Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
281 - Provokator Ulung


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Arena Tangan Kosong)


*Booommmm…!!!


*Booommmm….!!!


*Booommmmm….!!!


Rentetan pukulan dahsyat, terdengar menggema diatas Ring Arena Tangan Kosong. Puluhan peserta saat ini tampak sedang melakukan pengejaran pada satu sosok yang terus melompat dari satu lokasi, ke lokasi lainnya dengan gesit diatas Ring.


Sosok ini tak lain adalah Razak. Peserta kuda hitam yang tengah menjadi idola seluruh penonton diatas tribun. Sejak di mulainya pertandingan, Razak yang menjadi musuh bersama seluruh petarung Arena Tangan Kosong, terus menerus menjadi bulan-bulanan target serangan.


Namun, menggunakan salah satu teknik gerakan yang ia pelajari dari Manual teknik Menempah Tubuh Surgawi yang diberikan Theo. Razak dengan gerakan gesit menghindari setiap pukulan yang terarah tepat kepadanya sesaat sebelum serangan tersebut mendarat.


Hanya saja, meskipun teknik gerakan yang mempunyai nama Langkah Menjelajah Bumi tersebut begitu cepat dan efisien, Razak hanyalah Knight dengan kelas Pioneer tahap langit, belum sepenuhnya menguasai dengan benar teknik ini, hanya dasar-dasarnya saja yang sekarang sedang ia praktekan.


Fakta tersebut yang di tambah dengan semua lawannya saat ini adalah puluhan General, membuat Razak yang menerima rentetan serangan, beberapa kali tak mampu menghindar. Berakhir merelakan tubuh kerasnya sebagai tumpuan serangan. Sebisa mungkin menangkis setiap serangan yang tak bisa ia hindari, dengan titik-titik terkuat pada tubuhnya. Yakni kedua tangan dan kaki.


Situasi tersebut, tentu saja membuat setiap penonton diatas tribun yang saat ini hampir seluruhnya adalah pendukung Razak, beberapa kali harus menahan nafas, kemudian dilanjutkan dengan menarik nafas dingin saat melihat Razak dalam beberapa momen, hampir terkena pukulan telak di area vitalnya.


*Booommm…!!!


*Booommmm….!!!


*Booommmm….!!!


Namun begitu, meski Razak saat ini tampak sedang dalam posisi terdesak, ia beberapa kali berhasil melancarkan pukulan balik kepada lawan-lawan yang baru saja memberinya serangan. Dengan cerdas melancarkan serangan menyelinap ketitik buta, yang mana mampu membuat setiap lawan yang menerimanya, terpental keluar dari atas Ring.


Kondisi ini bertahan dalam waktu yang relatif lama, seluruh peserta Arena Tangan Kosong menyerang Razak secara bersamaan dalam gelombang yang tak ada hentinya, sementara Razak memanfaatkan situasi sulit yang tengah ia hadapi dengan menyempatkan memberi beberapa pukulan balik saat melihat cela dari gerakan lawannya.


Menggunakan cara menghindar, menangkis, dan memukul balik ini, Razak tanpa terasa telah mengeliminasi hampir 50 peserta Arena Tangan Kosong. Suatu pencapaian yang benar-benar luar biasa mengingat ia hanyalah bocah 12 tahun dengan kelas Pioneer tahap langit. Sedangkan seluruh lawannya adalah Kelas General.


Pencapaian yang kini membuat seluruh penonton diatas tribun semakin tergila-gila pada Razak. Tanpa henti terus meneriakkan sorakan-sorakan dukungan pada bocah ini.


"Ohooo… Peserta Razak ini benar-benar kuda hitam spesial! Dia adalah definisi dari kuda hitamnya kuda hitam! Benar-benar tak terduga!"


Saat suasana tribun sedang panas-panasnya akibat aksi Razak diatas Ring Arena Tangan Kosong. Suara Carlos sang komentator kembali menggema.


"Aku yakin, tak ada diantara kalian semua! Satu saja yang akan menduga hal seperti ini akan terjadi! Dimana seorang bocah 12 tahun, berkelas Pioneer tahap langit, berhasil mengeliminasi hampir separuh petarung lain diatas Ring Arena Tangan Kosong!"


"Suatu pencapaian yang tak pernah terjadi dalam sejarah pertandingan Death Arena!" Seru Carlos lantang. Sebuah seruan yang segera di tanggapi oleh gelora sorakan dari atas tribun penonton.


Namun, saat Carlos dan para penonton sedang diselimuti rasa antusias yang begitu menggelora, diatas Ring Arena Tangan Kosong, situasi Razak tampak tengah tak baik. Setiap orang kini bisa melihat bocah ini sedang tersudut pada tepi Ring. Dimana seluruh peserta lain berada disekitarnya dalam posisi mengepung.


