
Malam hari telah tiba, hanya ada Helen dan Mona di ruang inap. Mona sudah terlelap di ranjang yang dikhususkan untuk penunggu. Sementara Helen belum bisa tidur, dia masih memikirkan kejadian akhir-akhir ini.
"Kenapa aplikasinya sudah dihapus? Tidak mungkin aku yang menghapusnya," gumam Helen.
Tangan Helen masih sibuk mengecek berulang kali bar di ponselnya. Dia tak yakin telah menghapus sendiri aplikasi penghubung kamera CCTV yang sengaja di unduh di ponselnya. Sudah hilang, tak ada satu pun bukti rekaman.
Helen meraih cermin di atas nakas. Melihat wajahnya dengan saksama, inci demi inci. "Ini tubuhku. Tidak boleh ada orang lain yang mengatur kehidupanku, apalagi tubuhku."
Helen mengamati cermat sorot matanya sendiri. Sama persis dengan orang yang ada di foto rumah sakit kumal itu. Tak ada beda dirinya dengan wanita di foto, kecuali rambutnya yang hampir botak.
"Ha, ha, aku siapa sebenarnya?"
Hampir gila, mungkin kata yang tepat saat ini untuk Helen. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri, yang dia pikir seperti sedang mengenakan rambut palsu. Jembatan hati yang terhubung antara dirinya dengan Ara seakan saling terbuka. Dalam pikirannya, dia melihat masa kecil Ara dengan Aluna. Sangat bahagia, sama persis seperti masa-masa kecil dirinya bersama Luna. sangat polos, ceria dan saling menyayangi. Tapi itu dulu, sebelum rasa iri dan dengki menguasai hatinya.
"Terakhir kita berhenti bergandengan setelah aku masuk sekolah menengah pertama. Aku tidak suka dengan kamu yang selalu diunggulkan. Tidak salah bukan kalau aku iri dengan pencapainamu? Aku lebih cantik dan pintar. Aku lebih segalanya, kenapa harus kamu yang diunggulkan?" gumam Helen. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
Berhentinya pertemanan Helen dengan Luna, akibat penyakit hati yang masuk pada diri Helen. Bersamaan dengan diketahuinya penyakit kanker Ara di dunia nyata.
"Luna, aku akan menghancurkanmu. Lihat saja, kamu pasti akan kalah!"
...***...
Sebelum Aluna sampai ke mobilnya beberapa jam yang lalu, Aluna sempat melihat Noah di parkiran rumah sakit. Dia yakin kedatangan Noah bertujuan untuk menjenguk Ara. Kalau itu sampai terjadi, dia harus mencegahnya cepat.
"Noah," panggil Aluna.
"Yah, eum ... Kak," jawab Noah dengan canggung.
"Apa kamu ingin menjenguk adikku?"
Noah mengangguk, seikat bunga dipegang erat di tangannya.
"Pulang saja, Helen sudah kembali."
Noah tertegun sejenak. Seikat bunga yang ada di genggamannya hampir saja jatuh. Noah melihat sayu ke arah Aluna. Dia mengerti apa maksud dari ucapan Aluna barusan.
"Sudah kembali?"
Aluna melihat lekat Noah. Pikirannya tampak kosong. Dari ekspresi yang ditunjukan Noah saat dia mengatakan Helen telah kembali, terlihat jelas kalau dia sangat kehilangan. Aluna hanya ingin memberitahukan agar dia tak kaget saat menemuinya.
"Apa karena ada masalah denganku, Ara kembali ke dunianya?"
Noah mengingat lagi kejadian kemarin, pesan terakhir saat Ara sebelum kembali. Ara bilang tak tahan dengan teror yang diberikan Lisa dan meminta Noah segera memutuskannya.
"Tidak," jawab Aluna.
Noah mendongakkan wajahnya, terlihat jelas kalau dia sangat sedih. "Lalu, karena apa?"
"Aku tak bisa menjelaskan semuanya. Lebih baik kamu pergi saja. Kecuali, kalau kamu ingin berurusan dengan Helen."
"Kapan dia akan kembali lagi?" tanya Noah penuh harapan.
"Apa? Setelah dia sudah membuatku hampir gila karena mencintainya?"
