Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
217 - Kedatangan House Braveheart


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Medan pertempuran utara, House Wildbear+Bandit Lebah Hitam, melawan House True Alknight+House Ironhead)


"Sungguh waktu yang sangat sempurna!" Gumam Theo, ketika melihat kelompok Knight yang baru datang, dimana langsung menerjang memasuki medan pertempuran.


Kelompok ini menghujam dari arah samping pada pasukan bantuan House True Alknight yang baru saja keluar dari Basecamp mereka.


Dipimpin langsung oleh Master Estro di baris depan, kelompok Knight yang baru datang ini tak lain adalah pasukan House Braveheart. Sesuai intruksi dalam rencana besar Theo yang di presentasikan pada mereka beberapa minggu lalu, kelompok House Braveheart datang paling akhir di medan tempur. Berperan sebagai gelombang akhir yang menyapu medan tempur.


"Tidak mungkin! House Braveheart!" Seru Ivanovic dengan wajah tak percaya ketika melihat kelompok yang baru memasuki medan pertempuran tersebut. Kemudian menoleh kearah Glaria, menatap gadis ini dengan tatapan menuntut penjelasan.


Sementara Glaria yang mendapat tatapan dari Lord nya, saat ini justru memasang ekspresi sama terkejutnya dengan yang ditunjukkan Ivanovic, ia memandang kelompok pasukan besar House Braveheart yang baru datang dengan ekspresi wajah sangat tak percaya.


"Tidak mungkin! Laporan dari pasukan kita yang ada di ibukota mengatakan bahwa negosiasi yang di lakukan bocah itu telah gagal!"


"Dia kembali seorang diri tanpa satupun anggota House Braveheart menemaninya!"


"Kalaupun kelompok ini bergerak belakangan, dengan jumlah besar pasukan yang mereka bawa ini, kenapa tak ada laporan sama sekali dari orang-orang kita yang ada di ibukota!" Kata Glaria.


Mendengar kata-kata Glaria, Ivanovic hanya bisa mengambil nafas dalam, kemudian ganti mengalihkan pandangannya kearah Theo.


"Betapa benci! Bocah ini benar-benar membuat semua rencana sempurna yang telah kususun selama bertahun-tahun dengan teliti, menjadi tampak seperti rencana amatir!" Dengus Ivanovic, dengan tatapan penuh kebencian kearah Theo.


Ia sama sekali tak menduga, bahwa Theo yang hanyalah seorang sampah dalam keluarga, dimana awalnya hendak ia gunakan sebagai kue kecil untuk memicu konflik internal dengan kematiannya dalam perburuan keluarga beberapa tahun lalu, kini malah menjadi batu terbesar yang merintanginya dalam semua rencana kudeta yang telah ia susun.


Ivanovic mulai merasa menyesal tak segera menghabisi bocah ini ketika ia masih menjadi sampah, atau setidaknya menggunakan pengaruhnya sebagai seorang tetua pertama untuk mengasingkan bocah yang hanya menjadi beban dalam keluarga ini.


"Hmmmm... penyesalan tetaplah penyesalan, memikirkannya sekarang hanya akan menjadi siraman air garam pada luka yang telah terbuka. Tak menyelesaikan apapun, malah menambah rasa sakit dari luka tersebut." Gumam Ivanovic, mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Sementara disisi lain, Theo yang sedang mendapat tatapan penuh kebencian dari Ivanovic, kini ikut menatap pria tua ini balik, namun bukan dengan tatapan penuh kebencian yang sama, melainkan dengan tatapan khasnya yang penuh ketajaman.


Kecuali kedatangan Beladro bersama seluruh pasukan kudeta dari Dark Guild yang informasi nya belum sampai pada Theo, secara garis besar, jalannya pertempuran besar kali ini benar-benar sudah sesuai dengan alur yang di rencanakan olehnya.


Serangan mendadak yang ia lancarkan setelah memberi ancaman palsu pada kelompok lawannya, membuat penempatan tiga kelompok besar pasukan aliansi housenya yang menyerang dari tiga arah berbeda, pada akhirnya disikapi secara sembrono oleh aliansi lawan yang ikut membagi tiga kelompok pasukannya juga.


Penempatan tiga gelombang pasukan penyerang ini, sebenarnya juga hanyalah langkah awal pembuka, yang berperan sebagai pancingan, agar Theo bisa melihat gambaran detail medan pertempuran.


Sementara serangan utama, akan di berikan oleh kelompok kecil yang telah ia pilih dan siapkan sebelummya, dimana terdiri dari Lord Arduric, Lord Bernard, Arthur, Issabela, Gregoric, dan tentu dirinya sendiri.


Ayahnya Lord Arduric dan juga Lord Bernard, tentu tanpa di ragukan adalah dua orang terkuat dalam kelompok aliansi bila tak menghitung dua ketua Klan dari desa tersembunyi yang merupakan seorang King.


Kedua orang ini dipilih oleh Theo untuk menjadi duo dahsyat yang akan keluar diakhir, dimana menjadi serangan utama dalam medan pertempuran yang akan mereka masuki.


