TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menuju Lokasi


Setelah Hideon memutuskan hubungan teleponnya. Kini giliran Lily dan Yuze yang menelepon Nyonya Dori kembali. Mereka menawarkan keuntungan yang besar untuk Nyonya Dori kalau memberikan Zero kepada mereka, baik dalam keadaan hidup atau mati sekali pun. Sayangnya memang benar Zero sudah tak mereka adopsi, Nyonya Dori pun memberitahukan kalau Zero berada di kota X.


"Kenapa jaringan telepon kalian sibuk? Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?" Baru terhubung Yuze sudah marah-marah.


^^^"Maaf, Tuan. Kami sedang menelepon anak kami yang ada di luar kota," jawab Nyonya Dori memberi alasan.^^^


"Baiklah, sekarang beritahu kami lebih spesifik di mana anak itu tinggal?" tanya Yuze, dia terlihat sangat tak sabaran, "Walaupun kota itu tak terlalu besar, mencari anak di Kota X sangatlah sulit untuk kami. Beritahukan kami lebih rincinya, karena sebentar lagi kami sudah bersiap menyusulnya sekarang."


^^^"Kami benar tidak tahu, Tuan. Telepon Sembo pun sudah tak aktif. Apa anak itu sangat penting untuk Tuan? Kenapa tiba-tiba mencari Zero setelah lima tahun tidak tinggal bersama kalian?" Nyonya Dori sengaja menanyakan itu untuk mengorek informasi tentang Zero, karena beberapa hari ini dia didesak terus menerus agar menyerahkan Zero.^^^


"Jelas sangat penting. Harusnya anak itu tidak dibuang lima tahun yang lalu. Kalau tak terjadi, pasti sepupu kami tak akan menikahi ibu dari anak sialan itu. Anak itu adalah anak haram hubungan terlarang Luna sebelum menikah dan perempuan ja lang itu tak mengakuinya. Jangan berbohong, kalian tidak berkomplotan dengan Hideon kan untuk menyembunyikan anak tersebut dari kami?" tanya Yuze.


Tanpa menjelaskan panjang lebar pikiran Tuan dan Nyonya Dori tampaknya sehati. Mereka menduga, pasti sesuatu akan terjadi setelah anak tersebut ditemukan. Berita kelahiran seorang putra dari anak konglomerat sebelum menikah pasti akan menjadi berita besar dan akan viral. Nyonya Dori sudah memikirkan terlalu jauh, pasti ini akan sangat menguntungkan bagi mereka.


Sepertinya Zero mulai diandalkan lagi sekarang, jadi kedua belah pihak sedang memperebutkan anak pembawa sial itu. Ha, ha, lucu sekali kehidupan orang kaya seperti kalian, batin Nyonya Dori.


Walaupun tahu, Nyonya Dori berpura-pura polos dan tak mengerti apa-apa.


"Tentu saja tidak, Tuan. Kami hanya memberitahukan informasi tempat anak Itu kepada kalian. Lagipula, Tuan Hideon tak bertanggung jawab terhadap cucunya. Sengaja menyia-nyiakan Zero kami."


"Jadi anak itu bernama Zero? Jelek sekali namanya?" kata Lily di samping Yuze.


"Ya, karena otaknya nol. Tidak bisa diandalkan dan pembawa sial terhadap keluarga kami. Lihat saja harta kami habis untuk memberi makan anak tersebut," kata Nyonya Dori mendramatisir suasana agar Yuze bersimpati.


Sementara Yuze sendiri tidak tahu kalau keluarga tersebut selalu menghalalkan berbagai cara, mereka akan melakukan apa pun asalkan demi mendapatkan uang, walaupun harus bermuka dua dan berbohong sana-sini. Nyonya Dori sengaja berbohong tak mengetahui nomor ponsel Tuan Sembo, dia ingin menarik ulur agar mereka memberikan dulu uang ratusan juta yang mereka janjikan.


Setelah bernegosiasi beberapa menit, akhirnya Nyonya Dori memberitahukan lebih spesifik di mana anak itu berada. Dia mengatakan tempat keluarga Sembo ada di kota dekat pegunungan. Tidak jauh dari perkebunan strawberry, di sana bahkan tak ada yang tak mengenal Sembo yang berprofesi sebagai buruh petik buah strawberry.


