Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Spin Off - Gregoric Alknight : Sang Perkasa (1)


*Booooooommmmmm


Suara ledakan keras terdengar menggebu, debu-debu bertebaran sepanjang mata memandang. Setelah beberapa saat, dibawah pengaruh angin yang juga menderu, debu-debu mulai diterbangkan menghilang. Kali ini setiap orang bisa melihat pemandangan di balik kepulan debu tersebut.


Seorang pemuda kekar berambut putih, menggunakan jubah lebar yang membuat sosoknya terlihat sangat terhormat terlihat sedang berdiri ditengah kepulan debu. Pemuda ini masih dalam bentuk Meridian Knightnya. Badan kekarnya di penuhi bulu putih, dengan taring-taring tajam menonjol dari mulutnya, pemuda ini terlihat sangat gahar.


Dihadapannya, sesosok spirit Beast berbentuk Banteng raksasa sedang menggeliat meregang nyawa.


"Seperti biasa, Brother Gregor sangat bisa diandalkan." Kata salah satu pemuda yang berdiri agak jauh dari kepulan debu.


"Ya, Brother Senior Gregor memang yang terbaik, dia sangat keren." Seorang wanita muda yang berdiri disamping sang pemuda, ikut berkomentar. Matanya berkilau penuh kekaguman dan penyembahan ketika melihat sosok Gregoric.


"Hahhaha, kalau itu kau, aku tak akan pernah menanyakan pendapat, apapun yang dilakukan Brother Gregor, selalu saja tampak keren menurutmu." Jawab pemuda tersebut lagi.


Ketika kedua pemuda dan pemudi ini tengah asyik mengobrol, Gregoric terlihat berjalan mendekati mereka berdua.


"Brother Asley, Sister Junior Sasha, dengan berhasil ditaklukannya Banteng Tanah Liat barusan, salah satu list dalam tugas ujian kita telah selesai." Kata Gregoric ketika sudah berada dihadapan dua orang tersebut.


"Yahh, memang tak salah aku menerima tawaran membentuk tim denganmu saudaraku." Jawab Asley menepuk pundak Gregoric.


Sementara Sasha segera memeluk pergelangan tangan Gregoric ketika dia berada di hadapannya.


"Brother Senior, apa kau merasa lelah?" Tanya Sasha manja.


"Hahhaa, itu bukan masalah berarti, tak akan pernah bisa membuatku lelah." Jawab Gregoric.


"Hal seperti ini tak akan pernah bisa menahanku, aku akan menjadi lebih, dan lebih kuat lagi. Aku masih merasa belum cukup kuat untuk saat ini." Gregoric melanjutkan, tatapan matanya tiba-tiba menjadi lebih tajam ketika mengatakan hal itu.


"Saudaraku, sebenarnya hal apa yang membuatmu seperti ini, kau terlalu memaksakan dirimu beberapa tahun terakhir ini." Kata Asley.


"Sebagai salah satu sahabatmu, aku harus memberimu sedikit saran, berlatih keras memang bagus, tapi kau juga harus santai sedikit."


"Aku mulai merindukan sikap santaimu yang telah lama hilang." Asley menutup kata-katanya dan mulia berjalan kearah Banteng Tanah Liat yang telah di taklukan Gregoric.


"Yahh, itu benar, santai lah sedikit Brother Senior Gregor." Tambah Sasha, masih memeluk manja pergelangan tangan Gregoric.


"Hahhh, tidak bisa, aku harus bertambah kuat dengan cepat, ini berhubungan dengan masalah keluargaku, dan aku tak ingin membebani kalian dengan cerita rumit ini." Kata Gregor.


"Yahh lupakan saja, kau selalu saja berkata seperti itu bila aku bertanya. Anggap saja aku tak pernah bertanya." Kata Alsey. Dia kemudian mulai mengambil Kristal Beast dari Banteng Tanah Liat yang ada di hadapannya.


"Maafkan aku." Jawab Gregoric. Terlihat bersalah.


"Jangan pasang muka bersedih begitu Brother Senior, apapun yang terjadi, kami akan terus mendukungmu." Sasha mencoba bergeliat manja untuk menenangkan Gregoric ketika melihat titik-titik tekanan dari raut wajahnya.


"Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi, tiap kali kita membahasnya, suasana hanya akan menjadi suram." Kata Asley.


"Bukankah itu kau yang selalu saja membahas maslah ini!" Bentak Sasha.


"Hahahha, iya.. iya.. maaf."


"Brother Gregor, bagaimanapun juga, kita bisa menaklukan Banteng ini dengan lebih mudah berkat kau. Ini perlu di rayakan. Ujian tahun ini benar-benar melelahkan dan membosankan." Kata Asley.