"Jangan bunuh dia dulu! Siksa sampai babak belur! Pukuli wajahnya hingga tak dapat di kenali!" Ucap salah satu peserta lain. Sambil memasang wajah geram.


Disisi lain, Razak yang kini berada di bawah puluhan tatapan mematikan terarah padanya, hanya membalas dengan tatapan sengit balik.


"Hmmmmm…. Sepertinya jagoan kita saat ini sedang terjebak dalam posisi yang tak menguntungkan! Para hadirin sekalian! Kita lihat apakah ia akan kembali memberi kita kejutan menyenangkan?" Seru Carlos. Saat melihat situasi buntu yang sedang dihadapi Razak.


Seruan yang kali ini tak di tanggapi secara antusias oleh para penonton diatas tribun. Mereka memandang dalam diam kearah Razak. Menahan nafas, menanti hasil akhir dari situasi yang tengah ia hadapi. Penasaran apakah ini akhir dari penampilan menawan Razak, dimana ia akan segera digencet habis oleh lawan-lawannya, ataukah ia akan kembali bisa lolos dari situasi sulitnya.


Bersamaan dengan seruan Carlos, para peserta Arena Tangan Kosong yang saat ini tengah mengepung Razak, tampak mulai bergerak satu langkah kedepan. Berniat kembali menyerang Razak secara bersamaan. Namun….


"Hmmm… Ini adalah batasku! Seperti kata Boss! Kelemahan terbesarku ada pada stamina yang benar-benar terbatas!" Gumam Razak.


"Sampai bertemu di Death Arena periode berikutnya!" Ucap Razak, kemudian tiba-tiba melompat mundur kebelakang. Keluar dari atas Ring.


Tindakan Razak tersebut, tentu saja menyebabkan semua orang, baik itu para penonton, dan juga peserta pertarungan Arena Tangan Kosong seketika menjadi terdiam. Tercengang dengan berbagai ekspresi berbeda menatap kearah Razak yang kini telah berada di luar Ring.


Situasi Death Arena menjadi hening, hanya menyisahkan suara benturan senjata dari 4 Arena lain yang tentu saja tak peduli dengan apa yang terjadi di atas Ring Arena Tangan Kosong. Sibuk dengan pertandingan di atas Ringnya masing-masing.


"Hahahhahha…. Hahahhaha….! Jadi itu intruksi yang diberikan Boss padamu! Benar-benar brilian! Para b4jingan Arena Tangan Kosong itu pasti sangat kesal sekarang! Hahahhaha….!"


Ditengah keheningan total, sebuah suara tawa tiba-tiba terdengar keras. Membuat setiap orang kini melihat kearah sumber suara. Yang ternyata tak lain berasal dari sesosok pria gentut. Thomas.


"Yahh… Benar-benar brilian!"


"Tindakan yang cerdas!"


"Razak sang putra dewa besi! Kau yang terbaik!"


"Lihatlah wajah konyol para petarung Arena Tangan Kosong! Hahahha….!"


Ucapan Thomas, ternyata menginisiasi hampir seluruh penonton diatas tribun, ikut memberi pujian pada langkah yang diambil Razak sebelumnya. Melompat keluar dari atas Ring saat sedang terkepung.


Disisi lain, mendengar komentar-komentar dari para penonton yang justru memuji apa yang di lakukan Razak, telinga para peserta Arena Tangan Kosong tentu saja mulai memerah.


"B4jingan! Itu adalah tindakan pengecut yang tercela! Kenapa kalian malah memujinya?" Bentak salah satu peserta Arena Tangan Kosong.


"Yahh…! Bocah ini benar-benar tak punya harga diri! Tercela sialan!" Tambah peserta lain. Dengan ekspresi wajah sangat geram.


"Bocah biadap! Kembali kesini!"


Para peserta Arena Tangan Kosong yang tak terima dengan tindakan Razak, segera memaki keras.


"Diam kalian para sampah idiot!"


Mendengar makian-makian yang di tujukan pada Razak, suara Thomas tiba-tiba kembali terdengar menggema dari atas tribun.


"Pengecut? Tercela? Tak punya harga diri? Kalian para sampah tak berhak mengatakan hal tersebut!"


"99 Knight dengan kelas General, secara bersamaan menyerang pemuda berusia 12 tahun! Dengan fakta tersebut, sudah jelas disini kalianlah sampah pengecut tercela yang tak punya harga diri sesungguhnya!" Bentak Thomas, dengan suara menggelegar.


Seruan Thomas tersebut, segera disambut oleh gelombang seruan lain dari atas tribun, seluruhnya membenarkan apa yang di sampaikan Thomas, mereka serentak membela Razak dengan memaki balik para peserta Arena Tangan Kosong.


Thomas yang saat ini berada diatas tribun penonton, menjelma menjadi provokator ulung.