
"Telur? Apakah ini sejenis Spirit Beast? Kau tidak sedang mengerjaiku lagi bukan?" Tanya Theo.
Theo sungguh penasaran, ia belum pernah melihat telur Spirit Beast berbentuk seperti ini sebelumnya. Itu biasanya berbentuk oval dan memiliki beberapa aura kehidupan yang keluar dari dalamnya.
Sementara benda yang dikatakan oleh masternya merupakan sebuah telur ini berbentuk bulat sempurna, berwarna perak, dan tak memiliki aura kehidupan sama sekali.
Dengan kecenderungan masternya yang selalu menjadikan dirinya sebagai bahan lelucon, tentu dia tak begitu saja mempercayai kata-kata masternya.
Benda yang ada di hadapan Theo lebih terlihat seperti logam hasil tambang yang telah selesai di olah.
Theo akan lebih percaya bila masternya mengatakan yang ada dihadapannya ini adalah sebuah pusaka kuno. Mengatakan benda ini sebagai telur? Lelucon yang buruk, pikir Theo.
"Kali ini aku tak sedang bercanda, yang ada di hadapanmu ini benar-benar sebuah telur. Terlebih lagi, ini adalah salah satu dari Ancient Thing." jawab Tiankong.
Mendengar masternya dengan serius mengatakan itu, Theo bukan semakin percaya, malah semakin curiga. Menurut pengalamannya, semakin masternya mencoba terlihat serius, semakin buruk pula tingkat rencana jahilnya.
Theo segera memasang ekspresi aneh, terlihat masih tak percaya.
"Apa-apaan ekspresi mu itu?"
Bletaaaaaakkkkk….!!
Sebatang kayu segera melayang memukul kepala Theo.
"Master..!!! Apa salahku?" Teriak Theo sambil menggosok-gosok kepalanya.
"Tidak ada, hanya saja ekspresi mukamu terlihat menyebalkan, aku tak suka saja melihatnya." jawab Tiankong singkat.
"Alasan macam apa itu…!!" Bentak Theo kesal.
"Sudah diam! dengarkan aku baik-baik! kali ini aku benar-benar serius, tak sedang bercanda."
"Yang ada di hadapanmu sekarang ini merupakan telur Silver Turtle. Salah satu dari Four Guardian, jenis ke empat Ancient Thing."
"Masalah kenapa telur ini sama sekali terlihat tak memiliki aura, itu karena kau telah menyerapnya sampai habis."
"Mana besi kuno yang kau lihat dan serap sebelumnya berasal dari telur ini."
Theo langsung membuka mulutnya lebar.
"Hanya sebuah telur, dan bisa mengeluarkan aura ganas seperti itu? Spirit Beast macam apa yang ada di dalamnya?" Theo masih sulit menerima penjelasan masternya.
"Ya! itu keluar dari telur ini. Kau telah menyerap semua mananya sampai habis. Bisa di katakan, kau telah separuh menjinakkannya." kata Tiankong.
"Menjinakkan?" Theo masih bingung
"Benar! kau tak salah dengar, aku bilang menjinakkan. Dalam hal ini, aku tak mungkin salah, karena dulu aku juga pernah menjinakkan salah satu dari Ancient Thing jenis ini juga."
"Setelah semua yang kau miliki, kau masih mempunyai salah satu jenis Ancient Thing ini juga?" Tanya Theo lagi.
Theo kini melihat masternya seperti monster. Dengan segala macam pengetahuan, kekuatan, seperangkat Seven Deadly Child, kemudian Space Fruit serta Time Fruit. Masternya masih memiliki Ancient Thing jenis ini juga, monster macam apa masternya saat dia masih hidup dan berada pada masa puncaknya? masternya ini karakter yang terlalu OP.
"Sudahlah, susah menjelaskannya. Lebih baik praktek langsung, sekarang coba kau sentuh telur ini!" Perintah Tiankong.
Theo yang sebenarnya masih bingung, tak punya pilihan lain selain menuruti kata-kata masternya. Dia segera maju mendekat kearah altar batu.
"Aku hanya harus menyentuhnya?" Tanya Theo ketika sudah berada di depan altar batu.
"Ya sentuh saja!"
Theo mulai mengangkat tangannya untuk menyentuh telur yang ada diatas altar batu. Namun, sesaat sebelum dia menyentuhnya, Theo menghentikan gerakan tangannya.
