Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Kabut Lagi


Catatan Penulis :


Selamat malam kawan-kawan, sekali lagi penulis menyapa kawan-kawan pembaca semua. ^^


Dalam catatan kali ini, pertama-tama penulis kembali ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada kawan-kawan pembaca semua yang telah berkenan meluangkan waktu untuk membaca, dan sejenak menyempatkan memberi like, komentar, dan juga Vote untuk karya penulis ini.


Dan tolong juga sempatkan untuk memberi penilaian yah, agar bintang nya agak lebih tinggi lagi, supaya lebih banyak yang tertarik untuk meluangkan waktunya membaca karya penulis, dengan begitu semoga akan lebih banyak lagi yang merasa terhibur dengan anak pertama penulis ini.


Selanjutnya, tujuan penulis membuat note kali ini, ingin mengumumkan bahwa 3 besar Vote yang memenangkan jumlah Vote terbanyak sehingga berhak menerima karya Spin Off eksklusif yang akan dikirim penulis melalui Email. Selain itu, akan ada tiga pemenang tambahan yang penulis pilih secara acak dari mereka yang menurut penulis, paling sering nongol di kolom komentar dan serta vote.


Btw, karena penulis membutuhkan sarana komunikasi, maka bagi mereka yang memenangkan jumlah vote tertinggi, namun tak memfollow back penulis, maka mereka akan gugur dan di gantikan peringkat bawahnya.


Terakhir, penulis ingin kembali sedikit menjelaskan apa itu Karya "Spin Off", mungkin ada beberapa yang belum memahaminya, bila kawan-kawan sudah paham, silahkan skip saja.


Spin Off adalah chapter sampingan yang masih berhubungan dengan cerita utama, namun tidak di ceritakan dalam cerita utama tersebut. Sebagai contoh untuk memudahkan, pemenang minggu lalu mendapat karya Spin Off berjudul:


-Gregoric Alknight : Sang Perkasa


Dalam chapter tambahan tersebut, menceritakan kondisi Gregoric yang tengah melakukan Ujian penilaian akhir tahun di Akademi Surga, ujian ini dilaksanakan pada suatu tempat yang di sebut Menara Surga.


Oke, tak berlama-lama lagi, ini dia pemenang tiga besar vote tertinggi.



Novian Wahyu S (4080 Vote).


BangUcup (4010 Vote).


Asya (3600 Vote).



Pemenang acak



Arkhoniz 333 (Vote minggu ini)


Ati Winarti (Vote minggu ini)


NadiaAja (Vote minggu ini)


Aku (Kolom komentar)


Tio Adrael (Kolom komentar)


Muhammad Hendri (Kolom komentar)



Sekian pengumuman hari ini, selamat bagi 9 orang yang memenangkan karya eksklusif Spin off minggu ini, selamat menikmati ^^


-----------


"haahhh… itu tadi berbahaya! Setelah ini, berhenti bersikap seenaknya sendiri! Kau membahayakan nyawa semua orang!" Bentak Aria kepada Theo, setelah mereka berada diwilayah aman.


"Hmmm… aku sudah memperhitungkan semuanya, peluang kita untuk lolos dari situasi tadi setidaknya 60%!" Jawab Theo santai.


"60%? Kau bilang 60%? Itu adalah angka yang rendah bila menyangkut situasi dengan taruhan nyawa!" Bentak Aria lagi, tampak semakin marah.


"Ahhh, sudahlah! Yang penting kita sudah berhasil keluar dari situasi tadi dengan kondisi bagus! Kenapa kau lama-lama semakin cerewet saja!" Dengus Theo.


"Boss…!"


Arthur yang dari tadi diam saja, kini tiba-tiba memanggil Theo.


"Itu wajar aku cerewet! Kau selalu saja bertindak seenaknya sendiri!" Aria masih tampak tak puas, kembali membentak Theo.


"Sudah diam! Bersamamu membuat kepalaku selalu pusing!" Kali ini Theo ikut membentak.


"Boss..!!!"


Arthur yang tidak diperdulikan, kembali memanggil Theo.


"Kau yang diam!" Bentak Aria, tak mau kalah.


"Hahh… kauu….


"BOOSSS….!!!"


Merasa tak di perdulikan, Arthur kembali memanggil, kali ini dengan suara keras.


"Apaa….!!!" Bentak Theo dan Aria secara bersamaan kearah Arthur.


