh Luna dipindahkan. Rupanya, efek obat tidur itu mulai menghilang perlahan. Begitu bangun Luna sangat kaget berat, begitu mengetahui dirinya telah tidur di sebelah lelaki tua yang tidak dia kenal sebelumnya.


"Si-siapa kamu?" teriak Luna langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


Lelaki botak menyentuh punggungnya.


"Tidak! Ini tak mungkin! Apa yang sudah kamu lakukan?" seru Luna menepis tangan lelaki tersebut.


"Jangan sok jual mahal. Kalau kamu ingin mengulanginya, kita lakukan lagi besok."


Lelaki botak terus mendekatinya. Namun, Luna terus menjauh dan melemparinya dengan bantal. "Kamu sudah memperkosaku. Menjauhlah dariku."


"Jangan takut!"


"Tidak! Pergi!"


Luna meraih apa pun yang ada di dekatnya agar lelaki tersebut tak menyentuhnya. Sampai-sampai dia menimpuk kepala botak dengan sebuah vas bunga di hotal tersebut.


Dengan sisa tenaga yang dimiliknya, Luna menarik sprei agar bisa menutupi tubuhnya dan berjalan keluar ruangan dengan susah payah, karena **** ************* yang terasa nyeri. Lelaki botak terkapar karena kepalanya terluka.


Semenjak kejadian itu, Luna merasa trauma berlebihan, bahkan dia menjadi seorang pemurung dan penyendiri. Luna merasa dirinya kotor dan tak ingin didekati siapa pun.


Beberapa bulan kemudian, Luna sangat kaget begitu mengetahui dirinya hamil. Luna menduga kalau dirinya hamil dengan lelaki botak. Luna sering bolos sekolah karena takut ketahuan. Pernah suatu ketika, Luna hampir saja bunuh diri karena begitu putus asa.


Akan tetapi, tindakan itu diketahui Hideon. Ya, hanya ayahnya lah yang tahu dirinya hamil. Berkali-kali Hideon berniat menghancurkan janin Luna, karena menurutnya itu adalah aib keluarga. Ditambah, Luna masih sekolah dan terlalu muda. Sayangnya rahim Luna sangat kuat dan anak tersebut tak dapat digugurkan.


Hideon merasa bersalah karena selama ini telah melupakan Luna. Dia merasa kasian dengan nasib buruk anaknya yang hampir gila. Luna selalu dihantui bayangan lelaki botak yang dikabarkan meninggal dua bulan setelah kejadian itu.


Tak ingin ketahuan oleh Mona dan anaknya, Hideon mengirim Luna ke desa sampai anak yang dikandungnya lahir. Hideon terpaksa meminta izin cuti pihak sekolah, mengatakan kebohongan dengan mengatakan Luna ingin menjalani pengobatan penyakit lambung di luar negeri.


Setelah sembilan lamanya di perut Luna, akhirnya bayi itu lahir. Luna merasakan trauma yang mendalam, ditambah saat melahirkan dia terlihat susah payah. Secara mengejutkan tiba-tiba Luna secara selektif kehilangan ingatannya. Hingga kini, Luna tak pernah ingat kalau dirinya pernah melahirkan seorang putra.


Flashback off.


...***...


Aluna mengatakan dengan gamblang kepada Alvin tentang masa lalunya dengan Luna. Alvin yang mendengar hampir saja tak percaya dan kembali lagi mengingat peristiwa enam tahun yang lalu.


"Darimana kamu mengetahui semua ini?" tanya Alvin.


"Dari seorang yang mengirimkan ke sini."


Alvin memijat pelipisnya, terlihat dia sedang berpikir keras. Kalau dilihat dari buku utama, sistem mengatakan kalau Alvin sangat marah dan mencaci Luna habis-habisan bahkan mengusirnya. Sedangkan sekarang, sikap Alvin sangat tenang.


Perasaan Alvin campur aduk kali ini. Di sisi lain dia sangat bahagia karena telah memiliki seorang putra. Tetapi di sini lain, dia sangat sedih begitu mengetahui Luna telah meninggalkan bayinya. Dia sangat menyayangkan karena Luna tak berbicara jujur. Satu yang belum diketahui Alvin, yaitu dia tidak tahu kalau Luna adalah perempuan yang selama ini berkomunikasi dengan dirinya di luar negeri.


"Ini sulit dimengerti! Kalau Luna memiliki anak, di mana anakku yang dia tinggalkan? Kenapa dia sampai membuangnya?"