...***...


Di lain tempat di atas rooftop perusahan Hideon. Karena tak ingin banyak membuang waktu, Alvin terpaksa menjadikan tempat itu sebagai landasan helikopter miliknya. Ya, menurut Alvin akan lebih baik mereka menggunakan alat transportasi tersebut karena medan yang mereka lalui adalah daratan tinggi. Akan lebih lama jika mereka menggunakan mobil dan kendaraan laut.


"Temanku berhasil menyadap telepon terakhir Yuze. Mereka mengatakan akan menuju lokasi malam ini juga," kata Alvin dengan raut khawatir.


"Jadi dia juga tahu kalau anak kita telah berpindah tangan. Benar-benar manusia jahat, mereka sengaja menggunakan Zero untuk menghancurkan pernikahan kita. Kita harus cepat sampai sana lebih dahulu. Berapa menit lagi helikopter itu datang?" tanya Aluna.


Apa yang dirasakan Alvin, Aluna pun ikut merasakannya. Walaupun dia tak melahirkannya, setidaknya ada ikatan batin antara Aluna dan Zero. Namun, dia merasa Zero adalah anak tangguh yang akan baik-baik saja. Terbukti anak tersebut dapat bertahan hidup dalam keluarga yang kacau. Menurut berita, Zero diperlakukan seperti sapi perah. Tidak hanya mengambil uang dari kakeknya, bahkan keluarga tersebut memanfaatkan tenaga dari tubuh kurus Zero, dengan menyuruh anak lelaki tersebut berternak, mencuci bahkan memasak.


"Tenang saja, selama Yuze tidak mengetahui Zero adalah anak kandungmu. Dia tak akan melukainya. Dia hanya tahu Zero adalah anakku, mereka hanya menginginkan anak itu agar keluargamu menyingirkanku." Ucapan Aluna membuat Alvin sedikit tenang.


Benar saja, selang beberapa menit kemudian, terdengar deru suara baling-baling helikopter yang berisik sangat keras memekakkan telinga. Bahkan getaran dan angin dari baling-balingnya hampir saja menggoyahkan tubuh mereka ketika berdiri.


"Kita harus cepat ke sana sebelum Yuze mendapatkan sampel DNA anakku," kata Alvin mengulurkan tangan membantu Aluna menaikinya.


Di menit itu juga ketika pesawat sudah mendarat sempurna, Alvin dan Aluna langsung menaikinya.


"Hati-hati di jalan. Kabari aku kalau ada masalah apa pun. Aku akan memantau dari sini," teriak Hideon dari bawah ketika Helikopter tersebut mulai meninggalkan lokasi.


Aluna tersenyum sambil melambaikan tangannya seakan mengatakan iya kepada Hideon.


Kini mereka sudah ada di dalam pesawat. Sambil menenangkan pikirannya yang kacau, dia memperhatikan pilot ketika mengoperasikan pesawat.


"Berapa lama lagi kita akan sampai?" tanya Alvin dengan suara kencang.


"Paling cepat tiga jam, Tuan."


Di dalam pesawat, Alvin menggenggam tangan Aluna saling menguatkan dan berdoa agar Zero akan baik-baik saja.


Saat awal penerbangan masih di kota perbatasan, helikopter tersebut terbang dengan stabil. Akan tetapi ketika melewati laut dan memasuki daratan tinggi. Helikopter itu mulai goyah, Aluna dan Alvin merasakan goncangan hebat ketika pesawat tersebut melawan angin kencang yang berdebu di depannya.


"Tuan, sepertinya kita harus melakukan pendaratan darurat. Akan berbahaya kalau kita meneruskan perjalanan," kata pilot berusaha menstabilkan pesawat.


"Apa jaraknya masih jauh untuk sampai di kota itu?" tanya Alvin.


"Iya, paling kita gunakan mobil untuk sampai ke lokasi. Atau kalau tidak kita meneruskan perjalanannya pagi hari, Tuan."


Aluna menengok ke bawah sebelum pesawat tersebut mendarat. Daerah itu cukup terpencil, untuk mendapatkan mobil di tengah malam buta sekarang sepertinya cukup sulit. Apalagi tempat itu sangat sepi.


"Tidak! Aku harus ke tempat itu sekarang juga."