Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Spin Off - Jasia : Gua Monyet Api (1)


Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Ini adalah spin off yang mengisahkan tentang perjalanan pertama Jasia memasuki Jurang Misterius. periode waktunya sebelum perang besar Hutan Pinus Beku)


'Sungguh lorong yang sangat sempit!' Gumam Jasia dalam hati, ketika melihat lorong sempit yang merupakan pintu masuk dari jurang Misterius dihadapannya.


Lorong ini selain sangat sempit, juga terlihat sangat mencurigakan, dengan berbagai prasasti serta ukiran formasi yang tampak sangat kuno di hampir seluruh sisi-sisi dindingnya.


Jika bukan karena percaya sepenuhnya kepada Theo, mungkin saat ini Jasia akan ragu apa harus masuk kedalam lorong ini seorang diri.


Setelah mengamati lorong di hadapannya beberapa saat, Jasia mencoba memantapkan dirinya untuk terakhir kali, kemudian mulai membuka peta yang diberikan Theo.


"Hmm… aku akan bertambah kuat!" Gumam Jasia, memberi semangat kepada dirinya sendiri. Sejurus kemudian melangkah memasuki lorong dihadapannya.


**


(Didalam Jurang Misterius)


Saat ini, Jasia berdiri tepat di depan sebuah pintu masuk gua yang terus memancarkan Mana Api dari dalamnya.


"Apakah tuan muda benar-benar serius menandai tempat ini sebagai salah satu lokasi aman untuk berlatih?" Gumam Jasia.


Jasia pantas sedikit ragu, karena Mana api yang terus keluar dari mulut gua, menurutnya sungguh tak biasa. Mana api ini memiliki sedikit aura kuno yang entah kenapa memberi rasa takut didalam hatinya.


Pada peta yang di berikan Theo, gua di hadapan Jasia diberi nama dengan sebutan gua monyet api liar. Membaca nama gua tersebut, Jasia terlihat semakin ragu, apakah harus masuk apa tidak.


"Hahh… lupakan! Tuan muda biasanya memang bersikap agak aneh!" Kata Jasia. Kemudian mulai memasuki gua.


**


"Hmmm…. Sungguh pemandangan yang indah!" Guman Jasia begitu sampai di dalam gua.


Seperti kata Jasia, kondisi di dalam gua memang terlihat sangat indah, gua ini memiliki kolam kecil yang terletak tepat dibagian tengahnya. Disekeliling kolam ini sendiri, tumbuh dengan lebat tanaman teratai yang memiliki warna merah terang.


Jasia kemudian mulai memperhatikan sekitarnya lebih teliti lagi, dan yang bisa dia lihat adalah, gua ini dipenuhi dengan berbagai tumbuhan dengan atribut Mana Api yang belum pernah dia lihat sebelumnya di dunia luar.


Semua tanaman ini memiliki warna dominan merah, membuat lingkungan dalam gua seperti lukisan indah yang memamerkan sebuah dunia fantasi.


Jasia yang memang memiliki Element Seed tipe Api, segera merasa nyaman berada di dalam gua ini, meskipun memang, masih ada sedikit perasaan takut di dalam hatinya. Karena entah kenapa, dia merasa ada sebuah aura kuno aneh yang terus memperhatikan gerak-geriknya.


Mencoba mengabaikan rasa takut tersebut, salah satu pohon berhasil menarik perhatian Jasia, pohon ini sepertu pohon pisang biasa, hanya saja, buah pisang yang tumbuh dibatangnya, sepenuhnya berwarna merah darah.


"Pisang yang aneh!" Gumam Jasia, ketika berada di depan pohon pisang tersebut.


Setelah mengamati sebentar, Jasia yang penasaran, mulai mengangkat tangannya, berniat untuk memetik salah satu buah pisang. Namun begitu ia memegang buah pisang…


"Kaaahhh…. Kaaaahhh… kaaahhh….!!!"


Suara berisik aneh terdengar dari arah rimbunan pepohonan yang berada tak jauh di belakangnya. Suara-suara ini segera membuat Jasia kaget, secara reflek dia memetik buah yang ada di genggamannya, kemudian menoleh kebelakang. Melihat sumber suara.


Suara-suara berisik ini ternyata berasal dari gerombolan Spirit Beast berbentuk monyet. Monyet-monyet ini memiliki bulu berwarna merah darah, mereka terus berteriak dengan suara bising, terlihat sangat marah kepada Jasia.


"Mereka kuat!" Gumam Jasia khawatir, ketika merasakan aura yang dikeluarkan oleh para monyet di hadapannya.


