
Aluna menitipkan Helen kepada pegawai salon ingin ke toilet sebentar. Tentunya dia ingin berbicara kepada sistem ingin mempertanyakan masalah perubahan jiwa Helen.
"Miss K." Aluna memanggil sistem.
Di dalam toilet yang berukuran kecil itu, Aluna mengecilkan suaranya agar tak terdengar sampai luar. "Miss K," panggilnya lagi.
Sensor di kalung menyala, menandakan kalau sistem sedang aktif.
"Miss K. Bolehkah aku meminta sesuatu kapadamu?"
...[Anda ingin meminta apa, Nona?]...
"Aku ingin Arabella menemaniku di sini. Bisakah mereka tak bertukar jiwa lagi sampai aku menyelesaikan misi darimu?"
Sesaat sistem di kalung meredup. Melihat tak ada tanggapan, Aluna menepuk kalung itu lagi. "Jangan berpura-pura tak mendengar, Miss K."
"Aku hanya ingin Arabella ikut bahagia di sini? Bisakah kamu membantuku?" kata perempuan berambut panjang itu lagi.
...[Baiklah, tapi ada syaratnya?]...
"Apa itu, Miss K?"
...[Anda harus mengumpulkan sepuluh tas saran agar Arabella tetap di sini selama sebulan, sebelum sistem selesai diperbaiki.]...
Mendengar sistem menginginkan sepuluh tas untuk menukar jiwa Ara agar tetap bersamanya, Aluna terdiam sejenak. Sepuluh tas saran baginya cukup sulit untuk ia dapatkannya. Apalagi kalau Alvin tak dapat dikompromi, akan lebih menyulitkan lagi baginya.
"Tak bisakah, kamu mengurangi jumlahnya, Miss K. Misalnya setengahnya?"
Namun, sistem tak peduli.
...[Anda bisa dengan mudah mendapatkan sepuluh tas saran. Apalagi Nona akan beriteraksi lama saat malam hari di rumah dan siang di perusahaan. Waktu Nona bersama Alvin cukup banyak bersama.]...
Aluna hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Menurutnya, memang ada benarnya kalau dia lebih banyak waktu bersama dengan Alvin nantinya, tapi tentu saja bagusnya sulit.
...[Tetapi, walaupun Ara akan kembali ke tubuh Helen lagi, dia pun harus bisa menjaganya. Jangan sampai membuat tubuh Helen terluka, karena itu akan merusak kinerja sistem yang terhubung pada tubuhnya.]...
"Baiklah, aku akan menyanggupi permintaanmu, Miss K."
^^^[Waktu Anda tidak banyak, Nona. Selama Anda belum mengumpulkan sepuluh tas saran. Mereka akan terus berganti jiwa saat tertidur, sampai sistem telah diperbaiki dan stabil.]^^^
Dari penjelasan sistem, Aluna mengerti kalau waktunya untuk mengumpulkan tas saran tidak banyak. Apabila sistem selesai diperbaiki, tetapi dia belum mendapatkan sepuluh tas saran. Permintaannya akan hangus.
"Sampai kapan sistem akan pulih dan stabil?"
...[Dua hari lagi akan selesai, Nona. Teknisi robot kami sedang membersihkan virus yang mengganggu mesin waktu diantara dimensi dunia nyata dan dunia novel.]...
...[Jangan dipikirkan, Nona. Karena itu diluar nalar. Anda akan pusing untuk memahaminya.]...
Sebenarnya dari awal Aluna berada di dunia novel, dia sering menanyakan masalah jiwanya yang terperangkap pada tubuh Luna. Mungkinkah jiwanya sedang melakukan Astral Projektion Travel di mana jiwanya akan terpisah pada tubuhnya, lalu terperangkap di tubuh Luna? Cerita itu dia dengar langsung ketika ibunya dulu bercerita sebagai pengantar tidur.
Dulu ibunya bercerita, kalau salah satu keturunannya di masa depan pernah melakukan Astral projektion travel ke dimensi masa lampau. Salah satu keturunannya itu seorang ilmuwan yang menemukan sistem mesin waktu ke dimensi lain. Lewat imajinasi dan pikirannya, dia memberikan sebuah buku harian kepada seorang novelis yang ditulis ulang di sebuah aplikasi novel online. Sayangnya beberapa lembar buku harian yang dia berikan menghilang, membuat tulisan dari novelis itu melenceng dari alur yang dibuat.
Dari dulu Aluna menganggap cerita ibunya hanyalah sebuah cerita dongeng belaka, cerita fantasi seseorang dalam berhalusinasi. Kabarnya novel online yang dituliskan novelis itu sangat berpengaruh pada kehidupan selanjutnya Sang ilmuwan.
Karena terlalu pusing memikirkan perkataan ibunya. Aluna memutuskan untuk kembali menemui Helen.
Aluna berjalan menuju ruang salon lagi. Terlihat Aluna memperhatikan Helen yang tengah tertidur sangat nyenyak. Dia sedang berpikir apakah Ara yang akan bangun atau malah Helen yang kembali.
Sudah setengah jam, dia belum bangun juga. Batin Aluna.
Aluna melihat jam menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sudah saatnya dia harus membangunkan tubuh Helen.
Namun, sebelum Aluna membangunkannya. Helen telah terlebih dulu terbangun.
"Kakak."
Kata pertama yang diucapkan Helen membuat dia terdiam. Aluna masih mengamati perubahan Helen.
"Kita masih di sini ya, Kak?"
Mendengar nada halus Helen, Aluna yakin kalau sekarang dia sudah berubah menjadi adiknya lagi.
"Ara! Kamu sudah sadar?" Aluna mempertajam indera pendengarannya lagi, "coba kamu katakan sekali lagi?"
"Aku sudah sadar? Apakah aku tadi tertidur?" tanya gadis berambut kuning itu.
Aluna mengangguk. "Yah, setengah jam yang lalu Helen telah kembali. Dia sangat kaget begitu melihat rambutnya yang berubah menjadi kuning."
Ara langsung ingat kalau dia sempat tertidur. Dia pun meminta maaf kepada Aluna atas keteledorannya. "Maafkan aku, Kak."
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu sedang kelelahan. Lihatlah, rambutmu sekarang. Apa warna kuning seperti ini sesuai dengan keinginanmu?"
Aluna menyuruh Ara berdiri, bercermin melihat rambutnya yang berwarna kuning keemasan.
"Wah rambutmu sangat indah. Warnanya seperti Bubu, boneka Barbie kesayanganku. Terima kasih, Kak sudah mewujudkannya."
Ara memeluk tubuh kakaknya. Dia sangat terharu dengan kondisi rambutnya yang indah. Rambutnya yang hampir botak di dunia nyata, membuatnya selalu bercita-cita ingin mewarnainya menjadi kuning. Sayangnya itu tak mungkin terjadi. Kini, keinginannya terwujud meski berada di dunia lain.