TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 288. Tujuh Hari Terakhir di Dunia Novel (Hari ke-1)


Tujuh hari terakhir di naskah Novel, Aluna harus bersikap manja di depan Alvin sebagai istrinya. Misi terakhir, Aluna harus merubah seluruh karakter antagonis di dalam novel menjadi karakter yang baik.


Hari pertama.


Aluna harus bisa akrab lagi dengan nenek Alma, dan melakukan kencan dengan Alvin di malam hari seperti layaknya pasangan kekasih.


***


Pagi hari jam empat pagi di kamar Luna, di rumah Hideon.


"Bahkan dalam keadaan tertidur pun kamu terlihat cantik, Aluna," kata Alvin dalam hatinya.


Lelaki itu masih berada di atas tempat tidur, berbaring miring dengan ditopang satu tangan, sambil melihat inci demi inci wajah Aluna dari jarak dekat. Sampai pada akhirnya Alvin berani menyentuh pelan dari mulai mata Aluna, beralih ke hidung dan berakhir ke bibirnya. Dia tersenyum, dan tak bisa dibohongi, kalau dia sudah sangat mengagumi semua yang ada pada diri Aluna.


Merasa ada sesuatu yang menyentuh bibirnya, Aluna yang masih tidur langsung terperanjat, matanya refleks membuka perlahan. Melihat di depannya sudah ada Alvin, masih menatapnya sambil tersenyum. "Alvin, kamu sudah bangun?" tanya Aluna, dan dibalas anggukan oleh Alvin.


"Morning kiss. Selamat pagi, Sayang."


Tanpa persetujuan dari Aluna, lelaki berkulit putih itu langsung menempelkan bibirnya. Menyentuh langsung bibir merah muda Aluna dalam beberapa detik.


"Alvin ... ini masih terlalu pagi. Aku belum gosok gigi," kata Aluna malu.


Alvin tak peduli. Justru dia sangat suka.


"Sekarang sudah jam berapa?" tanya Aluna sambil mengatur nafasnya.


"Jam empat pagi. Sebaiknya, kita pulang sekarang, Luna. Zero pasti sedang menunggu kita," kata Alvin setelahnya.


Baru saja bangun. Padahal matahari saja belum terbit, Alvin sudah menunjukan keromantisannya. Membuat wanita itu salah tingkah dan membenamkan wajahnya di bantal.


Tidak, aku sedang tidak bermimpi sekarang, batin Aluna sambil tersenyum malu.


"Kita mandi sekarang, Luna" kata Alvin. Sekarang dia sudah duduk di tepi ranjang, sementara Aluna masih berbaring di tempat tidur, menutup penuh dirinya dengan selimut.


"Ini masih terlalu pagi, Alvin, dingin. Kamu duluan saja," kata Aluna lagi.


"Ada air hangat, Aluna."


"Tetap saja pasti akan dingin."


Bukannya beranjak, Alvin malah diam saja di tempat. "Hem, bagaimana kalau kita mandi bersama agar tak terlalu dingin? Sepertinya sangat menarik."


Aluna tak mendengar, dia malah masih ingin tidur lagi. Membuat Alvin gemas sampai membuka paksa selimut yang menutupi tubuh Aluna.


"Kita mandi bersama sekarang!"


"Apa?! Oh ... tidak, tidak. Aku tidak mau!" jawab Aluna. Gara-gara selimutnya Alvin tarik, membuat wajahnya merah merona karena malu. Sebagian tubuhnya yang terbuka sampai terlihat jelas, "kenapa kamu malah menarik selimutku?"


"Aku tidak peduli!" ucap Alvin tersenyum menyeringai.


"Hah!"


Alvin melihat lagi ke arah lain. Tersenyum nakal karena mendapatkan ide. Sekali lagi, dia tak peduli dengan penolakan Aluna. Pikirnya, mereka harus mandi sekarang dan pulang bersama. Tanpa banyak bicara, saat itu juga Alvin mengangkat tubuh Luna, menggotongnya dengan gaya bridal style.


"Alvin! Oh tidak ... hah apa yang kamu lakukan sekarang?" teriak Aluna kaget. Kakinya dia gerak-gerakkan, tersenyum geli dengan perlakuan Alvin, "ha ha, Alvin turunkan aku."


"Sudah kubilang, kita mandi bersama. Masih saja kamu tak mengerti."


"Yah, tapi bukan begini caranya. Aku takut, Alvin ... bagaimana kalau nanti terpeleset dan kita jatuh bersama?"


"Itu tidak akan terjadi, Nona Aluna, percayalah!"


Di saat Alvin masih menggendongnya, sistem memberikan peringatan kepada Aluna. Agar dia harus bersikap manja di depan Alvin, sesuai naskah yang tertulis. Seketika, ekspresi ketakutan Aluna pun langsung berubah menjadi wanita yang sangat manja.


