Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
290 - Kaisar Tongkat


Melihat Theo melompat keluar dari dalam pecahan es dan mendarat dengan mantap ditengah Ring, suara teriakan riuh kembali menggema di segala penjuru Death Arena. Para penonton yang sebagian besar memang belum puas dengan pertarungan yang terlalu cepat berakhir, kini kembali menjadi antusias.


"Pemenangnya memang dari awal sudah di tentukan! Entah apa yang tuan muda Theo pikirkan dengan melakukan semua aksi sebelumnya, tapi itu bagus juga untuk menyemarakkan Death Arena malam ini!" Gumam Delario lirih, sambil memasang senyum sederhana dan menatap lurus kearah Theo.


Disisi lain, pada tribun Arena, Thomas yang sempat merasakan keanehan dari diamnya Hella, kini dengan cepat kembali menatap kearah Razak.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Thomas.


"Tahu apa?" Tanya Razak balik. Dengan ekspresi wajah tak paham.


"Di kejadian sebelumnya, kau bilang bahwa Boss yang terjebak di dalam bongkahan es, justru adalah orang yang dalam posisi diuntungkan. Bagaimana kau bisa tahu itu?" Tanya Thomas.


"Ahhh…! Bukankah sudah jelas! Apa kau tak lihat aliran Mana Tanah yang menyelimuti seluruh Ring Arena?"


"Aliran Mana itu jelas-jelas bergerak liar melilit tubuh Boss dan secara perlahan menekan balik aliran Mana Es disekitar!" Jawab Razak.


"Aliran Mana tanah?" Gumam Thomas begitu mendengar penjelasan Razak, ia kemudian kembali melihat kearah Ring untuk memastikan apa yang dikatakan bocah tersebut.


"Aliran Mana Tanah apa? Aku tak melihat apapun!" Gumam Thomas. Setelah melihat dengan teliti beberapa saat.


"Hmmm.… Bodoh sekali! Bukankah bocah ini adalah keturunan suku Osiris yang di cintai Mana besi, tentu saja ia bisa melihat aliran Mana Tanah yang merupakan atribut dasar pembentukan Mana besi dengan lebih detail!"


"Jika memang dengan memperhatikan seperti biasa bisa melihat apa yang ia lihat, maka seluruh penonton di tribun Arena tak akan jatuh pada pikiran bahwa Boss telah kalah!" Gumam Thomas, kini menyadari kenapa ia tak bisa melihat apa yang telah dilihat Razak meskipun telah benar-benar memfokuskan serta mengalirkan Mana Tanah miliknya kearah kedua mata.


"Suku yang di cintai Mana! Sungguh menakjubkan serta menyeramkan disaat bersamaan!" Ucap Thomas lirih, seraya melirik kearah Razak.


Tepat setelah Thomas mendapatkan kesimpulan, ia tiba-tiba mendengar tribun penonton kembali menggema dengan teriakan riuh.


Diatas Ring, Theo yang awalnya masih memasang sikap santai menatap kearah Hella, kini mengambil inisiatif serangan.


"Groooooaaaahhh….!!!"


Langkah Theo ini, segera disambut dengan teriakan liar dari White Fang. Sabertooth Salju ini melangkah kedepan dengan sigap, melindungi Hella yang saat ini masih berlutut di lantai Ring.


*Bang….!!


Tapi tanpa ampun, Theo yang telah menerjang kedepan, mengayunkan tongkat logam Baal dengan keras menyapu wajah White Fang. Membuat ia terpental kesamping dengan keras.


Merasa belum cukup puas, Theo mengganti arah terjangannya untuk menuju pada White Fang yang sempat terlempar kesamping. Kembali mengayunkan tongkat Baal ditangannya, kali ini menyasar perut White Fang.


*Bang….!!


Suara benturan keras kembali terdengar, diiringi dengan kembali terlemparnya tubuh White Fang. Makhluk tersebut, meskipun dari tadi terus menyalak ganas, namun sepertinya sama sekali tak mampu mengimbangi kecepatan Theo. Tak mampu melihat arah pergerakan lawannya.


Disisi lain, Theo yang telah mendapat momentum, sama sekali tak menyia-nyiakannya. Ia kembali membuat gerakan menerjang cepat, kali ini dengan melakukan gerakan menusukkan ujung tongkat Baal, ia mendaratkan tusukan keras pada perut bagian samping White Fang.


"Groooooaaaahhh....!!"


Serangan tusukan keras yang dilakukan Theo, kembali membuat White Fang berteriak keras, namun kali ini bukan teriakan liar, melainkan teriakan penuh rasa sakit yang terdengar memilukan.


