TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menemui Hideon


Pagi hari di rumah Lisa. Seperti biasanya setiap pukul enam pagi, perempuan itu sudah siap mengenakan seragam sekolah. Membawa tas selempang panjang dan jaket yang sudah membungkus rapat tubuhnya. Lisa berjalan tenang menuruni anak tangga.


Nyonya Olive sudah ada di lantai satu, dia memandangi anaknya dari bawah tanpa berkedip. Bukan karena terpesona, tapi karena penampilan Lisa yang tidak seperti biasanya. Nyonya Olive tercengang karena rambut Lisa yang berubah menjadi kuning sama seperti Helen, ditambah lagi karena polesan wajahnya yang mencolok terlihat lebih tebal.


"Lisa, mau kemana kamu dengan tampilan seperti ini?" tanya Nyonya Olive begitu anaknya sampai di lantai satu.


"Aku ingin sekolah, Bu. Lalu mau ke mana lagi?" jawab Lisa malah balik bertanya.


"Tapi kenapa penampilanmu seperti ini? Anak sekolah tidak boleh mewarnai rambutnya menjadi kuning. Apalagi lihat wajahmu, kenapa riasannya tebal sekali, ini tidak boleh. Pasti gurumu akan memarahimu, Lisa."


Lisa berhenti sejenak lalu berbicara lagi, "Ibu, yang aku gunakan ini adalah rambut palsu. Setelah sampai di sekolah nanti, aku akan melepasnya. Riasan seperti ini membuatku terlihat dewasa, paman pasti menyukainya karena dia sangat menyukai riasan Nona Helen."


Walaupun Nyonya Olive tidak melarang Lisa menggunakan riasan tebal, tapi dia tak setuju saat Lisa memakainya ketika akan pergi sekolah, apalagi dia merubah dirinya untuk seorang Noah.


"Itu tidak benar, Lisa. Cepat hapus dan lepas rambut palsumu!"


Akan tetapi Lisa tak menggubris, dia malah tetap pada pendiriannya. "Baiklah aku akan menghapusnya di sekolah. Aku berangkat dulu, Bu. Sampai jumpa lagi."


"Lisa! Dengarkan ibumu!"


Lisa menghiraukan Nyonya Olive, dia malah terus melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang.


Siang harinya, saat matahari sudah semakin terik. Bukannya belajar di sekolah, Lisa malah terlihat santai menikmati cemilan dan segelas jus. Lisa ternyata membolos sekolah. Lisa tak jadi masuk sekolah karena pagi tadi dia terlambat. Sampai di depan gerbang, dia berubah haluan karena kedua temannya tiba-tiba menelepon ingin menemaninya menyelidiki Arabella.


Lisa anak perempuan satu-satunya. Kedua orang tuanya memang otoriter semenjak dulu. Lisa dari kecil selalu menuruti kemauan mereka, dari pagi sampai dia tertidur orang tuanya sudah mengatur jadwal khusus. Di mana dia setiap pulang sekolah, ibunya memberikan dua bahkan tiga les tambahan. Obsesi Nyonya Olive selalu ingin menjadikan anaknya peringkat pertama di sekolah. Bahkan mereka tak memperbolehkan Lisa bermain dengan sembarang orang. Ya, hanya Noah lah yang paling dekat dengan Lisa dari kecil.


Kini, perempuan tersebut merasa muak dengan pengekangan yang diberikan ibunya. Terlebih saat ibunya menyuruh dia agar berhenti mencintai Noah. Lisa merasa orang tuanya telah mempermainkan dirinya, dari kecil dia awalnya tak menyukai Noah, tapi setelah gadis itu telah nyaman dan mencintai, ibunya memutuskan pertunangan mereka.


Aku sudah lelah dengan aturanmu, Bu. Sudah cukup kalian mengatur jadwal belajarku yang super padat, dan kini kalian ingin mengatur perasaanku.


Lisa mengingat lagi saat dia kecil dulu, baru pulang dari les matematika, ibunya membawanya ke tempat les musik. Sampai tak ada waktu untuknya bermain dengan teman sebaya.


Saat dia mengingat hal itu, ponselnya tiba-tiba berdering. Guru sekolahnya tiba-tiba menelepon menanyakan kemana dia dari pagi kenapa tidak berangkat ke sekolah.


Timbul di benak Lisa untuk berbohong, dia menjawab telepon gurunya dengan mengatakan kalau dia membolos atas suruhan ibunya.


"Maaf, Miss. Ibuku menyuruhku agar melakukan kencan buta dengan anak konglomerat. Ibuku yang menyuruhku agar bolos sekolah," kata Lisa dengan enteng menjawab telepon.


Otomatis, hal itu membuat gurunya marah dan segera menelepon Nyonya Olive. Guru Lisa menceramahi Nyonya Olive habis-habisan agar menyuruh putrinya itu fokus sekolah dulu sampai lulus.