"Tak ada peringatan terakhir?" Tanya Theo lagi, menoleh kearah masternya.
"Tidak ada…!!!" Dengus Tiankong. Mulai kesal.
"Haha, aku hanya memastikan dengan santai, kenapa kau serius begitu?"
"SENTUH SEKARANG ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU…!!" Bentak Tiankong benar-benar kesal sekarang.
Melihat masternya benar-benar kesal, Theo bukannya takut malah menjadi senang.
'Rasakan itu! kau kesal sekarang huh?" Gumam Theo.
Sesaat setelah Theo menggumamkan kata-katanya, tiba-tiba dia merasakan aura dingin yang menusuk tulang merembes keluar dari arah masternya berada.
Theo yang merasakan aura dingin tersebut segera menoleh kearah masternya. Kini dia bisa melihat masternya sedang menatapnya dengan tatapan mengerikan, dan memasang senyum menyeringai yang bahkan lebih mengerikan lagi.
"Masih belum menyentuhnya?" Masternya bertanya, masih dengan senyum mengerikannya.
"Glek" Theo menelan ludah, Punggungnya langsung terasa dingin.
"Aku sentuh! aku sentuh sekarang!" katanya buru-buru.
Tanpa berani menunda lagi, Theo menyentuh telur di hadapannya.
Sesaat setelah tangan Theo menyentuh telur, tak ada hal aneh yang terjadi. Theo masih mempertahankan posisinya beberapa saat, sebelum akhirnya merasa mulai canggung dengan situasinya.
Ketika Theo merasa masternya sedang berusaha menjadikannya sebagai bahan lelucon lagi, dia segera menoleh kearah masternya dan akan mulai protes.
Dugg….!!
Namun sesaat sebelum dia akan mengucapkan kata-katanya protesnya, dia merasakan sebuah getaran dari dalam telur yang tengah dia sentuh.
Dugg…dugg…duggg..!!
Awalnya getaran tersebut terasa lemah, namun beberapa saat kemudian, getaran tersebut semakin terasa nyata. Theo bisa merasakan getaran tersebut terasa seperti sebuah detak jantung.
Theo segera terdiam, tatapannya kembali kearah telur di hadapannya, melupakan pikiran untuk mencaci masternya. Theo hanya terus merasakan ritme detak jantung di dalam telur.
Samar-samar entah kenapa dia merasakan ikatan antara dirinya dengan makhluk yang ada di dalam telur. Setiap detak yang di keluarkan makhluk tersebut membuatnya hatinya terasa nyaman, perasaan nyaman seperti ketika Theo sedang berada dekat dengan ibunya.
Perasaan nyaman yang dirasakan oleh Theo bertahan untuk beberapa saat, sebelum dia merasa makhluk yang ada di dalam telur tiba-tiba mulai menyerap secara paksa mana yang ada di dalam tubuhnya.
Makhluk tersebut terus menyerap mana element api dan tanah yang ada di dalam tubuh Theo, semakin lama semakin liar.
Theo bisa merasakan simpanan mana yang ada di dalam cabang element api dan tanah yang ada di dalam ranah jiwanya, semakin lama semakin berkurang dengan cepat.
Theo yang merasa hal ini berkembang menjadi tidak baik, segera menoleh dan menatap kearah masternya, ingin menanyakan apa yang sedang terjadi.
Namun sebelum Theo sempat bertanya, masternya sudah memberi jawaban.
"Kali ini aku benar-benar tidak bisa membantumu sama sekali. Kau harus memberi makan Silver Turtle tersebut murni dengan mana mu sendiri."
"Sebelumnya, aku mengatakan bahwa kau sudah separuh menjinakkannya dengan menyerap seluruh mana yang ia keluarkan. Karena dengan menyerap mana nya, kau secara tak langsung membuat ikatan dengannya."
"Silver Turtle di dalam telur merasakan ikatan tersebut ketika kau menyentuh cangkang telur, ia menganggap kau adalah masternya. Saat ini dia meminta suapan makan pertama darimu sebagai master."
"Proses memberi makan pertama ini merupakan moment penting yang akan menentukan apakah Silver Turtle di dalam telur tersebut mengakuimu sebagai masternya atau tidak."
"Bila aku membantumu, itu akan mengurangi ikatanmu dengan Silver Turtle kedepannya."
