
Aluna mulai menegakkan posisi duduknya menghadap Alvin. Sekejap, ia masih mencerna apa maksud dari ucapan Alvin. Hingga beberapa detik berlalu, akhirnya Aluna dapat menyimpulkannya sendiri.
Tadi dia bilang mempercayaiku, lalu kenapa dia bilang aku lebih bodoh dari Helen? Aku tidak yakin hubungan mereka biasa saja! Batin Aluna.
Wajahnya mendadak masam mendengar perkataan Alvin, yang menurutnya menggantung.
"Dekatkan kepalamu!" seru Alvin.
Sebenarnya Alvin merasa tidak nyaman ketika memegang darah di kepala Aluna. Namun, karena perasaan tidak teganya yang mendominasi, lelaki itu mulai membiasakan tangannya pelan-pelan.
"Diamlah, jangan banyak bergerak! Aku akan membersihkan luka di kepalamu." Dengan posisi berdiri Alvin mengambil botol rivanol dan secukupnya kapas. Dia mulai menuangkan cairan berwarna kuning itu di atasnya.
Ketika akan menempelkan kapas, tak sengaja Alvin malah menjatuhkan botol yang ada di tangan kirinya di kepala Aluna.
Tak.
"Argh!" seru Aluna. Ia kembali merasakan sakit ketika benda padat itu mengenai kepalanya yang terluka. "Apa Anda sengaja menjatuhkannya di atas kepalaku?" ketusnya marah.
Alvin terperanjat karena tindakannya. "Maafkan aku, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Aku tidak terlalu mahir dalam membersihkan luka," kata Alvin.
"Tidak perlu! Sebaiknya aku bersihkan sendiri di rumah." Wajah Aluna bertambah masam. Entah apa yang membuatnya marah, karena kejatuhan botol obat atau karena ucapan Alvin yang memuji Helen.
Alvin menghela napas pelan. "Jangan keras kepala! Luka di kepalamu bisa infeksi kalau tidak segera ditangani dengan benar," ucap Alvin.
Biarkan saja! Lagi pula nanti juga sembuh sendiri, aku sudah terbiasa menangani luka seperti ini di dunia nyata, batin Aluna.
"Kalau begitu, biar aku obati. Aku akan melakukannya dengan pelan." Alvin mulai membuang rasa tidak nyamannya.
"Sebaiknya kamu jangan berurusan lagi dengan wanita macam Helen." Sambil terus berkata, Alvin menggerakkan tangannya membersihkan luka di kepala Aluna.
"Memangnya kenapa? Apa karena aku lebih bodoh dari Helen?" tanya Aluna.
Alvin menghentikan gerakan tangannya. "Ya, Helen sangat pintar. Selama bekerja denganku, ia memiliki ide licik untuk menjatuhkan rekan bisnisku. Bahkan, dia mampu memutar balikkan fakta. Parahnya, aku baru menyadarinya sekarang."
Alvin baru menyadari kalau Helen adalah wanita yang cerdas dan penuh tipu daya. Menurutnya hanya permukaannya saja yang baik. Selama berkerja dengannya, Alvin menilai ada sisi gelap tersembunyi dari seorang Helen.
Aluna mengerucutkan ujung bibirnya, "Aku tidak yakin kalau hubungan kalian murni atasan dan bawahan."
Mendengar Aluna berkata seperti itu, Alvin begitu tercengang.
"Apa maksudmu?" tanya Alvin mendadak geram. Lelaki itu tak menyangka Aluna akan berpikiran negatif mengenai hubungan dia dengan Helen.
Ternyata pikiran Aluna dan Alvin bertolak belakang. Aluna mengira ketika Alvin mengatakan dirinya lebih bodoh dari Helen, berpikiran kalau dia sedang mengejeknya dan malah memuji Helen. Sebaliknya Alvin bertolak belakang, ia berkata Aluna lebih bodoh adalah perkataan yang ambigu. Yang ada dipikirannya, otak istrinya itu terlalu sederhana dan hanya sibuk mengejar dirinya.
"Aku bahkan melihat sendiri, Helen sampai mengorbankan tangannya hanya untuk mendapatkan perhatian dari Anda." Aluna terus saja menyudutkan Alvin.
"Jangan membuatku marah dengan menuduhku berselingkuh?" Alvin mulai terlihat geram.
"Lalu kenapa Anda malah memujinya di depanku?" Aluna benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaanya, terlihat dari ekspresi Aluna kalau wanita itu sedang cemburu.
"Itu karena aku tidak ingin kamu dirugikan oleh Helen. Lihatlah, bahkan sekarang kamu terluka karena wanita itu. Aku tidak ingin kedepannya terjadi hal buruk lagi denganmu. Setelah ini, aku tidak akan membiarkanmu keluar lagi, aku akan mengurungmu di rumah selama sebulan!" Kemarahan Alvin mulai memuncak.