Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
243 - Punggung Tanpa Cela


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Jadi, apakah kau cukup gigih dan bersedia bekerja keras dari awal lagi?" Tanya Theo, menutup semua penjelasanya dengan tatapan tajam kearah Jasia.


"Realm yang lebih tinggi?" Tanya Jasia, dengan ekspresi tak paham.


"Yah, Realm yang lebih tinggi! Gaia Land adalah satu dari 10.000 realm kelas rendah, diatasnya masih ada 1000 realm kelas menengah, dan diatas realm kelas menengah, masih ada 100 realm utama!"


"Dan aku akan menjadi orang yang berdiri dipuncak semua realm itu!" Jawab Theo, dengan sorot mata penuh ketajaman.


Mendengar penjelasan Theo, Jasia segera memasang ekspresi terkejut. Jika itu orang lain yang mengatakan apa yang baru saja di sampaikan Theo, ia tentu akan menolak percaya secara instan. Menganggap orang tersebut sedang membicarakan omong kosong.


Tapi, begitu tuan mudanya yang berbicara, serta melihat sorot mata penuh ketajaman di mata Theo, Jasia langsung percaya sepenuhnya dengan apa yang disampaikan oleh Theo barusan.


"Tuan muda, sekuat apa orang-orang yang hidup di realm kelas atas itu?" Tanya Jasia.


"Hmmm… Dimata mereka, kita ini hanyalah serpihan debu. Bisa disingkirkan hanya dengan satu tiupan nafas ringan!" Jawab Theo.


Jasia yang dari tadi mendengarkan penjelasan Theo dengan seksama, segera menjadi tercengang saat Theo selesai dengan kata-katanya. Namun, reaksi tercengang Jasia, hanya bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian digantikan dengan ekspresi penuh tekad.


"Tuan muda, aku akan selalu mendukung dan menemanimu! Jadi, kupastikan setelah ini, aku akan berlatih dengan giat!" Jawab Jasia dengan sungguh-sungguh.


Menyadari tujuan akhir Theo adalah berdiri di puncak dunia yang bahkan ia tak bisa membayangkannya, Jasia segera membulatkan tekad untuk berusaha menjadi lebih kuat lagi. Ia tak peduli bila harus mengulang dari awal jalan kultivasinya. Ia tak peduli bila harus berlatih lebih keras 5 sampai 6 kali lipat dari kebanyakan orang lain.


Jasia kini mempunyai tujuan hidup yang jelas, yakni ingin menemani Theo hingga sampai ke puncak dunia. Menjadi pendukung tuan mudanya ini sampai akhir, dimana kelak akan bisa melihat Theo mencapai impiannya.


"Hmmmm… Bagus! Sorot mata seperti itulah yang kuharapkan!" Kata Theo. Seraya kemudian mengeluarkan sebuah Spacial Ring dan mulai memasukkan tumpukan Foundation Pill yang tadi ia keluarkan kedalamannya.


"Ambil ini! Gunakan dengan bijak! Bagi berdua dengan adikmu! Makan sehari tiga kali untuk membangun fondasi menjadi kokoh, sampai kau mencapai kelas Pioneer tahap awal!"


"Setelah itu, kupastikan perkembangan kekuatanmu akan meningkat 5 sampai 6 kali lipat dari sebelumnya! Jadi, semua kerja kerasmu, akan sebanding!" Kata Theo.


Jasia tanpa ragu segera menerima Spacial Ring yang di berikan Theo padanya. Menggenggam erat Spacial Ring tersebut seperti itu adalah barang paling berharga di dunia.


"Emmm… Tapi tuan muda, apa maksudmu dengan membagi Foundation Pill ini dengan Kalina?" Tanya Jasia, setelah menyadari ada sesuatu yang ganjil dengan intruksi Theo.


"Bukankah Kalina tak memiliki Element Seed?" Lanjut Jasia.


"Dia punya, hanya saja karena suatu alasan, Element Seed nya tak bisa muncul. Tertahan oleh suatu segel!" Jawab Theo.


Mendengar itu, Jasia segera mengerutkan keningnya. "Tertahan oleh suatu segel?"


"Yahh… Sebuah segel alami dari jaman kuno!" Jawab Theo.


"Ahhh…." Jasia yang mendengar jawaban Theo, hanya bisa terbengong. Tak tahu harus menanggapi seperti apa.


Melihat ekspresi gadis itu, tanpa menunda terlalu lama, Theo segera melanjutkan penjelasannya.


"Segel kuno ini berasal dari garis darah yang ada di dalam tubuh kalian! Kau sebenarnya juga memiliki nya, hanya saja tak terlalu murni seperti milik adikmu, oleh karena itu Element Seedmu masih bisa tumbuh!"


"Dan garis darah ini pula yang menyebabkan kau memiliki Element Seed yang berbeda dari seluruh anggota House. Element Seed atribut api!"


"Sepertinya, salah satu dari kedua orang tuamu, membawa garis darah ini dari nenek moyangnya, dan entah kenapa baru aktif di generasi kalian dua bersaudara!"


"Ahhh…" Jasia yang benar-benar tak paham, kembali hanya bisa bersuara ringan.


"Tentu saja!" Jawab Jasia cepat. Ketika mendengar pendapat Theo tentang asal ia bisa menjadi lebih kuat.


"Bagus! kedepan, beri Pill obat ini pada adikmu secara rutin setiap hari! Pill ini akan mampu memberi dorongan pada Element Seednya untuk tumbuh! Dengan begitu, formasi yang menahan Element Seednya akan tertekan dan terbongkar secara sendirinya setelah beberapa waktu!" Kata Theo, seraya memberikan sebuah kotak tablet kaca yang berisi puluhan Pill obat berwarna pelangi. Tampak sangat indah.