"Sekarang semuanya tergantung pada dirimu sendiri untuk menetaskan dan menjinakkannya." Tiankong menutup penjelasannya.
Mendengar kata-kata masternya, Theo segera kembali fokus pada telur di hadapannya. Dia merasakan simpanan mana api dan tanah di dalam cabang element seed nya kini benar-benar mengering habis.
Bersamaan dengan habisnya simpanan mana api dan tanah di dalam cabang element seednya, makhluk tersebut mulai berhenti menyerap.
Ketika makhluk di dalam telur mulai berhenti menyerap, Theo mengira proses penyerapan telah selesai. Namun, tiba-tiba..
Dugg..dug..dug..dug..dug..dug..dug..dug….!!!!"
Sebelum Theo mulai bernafas lega, dia merasakan detak jantung yang ada di dalam telur berdetak semakin cepat dan keras. Bersamaan dengan meningkatnya intensitas detak jantung, makhluk tersebut mulai melakukan proses menyerap mana Theo sekali lagi.
Kali ini makhluk tersebut bukan hanya menyerap mana api dan tanah milik Theo, tapi segala jenis mana yang ada di dalam Element Seednya. Bahkan juga mulai menyerap mana gravitasi.
Theo menjadi sangat panik, dia segera mengedarkan energinya untuk menyerap mana keruh di udara sekitarnya tanpa melakukan proses penyempurnaan terlebih dahulu dengan tergesa-gesa. Berharap dia bisa mengisi kembali simpanan mananya dengan cepat.
Namun, seberapa cepat pun dia mencoba mengisi kembali simpanan mananya, itu tak sebanding dengan intensitas penyerapan makhluk yang ada di dalam telur. Makhluk tersebut menyerap mana Theo lebih cepat dan liar dari pada Theo mengisinya kembali.
Theo menjadi semakin panik, tak tahu apa lagi yang bisa dia lakukan.
"Anak idiot! gunakan sumber daya yang ada di dalam gelang ruang waktu!!"
Mendengar kata-kata masternya Theo segera sadar, dia mengeluarkan tumpukan mutiara mana perunggu dan segera menyerap beberapa puluh sekaligus.
Merasakan itu belum cukup, karena makhluk yang ada didalam telur belum juga berhenti menyerap mana, dia mengeluarkan semua mutiara perunggu yang ada di dalam gelang ruang-waktu.
Theo terus mengisi ulang mananya dengan mutiara perunggu terus menerus tanpa henti. Sampai akhirnya mutiara perunggu simpanannya benar benar habis.
"Sialan! nafsu makan makhluk ini benar-benar gila..!"
Theo mulai mengutuk ketika melihat seluruh simpanan mutiara mana perunggunya benar-benar habis, namun makhluk tersebut belum juga menghentikan proses menyerapnya. Jika ini terus berlanjut, dia akan mengering sampai mati.
Theo segera ingin mengeluarkan simpanan mutiara peraknya untuk mengisi ulang simpanan mana dalam Element Seednya. Namun, sebelum Theo melakukannya, dia bisa merasakan makhluk di dalam telur mulai menghentikan proses menyerap mananya. Sampai akhirnya benar-benar berhenti menyerap.
Merasakan hal itu, Theo segera melepaskan tangannya dari telur, khawatir makhluk di dalamnya akan mulai menyerap lagi.
Dia kemudian jatuh merebahkan dirinya ketanah.
"Hahhhh..hahhhh…hahhh…"
"Makhluk macam apa yang memerlukan mana sebanyak itu hanya untuk menetas?"
Theo masih sulit percaya, simpanan kekayaannya harus hilang dalam sekejap mata. Lebih dari 500.000 mutiara mana perunggu di serap habis begitu saja hanya dalam hitungan detik.
"Ini benar-benar gila….!"
Krataakkkk.....
Sebelum Theo mulai mengumpat lagi, dia bisa mendengar suara retakan dari telur diatas altar. Mendengar suara retakan itu, Theo segera memandang kearah telur.
Kratakkkk…. krataakkk.. kratakkkk…
Theo bisa melihat retakan pada cangkang telur semakin bertambah banyak sampai akhirnya…
Pluuukkk...
Diantara retakan pada bagian atas telur, kepala spirit Beast mungil menerobos keluar dengan suara ringan.