"White Fang!"


Melihat Spirit Beast kontraknya di hajar habis-habisan oleh Theo, Hella berteriak keras, mulai mencoba berdiri dari posisi berlututnya. Ekspresi Hella kini tampak benar-benar geram.


Sementara itu, Theo yang mendengar teriakkan Hella, nyatanya justru memasang wajah tak peduli, ia sekali lagi melakukan gerakan menerjang cepat, kembali mendaratkan satu pukulan menusuk yang kali ini tampaknya ia beri tenaga tambahan.


*Boooommmm…!!!


Serangan menusuk Theo yang lagi-lagi mendarat di perut White Fang, membuat makhluk ini harus kembali menerima rasa sakit teramat sangat. Rasa sakit yang begitu menyiksa ini, membuat White Fang langsung kehilangan kesadaran, sambil sekali lagi terhempas keras, kali ini terbang jauh keluar dari atas Ring. Hanya berhenti saat menabrak dengan benturan keras dinding pembatas tribun penonton.


"Kau b4jingan!" Bentak Hella, saat melihat keadaan White Fang. Tanpa menunda, seperti sedang kesetanan, ia melupakan semua rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya dan melakukan langkah menerjang kearah Theo.


Melihat itu, Theo mulai memasang senyum tipis, kemudian memasang kuda-kuda bertahan, bersiap menerima terjangan Hella, tampak tak berniat menerjang maju juga, ataupun menghindari arah terjangan Hella.


*Dentang….!


Benturan antar logam menggema keras begitu tongkat logam Baal, menyambut ayunan keras Tombak Es di tangan Hella.


*Dentang…!!!


*Dentang….!!!


*Dentang….!!!


Suara benturan kembali terdengar puluhan kali begitu Hella melanjutkan serangan-serangannya. Disisi lain, Theo kini justru malah memasang sikap bertahan. Memblokir semua serangan Tombak Hella dengan tongkat logamnya.


Kondisi tersebut bertahan untuk waktu relatif lama, karena Theo tak mengambil inisiatif serangan balik. Sampai kemudian nafas Hella mulai memburu. Tangannya bergetar hebat, menyebabkan genggaman pada senjata tombaknya juga mulai melemah.


Melihat Hella sudah diambang batas energi terakhirnya, Theo yang dari tadi hanya mengambil posisi bertahan, tiba-tiba melakukakan serangan balik cepat. Serangan yang membuat Hella terkejut bukan main.


Serangan tiba-tiba dari Theo ini, mendarat tepat pada tangan Hella yang menggenggam Tombak. Menyebabkan Hella yang merasa sangat sakit pada jari-jarinya, tanpa sadar melepaskan genggaman pada Tombaknya.


*Traang….!!!


Tombak Es yang terlepas dari tangan Hella, jatuh diatas lantai Ring Arena. Theo kemudian menutup serangannya dengan memberi tendangan keras pada pundak kanan Hella, menyebabkan gadis ini terhentak keluar Ring, dan mendarat tak jauh dilokasi tempat Sabertooth Salju kontraknya berada.


Hella memegang pundaknya dengan erat begitu mendarat, ia tampak mengerang kesakitan karena tendangan Theo, mendarat langsung di tubuhnya yang sama sekali tak memakai Armor. Hanya baju putih tipis yang berfungsi sekedar untuk menutupi tubuh indahnya.


"Seperti kataku diawal! Kelemahan terbesarmu ada pada watak! Kau terlalu sering terbawa emosi sehingga menyebabkan serangan-serangan yang kau lancarkan, sangat mudah sekali di tebak!"


"Mudah sekali memprovokasi orang dengan watak sepertimu! Ditambah dengan banyaknya celah yang dapat kulihat dari teknik Tombak milikmu, itu akan percuma bahkan bila kau memiliki senjata bagus di tanganmu!" Ucap Theo, seraya berjalan kearah Tombak Es yang tergeletak di tengah Ring, kemudian dengan sekali ayunan tangan, kembali memasukkan Tombak tersebut kedalam Gelang ruang-waktu.


Setelah menyampaikan kalimat nasehat terakhir, Theo kini memalingkan wajahnya. Tampak tak lagi peduli pada Hella yang saat ini masih memandang kearah punggungnya dengan tatapan bergetar sambil mengepalkan kedua tangan dengan keras.


Dengan keluarnya Hella dari atas Ring. Pertandingan Arena Tongkat akhirnya selesai. Peserta Wolf, secara resmi menyabet gelar Kaisar Tongkat Death Arena periode ini.


------


Note :


Seperti biasa, karena hari minggu, satu chapter ya, mohon pengertiannya. ^^