
"Segera ambil dan coba sepatu itu!" Kata Tiankong, dia juga penasaran dengan kemampuan dari perangkat Armor yang dikisahkan mendekati Six Ancient Thing.
Tanpa menunda, Theo yang dari awal sudah antusias, segera mengulurkan tangannya untuk menggapai sepatu yang ada diatas altar.
"Apakah itu aman?" Namun Aria tiba-tiba bertanya. Menghentikan uluran tangan Theo.
Theo menoleh kearah Aria sebentar, kemudian berganti kearah Tiankong, untuk mendapat konfirmasi dari pertanyaan Aria.
"Ck… dasar gadis! Sungguh tak tahu bagaimana cara bersenang-senang mencari hiburan." Gerutu Tiankong.
"Hmmmm… kau mau mengerjaiku lagi?" Mendengar keluhan Tiankong, Theo kini paham masternya ini punya rencana jahil.
"Kenapa kau sering berbicara sendiri?" Mendengar Theo berbicara dengan udara kosong, Aria bertanya bingung. Sedikit takut.
Mendengar pertanyaan Aria, Theo hanya mengangkat kedua bahunya, tak berniat menjawab. Beberapa kali memang Theo lupa berbicara langsung dengan masternya, tanpa menggunakan telepati pikiran.
"Lupakan yang ditanyakan gadis ini, sepatu itu aman untuk diambil." Kata Tiankong kemudian.
"Serius?" Tanya Theo lagi, masih tak yakin.
"Hmmm… kenapa kau selalu mencurigaiku? Bukankah aku Mastermu? Sudah ambil saja, itu aman!" Dengus Tiankong, meyakinkan Theo dengan ekspresi serius.
Mendengar hal itu, Theo justru mulai tersenyum.
"Haha.. emm, itu tak akan terjadi lagi, aku tak akan terjatuh lagi dalam lubang yang sama berkali-kali!" Kata Theo.
Dia sudah sangat paham, semakin Masternya mencoba serius, maka rencana jahilnya akan semakin menjadi-jadi. Apa lagi sekarang Tiankong berusaha meyakinkan Theo dengan cara terlalu berlebihan. Sungguh mencurigakan.
'Apa kau pikir aku ini orang yang sangat idiot? Dasar Master sialan!' Umpat Theo dalam hati.
*Bleetaaakkkkkk…….!!!!
Suara pukulan terdengar keras.
"Hmmm, kau pikir dirimu itu sangat pintar dan teliti? Tapi tetap saja kau sering lupa fakta bahwa aku bisa membaca pikiranmu!" Dengus Tiankong.
Theo tak menjawab, hanya melotot kearah Tiankong, sambil menggosok-nggosok kepalanya yang sakit.
"Suara apa itu? Kenapa sering terdengar suara aneh di sekitarmu? Dan kenapa tadi kau senyum-senyum sendiri?" Aria semakin takut dengan segala hal aneh yang sering dia rasakan ketika berada bersama Theo.
"Jangan bilang kau adalah salah satu orang yang di sebut psikopat?" Tanya Aria lagi, ekspresinya kini mulai menjadi ngeri.
Mendengar hal itu. "Siapa yang psikopat hah? Bila dibandingkan denganku, ada orang lain disini yang lebih cocok dengan sebutan itu!" Bentak Theo, sambil melirik kearah Tiankong.
"Jadi, menurutmu aku seorang psikopat?" Tiankong yang menyadari lirikan Theo, kini bertanya dengan ekspresi menyeramkan.
Melihat ekspresi menyeramkan Tiankong. 'Sialan, Masterku benar-benar seorang psikopat!' Gumam Theo.
*Bleettaaaaaakkk…..!!!!!
Suara keras kembali terdengar.
"Suara itu lagi, suara apa itu? Dan siapa maksudmu disini tadi yang psikopat? Menurutmu aku seorang psikopat?"
"Aaaargggggghhhhhhh………." Theo mulai berteriak frustasi menghadapi situasi pelik di sekitarnya.
**
(Beberapa saat kemudian)
"Sudah kubilang ambil saja!" Kata Tiankong kembali meyakinkan Theo.
"Tidak….!!" Dengus Theo.
Sejurus kemudian, dia menjauh dari altar, dan mengambil sebuah batu yang berada di bawahnya. Setelah menimang batu beberapa kali, Theo melempar batu tersebut kearah sepatu yang ada di atas altar.
*Bzzzz….. bzzzz… bzzzz…. Blaaaaazzzzzttt….!!!!
Suara derakan Petir merah tiba-tiba menggema dan dengan liar menjalar kesegala arah setelah batu lemparan Theo mengenai sepatu.
Melihat hal itu, mata Theo terbelalak seketika, ternyata masih ada satu segel formasi yang belum di bongkar oleh Tiankong. Sejurus kemudian dia melihat kearah Tiankong dengan tatapan mata penuh tuntutan penjelasan.
"Ck…. Ini sungguh membosankan, kau benar-benar menghancurkan momentum inti dari sebuah hiburan!" Dengus Tiankong ketika melihat tatapan Theo.
"Master, kau… leluconmu kali ini sungguh tak lucu, apa kau ingin aku mati terpanggang?" Bentak Theo kesal.
