Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Transformasi


Catatan Penulis :


Selamat malam kawan-kawan, sekali lagi penulis menyapa kawan-kawan pembaca semua. ^^


Dalam catatan kali ini, pertama-tama penulis kembali ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada kawan-kawan pembaca semua yang telah berkenan meluangkan waktu untuk membaca, dan sejenak menyempatkan memberi like, komentar, dan juga Vote untuk karya penulis ini.


Dan tolong juga sempatkan untuk memberi penilaian yah… agar bintang nya agak lebih tinggi lagi, supaya lebih banyak yang tertarik untuk meluangkan waktunya membaca karya penulis, dengan begitu semoga akan lebih banyak lagi yang merasa terhibur dengan anak pertama penulis ini.


Selanjutnya, tujuan penulis membuat note kali ini, ingin mengumumkan bahwa 3 besar Vote yang memenangkan jumlah Vote terbanyak sehingga berhak menerima karya Spin Off eksklusif yang akan dikirim penulis melalui Email. Akan diundur menjadi dua minggu sekali.


Penulis menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya karena sedikit tidak konsisten, karena pada catatan minggu lalu penulis mengatakan akan mengadakan perhitungan vote dalam 1 minggu sekali. Namun ternyata, kesibukan penulis menghambat penulis untuk menepatinya, sehingga penulis memutuskan membuat menjadi dua minggu sekali.


Terakhir, penulis ingin sedikit menjelaskan apa itu Karya "Spin Off", mungkin ada beberapa yang belum memahaminya, bila kawan-kawan sudah paham, silahkan skip saja.


Spin Off adalah chapter sampingan yang masih berhubungan dengan cerita utama, namun tidak di ceritakan dalam cerita utama tersebut. Sebagai contoh untuk memudahkan, pemenang minggu lalu mendapat karya Spin Off berjudul:


-Gregoric Alknight : Sang Perkasa


Dalam chapter tambahan tersebut, menceritakan kondisi Gregoric yang tengah melakukan Ujian penilaian akhir tahun di Akademi Surga, ujian ini dilaksanakan pada suatu tempat yang di sebut Menara Surga.


Mungkin itu sedikit kata-kata dari penulis yang merupakan manusia sederhana dengan berbagai kekurangan. Selamat malam dan semoga anak pertama saya bisa selalu menghibur kalian semua ^^


-------


"Klan Racun, dan Klan Formasi?" Tanya Theo, malah terlihat antusias.


"Ya, Kedua Klan ini adalah Klan kuno yang keberadaannya tertulis di berbagai catatan lama. Namun, tak ada satupun orang yang mampu mengkonfirmasi secara nyata kebenaran kedua Klan ini."


"Tak kusangka, akan bertemu dengan dua Klan legendaris seperti mereka di tempat terpencil ini!" Kata Tiankong.


"Hmmm, apakah mereka benar-benar hebat?" Tanya Theo.


"Ya, mereka memiliki beberapa metode tersembunyi dalam bidang racun dan formasi yang hanya di ketahui oleh klan mereka sendiri." Tiankong mulai menjelaskan.


"Tentu ada alasan, kenapa nama kedua klan ini terus muncul di beberapa catatan kuno yang berhubungan dengan ilmu racun dan formasi. Bisa dibilang kedua klan adalah salah satu pakar dan pelopor dari dua bidang ilmu ini." Tiankong menutup penjelasannya.


"Jadi begitu.." Theo mengangguk mengerti. Kemudian terlihat merenung. Beberapa pemikiran muncul di benaknya.


**


Diluar area kabut racun.


"Apakah kali ini akan efektif?" Tanya Aurelio yang kini telah turun dari Burung Walet dan berdiri di samping Arsega.


"Hemmmmmm, jika ledakan formasimu tak mampu menghabisi mereka, dan racunku juga tak efektif, maka kita tak ada pilihan lain selain mengerahkan seluruh pasukan." Jawab Arsega, ular hijau masih meliuk-liuk di sekitar tubuhnya.


