Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Sebuah Janji


"Tak kusangka kau adalah lelaki cabul yang keji!" Aria berkata lirih, menundukkan kepalanya. Air mata terus keluar dari kedua matanya.


Mendengar kata-kata Aria, Theo yang masih sedikit bingung setelah bendanya di cengkram dengan keras dan ditendang Aria menjauh, segera tersadar.


"Tunggu dulu, kau salah paham! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Theo dengan panik mulai ingin menjelaskan.


Mendengar kata-kata Theo, Aria yang semula menundukkan kepala, mulai mencengkram selimutnya dengan keras, dia mengangkat kepalanya dan menatap Theo tajam.


"Salah paham macam apa? Bagaimana jelaskan kau dan aku tidur bersama dalam keadaan tanpa…."


Aria tak mampu meneruskan kata-katanya, air mata mulai mengalir lagi dari kedua matanya.


"Dasar cabul…..!!!!!" Bentak Aria.


"Aarrgggghhhhh….." Theo mulai frustasi, dia menjambak rambutnya sendiri. tak tahu harus menjelaskan seperti apa.


"Kondisi Anata dalam gerbang nafsu, Pfffttt…." Ditengah rasa frustasi Theo, suara Tiankong terdengar dari salah satu sudut gua.


Mendengar kata-kata masternya, Theo yang masih menjambak rambutnya segera menoleh, dia menatap Tiankong dengan tatapan kesal.


"Hahahhahahhaha….. sekarang apa? Kau mau menyalahkanku lagi? Hahahhaha…. " Tiankong tertawa lepas melihat ekspresi Theo. Terlihat sangat puas.


Melihat sikap masternya, Theo berusaha menekan kekesalan, kemudian mencoba mengabaikannya, dia berjalan perlahan kearah Aria yang masih menangis, ingin menenangkannya.


Aria yang melihat Theo mendekat, malah terlihat panik dan segera memalingkan wajahnya. "Jangan mendekat, jangan coba-coba menyentuhku lagi, kau lelaki cabul.!!!"


"Apa yang kau katakan? Aku hanya ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi, tenangkan dirimu!" Kata Theo ketika melihat Aria malah semakin panik.


"Penjelasan seperti apa yang ingin kau katakan dengan keadaan telanjang seperti itu!" Bentak Aria.


Mendengar hal itu, Theo baru sadar bahwa dia masih dalam keadaan telanjang. Mukanya memerah malu, kemudian tanpa menunda memakai pakaiannya lagi dengan buru-buru.


Setelah memakai pakaian, dia mengeluarkan seperangkat pakaian lain dan melemparkannya kepada Aria.


"Kenakan pakaian itu, setelah ini kujelaskan yang sebenarnya terjadi." Kata Theo.


Aria menangkap pakaian dari Theo, namun masih melotot beberapa saat, sebelum bisa sedikit menenangkan diri.


Melihat Aria belum juga keluar dari selimut dan memakai pakaian. "Tunggu apa lagi, kenakan pakaian itu." Kata Theo.


"Kau cabul tak tahu diri, segera menghadap kearah lain, apa kau berharap aku akan mau memakai baju dengan dilihat oleh tatapan mata bejatmu?" Bentak Aria.


"Ahhhh…" Theo segera sadar bahwa dia kembali bersikap bodoh. Dengan cepat dia menoleh kebelakang.


"Hmmmmm…." Aria mendengus kesal.


***


(Beberapa saat kemudian)


Aria yang kini sudah berpakaian lengkap, duduk meringkuk memeluk kakinya sendiri di salah satu pojok gua.


"Sekarang jelaskan!" Bentak Aria.


Theo mengambil langkah untuk mendekati Aria.


"Jangan pernah sekali-kali mendekat! Jelaskan saja semua dari sana!" Bentak Aria panik ketika Theo mulai mendekatinya.


"Hhaaaaahhhh…… " Theo menghela nafas. Kemudian duduk bersila di tempat.


"Hahhahahhahaha… ini semakin menarik! Hahhahaha…." Tiankong tak pernah berhenti tertawa melihat kondisi Theo dan Aria semenjak mereka berdua bangun.


"Diam kau master tak tahu diri!!!" Theo yang mulai tak tahan mendengar tawa masternya dari waktu ke waktu mulai membentak kesal.


"Hahhahahahhahhahha…. Malah semakin menarik, hahhahahhaha…." Tiankong malah tertawa lebih keras dibentak oleh Theo.


"Aaarrgggghhhhh……" Theo semakin frustasi dengan keadaanya, dan kembali menjambak rambutnya.


"Hahhahahahhah….." Tiankong kembali tertawa menyebalkan.


***


Butuh beberapa waktu, sampai Theo selesai menjelaskan semua situasi canggung yang baru saja terjadi.