"Kau bodoh atau apa? Dari dulu, obyek dari sebuah lelucon memang tak akan merasa bahwa lelucon tersebut lucu. Kalau kau merasa itu lucu, malah aku yang akan merasa kesal, karena gagal menjadikanmu sebagai bahan lelucon."
"Ekspresi kesalmu seperti sekarang lah yang aku tunggu.. hahahha…" Kata Tiankong, kemudian mulai tertawa ringan.
"Namun, tetap saja ini membosankan, kau mengacaukan momentum kelucuannya!" Dengus Tiankong.
"Master…!!!" Theo semakin kesal dengan jawaban Tiankong.
"Hahhhh…. Iya.. iyaa, akan kubongkar sekarang formasinya!"
Setelah berkata demikian, Tiankong berjalan mendekat ke altar, dan mulai membongkar formasi terakhir. Getaran ringan kembali terdengar menandakan Tiankong selesai membongkar formasi.
"Sudah aman sekarang, ambil saja. Lagian Petir tadi juga tak akan membunuhmu, itu cuma segel kecil terakhir. Sepertinya orang yang di sebut sebagai Knight Legendaris dalam legenda tersebut juga memiliki selera humor sepertiku."
"Dia sengaja menempatkan segel terakhir, untuk mengerjai siapa saja yang sudah berhasil membongkar formasi segel yang ada di luar." Kata Tiankong.
"Hmmmm…." Mendapat penjelasan Masternya, Theo tak memberi jawaban, hanya mendengus ringan. Dia masih kesal dengan lelucon sebelumnya.
Dia kemudian mulai maju untuk mengambil sepatu.
"Apa itu aman?" Suara Aria kembali terdengar.
"Diam!" Bentak Theo. Dia malah semakin kesal mendengar pertanyaan Aria.
"Kenapa marah-marah begitu?" Bentak Aria balik. Mulai cemberut.
"Diam, diam, diam…!!" Bentak Theo lagi, suasana hatinya masih kesal.
"Hahahhahaha…. Kalian memang pasangan terbaik! Hahahhaha….!" Melihat perseteruan Aria dan Theo, Tiankong yang merasa mendapat hiburan pengganti, tertawa lantang.
**
*Bzzz… bzzztt.. bzzzt…
Theo kini telah memakai sepatu kelas Ilahi yang diambilnya. Dengan intruksi dari Tiankong, dia mengalirkan Mana elemen petir ke sepatu tersebut. Begitu mendapat aliran Mana petir, sepatu mulai mengeluarkan suara derak ringan dan berubah warna menjadi merah cerah, elemen petir berwarna merah juga berkelap-kelip menyelimutinya beberapa kali.
"Coba gunakan teknik gerakanmu menggunakan sepatu yang telah diaktifkan!" Kata Tiankong.
Mendengar kata-kata Tiankong, Theo segera melaksanakannya.
"Kita coba trik baru apa yang bisa kulakukan dengan sepatu ini." Gumam Theo.
*Bzzzttt… bzzzttt…. Wossshhhh….
Suara derakan listrik kembali terdengar, Theo yang mengeksekusi teknik gerakan dasarnya, bergerak sangat cepat melaju kedepan. Namun, kecepatan gerakan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dia ekpektasikan.
"Sialan, ini terlalu cepat!" Pikir Theo.
*Boooommmmm……!!!
Bersamaan dengan pikiran Theo yang merasa gerakannya terlalu cepat, tubuhnya menabrak dinding ruangan dengan sangat keras.
"Uhuukkkk…!!" Theo terbatuk setelah menabrak dinding. Sepatu yang dipakainya juga perlahan mulai kembali kewujud asalnya, putih polos metalik.
"Hahhahahahha…. Hahhhaahhahah….!!" Tiankong tertawa liar ketika melihat Theo menabrak dinding.
"Pffftt… sungguh memalukan!" Sementara Aria memberi komentar sinis mengejek.
"Diam!" Mendengar hal itu, Theo kembali kesal. Sekarang dia sadar, bahwa dia telah jatuh lagi dalam perangkap lelucon Masternya.
Tiankong kemudian mulai menjelaskan. Perangkat kelas Ilahi yang di pakai Theo ini memerlukan satu set lengkap untuk memaksimalkan kemampuannya. Theo yang hanya memiliki satu buah perangkat, tentu tak akan bisa mengaktifkan kemampuannya dengan maksimal.
Ditambah dengan kelas Theo yang masih seorang Immortal, Tiankong memperhitungkan, dia hanya bisa mengaktifkan kemampuan sepatu ini sekali saja dalam sehari, itu pun dalam waktu yang sangat singkat seperti barusan.
**
Setelah mendapatkan sepatu tersebut, Theo memutuskan untuk tetap tinggal di dalam ruangan pohon kuno selama beberapa hari. Dia mencoba menstabilkan Element Seednya yang baru saja mencapai puncak kelas Immortal Bumi. Kenaikan kelas dan tingkatan yang terjadi berturut-turut dalam rentang waktu pendek, membuat Element Seed nya sedikit tak stabil.
Theo juga meluangkan waktunya dalam beberapa hari ini untuk meracik obat penawar racun dalam tubuh Aria. Karena semua bahan sudah lengkap, proses maracik ini tak terlalu sulit.