
Alvin menarik tubuh Aluna, memeluknya lalu mendekatkan wajahnya, menatap Aluna dengan penuh selidik. "Kenapa kamu tak menjawab teleponku?" tanyanya penuh amarah.
Mata Aluna membesar. Mencoba melepas pelukan Alvin yang semakin erat. "Alvin, aku tak berma--"
Tak mau melepas pelukannya, Alvin malah mencengkeram dagu Aluna, mendongakkan bibirnya ke arahnya lalu melu mat bibir itu dengan penuh naf su, dia tak membiarkan sedikit pun Aluna bergerak menghindar darinya. Lelaki itu lebih memilih melepaskan amarah dengan cara seperti itu.
Semenit kemudian, dengan napas tersengal-sengal Aluna berhasil lepas dari pelukan Alvin.
"Aku tidak suka kamu mengacuhkanku!" gertak Alvin, "pulanglah ke rumah. Aku tidak ingin kamu berada di rumah ayahmu lagi!" Tatapan Alvin begitu mengintimidasi.
"Tapi bukannya tadi malam kamu sudah memberiku izin selama dua hari tinggal di rumah ayahku," kata Aluna.
"Tidak! Aku tidak mau. Aku suamimu, kenapa kamu tak menuruti permintaanku! Sehari menurutku cukup untuk kamu menginap di rumah ayahmu."
Aluna menatap balik Alvin yang begitu keras kepala, sambil memikirkan cara agar menyelesaikannya. Jelas Aluna tak ingin menyetujui permintaan Alvin yang satu ini. Dia tak ingin melewatkan kesempatannya bertemu dengan Ara.
"Aku janji tidak akan terlambat lagi! Jadi izinkan aku tinggal di rumah ayahku sehari lagi."
Alvin mengangkat alisnya, dugaannya benar kalau Aluna tak mau menuruti permintaannya. Pikiran buruk mendominasi otak lelaki itu. "Aku tidak mau. Dulu juga kamu pernah meminta izin pulang beberapa hari. Tapi apa! Kamu malah mengingkarinya, berminggu-minggu tinggal di sana. Apa kamu ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi?"
Yah, memang dulu Luna pernah meminta izin kepada Alvin untuk menginap di rumah ayahnya beberapa hari. Namun, saat itu Luna mengingkarinya malah kabur hampir dua minggu lamanya. Luna melakukan itu lantaran dia merasa stres akibat perlakuan keluarga Alvin yang selalu merendahkannya. Ditambah lagi karena Lili dan Yuze yang selalu memfitnahnya berulang kali.
Akibat masa lalu Luna yang buruk, Aluna lah yang harus menanggungnya. Kini, Aluna harus memulihkan kembali kepercayaan Alvin padanya.
Aku bukan Luna, Alvin. Sayangnya, aku tak diperbolehkan menjadi orang pertama yang mengatakan kebenaran langsung kepadamu. Kecuali ada orang lain yang mengatakannya duluan. Batin Aluna.
Memang benar, sistem melarang Aluna sebagai orang pertama yang memberitahukan kepada Alvin langsung kalau dia sedang bertransmigrasi. Kalau itu terjadi sistem akan rusak dan mengalami Bug pada sistem. Kecuali ada orang lain yang mengatakan kebenarannya duluan kepada Alvin.
"Kenapa kamu diam saja? Jadi benar kamu tak menuruti permintaan suamimu?."
Aluna yang sedang berpikir terlihat diam saja. " ..."
"Baiklah kalau kamu tak mau menjawab. Aku tak punya banyak waktu untuk mengajakmu berdebat. Aku sangat sibuk, sebaiknya kamu pulang saja sana. Aku benar-benar sangat marah denganmu, Luna."
Tentu saja, diamnya Aluna karena dia sedang bernegosiasi di dalam hati dengan sistem.
Miss K, bukankah barusan aku berciu man dengan Alvin. Kenapa aku tak mendapatkan tas saran? tanya Aluna dalam hati sambil menunggu notifikasi dari sistem.