Setelah Theo selesai menjelaskan, Aria bukannya tenang malah terlihat kebingungan.


"Tetap saja, meskipun kau berusaha menyelamatkanku, itu tak melepaskan fakta bahwa kau telah melihat semua bagian tubuhku!" Kata Aria lirih.


"Dan, dan.. dalam proses menyembuhkanku, kau bilang kau harus tidur dalam kondisi telanjang dengan memelukku?"


"Itu berarti kau telah merasakan semua bagian dari tubuhku.." Kata Aria lagi, semakin lirih. Kemudian dia mulai kembali menangis.


Mendengar hal itu, Theo mulai sedikit panik lagi. "Kau salah sangka, aku sama sekali tak menodai kesucianmu. Aku hanya memelukmu, tak lebih." Kata Theo.


Mendengar kata-kata itu, tangis Aria semakin menggebu. "Tetap saja, kau telah menyentuh semua bagian tubuhku!" Bentak Aria, kali ini terlihat marah.


"Ahhh ituuu…." Theo kehabisan kata-kata, tak bisa memberi penjelasan.


"Kau harus bertanggung jawab. Kau harus bertanggung jawab…!!!" Tangis Aria semakin pecah.


"Bertanggung jawab? Apa maksudmu? Bagaimana aku harus bertanggung jawab?" Tanya Theo. Dia bingung dengan tuntutan Aria.


Mendengar pertanyaan Theo, tangis Aria tiba-tiba berhenti. Dia menatap Theo dengan tatapan tajam yang menyeramkan.


"Jadi, kau tak mau bertanggung jawab?" Tanya Aria.


Setelah bertanya demikian, Aria mulai bangkit berdiri, dia mengeluarkan sebuah pisau dari cincin spacialnya dan dengan cepat melompat kearah Theo.


Theo yang tak siap dengan gerakan tiba-tiba Aria, terperangkap lengah, tak mampu menghindar. Dia jatuh terlentang dengan Aria menindih tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Theo panik, dia bisa melihat Aria mengangkat pisaunya. Mentatap tajam kearah Theo, mengarahkan pisau di area tengah kedua kakinya. Tepat diatas benda kejantanannya.


"Katakan padaku? Kau benar-benar tak mau bertanggung jawab?" Tanya Aria lagi, dia menekan setiap kalimat dalam kata-katanya dengan dingin.


"Apa sebenarnya yang kau maksud degan bertanggung jawab?" Theo bertanya lagi dengan panik, hawa dingin menyelimuti area kejantanannya.


Entah kenapa dia bisa merasa, bila ia berusaha berontak sekali saja, pisau yang berada tepat diatas bendanya akan bergerak kebawah. Theo tak berani membayangkan bila hal itu benar-benar terjadi.


"Bagus, kau masih tak mau bertanggung jawab! jika memang begitu, maka tak ada gadis lain yang boleh memiliki ini. Lebih baik aku memotongnya sekarang juga!" Kata-kata Aria semakin dingin, dengan penekanan-penekanan yang menyeramkan.


Selesai berkata demikian, pisau ditangan Aria mulai bergerak turun. Theo bisa merasakan ujung dingin pisau Aria menyentuh bendanya.


"Tunggu, tunggu dulu! baiklahh, baiklahhh! aku akan bertanggung jawab, aku akan bertanggung jawab!" Teriak Theo dengan panik.


"Hmmmmm…. Benarkah?" Aria menghentikan gerakan turun pisau di tangannya. Dan kembali bertanya memastikan.


"Benar.… Benar…! aku berjanji... Aku berjanji..!" Theo yang merasa sedikit lega setelah pisau berhenti bergerak, segera memberi jawaban.


"Kalau memang benar begitu, berjanji dengan benar!" Kata Aria lagi.


"Aku berjanji, aku akan bertanggung jawab. Bila aku tak bertanggung jawab, maka langit akan menghukumku mati dengan menggenaskan dan tak mampu mencapai semua apa yang ku impikan!" Kata Theo terburu-buru.


Begitu Theo selesai berkata demikian, suara gemuruh tiba-tiba terdengar. Langit mulai menggelegar dengan keras.


Melihat fenomena aneh itu, Tiankong yang awalnya tertawa terpingkal-pingkal disalah satu sudut gua tiba-tiba berubah serius ekspresi wajahnya. Dia mulai berdiri dari tidur santainya dan mendekat kearah Theo.


"Anak muda, itu tadi benar-benar berbahaya, kau telah berjanji kepada langit dan secara tak sengaja membentuk iblis hati." Kata Tiankong serius.


"Dengan begini kau tak bisa menarik lagi kata-katamu." Tiankong menatap Theo tajam.