Jasia segera menerima kotak tablet tersebut, dan tanpa menanyakan apapun segera memasukkannya kedalam Spacial Ring.


Theo sendiri, mengetahui semua informasi yang baru saja ia sampaikan, dari catatan dalam jurnal Masternya. Tiankong yang dari awal sudah sangat tertarik pada kondisi aneh pada Element Seed Kalina, akhirnya menghabiskan banyak waktu melakukan penelitian untuk mengetahui rahasia di dalamnya. Dan setelah waktu yang cukup panjang, dan setelah membaca banyak buku kuno, akhirnya ia tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Element Seed gadis itu.


Tanpa menunda, didorong oleh rasa penasaran, Tiankong pada masa-masa terakhir nya sebelum menghilang, meluangkan hampir sebagian besar waktunya untuk meracik Pill obat yang tadi di berikan Theo pada Jasia.


"Baiklah Jasia, karena kondisi tubuhmu sudah membaik, akan segera pulih setelah beristirahat beberapa hari, dan karena semua yang ingin kusampaikan telah kukatakan padamu, sepertinya setelah ini, kita akan berpisah untuk beberapa waktu!" Kata Theo, seraya mulai berdiri dari tempat duduknya.


Melihat hal itu, Jasia secara reflek segera ikut berdiri dari ranjangnya. Menatap Theo dengan tatapan memelas.


"Tuan muda, bolehkah aku meminta satu hal lagi padamu?" Tanya Jasia. Dengan ekspresi ragu.


"Katakan!" Jawab Theo singkat.


"Aku ingin kau memasang segel kontrak Tuan-hamba padaku!" Kata Jasia cepat.


"Apa?"


Mendengar permintaan Jasia, Theo mau tak mau sedikit tertegun. Mulai mengerutkan keningnya.


"Tolong penuhi permintaanku ini! Aku mendengar dari para pemimpin Bandit yang terikat segel kontrak denganmu, terkadang mereka bisa merasakan apa yang sedang kau rasakan, terutama ketika kau sedang sedih, marah, atau perasaan mendalam lainnya!"


"Aku juga ingin merasakan hal itu!" Jawab Jasia, ekspresi wajahnya semakin memelas setelah mengatakan permintaannya.


Theo yang sama sekali tak menduga bahwa ternyata segel Kontrak Tuan-hamba memiliki efek seperti itu, kembali di buat tertegun ketika mendengar kata-kata Jasia. Namun, setelah memikirkan bahwa segel kontrak Tuan-hamba adalah salah satu formasi segel kehidupan yang berasal dari jaman kuno, dimana memang memiliki banyak kemisteriusan di dalamnya. Theo akhirnya memilih berhenti memikirkannya.


Setelah menimbang beberapa saat, Theo yang merasa menaruh segel Kontrak Tuan-hamba pada ranah jiwa Jasia bukanlah suatu ide yang terlalu buruk, karena dengan itu dia juga akan bisa membantu latihan Jasia dari jauh dengan mengalirkan Mananya kedalam Element Seed milik Jasia, serta di tambah dengan ekspresi memelas di wajah Jasia yang begitu tak tertahankan, Theo akhirnya setuju untuk memasang Segel tersebut pada gadis itu.


Proses pemasangan segel berlangsung tak terlalu lama karena Theo hanya perlu memasang satu segel pada Jasia, tak seperti ketika ia menipu kawanan Bandit Lebah Hitam. Terlebih Jasia tanpa keraguan sama sekali menerima segel tersebut. Membuat proses berjalan semakin cepat.


"Sudah selesai! Saatnya aku pergi!" Kata Theo, saat prosesi pemasangan segel telah selesai.


"Tuan muda!"


Namun, saat Theo sudah berbalik dan hendak melangkah. Jasia yang dari tadi dalam kondisi masih telanjang, segera maju dan memeluk erat Theo dari belakang.


"Jasia!"


"Tuan muda! Tolong jangan membuatku malu dengan penolakan! Cukup malam ini saja! Temani aku!" Kata Jasia lirih.


Mendengar itu, Theo tampak ragu untuk sesaat, sebelum secara perlahan membalikkan tubuhnya. Ia membalas pelukan Jasia, kemudian menggendong gadis ini menuju ranjang.


***


(Keesokan paginya)


Theo sudah memakai pakaian lengkap, sementara Jasia masih tertidur pulas berbalut selimut diatas ranjang. Senyum kecil tersungging pada wajah gadis ini dalam tidurnya. Tampak sangat bahagia. Melihat itu, Theo memutuskan untuk tak membangunkannya.


Ia menatap lekat wajah Jasia untuk beberapa saat, sampai kemudian mengeluarkan kertas jimat formasi berwarna merah peninggalan Masternya. Tanpa menunda, Theo yang tak ingin semakin tertahan, segera membuat segel tangan. Mengaktifkan formasi yang ada di dalam kertas jimat.


*Wuuungg….!!!


Sebuah portal ruang mulai muncul begitu Theo menyelesaikan segel tangannya.


"Master, kemana sebenarnya kau ingin aku pergi?" Gumam Theo. Sebelum mulai melangkah memasuki portal ruang.


Bersamaan dengan Theo memasuki portal, Jasia terbangun dari tidurnya. Hanya sempat memandang punggung tanpa cela Theo yang telah berada di dalam portal, sampai kemudian portal tersebut tertutup.


"Tuan muda…!" Gumam Jasia lirih.