"Jangan berkata begitu, aku hanya menjadi eksekutor penghabisan, bila bukan kau yang dengan lihai memancing banteng ini menggunakan teknik gerakanmu yang luar biasa."


"Dan bila bukan karena Sister Junior Sasha yang telah menyiapkan formasi jebakan. Banteng ini tetap saja akan susah ditaklukan olehku." Jawab Gregoric. Dia tak mau menerima semua kredit atas kesuksesan misi hanya untuk dirinya sendiri.


"Tapi, bukankan lebih baik kita segera menyelesaikan ujian dan mencari List selanjutnya dalam tugas." Kata Gregoric.


"Sudahh, tak ada tapi tapi, sekarang saatnya perayaan." Sasha mulai merengek.


"Hahhaha.. waktunya perayaan." Asley tertawa keras dan mulai memotong bagian-bagian tubuh Banteng Tanah Liat.


"Kudengar Banteng ini memiliki rasa yang sangat nikmat, malam ini kita habiskan untuk pesta Banteng panggang." Asley terlihat sangat bersemangat.


"Hahhh, kalian ini." Gregoric tak bisa membantah lagi, dia mulai tersenyum melihat sikap kedua rekannya ini.


**


Ketiga orang dalam kelompok telah menyelesaikan memotong semua bagian Banteng yang menurut mereka bisa dimakan. Pada malam hari mereka membuat api unggun dan memulai memanggang daging banteng.


Ketiga nya asyik bersenda gurau dalam suasana hangat merayakan keberhasilan menyelesaikan misi malam itu, mereka memakan daging Banteng dengan lahap, seperti orang yang tak pernah memakan apapun dalam beberapa hari.


Memang, dalam beberapa hari belakangan, ketiga orang dalam tim ini tidak sempat memakan makanan dengan layak, mereka hanya mengandalkan roti kering yang telah mereka siapkan sebelum memulai ujian.


Kedua orang yang sedang bersama Gregoric saat ini adalah rekan tim yang dia bentuk untuk menyelesaikan ujian akhir semester akademi. Setiap murid harus menyelesaikan ujian ini untuk mendapatkan nilai akhir yang akan mempengaruhi status dan kelas mereka di akademi pada tahun berikutnya.


Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi juga status dan kelas mereka. Semakin tinggi status dan kelas, semakin banyak sumber daya yang mereka peroleh dari akademi. Selain itu mereka jiga akan berkesempatan di beri arahan langsung dari tetua atau master kelas atas yang ada di akademi.


Oleh karena itu, setiap siswa akademi yang melaksanakan ujian akhir akan memberikan semua upaya yang mereka punya untuk mendapatkan nilai setinggi-tingginya.


Ujian akhir sendiri dilaksanakan pada tempat khusus dalam akademi yang dinamakan dengan Menara Surga, menara ini memiliki 10 tingkat. Dan setiap tingkat memiliki Spirit beast dengan kelas yang semakin tinggi. Untuk saat ini, siswa tahun Gregoric sedang melaksanakan Ujian dalam lantai Tiga di Menara Surga.


Setiap siswa akan diberi waktu membentuk tim untuk menyelesaikan ujian tahap ini, dan setiap tim akan bersaing dalam tabel peringkat. Tim mana yang paling cepat menyelesaikan semua list tugas dalam misi mereka, akan menduduki peringkat tertinggi dalam tabel. Untuk saat ini, tim Gregoric menempati peringkat kedua dari 20 tim yang berpartisipasi.


Pada malam ini, ketika udara semakin dingin di tengah larutnya malam, Gregoric dan timnya yang telah selesai berpesta akan mendirikan tenda untuk beristirahat. Namun, ketika mereka mulai mengeluarkan peralatan tenda…


*Woosshhhhhh… Woooshhhh…..


*Sriiingggg……


Suara lompatan beberapa orang terlihat mendekati posisi Gregoric dan timnya, diikuti dengan suara lemaparan senjata rahasia.


*Taannggg… taanggg….


Gregoric yang siaga sepanjang waktu dengan sigap menangkis semua senjata rahasia yang dilempar kearah kelompoknya menggunakan tongkat sanggahan tenda.


"Siapa itu?" Bentak Asley.


"Hahahahha… kenapa terkejut begitu." Kata salah satu orang dari 9 orang yang kini terlihat mengepung tim Gregoric.


"Hmmmm…. Lagor Estrabat. Selalu saja membuat masalah." Gregoric berkata dingin ketika melihat salah satu orang dari kelompok orang yabg mengepungnya.


"Hahhahah, Gregoric sang perkasa, lama tak jumpa." Jawab Lagor, dengan senyum dingin.


------


Part 2 nya besok