Sementara Arthur, Gregoric, serta Issabela, memiliki keunikan masing-masing dalam setiap teknik atau perlengkapan yang mereka punya. Membuat ketiganya cocok ditempatkan sebagai trio tim serangan menyelinap jarak jauh.


Ketika tiga tim pembuka serangan bergerak memasuki medan tempur, Theo bersama tim penyerang utama, menunggu dan melihat peta dari medan pertempuran, yang ternyata memang lagi-lagi sesuai dengan prediksi Theo.


Kelompok House Estrabat, yang memiliki dendam pada Theo, dengan tanpa banyak pikir, maju menyerang kelompok House Alknight yang menggempur dari arah pintu gerbang.


Sementara kelompok House Helsinsberg, tentu saja memilih untuk menghadang kelompok terkuat dari dua gelombang serangan tersisa, yakni para pejuang Desa tersembunyi yang menyerang dari sisi selatan, dipimpin langsung oleh dua ketua mereka yang berkelas King.


Kemudian tersisa House True Alknight sebagai tuan rumah yang tak punya pilihan selain mengambil medan tempur sebelah utara, menghadapi kelompok House Wildbear yang di temani gerombolan Bandit Lebah Hitam.


Dan setelah tiga medan pertempuran selesai terpetakan, Theo membagi kelompok penyerang utama sesuai dengan kebutuhan masing-masing dari medan pertempuran yang ada di hadapannya.


Rancangan brilian Theo ini di tutup dengan manis saat pasukan House Braveheart secara tiba-tiba datang dan memasuki medan tempur. Menjadi gelombang penyapu akhir.


"Hmmmm… waktunya bermain sekali lagi!" Kata Theo, setelah puas menatap balik Ivanovic. Kemudian ganti mengalihkan pandangannya kearah pasukan bantuan House True Alknight yang sedang di hadang oleh pasukan House Braveheart.


Setelah terlihat mencari untuk beberapa saat. Seringai lebar kembali menghiasi wajah Theo saat menemukan orang yang ia cari.


*Woooshhh…..!!!


Menggunakan Mana Gravitasi, Theo melesat cepat menuju pertempuran di depannya.


**


(Pasukan bantuan House True Alknight melawan pasukan House Braveheart)


"Rapatkan barisan! Bantai orang-orang tak penting ini!" Teriak Master Estro, memimpin pasukan House Braveheart yang seluruhnya merupakan Knight dengan kelas General, untuk membantai kelompok pasukan kelas Immortal dari House True Alknight yang ada di hadapannya.


*Booommmm….!!!


*Boooommmmm….!!!


*Boooommmmm….!!!


Perbedaan kelas yang mencolok ini, membuat jalannya pertempuran antara dua kelompok menjadi sangat tak berimbang. Dimana pasukan House Braveheart mulai membantai lawan-lawannya dengan mudah dan brutal.


"Tuan muda! Tetap berada di dekatku!" Teriak Rodric Alknight, tetua pertama House True Alknight kepada Ioric tuan mudanya.


"Sialan! Kenapa bisa begini?" Dengus Ioric. Ekspresi wajah sombong yang tadi ia tunjukkan saat dengan bangga menyerbu keluar dari dalam Basecamp, sekarang berganti dengan ekspresi wajah ketakutan.


*Booommmm….!!!!


*Booommmmm….!!!


*Boooommmmm…!!!


"Aaarrrggghhhh…. Kenapa ayah belum juga datang untuk memberi bantuan?" Kata Ioric, tampak semakin ketakutan saat pasukan House Braveheart bergerak secara perlahan semakin mendekatinya. Berusaha menembus penjagaan ketat yang dikoordinir Rodric untuk melindunginya.


Ioric yang hanya seorang Immortal bumi, tentu menjadi bergetar kakinya ketika mulai mendapat aura tekanan dari puluhan Knight berkelas General yang saat ini mengepungnya.


Ia sangat menyesal karena telah memaksa untuk ikut masuk kedalam medan pertempuran sebagai tim penyergap.


*Slaassshhh…!!!


*Slaaassshhh…!!!!


*Slaaassshhh….!!!!


Saat Ioric masih dibebani rasa menyesal dan melihat sekeliling dengan rasa takut yang teramat sangat, rentetan suara tebasan tiba-tiba terdengar berasal tak jauh dari lokasi nya berdiri.


Dan begitu pemuda ini menoleh untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Pupil matanya segera melebar begitu melihat siapa yang bergerak cepat menerjang kearahnya sambil menebas kepala dari setiap orang anggota pasukan House True Alknight yang menghalanginya.


*Drip…!!


*Dripp..!!!


*Dripp….!!


Tak berapa lama, masih dengan darah segar yang terus menetes pada lima pisau kecil yang sedang ia pegang, Theo berjalan mendekat secara perlahan kearah Ioric.


Melihat hal ini, Rodric yang tak menyangkah bahwa itu adalah Theo yang justru sampai terlebih dahulu menembus pertahanan yang ia koordinir. Segera bergerak didepan tuan mudanya. Dengan cepat menariknya kebelakang.


"Halo sepupu! Lama tak jumpa!" Kata Theo dengan nada dingin, sedingin air di puncak musim dingin paling dingin. Tak lupa masih mempertahankan seringai lebar penjahat jalanannya.