Arthur tersentak sedikit, merasa kaget di bentak bersamaan oleh Aria dan Theo, dia kemudian memasang wajah kesal


"Ada apa dengan kalian ini! Belum juga menikah, sudah bertengkar seperti suami istri! Lihatlah kesana!" Kata Arthur. Sambil menunjuk kesatu arah.


Mendengar itu, Theo dan Aria segera melihat kearah yang ditunjuk Arthur.


"Itu lagi?" Kata Aria.


"Sialan…!!!" Theo mengumpat.


Dihadapan mereka saat ini, Kabut Mistis Abadi yang sebelumnya menjadi penyebab kelompok mereka tersesat, kini tampak muncul kembali. Bergerak dengan lambat tapi rapat menutup semua area.


"Bagaimana sekarang?" Tanya Aria.


"Mau bagaimana lagi?" Jawab Theo. Sejurus kemudian dia mengaktifkan teknik Ice Projectionnya. Membuat area sekitar mereka terselubung.


"Ini percuma, sebelumnya juga kita tetap dipindahkan ketempat lain bukan?" Tanya Aria, merasa teknik Theo tak terlalu membantu dalam situasi ini.


"Hmm... itu masih lebih baik, dari pada kita terus di bawah oleh kabut ini kemanapun mereka pergi, tak bisa keluar! Dengan teknik ini, mereka akan mengabaikan kita setelah beberapa waktu." Kata Theo, menjawab keraguan Aria.


Hening beberapa saat, ketika kabut mulai menyelubungi kubah penyamaran Theo. Setiap orang seperti sepakat untuk tak membuat suara sama sekali, entah kenapa dalam kondisi tak bisa melihat apapun, membuat suasana hati setiap orang tak nyaman dan takut.


Setelah beberapa saat, Kabut Mistis Abadi yang seperti memiliki kehidupan sendiri ini, mulai mengabaikan keberadaan kelompok Theo. Berjalan menjauh meninggalkan kubah penyamaran tertinggal di belakang.


"Apa maksudmu?" Tanya Aria.


"Ketika dalam kondisi terselubung, kita secara tak sengaja terbawa oleh kabut tersebut, karena kabut tersebut tak bisa mendeteksi keberadaan kita!"


"Jadi bisa kau bayangkan, bila kabut ini mendeteksi keberadaan kita, bisa-bisa kita akan terjebak selamanya di dalam sana! Tak bisa keluar dan terbawa kemanapun kabut bergerak." Kata Theo.


"Terjebak di dalam sana selamanya? Boss… itu sangat mengerikan!" Kata Arthur, dia tak bisa membayangkan harus terjebak selamanya di dalam kabut mengerikan tersebut.


"Sudahlah, sebaiknya sekarang kita periksa lokasi sekitar, mungkin kita dipindahkan kedekat pintu masuk!" Ujar Theo, memberi pendapat.


***


(Setelah beberapa saat.)


"Boss.. sepertinya kita masih terjebak di tempat antah-berantah." Kata Arthur, ketika selesai memeriksa lokasi sekitar. Dan menyadari mereka masih berada di tempat yang sama sekali asing.


"Yahh, aku juga sudah memeriksa area lainnya, namun tak ada tanda-tanda pintu masuk tempat awal kita, maupun keberadaan rombongan House Braveheart." Kata Theo. Sebelumnya mereka memang membagi tugas untuk memeriksa area yang berbeda.


Tak lama setelah Theo dan Arthur saling tukar informasi, Aria yang juga telah selesai memeriksa area lain, mendarat dengan mantap di samping Theo.


"Bagaimana?" Tanya Theo.


"Hmmm… kita masih tersesat!" Jawab Aria singkat.


"Hahhh… menyusahkan sekali." Dengus Theo.


"Tapi, diwilayah yang kuperiksa tadi, aku menemukan sebuah gua aneh!" Kata Aria.


"Gua aneh?" Tanya Theo penasaran.


"Yah, gua ini memiliki pintu masuk yang tak terlalu besar. Sekilas tampak biasa saja! Namun, ketika aku hendak mendekat untuk memeriksa lebih jelas, Kabut yang kau sebut, sebagai Kabut Mistis Abadi sebelumnya, keluar dari dalam sana!" Jawab Aria.


Mendengar itu, Theo segera mengerutkan keningnya. Terlihat sangat tertarik.


Berbeda dengan Theo yang terlihat tertarik, Arthur yang menangkap ekspresi Theo, memasang wajah cemas.


"Boss.. jangan bilang kau ingin mengajak kita memeriksa gua itu!" Tanya Arthur, cemas.


