
"Aluna jangan mengajarkan anak untuk berbohong!" seru Clara. Meskipun kini Zero telah mahir berbahasa inggris, tetap dia tidak mempercayai kalau Zero juga bisa memainkan piano.
"Apa dari tadi kami terlihat berbohong? Apa tak cukup untuk membuktikan kalau anakku memang mahir dalam segala bidang?"
Aluna memeluk Zero. Dia tak mau anaknya direndahkan oleh Lily dan Yuze. Kalau saja dirinya yang dihina, dia tak terlalu pedulikan.
"Coba buktikan kepada kami," kata Yuze lantang.
Alvin menghela napas berat. Dia sebenarnya khawatir kalau Zero tidak bisa bermain piano. Namun, ketika melihat keyakinan di wajah Aluna, dia pun ikut mendukung.
"Apa konsekuensinya kalau anakku bisa bermain piano?" kata Alvin sedikit menantang. Sudah cukup anaknya selalu direndahkan.
Yuze tersenyum penuh ironi. Sedangkan Nenek Alma dan Clara masih menunggu bukti. Clara tak yakin, cucunya yang berasal dari desa bisa bermain piano. Rasanya sangat tidak mungkin, batin Clara.
"Nenek tidak akan menyuruh Zero pindah ke sekolah bangsawan. Begitu pula sebaliknya."
Aluna sedikit lega dengan pernyataan Nenek Alma. Kalau Zero berhasil, dia bisa membungkam mulut pedas dari keluarganya ditambah lagi Zero tidak akan pindah sekolah.
"Apa hanya itu? Aku tak mengizinkan Zero bermain, kalau hanya itu taruhannya," kata Alvin menahan Zero.
Yuze kembali tersenyum. Ini adalah momen yang bagus untuk mempermalukan keluarga Alvin. Kemudian, dia mengambil album yang berisi lagu dengan musik klasik. Menunjukkan satu judul lagu klasik yang harus Zero mainkan. "Kalau Zero bisa memainkannya, aku akan mengakui kalau anakmu sangat genius."
Alvin terbelalak ketika melihat lagu yang ditunjukkan Yuze. Jelas yang biasa memainkannya adalah seorang musisi klasik yang sangat terkenal. Lebih dari kegilaan kalau Yuze menyuruh anaknya bermain di usia Zero yang belum genap enam tahun.
"Buktikan sekarang kalau istrimu tak mengajari anakmu berbohong, Kak Alvin."
Zero melihatnya saat buku itu terbuka. Dengan gerakan cepat dia menghapal not not balok di lagu tersebut. Otaknya langsung bekerja keras agar mengingatnya.
"Aku bisa memainkannya. Bahkan tanpa melihat buku ini," kata Zero dengan percaya diri.
Tak ada yang percaya dengan kata-kata Zero barusan. Kecuali Aluna dan Alvin. Karena menurut Alvin musik yang dimainkan Zero terlalu sulit. Dia pun menambah taruhannya.
"Baiklah, aku akan setuju. Asalkan ... kalau anakku bisa memainkannya, aku melarang Nenek dan ibu menemui Zero selama seminggu."
Alvin berharap ibunya menghentikan Zero untuk bermain dan menarik ucapannya lagi.
Clara mengangguk ragu-ragu. "Yah, tentu saja," Merasa kalau cucunya tidak akan bisa memainkan dan pada akhirnya merekalah yang menang. Akan memasukkan Zero ke sekolah bangsawan seperti keinginan mereka.
Zero berjalan ke arah piano. Dia terlihat sangat percaya diri dan tak ragu sama sekali. Sebelum bermain Zero sempat mengatur posisi duduknya agar senyaman mungkin.
Di otaknya sudah berisi not-not balok dari lagu yang akan dia mainkan. Zero mulai menekan tuts dengan tangan yang lemas dan lentur, mulai memainkan musik klasik tanpa melihat buku sama sekali. Tangannya sangat cepat seperti sedang berlari menekan tuts seperti seorang musisi terkenal.
Bunyi musik klasik sudah terdengar di ruangan, sangat merdu dan membuat pendengarnya seakan terbuai. Apalagi di detik-detik terakhir, Zero mampu membuat semua tercengang dengan improvisasi dari permainannya.
"Zero, kamu sangat luar biasa," kata Nenek Alma. Wanita tua itu sampai berdiri sambil bertepuk tangan.
"Cucuku memang genius." Tanpa sadar kata-kata tersebut keluar dari mulut Clara.