Spirit beast yang masih muncul bagian kepalanya itu, segera menoleh kearah Theo sesaat setelah dia berhasil mengeluarkan kepalanya dari cangkang telur. Dia menatap Theo dengan tatapan sendu, seperti seorang anak menatap orang tuanya.
Theo yang mendapat tatapan sendu tersebut, entah kenapa menjadi terharu. Dia merasakan hatinya berdebar kencang, merasa sangat bahagia.
Melihat Theo balik menatapnya, Spirit beast tersebut menjadi bersemangat dan mulai tergesa-gesa mencoba keluar dari cangkang telur.
Setelah berusaha beberapa saat, dia akhirnya berhasil keluar sepenuh nya dari cangkang telur.
Kini Theo bisa melihat wujudnya secara penuh. Di hadapannya adalah seekor kura-kura mungil lengkap dengan cangkangnya. Seluruh tubuh kura-kura ini berwarna putih.
Theo segera berdiri dan menghampiri kura-kura yang masih diatas altar tersebut, dia kemudian mulai mengelus kepala kura-kura mungil.
Kura-kura tersebut terlihat merasa nyaman ketika Theo mengelus kepalanya, sebelum dengan gerakan gesit tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit punggung tangan kanan Theo.
"Auchhhh..apa yang…"
Sebelum Theo menyelesaikan kata-katanya, sebuah tatto segel terbentuk di punggung tangan kanannya. Tatto tersebut bergambarkan cangkang kura-kura.
Theo masih mengamati tatto baru di punggung tangan kanannya, sebelum tatto tersebut mulai menyala dan menarik kura-kura mungil menjadi seberkas cahaya masuk kedalamnya.
"Master, apa yang terjadi?" Theo yang merasa bingung segera bertanya kepada masternya.
"Kau telah menyelesaikan proses penjinakan dan membuat kontrak darah dengan Silver Turtle!"
"Selamat bocah! keberuntunganmu sungguh mengerikan..!" Jawab Tiankong.
***
Theo saat ini sedang duduk bersila, menyerap mana bebas di udara sekitarnya untuk di proses dan di murnikan oleh Element Seednya. Dia mencoba kembali mengisi simpanan mananya yang mengering hampir habis.
Karena mutiara mana perunggu nya telah benar-benar habis, dia hanya bisa bersabar menggunakan proses pemurnian mana dasar ini. Pemurnian mana dengan cara tradisional ini sangatlah lambat, namun dia tak punya pilihan lain selain menggunakan cara ini.
Dia juga belum bisa menggunakan mutiara mana perak, karena dengan kapasitas dan kualitas cabang element seed nya saat ini, dia masih belum mampu menyerapnya secara optimal. Hal itu hanya akan berakhir sebagai membuang-buang sumber daya yang berharga.
Menurut masternya, element seed Theo baru akan mampu mengoptimalkan manfaat dari mutiara mana perak ketika dia sudah berkembang menjadi seorang Immortal langit.
Itupun karena dia memiliki Element seed tipe netral, Element seed tipe lain akan membutuhkan budidaya kelas General untuk bisa menyerap mutiara mana perak dengan optimal.
"Hahhhhh….!!!"
Theo mengeluarkan nafas keruh dari dalam mulutnya. Itu merupakan mana kotor yang telah di saring oleh Element Seednya dan harus dia keluarkan.
Setelah merasa simpanan mananya cukup meskipun belum sepenuhnya terisi, Theo segera berdiri untuk memeriksa situasi masternya.
Masternya terlihat sedang mengamati salah satu sudut dinding.
"Kau bereskan saja dulu barang dan item yang ada di peti mati sebelah sana! mungkin saja itu berguna." kata Tiankong sambil menunjuk suatu arah tanpa menoleh.
Beberapa saat lalu, masternya menemukan formasi rahasia yang menyembunyikan ruang kecil lainnya. Dia kemudian dengan mudah membongkar formasi dan menemukan kedua peti tersebut.
Theo berjalan kearah peti mati yang dimaksud Masternya, kemudian membuka setiap tutup pintu peti mati.
Setelah terbuka, Theo bisa melihat dua sosok kerangka di dalam peti. Bentuk keduanya sangat aneh, tak seperti bentuk kerangka manusia. Yang paling mencolok adalah, keduanya memiliki empat tangan dan empat kaki.