"Hahhaha…. Kenapa cemas begitu? Apa kau takut?" Tanya Theo.


"Takut? Siapa yang takut?" Dengus Arthur.


"Sudahlah, aku memang ingin memeriksanya, namun aku tak pernah bilang untuk memaksamu ikut!" Kata Theo, memasang wajah meremehkan kearah Arthur.


"Apa-apaan wajahmu itu? Siapa bilang aku takut!" Bentak Arthur, kini terlihat sangat kesal.


"Hmmm… dasar kekanakan! Kalau takut kenapa juga tak mau mengakui!" Kali ini Aria ikut berbicara. Juga dengan memasang ekspresi meremehkan.


"Kalian! Siapa bilang aku takut? Ayo cepat kita periksa gua sialan ini! Nenek sihir, cepat tunjukan jalannya!" Dengus Arthur, kearah Aria.


"Siapa yang kau sebut nenek sihir!" Bentak Aria, sejurus kemudian mulai mengeluarkan dua pisau kecil kesayangannya.


"Kau pikir aku takut denganmu!" Bentak Arthur balik, mulai membentuk Dark Ball di tangannya.


Melihat kedua orang di hadapannya terlihat akan segera bertengkar lagi, Theo hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Kedua orang ini sudah sering bertarung beberapa kali, dan keduanya berimbang satu sama lain. Meskipun Aria berada di kelas yang lebih tinggi dari Arthur, namun Arthur dapat mengimbanginya karena memiliki atribut kegelapan.


***


(Lokasi sekitar pintu masuk gua)


Saat ini, kelompok Theo sedang mengamati gua aneh yang dimaksud oleh Aria sebelumnya. Seperti kata Aria, gua ini tampak biasa saja, pintu masuknya bahkan bisa dikatakan sangat kecil, hanya cukup untuk di masuki satu orang.


Theo memilih untuk mengamati terlebih dahulu dari jarak aman, karena bila yang dikatakan Aria benar, bahwa gua ini tempat keluarnya Kabut Mistis Abadi, akan berbahaya bila kabut itu tiba-tiba keluar dan menjebak mereka ketika tak siap.


Dan benar saja, setelah beberapa saat mengamati, segumpal kabut keluar dari mulut gua, terbang dengan agak cepat meninggalkan gua, menuju suatu arah.


"Jadi begitu!" Kata Theo, setelah melihat kabut tersebut.


"Yahh.. seperti itu!" Tiankong tiba-tiba muncul dan ikut memberi tanggapan.


"Master! Berhenti keluar tiba-tiba seperti itu! Kau membuatku kaget!" Bentak Theo.


*Bleeetakkkk….!!


"Kau sudah berani membentakku sekarang?" Dengus Tiankong.


"Aaarrgggg…..!!!" Theo tak berani menjawab. Hanya bisa memberi ekspresi kesal.


*Bleeetakkkk….!!!


"Berani memasang ekspresi seperti itu di dahapanku sekarang?" Dengus Tiankong lagi.


"Sialann….!!! Bilang saja kau hanya mencari alasan untuk memukulku! karena sudah lama tak melakukannya!" Bentak Theo, sudah tak tahan dengan kelakuan Masternya ini. Sambil menggosok-gosok dan melindungi kepalanya. Bersiap menerima pukulan lain.


"Buuuuukkkkkk……!!!


Namun kali ini pukulan mendarat di pantatnya.


"Hmmm… memang seperti itu! sudah lama aku tak memukulmu, terus kau mau apa?" Dengus Tiankong lagi.


Theo yang mendengarnya, kini hanya bisa mengusap pantatnya yang sangat panas, menelan semua kekesalannya dalam hati, tak berani membantah.


"Hmmm… sudah, berhenti membuat lelucon! Sebaiknya kita periksa gua itu!" Kata Tiankong kemudian.


Mendengar itu, sudut-sudut mata Theo segera berkedut. 'Sialan! Siapa disini yang dari tadi membuat lelucon, dasar sinting!' Dengus Theo dalam hati.


*Bletakkkkkk….!!!


"Kau lupa kalau aku bisa membaca pikiranmu?" Tanya Tiankong.


Mendengar itu, Theo yang tak tahu harus bagaimana lagi, hanya bisa memasang ekspresi kosong. Sambil menggosok-gosok kepalanya.


"Hmmmm… berhenti memasang ekspresi seperti itu, segera periksa gua yang ada disana! Seperti yang kau duga, di dalam pasti ada bunga Udumbara Embun yang legendaris!"