Butuh waktu beberapa saat sampai kabut racun mulai mereda. Dan ketika kabut racun mulai menghilang di dalam sangkar formasi, pemandangan tak terduga terhampar dihadapan dua orang ini.


Di area yang sebelumnya di penuhi oleh kabut racun, Theo dan Aria terlihat masih berdiri dengan tegap. Seperti tak terpengaruh sama sekali dengan racun pekat yang di keluarkan oleh ular milik Arsega.


"Ini tak mungkin!" Kata Arsega, terlihat tak percaya.


"Kedua Knight muda ini sungguh penuh kejutan." Aurelio ikut menanggapi. Dia juga terkejut, namun ada titik-titik kekaguman pada tatapan matanya ketika melihat Theo dan Aria.


Setelah beberapa waktu, ketika kabut racun benar-benar menghilang, pelindung aura milik Joy kecil juga perlahan menghilang. Theo dan Aria yang semula berdiri dalam diam di dalam kubah pelindung, mulai mengeluarkan aura mereka lagi, bersiap kembali masuk dalam pertempuran.


Arsega yang melihat hal itu, mulai mengambil sesuatu seperti peluit yang ada di dalam lengan bajunya. Sementara Aurelio terus memandang kearah Theo, melihat kearah pundaknya, dimana Joy Kecil berada. Dari awal dia terlihat tertarik dengan Joy Kecil. Itu karena, dia merasa pernah melihat Joy Kecil di suatu tempat.


"Dimana aku pernah melihat Spirit Beast seperti itu?" Gumamnya.


Aurelio tampak berfikir sejenak, sebelum terlihat sadar akan sesuatu, ekspresinya segera berubah serius. Dia kemudian melihat kearah Arsega yang tampak bersiap akan meniup peluit. Aurelio yang menyadari apa yang akan di lakukan Arsega segera akan menghentikannya, namun dia terlambat.


"Puuwiiiiiiittttttttt………!!!!!" Suara peluit melengking tinggi terdengar nyaring.


Setelah bunyi peluit mereda, suasana menjadi hening seketika, hanya hembusan angin sepoi-sepoi menggerakkan rerumputan menghasilkan suara gemerisik alam yang khas.


Sementara Theo mulai melihat sekeliling dan mencengkram tongkat Baal dengan erat, tak menjawab pertanyaan Aria. Entah kenapa dia merasa suatu badai besar akan datang setelah suasana hening tiba-tiba ini.


"Sepuluh, dua puluh, tidak, itu tiga puluh.!" Kata Tiankong di samping Theo.


"Tiga puluh Knight dengan kelas Immortal tahap awal, bergerak serempak menuju ke lokasi kita." Gumam Tiankong, dingin.


Mendengar hal itu, Theo mulai menunjukkan ekspresi berat, bila itu lima atau sepuluh sekalipun, dia masih optimis. Meskipun tidak bisa mengalahkan mereka, dengan berbagai trik, dia bisa kabur. Namun tiga puluh? Itu terlalu banyak.


Beberapa saat kemudian, kumpulan Knight yang di sebut Tiankong mulai bermunculan, melompat dari satu pohon pinus ke pohon pinus lainnya, mengepung Aria dan Theo dari berbagai arah. Setiap dari kelompok ini, memiliki Spirit Beast kontrak bersama mereka.


Kelompok bertubuh kurus memiliki berbagai Spirit Beast tunggangan berbentuk Harimau, Burung, Rusa, dan lain sejenisnya. Sementara kelompok berbadan kekar, memiliki berbagai Spirit Beast racun bersama mereka, seperti Kalajengking, Kelabang dan lain-lain.


"Ini gawat!" Gumam Theo cemas. Dia tak bisa sama sekali memikirkan cara untuk keluar dari situasi sulit ini.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Aria cemas, ketika melihat puluhan lawan mengepungnya.