*Booommmmm…..!!!


Suara dentuman yang sangat keras terdengar bersamaan dengan mendaratnya sosok bayangan merah tersebut.


"Grrrr……!!!"


Bayangan merah raksasa tersebut ternyata merupakan Seekor Spirit Beast berbentuk monyet juga, namun memiliki ukuran tubuh yang sangat besar.


Selain memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, monyet raksasa ini juga mengeluarkan aura yang lebih berat dari monyet-monyet lainnya.


"Hmmm…. Dia lebih berbahaya lagi!" Gumam Jasia waspada, dia Kini sudah mulai mengaktifkan mode Soul Knightnya, bersiap untuk bertempur kapan saja.


"Grrrrr…..!!!!"


"Graaahhhh….!!!!"


Monyet raksasa berteriak kencang. Dan bersamaan dengan teriakannya, gerombolan monyet lain juga mulai berteriak semakin berisik.


"Kaahhh… kaahhh… kahhh…!!"


Sejurus kemudian, gerombolan ini mulai maju menerjang kearah Jasia.


Melihat itu, Jasia yang kini sudah memasuki mode Soul Knighnya, hanya bisa mengumpat dalam hati, tak habis pikir bagaimana Theo bisa menandai tempat berbahaya ini sebagai salah satu lokasi aman untuk berlatih.


"Haaaaaahhhh…..!!!!"


Merasa tak punya pilihan lain, Jasia mulai meneriakkan teriakan perang, maju menerjang kearah gerombolan monyet.


Bersamaan dengan terjangan Jasia, Kobaran Mana Api mulai menyelimuti punggungnya, membentuk sebuah sayap angsa.


Ini adalah bentuk Soul Knight dari Jasia yang telah menyerap kristal Beast dari Angsa Nafas Api, bentuk Soul Knight milik Jasia sebenarnya terksesan sederhana, dia hanya memiliki kobaran Mana Api berbentuk Sayap angsa dipunggungnya.


Hanya saja, sayap angsa yang terbuat dari Mana Api dipunggung Jasia ini, memiliki ukuran yang sangat tidak normal. Sayap Itu terus berkobar liar, membesar dan membesar setiap waktunya. Hingga memiliki ukuran raksasa yang sangat kontras dengan tubuh kecil milik Jasia.


Jasia yang telah mengaktifkan mode Soul Knightnya, kini terlihat seperti dewa api, ia mengepakkan sayap raksasa yang membara, menerjang maju dengan tatapan teguh kearah gerombolan monyet.


Sementara para monyet yang seperti tau, bahwa gadis yang sedang mereka hadapi ini bukan lawan biasa, secara insting juga ikut mengaktifkan kekuatan Mana Api milik mereka. Bulu-bulu merah milik para monyet mulai terbakar, menyala dengan api membara.


*Woooshhhhh…


*Booommmmm….


Bentrokan antar Mana Api pun tak terhindarkan. Jasia mangibas-ngibaskan sayapnya, membakar semua hal di sekitar. Sementara para monyet, mulai meloncat kesana kemari mengelilingi Jasia, seperti sedang berkoordinasi satu sama lain, membentuk formasi mengepung. Satu kobaran api raksasa, menghadapi puluhan kobaran api liar.


Kondisi ini bertahan untuk beberapa waktu, Jasia yang memiliki intensitas Mana Api lebih pekat, mampu mengimbangi terjangan puluhan monyet yang secara bergantian melompat kearahnya.


Sementara di kejauhan, Monyet merah raksasa masih diam di lokasi pendaratannya, terlihat sedang mengawasi jalannya pertempuran sambil memakan beberapa pisang berwarna Merah darah ditangannya, sambil tiduran santai.


Monyet raksasa ini baru mengambil posisi duduk, ketika ia melihat gerombolan monyet kecil anak buahnya, dikalahkan Jasia satu persatu.


"Grrrr……!!!" Dalam posisi duduk, dan sesekali memakan pisang, dia menggeram marah ketika melihat Jasia sedikit demi sedikit mulai diatas angin.


*Booommmm…..!!!!


Suara ledakan keras terdengar, Jasia yang merasa sudah diatas angin, mulai habis-habisan mengeksekusi teknik-teknik pamungkasnya. Membuat gerombolan kera merah yang mengepungnya terpental berserakan.


"Grrooaaahhhh….!!!"


Melihat hal itu, Monyet merah raksasa berteriak marah. Dalam sekali makan dia menghabiskan pisang terakhirnya, kemudian meloncat tinggi memasuki pertempuran.