
^^^"Bagaimana reaksi Luna? Apa dia mempersulitmu, Nak?"^^^
Mona menelepon Ara ketika gadis itu telah sampai di dalam lift.
"Tidak, Mom. Sama sekali dia tak mempersulitku," ucap Ara berbohong. Dia tak ingin Mona terlalu khawatir.
^^^"Syukurlah, kalau begitu pulanglah sekarang dan beristirahatlah, Nak. Sopir akan ke sana untuk menjemputmu"^^^
"Tidak, Mom. Sepertinya aku tidak bisa pulang ke rumah sekarang. Aku ingin healing sebentar dengan berbelanja sambil jalan-jalan. Tak usah mengkhawatirkanku Mom, karena aku bisa menjaga diri dan tak usah menjemputku."
Ara memutuskan telepon secara sepihak. Dia tak suka berlama-lama berbicara dengan Mona.
Sementara, Aluna yang mendapati Ara sudah tidak ada di ruang tunggu, berniat menghampiri Alvin yang sedang melakukan tes terakhir untuk calon sekretarisnya yang baru. Dalam hati Aluna, dia akan pulang ke rumah Hideon sepulang nanti dan ingin menemui Helen lagi di rumahnya.
...***...
Seusai menelepon Alvin, Noah memutuskan kembali ke laboratorium untuk bekerja. Alvin tidak mempercayai kata-kata Noah yang menurutnya tidak masuk akal. Alvin juga memberitahukan kepada Noah agar dia jangan terlalu dekat dengan Helen yang menurutnya sangat licik dan pintar bersandiwara. Kerena Alvin sangat sibuk, mereka memutuskan telepon dan berbicara lagi di lain waktu, Alvin pun ingin bercerita banyak mengenai perubahan istrinya.
Sebelum Noah sampai ke laboratorium, dia sempat ingin menghubungi Lisa. Namun, keinginan itu langsung ditepisnya. Noah merasa sungkan ketika mengingat lagi bagaimana manjanya Lisa.
Aku harus memutuskan hubungan denganmu, Lisa. Batin Noah.
Noah mengingat lagi bagaimana keluarganya yang dihina habis-habisan oleh keluarga Lisa. Ya, memang mereka sudah bertunangan sejak kecil. Hubungan keluarga Noah dan Lisa pun sangat akrab dan baik, keluarga mereka memutuskan menjodohkan Noah dengan Lisa demi mempererat pertemanan kedua orang tuanya.
Namun, keakraban mereka tidak berlangsung lama. Tepatnya berakhir ketika keluarga Noah mengalami kebangkrutan beberapa tahun terakhir. Noah ingat betul bagaimana ayahnya mengemis-ngemis meminjam uang kepada keluarga Lisa. Bukanya langsung memberi pinjaman, dia malah menyuruh ayahnya bekerja dulu menjadi sopir pribadinya agar mendapatkan uang. Walaupun akhirnya mereka memberi pinjaman berjangka, terang itu membuat ayah Noah begitu tersinggung. Keluarga Noah menganggap pertemanan keluarga mereka bertahun-tahun tak berarti apa pun.
Ditambah lagi ketika kedua ibu mereka sedang mengadakan arisan bersama nyonya besar lainnya. Ibunya Lisa mengejek orang tua Noah dan terang-terangan berkata di depan umum, memberitahukan kalau mereka enggan menikahkan anaknya dengan orang miskin, dan berniat ingin menjodohkan Lisa dengan lelaki kaya yang selevel dengannya.
Tidak hanya sampai di situ, bahkan Noah sempat diperingatkan orang tua Lisa untuk menjauhi anaknya. Keluarganya pun malah hendak memberinya uang banyak asalkan mereka bisa putus.
"Halo, apa Lisa dan temannya sudah pulang?" tanya Noah, menelepon pihak rumah sakit.
Ya, walaupun Noah membenci keluarga tunangannya itu. Dia tetap perhatian dengan Lisa. Noah sudah menganggap Lisa sebagai adiknya sendiri.