Dia memperhatikan kedua kerangka memakai baju zirah dan juga memeluk sebuah senjata di tangan mereka. Selain itu, diantara tulang jari-jari mereka juga terpasang sebuah spacial ring.
Melihat tumpukan harta tersebut, Theo segera menjadi bersemangat, melupakan keanehan kerangka sebelumnya.
"Kedua senior, maafkan kelancangan junior ini. Harta di tubuh kalian akan lebih bermanfaat bagi mereka yang masih hidup, semoga kalian tenang di alam sana!"
Theo berdoa sebentar, sebelum mulai mengambil item yang ada di dalam peti.
Dia kemudian mengamati kedua senjata yang telah dia ambil, satu berbentuk gada besar, satunya lagi merupakan busur panah. Dia menjadi bersemangat ketika menyadari keduanya merupakan senjata Grade A tingkat rendah. Terlebih lagi, itu masih berada dalam kondisi yang bagus, hanya perlu sedikit perbaikan sebelum kembali ke kondisi primanya.
Tingkatan senjata, armor, dan item dibagi hampir sama dengan tingkatan Spirit beast. Dari Grade E sampai dengan Grade S, setiap grade di bagi menjadi tiga tingkat, rendah-pertengahan-tinggi.
Meskipun bersemangat, Theo sama sekali tak berniat memakai kedua senjata tersebut untuk dirinya sendiri. Karena dia sudah memiliki bocah-bocah dosa sebagai senjata utamanya.
Meskipun tingkat bocah-bocah itu saat ini masih setara dengan senjata biasa Grade C. Namun bocah-bocah dosa tersebut dapat terus berkembang dan meningkat mengikuti perkembangan budidaya Theo.
Perkembangan senjata dosanya memiliki tingkat yang tak terbatas, tak seperti kedua senjata yang ada di hadapannya ini. Keduanya akan selamanya berada di tingkat yang sama.
Theo berniat memberikan senjata-senjata ini untuk kedua kakaknya ketika sudah keluar dari jurang. Setidaknya, setelah membuat khawatir karena menghilang selama 4 tahun, dia kembali dengan membawa sedikit oleh-oleh.
Sementara untuk baju zirah, Theo juga tak berniat memakainya karena ingin terus mengasah penempaan tubuh fisiknya. Dia berniat memberikan kedua zirah kepada ayah dan ibunya, kedua zirah ini juga masih dalam kondisi yang baik dan merupakan armor Grade A tingkat rendah.
Yang paling membuat Theo bahagia adalah isi dari kedua Spacial ring. Ketika dia memeriksa isinya, di dalam spacial ring tersebut, dia melihat tumpukan mutiara mana.
Jika menggabungkan isi kedua spacial ring, Theo menghitung terdapat lebih dari 500.000 mutiara perunggu dan 200 mutiara perak. Barang lain selain mutiara mana merupakan tumpukan sumber daya yang sudah tidak bisa di pakai lagi termakan oleh waktu. Meskipun tak melihat ada mutiara emas, Theo merasa panen nya kali ini sudah cukup bagus.
"Aku balik modal! hahaha…"
Ketika Theo sedang asik menghitung hasil panen nya, ruang di sekitarnya tiba-tiba bergetar. Theo merasa masternya telah menemukan sesuatu, jadi dia segera melempar semua barang kedalam gelang ruang-waktu dan menuju keruangan semula.
"Aku telah menemukan pusat formasi, dan telah memperlajari semua mekanisme beserta peta dari formasi ini."
Tiankong menjelaskan ketika melihat Theo mendekatinya, dihadapan nya saat ini ada sebuah dinding dengan coretan-coretan formasi yang rumit.
"Lubang pintu di sebelah sana harusnya merupakan jalan masuk menuju lorong panjang yang akan menuntun kita menuju keluar."
Theo segera melihat arah yang di tunjuk masternya, di tempat yang sebelumnya adalah dinding batu, sekarang ada sebuah lubang pintu.
"Jika semua urusanmu sudah selesai, kita keluar dari sini, aku sudah tak sabar melihat cahaya matahari." kata Tiankong. Kemudian mulai berjalan kearah pintu masuk lorong.
Theo menoleh kebelakang beberapa saat, mengamati tempat yang telah menjebaknya beberapa tahun ini. Tempat dimana dia sudah pasrah untuk mati, ketika jatuh kedalamnya.