...[Anda tidak bisa mendapatkannya, Nona. Walaupun kalian berinteraksi. Sistem tak dapat memberikan Anda tas saran, karena Alvin melakukannya dengan emosi dan dalam keadaan marah.]...
Karena pekerjaannya sedang sangat menumpuk, Alvin kembali ke meja rapat yang ada di ruangan itu. Duduk menghadap laptop, mulai membuka beberapa file persetujuan investasi beberapa klien yang mengirim langsung ke email perusahaannya. Dia mencoba fokus dan melupakan Aluna yang masih berdiri di depan mejanya.
"Ada yang bisa ku bantu? Bukannya aku adalah sekretarismu, Alvin? Kurasa aku bisa memulai bekerja sekarang," kata Aluna menawarkan diri. Dia tidak mau hanya sebagai patung yang hanya berdiri di depan meja Alvin.
Namun, bukannya menjawab, Alvin malah diam dan mengacuhkannya. Dia tampak kesal karena Aluna tak menjawab perintahnya ketika di suruh pulang.
Ketika Alvin tengah sibuk dengan laptopnya. Rupanya sistem mendengar isi hati Aluna. Saat itu juga Noah mengirimkan banyak pesan di handphone Alvin. Bunyi notifikasi pesan yang dikirimnya membuat fokus Alvin teralihkan, akhirnya Alvin mengambil handphone yang tergeletak di meja itu, lalu membaca semua pesan yang dikirim Noah satu persatu.
"Apa?!" Mata Alvin membulat sempurna.
Alangkah terkagetnya dia ketika membaca isi pesan Noah yang mengatakan kalau wanita yang berdiri di depannya ternyata bukan Luna istrinya. Melainkan jiwa wanita dari dunia lain yang sedang bersemayam di tubuhnya.
Alvin langsung berdiri mematung. Matanya dengan saksama memindai keseluruhan tubuh wanita yang sedang berdiri di depan meja kerjanya. Alvin menatap lekat, mencari satu saja perbedaan pada tubuh wanita yang dinikahinya itu. Tentu saja tak ada perbedaan sama sekali. Dia benar-benar tubuh istrinya.
"Kenapa denganmu, Alvin?" tanya Aluna.
Detik itu juga, dia mulai menelepon Noah, menanyakan kalau isi pesan yang dia kirimkan bukan main-main.
"Kamu jangan macam-macam denganku, Noah. Jangan membohongiku dengan cerita khayalan seperti itu. Tak ada perbedaan sama sekali di tubuhnya, dia adalah Luna." Alvin membentak Noah di telepon.
^^^"Bukan raganya yang berbeda, tetapi jiwanya. Kalau tak percaya perhatikan saja sifat istrimu sekarang dengan yang dulu. Aku yang bukan suaminya saja merasakan perbedaannya. Jiwa yang ada pada tubuh Luna bukan dirinya yang asli, melainkan orang lain."^^^
Masih tak percaya, Alvin akhirnya memutuskan teleponnya. Dia kembali memperhatikan Aluna, bahkan sampai memajukan wajahnya, memperhatikan lekat setiap detail wajah Aluna dari jarak beberapa inci. Mereka saling berdiri berhadapan di apit meja di depannya, menatap satu sama lain.
"Apa benar kamu bukanlah, Luna istriku? Apa benar kamu adalah seorang transmigran yang bersemayam pada tubuh istriku?" tanya Alvin, matanya hampir tak berkedip menatap Aluna.
Aluna mengembuskan napasnya pelan. Menutup matanya sejenak lalu mengangguk pelan.
"Benar, aku bukan istrimu. Aku bukan Luna."
"Apa!?"
Mendengar itu, seketika Alvin mendadak lemas, kakinya bahkan tak mampu menopang tubuhnya lagi. Karena saking kagetnya dengan pernyataan Aluna, dia sampai terduduk di kursi. "Lalu kamu siapa?"
"Namaku Aluna, berasal dari dunia lain."