"Terima kasih, suamiku. Kebetulan kakiku memang sedang sakit," kata Aluna. Dia pun mulai bersikap manja, dengan melingkarkan tangannya ke leher Alvin, "kamu memang sangat pengertian." Menggodanya lagi.


Alvin sudah masuk ke dalam kamar mandi. Mendudukkan pelan tubuh Aluna di atas bathtub, diikuti dengan dia yang duduk di belakangnya.


Ini tak sesuai yang aku bayangkan, bisa-bisa aku dibuat bucin sendiri oleh Alvin, batin Aluna sambil menggeleng pelan. Dia ingat, kalau harus selalu bersikap manja.


"Aku tidak bisa membersihan punggungku sendiri. Bisakah kamu membersihkannya ... Alvin," kata Aluna dengan nada malu.


Oh tidak, ini memalukan! Teriak Aluna dalam hatinya, dia sempat membaca semalam di naskah novel, kalau dia harus menyuruh Alvin membersihan tubuhnya pagi ini.


"Aku bahkan bisa membersihan tidak hanya punggung saja," kata Alvin sambil menggosok punggung putih mulus Aluna dengan spons.


Dia benar-benar mesum pagi ini! Batin Aluna lagi. Kalau seperti ini bagaiman aku bisa melupakan dia?


"Heum ... suamiku," panggil Aluna dengan manja.


"Yah."


"Nanti malam ...," kata Aluna sempat ragu mengatakannya, " ... aku ingin mengajakmu kencan."


"Kencan buta?" tanya Alvin lagi, kini keduanya saling duduk berhadapan.


"Yah ...," jawab Aluna.


"Baiklah aku mau. Asalkan ...." Kemudian berbisik di dekat telinga Aluna sambil tersenyum, "beri aku hadiah pagi ini."


"Hadiah? Hadiah apa?" tanya Aluna.


Alvin tersenyum sambil mengedipkan satu mata, memberikan kode isyarat kepada Aluna.


***


"Selamat pagi, Nenek Alma, selamat pagi Zero, selamat pagi Ibu, ayah," sapa Aluna terlihat hangat. Di depan meja makan, ketika semuanya hendak sarapan pagi.


"Pagi mama papa," jawab Zero di tempat duduknya.


Nenek Alma terlihat masam, dia sangat marah begitu tahu tadi malam Aluna dan Alvin tak pulang dan meninggalkan Zero sendirian. Sedangkan Clara dan Anming tak peduli masih fokus dengan dirinya sendiri.


"Dari mana saja kalian semalam tak ada kabar?" tanya Nenek Alma, menatap tidak suka ke arah Aluna.


Aluna dan Alvin pun mendudukkan diri, di tempat makan masing-masing seperti biasanya. Setelah merapihkan diri, Aluna pun menjawab pertanyaan Nenek Alma, "Kami ... tadi malam di rumah Ayahku. Maaf ya, Nek. Kami tak sempat mengabarimu, kami tidak mau mengganggu nenek malam-malam."


"Alvin sudah menghubungi suster yang mengasuh Zero, kalau tadi malam kami tak pulang," kata Alvin menyambung ucapan Aluna.


"Kalau kalian ingin bersenang-senang hanya berdua, kenapa tidak menitipkan saja Zero tadi malam kepada Nenek?"


"Maafkan kami, Nek. Lain kali, aku akan menitipkan kepada nenek kalau keluar lagi," kata Aluna.


Namun bukannya menjawab, Nenek Alma malah mengacuhkan. Untungnya Aluna sedang sabar pagi ini.


Pelayan memasuki ruang makan, membawakan dan menaruh beberapa makanan lagi di meja. Melayani tuan dan nyonyanya masing-masing satu pelayan.


"Aku ingin ikan itu," kata Nenek Alma menunjuk seekor ikan yang sudah digoreng kering.


Sontak, pelayan langsung siaga menaruhkannya di atas piring nenek Alma. Bersama sayur dan lauk lainnya.


Acara makan dimulai, semuanya menikmati hidangan masing-masing. Kalau Clara dan Anming tak banyak bicara lagi ini. Berbeda dengan nenek Alma. Tak seperti biasanya, pagi ini sambil makan pun dia berbicara.


"Biar nenek saja yang mengantarkan Zero pagi ini," kata Nenek Alma sambil makan, "nenek juga sekalian memberikan donasi untuk sekolah Zer ... uhuk, uhuk ... huk!"


Belum meneruskan kalimatnya, tiba-tiba saja Nenek Alma batuk-batuk. Sepertinya ada duri yang menyangkut di tenggorokannya, membuat wanita tua itu memegang lehernya. "Uhuk, uhuk!"


"Nenek!" ucap Aluna dan semua orang yang ada di meja makan bersamaan.


Aluna langsung berdiri, berjalan cepat menuju kursi nenek. Membawakan nasi putih dan segelas air putih.


"Minum dulu airnya, Nek. Kalau masih nyangkut makanlah nasi ini, Nek," kata Aluna menyodorkan piring dan gelas. Membantu Nenek Alma minum.