"Sialann!!! Master?" Theo yang tak bisa menjawab pertanyaan Aria, hanya bisa bertanya kepada Tiankong.


Sementara Tiankong yang mendengar pertanyaan Theo, sama sekali tak memberi jawaban, tatapannya berubah serius menatap setiap orang di sekitarnya.


"Seraaanggggg…..!!!!"


Dalam kebingungan kelompok Theo, suara Arsega terdengar lantang, memerintahkan kelompok yang mengepung untuk menyerang.


"Tunggu duluuu…!!"


Sementara Aurelio yang ada di sebelah Arsega berteriak memberi perintah sebaliknya. Namun, suara Aurelio tertutup oleh teriakan perang yang di teriakkan oleh setiap orang anggota suku mereka. Puluhan orang ini kemudian mulai maju menyerang Theo dan Aria.


Theo yang panik, menjadi terdiam ketika melihat puluhan lawan menerjang kearahnya. Dia menatap Tiankong dalam diam, tak tahu harus berbuat apa. Sementara Tiankong juga tetap diam, terlihat bimbang memikirkan sesuatu.


Didalam keadaan genting tersebut, Joy kecil yang merasakan bahaya, segera digerakkan oleh insting dalam melindungi Theo sebagai Masternya, dia melompat tinggi keatas.


Setelah berada di ketinggian tertentu, cahaya hijau terang keluar dari tubuh mungil Joy Kecil, cahaya hijau ini begitu kontras dengan warna tubuhnya yang dominan putih.


Melihat cahaya terang itu, puluhan Knight yang awalnya maju menyerang, menghentikan langkah mereka, setiap orang terfokus dengan aksi Joy Kecil dan cahaya hijaunya. Cahaya hijau ini bertahan beberapa saat sebelum mulai menghilang, dan ketika benar-benar menghilang….


*Boooooommmmmmmm…….


Joy Kecil yang melompat tinggi, berubah bentuk menjadi kura-kura raksasa berwarna hijau dengan cangkang keperakan mengkilap, ia jatuh turun kebawah dengan suara dentuman keras, menggetarkan area di sekitarnya.


"Ggrrruuuuuuuuuuuuuuuuu…….!!!!!!"


Joy kecil berteriak dengan suara serak yang amat menyeramkan begitu mendarat di tanah, disertai dengan keluarnya aura mana besi kuno yang sangat pekat, menyebar dengan liar. Suara dan aura ini, yang dikombinasikan dengan bentuk tubuh raksasa miliknya, membuat setiap Knight yang berniat menyerang bergetar ketakutan.


"Itu adalahhh……." Arsega dan setiap anggota suku kuno mulai menatap Joy Kecil yang telah bertransformasi dengan tatapan kontenplatif.


"Sudahh kubilang berhenti, kenapa tak ada yang mendengarku…!!!" Bentak Aurelio yang akhirnya bisa menyusul kelompok penyerang.


"Apakah kau sebelumnya sudah menyadari ini?" Tanya Arsega kepada Aurelio di sampingnya.


"Yahhhh, aku juga baru meyadarinya." Kata Aurelio.


"Grrrruuuuuuuuuaaaaaaahhhhhhhhh………!!!!!


Joy Kecil kembali berteriak liar ketika melihat semua orang di sekitarnya menghentikan serangan. Sorot matanya sayu, seperti raja tua yang menatap remeh semua hal yang ada di dunia. Sama sekali tak tertarik dengan hal fana, membawa suasana agung, menekan siapapun yang memandangnya.


"Itu adalah Silver Turtle, salah satu dari Guardian Beast." Kata Arsega.


Setiap anggota suku yang mendengar kata-kata Arsega segera terkejut. Dan secara bersamaan tiba-tiba berlutut. Memberi penyembahan kearah Joy Kecil.


"Apa yang terjadi?" Tanya Theo bingung.