Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
407 - Feizel V.S Shadex


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Apa itu tadi? Apa kau sudah kehilangan akalmu?" Bentak Feizel. Sambil menatap tajam kearah Shadex.


"Hmmmm… Berani sekali kau menyerangku! Mau mati?" Dengus Shadex, kini mulai berdiri kembali.


"Kau pikir aku takut padamu?" Ucap Feizel, kemudian tanpa memberi peringatan apapun, menerjang kearah Shadex, hendak kembali memberinya tendangan keras.


Namun, sepersekian detik sebelum tendangan Feizel mendarat pada dada Shadex, ia dengan cepat membentuk satu kubah pelindung dari aliran Mana Besi yang bergerak di sekitar tubuhnya.


*Baaangggg…..!!!!


*Boooommmmmm…..!!!


Besi dan besi bertemu. Feizel dengan kaki kadal metaliknya, membentur kubah besi solid yang dibentuk Shadex. Menyebabkan satu suara keras yang begitu memekakkan telinga.


"Mati!" Gumam Shadex, dengan cepat melancarkan serangan balik berupa sabetan-sabetan pedang tipis yang ia ciptakan dari aliran Mana Besi saat telah berhasil sepenuhnya meredam serangan Feizel.


*Dentang….!!!!


*Dentang…..!!!!


*Dentang…!!!!


Namun, serangan-serangan yang di lancarkan oleh Shadex, dapat diredam pula oleh Feizel menggunakan pertahanan tubuhnya yang kini berupa manusia setengah kadal metalik.


"Arrrggggghhh….!!! Kenapa kau tak mati juga!" Bentak Shadex, saat melihat Feizel ternyata mampu bertahan.


Bagaikan sedang dirasuki oleh iblis, Shadex yang tampak sangat marah, kembali membentuk pedang-pedang tipis dari aliran Mana Besi. Kali ini berjumlah puluhan sekaligus. Tanpa berkedip, secara membabi-buta melempar puluhan pedang tipis tersebut kearah Feizel.


"Mati…!!!"


"Mati….!!!"


"Mati…!!!"


*Dentang….!!!


*Dengang….!!!


*Dentang….!!!


Serangan bertubi-tubi yang dilancarkan oleh Shadex, tentu saja menyebabkan Feizel hanya mampu mengambil sikap pasif. Meskipun tubuh kerasnya masih bertahan, namun ia tampak kesulitan untuk bisa lepas dari gempuran Shadex.


"Sialan! Benar-benar tak bisa di diamkan! Kau yang memaksaku!" Bentak Feizel.


Bersamaan dengan bentakannya tersebut, aliran Mana api, salah satu dari jenis Mana pada dual Element Seednya, tiba-tiba meledak keluar. Membasuh seluruh tubuh metalik Feizel dalam selimut api membara.


Kobaran api liar yang menyelimuti seluruh tubuh Feizel, kini membuat tubuh Kadal metaliknya mulai berubah bentuk. Yang awalnya berwana putih silver. Kini menjadi kemerahan. Asap tebal juga mulai membumbung tinggi dari ujung kepalanya.


"Teknik Menempa Tubuh Membara!" Ucap Feizel. Seraya kemudian melaju cepat kedepan. Menghempaskan puluhan pedang besi tipis yang dilemparkan Shadex kearahnya dengan dua tangan yang menyala terang. Bagaikan besi yang sedang di lebur dalam tungku penempaan.


Disisi lain, Shadex yang melihat lawannya mampu menepis semua serangannya dengan cukup mudah, kini tampak semakin marah. Ia kemudian membuat satu gerakan tangan cepat. Mengambil satu kuda-kuda serangan.


Dan bersamaan dengan kuda-kuda yang ia buat, aliran Mana Besi yang sebelumnya tersebar di sekitar, kini mulai terkumpul di satu tempat. Terkompres dan membentuk sebuah pedang raksasa yang melayang tepat diatas kepala Shadex.


Melihat pedang raksasa tersebut, ekspresi wajah Feizel segera berubah serius. Ia kemudian dengan cepat mengalirkan Mana Besi membara yang ada di dalam tubuhnya, terfokus pada kedua kepalan tangan.


"Teknik Menempa Tubuh yang Membara! Tinju Matahari!" Seru Feizel.


Menyadari pedang raksasa kini menargetkan dirinya, ia tampak tak gentar sama sekali, justru mulai mempercepat gerakannya. Melaju kencang kedepan sambil mengarahkan dua kepalan tinjunya yang kini berwarna merah terang dan diselimuti kepulan asap, untuk menyambut pedang raksasa yang dilempar Shadex.


*Boooommmm….!!!!


Tak berapa lama kemudian, benturan keraspun tak terhindarkan ketika dua teknik akhirnya bertumbuk satu sama lain. Menyebabkan getaran hebat yang mana menggoncang serta menghancurkan deretan tebing di sekitar lokasi pertarungan.