"Dunia kita berbeda, berhentilah mencintai adikku."
"Jadi kamu juga akan meninggalkan Alvin? Omong kosong apa ini? Apa kalian ingin mempermainkan kami? Beritahu aku, bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengan Ara sekarang ... Kakak!" Ucapan Noah penuh penekanan membuat bunga yang dia pegang akhirnya jatuh ke lantai begitu saja.
"Kamu tak akan pernah mengerti. Jangan membuatku mengulangi jawaban yang sama, Tuan Noah."
Setelah membalas ucapan Noah, Aluna melangkah pergi. Meninggalkan Noah seorang diri, terpaku sambil termenung di parkiran mobil. Sejelas apa pun yang dia katakan, Aluna yakin Noah tak akan pernah mengerti.
Sekarang mobil berwarna hitam Aluna sudah sampai di halaman mansion. Aluna disambut hangat Zero dan Alvin ketika baru saja membuka pintu kemudi.
"Mama, aku merindukanmu."
Zero langsung memeluk Aluna, menggandeng tangannya masuk ke dalam, "Mama, aku ingin menunjukkan sesuatu. Hasil karyaku sudah hampir selesai, ayo Mama, lihatlah."
Aluna menarik sudut bibirnya sedikit, menengok sebentar ke arah Alvin. Baru saja dia pergi sebentar mereka sudah merindukannya, apalagi kalau sampai pergi selamanya. Entah apa yang terjadi nanti?
"Luna, anakmu dari tadi menanyakan kamu kapan pulang terus," kata Alvin. Sebenarnya bukan Zero saja yang bertanya, tetapi dirinya pun sama.
"Benarkah? Terima kasih, Alvin. Sudah menemaninya malam ini," jawab Aluna.
Mereka bertiga kini sudah sampai di dalam kamar. Suasana kamar Zero kini berubah drastis. Miniatur kota impian Zero sudah terpasang hampir memenuhi isi ruangan. Ada kendaraan, taman bermain, lalu lalang miniatur anak-anak yang sedang bermain pun ada. Kota impiannya kini sudah selesai. Dari ukuran, penempatan dan skalanya pun Zero pikirkan matang-matang. Zero sudah seperti arsitektur sungguhan.
"Wow," ucap Aluna berdecak kagum.
"Kamu tahu, Tuan Albert arsitektur terkenal saja memujinya. Kata dia, Zero sangat berkompeten. Kota impiannya sudah seperti buatan arsitek profesional," kata Alvin memuji anaknya.
"Ya, Mama. Tadi Tuan Albert ke sini, dia memberiku banyak saran, bagaimana agar membuat miniatur kota yang benar. Tuan Albert juga memberikanku banyak koleksi miniatur mainan sebagai hadiahnya." Sambung Zero menambahi ucapan Alvin, "lihat, bagus kan, Mama?"
Aluna ikut senang. Sudut bibirnya terangkat ke atas. "Kamu sangat hebat Zero. Karena kamu sudah bekerja keras dengan baik, sekarang katakan hadiah apa yang ingin kamu minta dari Mama?"
"Apa Mama akan mengabulkannya?" tanya Zero, kemudian dia melirik ke arah Alvin.
"Yah," jawab Aluna.
Zero memeluk tubuh Aluna. Lalu berkata dengan lantang. "Aku ingin hadiah seorang adik, Mama."
"Uhuk?!"
Aluna langsung terbatuk. Tidak hanya Aluna yang kaget, begitu pula Alvin. Dia pun tercengang setelah mendengar permintaan Zero barusan.
"Mama, tadi Tuan Albert membawa anaknya yang masih bayi. Dia sangat lucu dan papa menyukainya. Kalau ada adik, aku pasti punya teman di rumah ini," kata Zero.
Aluna masih terlihat syok. Mengatur napasnya sampai bisa tenang.
"Untuk memiliki adik tidak semudah itu. Harus melewati proses yang panjang dan lama. Tidak semudah seperti membuat miniatur kota ini," kata Alvin memberi pengertian kepada Zero, "tapi tenang, Papa akan bekerja keras mengabulkannya."
Alvin! Apa yang kamu katakan?