...***...


Sementara di tempat lain, di perusahaan Hideon.


Tentu saja Luna sudah menghubungi Hideon terlebih dahulu membuat perjanjian ingin bertemu dengannya di perusahaan. Saat ini perempuan berambut lurus itu sudah ada di ruangan Hideon.


"Baiklah kami akan keluar, Tuan." Sekretaris Hideon mengerti meninggalkan meraka berdua berbicara.


Hideon menatap lekat Aluna. Dia sangat senang karena anaknya menemuinya. Menurut Hideon, tak biasanya Luna menemuinya di kantor malam-malam begini sampai Hideon tak jadi pulang ke rumah.


"Selamat malam, Ayah." Aluna mulai membuka pembicaraan dengan mulai menyapanya terlebih dahulu.


"Selamat malam, Luna. Tidak biasanya kau ke mari malam sekali. Ini sudah hampir jam dua belas. Apa hubunganmu dengan Alvin baik-baik saja?" Hideon mengerutkan keningnya mencoba membaca situasi dari raut wajah Aluna. Dia pikir Aluna sedang bertengkar hebat dengan Alvin.


"Hubunganku dengan suamiku baik-baik saja, aku kemari ingin menanyakan anakku." Tanpa basa-basi Aluna bertanya langsung ke intinya.


"Anak?!" Hideon langsung kaget mendengar pertanyaan Aluna.


"Ya, anakku. Di mana Ayah menitipkan anak yang sudah aku lahirkan lima tahun yang lalu, dengan siapa anak itu dibesarkan?"


Hideon masih tak percaya Aluna menanyakan anak. Diambilnya gelas yang ada d atas meja, lalu meneguk airnya dengan rakus. "Jadi kamu sudah mengingatnya, Nak. Ingatanmu sudah pulih?"


Aluna tersenyum. "Ya, ayah. Barusam kedua sepupu Alvin mengingatkanku di pestanya. Mereka mempermalukan aku di depan umum kalau aku sudah memiliki anak. Aku sudah mengingat semuanya. Sekarang katakan di mana anak itu berada? Aku takut kedua sepupu Alvin akan menemukan anak itu terlebih dahulu, bisa saja mereka akan membunuhnya setelah tahu kalau anak itu adalah anak kandung Alvin."


"APA?!" Belum selesai keterkejutannya dengan ingatan Luna yang kembali, HIdeon dikejutkan lagi dengan pernyataan Aluna yang mengatakan kalau anak itu adalah anak Alvin. Hideon masih tak mempercayainya.


"Bukannya dulu kamu mengatakan kalau tidak tahu ayah anak tersebut. Kamu bahkan pernah mengatakan sekali lagi kalau ayah anak itu sudah meninggal. Benarkah kalau itu anak Alvin? Kenapa baru mengatakannya sekarang? Kalau tahu itu adalah anak Alvin tak mungkin aku menyuruh orang untuk merawatnya." Hideon mulai terlihat geram.


Aluna menarik napas dalam lalu mengeluarkannya begitu saja. Saat itu dia mulai menceritakan kejadian yang sesungguhnya terhadap Hideon kalau waktu itu dia terlalu banyak meminum obat penenang sampai dia lupa siapa lelaki yang menidurinya. Aluna tidak mengatakan kalau Helen lah yang menjebaknya, Aluna tidak mau Hideon mengusir Helen karena dia yakin adiknya akan segera kembali.


Setelah Aluna menceritakan semuanya kini Hideon mengerti.


"Aku terpaksa menitipkan anak tersebut kepada satu keluarga di desa Sinau dekat pegunungan tempat kamu melahirkannya. Aku bahkan mengirimkan uang kompensasi setiap bulan. Aku terpaksa melakukannya karena trauma kamu berniat bunuh diri dan melompat dari lantai tujuh. Ditambah lagi, kamu tak tahu ayah anak itu. Demi kebaikan, aku terpaksa menyembunyikannya. Daripada kamu gila, Nak."


Hideon lalu menceritakan kejadian yang sesungguhnya, dia benar-benar dibuat kaget kalau anak itu memang anak Alvin. Terakhir kali Hideon menemuinya, saat anak itu berusia empat tahun, tepatnya satu tahun yang lalu.


"Pantas wajah cucuku sangat mirip sekali dengan Alvin."


"Ayah, katakan di mana alamat keluarga yang membesarkan anakku. Aku ingin membawanya pulang."


"Tunggu! Tempatnya sangat jauh dari sini. Aku akan meneleponnya sekarang."


Sebelum ayahnya menelepon keluarga itu, dia mengatakan kepada Hideon agar tak memberitahukan kepada siapa pun kalau anak tersebut adalah anak kandung Alvin. Karena kalau sampai identitas anak itu diketahui sebelum ditemukan, kemungkinan Lily dan Yuze akan membunuh anak tersebut.