^^^"Nona Lisa dan temannya sudah meninggalkan rumah sakit beberapa jam yang lalu," ucap seorang pihak rumah sakit di telepon.^^^
Noah yang sudah sampai di depan kantor laboratorium mempercepat langkahnya karena sudah terlambat bekerja. Sebelum bekerja dia pun berniat mengganti bajunya dulu.
Tiba-tiba dari arah depan seorang wanita berlari kencang.
"Pamaaannn!" teriak Lisa langsung berlari dan memeluk Noah. "Aku merindukanmu."
Lelaki yang sedang berdiri di depan pintu itu begitu terkesiap, dia hampir saja terhuyung. "Lisa! Sejak kapan kamu di sini?" tanyanya sembari mencoba melepaskan pelukan Lisa.
"Paman, kenapa kamu meninggalkanku? Apa kamu baik-baik saja? Lukamu tidak parah' kan?" Lisa memegang kening Noah yang terluka, "maafkan aku, Paman."
Lisa mulai merengek. Wanita itu terus merangkul dan bertingkah sangat manja. Sementara temannya hanya duduk diam menjadi saksi bisu keduanya.
"Lisa, lepaskan! Kamu benar-benar sudah keterlaluan! Ini semua salahmu! Coba bayangkan kalau tadi tidak ada orang yang menolong kita, sudah pasti kita bertiga akan terbakar bersama mobilku." Noah terus memarahi Lisa.
"Paman aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga berjanji tidak akan mabuk lagi. Hiks ...." Lisa terus merengek meminta Noah agar tak memarahinya lagi.
Merasa risih, Noah menepis tangan Lisa. Dia benar-benar sudah malas menanggapi remaja labil sepertinya. "Aku akan memaafkanmu. Tetapi, maaf, Lisa. Kita lebih baik akhiri hubungan ini. Aku lebih nyaman kalau menganggapmu hanya sebagai adik."
Perkataan Noah membuat Lisa terkejut. Temannya yang tidak jauh darinya pun sampai mendekati Lisa ingin menenangkan wanita itu. "Paman, maafkan kami karena membuat mobilmu rusak. Sebaiknya tarik kembali kata-katanya karena Lisa tak bisa hidup tanpamu, Paman. Di sekolah pun dia tidak pernah fokus dan selalu memikirkanmu," ucap temannya mencoba menengahi.
"Justru itu aku ingin agar Lisa bisa lebih fokus lagi belajar. Aku sudah anggap Lisa sebagai adikku. Aku sudah putuskan tidak bisa meneruskan hubungan kita lagi. Lebih baik kamu fokuskan lagi sekolahmu, dan mulai memikirkan masa depan yang cerah dengan berkarir dulu," kata Noah menasehati.
"Aku bisa berkarir saat kita sudah menikah nanti, Paman. Keluargaku sangat kaya, kita tak usah repot memikirkan keuangan masa depan. Tolong jangan putuskan aku ... hiks ...." Lisa kembali menangis.
"Lisa bukan hanya urusan uang untuk masa depan kita. Jalanmu masih panjang, mulai sekarang lupakan aku." Noah memegang pundak Lisa terus meyakinkan, "kamu harus fokus dengan pendidikanmu dulu."
"Tidak! Aku tidak mau hanya sebagai adikmu. Kenapa tiba-tiba Paman ingin memutuskanku? Aku yakin bukan karena kecelakaan ini' kan? Bukan karena aku sudah merusak mobilmu kan, Paman? Kalau iya aku bisa menggantinya dengan yang baru dan bagus. Jadi jangan putuskan aku, yah!"
Sebenarnya sudah lama Noah ingin mengakhiri hubungan dengan Lisa. Noah sudah muak karena berkali-kali keluarga Lisa dan keluarganya terus mendesak agar mereka putus. Noah sendiri tak bisa mengatakan kepada Lisa kalau alasan mereka putus adalah atas permintaan keluarganya sendiri.
"Aku sudah memiliki pacar dan dia lebih dewasa darimu. A-aku sudah mencintainya, jadi tolong lupakan aku, Lisa."