Namun di tempat ini pula ia mengalami perubahan titik balik penting dalam hidupnya.
Di tempat yang bagaikan dasar dunia ini, dia bertemu dengan seorang dermawan, panutan, dan pahlawan baginya. Seorang Master yang terhormat
Theo tersenyum, kemudian berbalik. Dia bisa melihat masternya sudah mulai melayang agak jauh di kedalaman lorong. Ia mengamati punggung transparan Masternya beberapa saat, sebelum tatapannya segera menjadi penuh tekad setelah melihat punggung tersebut.
"Aku akan mencapai puncak tertinggi!"
Dengan pandangan penuh tekad, ia mulai melangkah memasuki lorong.
(Arc 1. Bagian pembuka : -Titik Balik- Berakhir)
----------------
Info Cerita :
SIX ANCIENT THING
The Gate of Sin
1.1. Seven Deadly Child (Theodoric Alknight)
- Gluttony \= Iron Staff (Baal)
- Greed
- Lust
- Envy
- Sloth
- Wrath
- Pride
Four Guardian
4.1. Silver Turtle (Theodoric Alknight)
4.2.
4.3.
4.4.
Five Devil Fruit
5.1. Time Fruit
5.2. Space Fruit
5.3. Gravity Fruit (Theodoric Alknight)
5.4.
5.5.
-----------
Catatan penulis :
Halo kawan-kawan pembaca..!
Sudah lama rasanya penulis tak memberikan jejak untuk menyapa kawan-kawan semua. Terakhir saya memberikan jejak ada di chapter pertama. Pada prolog cerita, iya sudah 30 Chapter yang lalu, lama banget haha…
Dalam jejak kali ini, saya cuma ingin menyampaikan beberapa hal.
Hal pertama dan yang paling penting adalah saya ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya bagi kalian yang telah membaca sampai chapter 30 ini.
Terima kasih banyak telah mengapresiasi dengan membaca cerita saya, ikut bersama-sama mengamati kembang tumbuh anak pertama saya ini. (Haha lebay banget anak pertama, tapi biarin aja :v)
Disini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, saya tak ada niatan untuk memaksa kawan-kawan pembaca untuk memberi like, komen, ataupun vote. Dengan kalian hanya membaca saja saya sudah sangat senang sekali. Merasa anak pertama saya mendapatkan perhatian dari kalian sudah merupakan apresiasi yang tak terhingga bagi saya.
Saya menyerahkan kepada para pembaca sendiri apakah anak pertama saya pantas mendapatkan perhatian lebih berupa, like, komen, ataupun vote. ^.^
Sekalian saya juga mau memberi sedikit pemberitahuan. Arc pertama ini belum selesai, ini hanya bab pembuka untuk Arc pertama. Saya berencana mengakhiri Arc pertama di chapter ke 100 sebelum lanjut ke Arc ke 2.
Bab pembuka ini memang sengaja saya siapkan sebelumnya untuk mengisi daftar chapter saya ketika pertama kali upload. Jadi, saya memang sengaja menyelesaikan seluruh bab pembuka terlebih dahulu sebanyak 30 chapter, sebelum saya mengapload nya ke pihak Noveltoon.
Hal ini saya lakukan agar pembaca merasa nyaman ketika membaca novel pertama saya ini untuk pertama kalinya. Karena sudah ada 30 chapter yang tersedia.
Setelah chapter yang ke 30 ini, saya masih akan terus update setiap hari, namun mungkin hanya satu chapter perharinya. Bila ada waktu lebih bisa dua chapter dalam satu hari, karena saya juga harus bekerja selayaknya manusia normal, jadi saya mengharap pengertiannya dari kawan-kawan semua.
Mungkin cukup sekian jejak dari saya kali ini. Sebelum menutupnya, saya ucapkan terima kasih sekali lagi kepada kawan-kawan yang telah meluangkan sedikit waktunya, ditengah kesibukan sehari-hari untuk memberikan sedikit perhatian kepada anak pertama penulis.
Bila kawan-kawan semua ada kritik atau saran, saya secara terbuka menerimanya dan silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar. Saya sangat mengapresiasi setiap kritik dan saran yang kawan-kawan berikan. Karena menurut saya, itu merupakan salah satu bentuk perhatian kawan-kawan kepada anak pertama saya ini.
TERIMA KASIH…!!