Pedang raksasa hancur berantakan, sementara Feizel yang tinjunya baru saja bertemu dengan pedang tersebut, kini tampak terus melaju menembus kepulan asap yang masih membungkus lingkungan tempat terjadinya benturan hebat tadi. Meskipun memang dalam kondisi tubuh penuh bekas luka. Namun, ia tampak masih memiliki cukup tenaga untuk mempertahankan tekniknya. Sampai kemudian….


*Baaaammmmm….!!!


Laju Feizel yang tak terhentikan, akhirnya benar-benar berhenti saat tinju tangan kanannya, berhasil mendarat tepat pada dada Shadex. Menyebabkan Shadex segera terlempar agak jauh kebelakang sambil memuntahkan darah segar.


Shadex yang tadi memfokuskan semua simpanan Mana untuk mengeksekusi tekniknya, berakhir tak memiliki sisa Mana yang dapat digunakan untuk membuat teknik pertahanan. Menyebabkan ia harus rela menerima tinju Feizel dengan telak.


Namun, meskipun berhasil mendaratkan serangan, nyatanya bobot dari tinju Feizel sendiri, telah berkurang secara signifikan akibat tadi harus menghancurkan teknik pedang raksasa Shadex terlebih dahulu.


"Tinjumu tak memiliki bobot!" Gumam Shadex, sambil memegang dadanya.


"Hahh…! Sama halnya dengan teknik seranganmu yang berbentuk pedang raksasa tadi!" Gumam Feizel. Sambil memegang tangan kanannya yang saat ini bergetar hebat.


Meskipun kedua orang ini tampak saling menghina satu sama lain, dan mencoba terlihat sedang tak menjadi pihak yang di rugikan dalam bentrokan yang terjadi, namun fakta yang terpampang justru sebaliknya. Keduanya sekarang sedang berjuang untuk bisa tetap berdiri tegak. Sama-sama menerima luka parah di tubuh masing-masing akibat benturan antar teknik andalan di saat terakhir.


Sementara itu, saat Shadez dan Feizel masih saling tatap satu sama lain dengan pandangan bengis penuh nafsu membunuh, disekitar lokasi pertarungan, anggota kelompok Bandit Serigala yang seharusnya mereka pimpin, kini hanya bisa memperhatikan dengan tatapan bingung saat tiba-tiba mendapati kedua pemimpin divisinya justru mulai bertarung satu sama lain.


"Bagaimana ini? Boss sedang kambuh!" Ucap salah satu dari 3 gadis kecil kembar anak buah Shadex.


"Apa perlu kita memanggil Boss Besar?" Tanya gadis kembar lainnya.


"Mana sempat!" Ucap gadis kembar ketiga.


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Jelas sekali tak mungkin untuk masuk kesana dan melerai keduanya!" Tanggap gadis kembar kedua yang tadi sempat bertanya.


"Aku juga tak tahu!" Dengus gadis kembar ketiga, dengan raut wajah bingung.


"Ahhh tidak! Mereka akan mulai saling serang lagi!" Ucap gadis kembar pertama. Saat melihat, baik itu Shadex ataupun Feizel, kembali menghimpun Mana masing-masing.


"Kepribadian Boss yang ini benar-benar merepotkan! Selalu saja menyebabkan masalah tak jelas!" Ucap gadis kembar kedua.


"Ohhhh… Jadi Shadex punya dua kepribadian?" Tanya seseorang dibelakang tiga gadis kecil kembar.


"Bukan hanya dua! Melainkan tiga!" Jawab gadis kembar pertama.


"Sungguh menarik!" Tanggap seseorang yang tadi bertanya.


Mendengar jawaban tersebut, tiga gadis kembar yang kini tiba-tiba penasaran dengan siapa yang masih bisa bertanya menggunakan nada santai di situasi seperti ini, segera menoleh secara serentak.


Dan begitu melihat siapa sebenarnya orang yang sedang berdiri dibelakang, mata ketiganya segera melebar. Tak menyangka orang ini akan hadir.


"B-Boss Besar! Kau sungguh hadir disaat yang sangat tepat! Tolong hentikan Boss Shadex!" Ucap gadis kembar ketiga, saat menyadari keberadaan Theo.


"Tenang saja! Serahkan padaku! Sekarang kalian urus dan amankan anggota kelompok aliansi Bandit Racun Abadi yang ada disekitar!" Ucap Theo. Tatapannya masih terfokus kearah Shadex dan Feizel yang sekarang tampak sudah akan saling serang lagi.


"Saat tadi merasa ada benturan antar aura Mana Besi intens, kukira ada kejadian apa!" Gumam Theo. Tatto segel merah darah mulai terbentuk pada keningnya.


"Formasi segel Tuan-Hamba!"


"Pengekang!" Gumam Theo. Begitu tatto merah darah telah terbentuk dengan sempurna.


Bersamaan dengan gumaman Theo, suara teriakan lantang Feizel dan Shadex yang terdengar sangat kesakitan, kini menggema begitu memilukan. Efek dari aktifnya teknik pengekang, yang mana digunakan Theo untuk meremas-remas Element Seed milik keduanya.